Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Kau menikmatinya?


__ADS_3

Happy Reading ....


“Apa kau siap?”


Yada meronta, mencoba menarik lengannya sekuat mungkin agar terlepas dari cengkraman Allard. Namun percuma, Allard memiliki tenaga lebih besar darinya.


Jemari Allard semakin bergerlya pada inti tubuhnya, membuat air mata Yada terbendung pada pelupuk mata. Pria itu menyentuh bagian sensitif tubuhnya, bahkan dia mempermainkannya.


“Lepas!” ucap Yada penuh penekanan.


Allard menyeringai, alih-alih melepaskan tangannya, dia malah menekankan satu jari masuk ke dalam inti tubuh Yada. Membuat wanita cantik itu melonjak kaget, dan menarik nafasnya dalam-dalam.


“Kau- uh-”


Ucapan Yada tersendat ketika Allard menaik-turunkan jemarinya, membuat rasa perih dan ngilu dibagian bawah sana.


Yada menggigit bagian bawah bibirnya, memejamkan mata dengan erat, jemarinya menggenggam kuat. Dia benci melihat Allard, dan sangat membenci ekspresi pria itu ketika mempermainkannya.


“Apa kau menikmatinya?” tanya Allard tidak tahu malu.


Yada tidak membalas apapun, rasa sakitnya focus mendominasi dirinya sekarang. Tidak peduli dengan ocehan-ocehan yang Allard keluarkan. Hanya berharap hal mengerikan itu segera berakhir.


Nafas Yada mulai tersenggal-senggal ketika Allard semakin kencang mempermainkannya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, dia tidak tahan lagi seolah ada yang ingin keluar dari dalam tubuhnya.


Seketika Allard menghentikan serakannya. “Kau sangat menikmatinya,” bisik pria itu tepat di depan telinga Yada.


Allard menarik jemarinya diiringi dengan suara lenguhan Yada yang merasakan perih pada inti tubuhnya. Wanita cantik itu membuka matanya yang memerah.


“Menyenangkan bukan?” Allard mengangkat sebelah halis. “Ingat hal ini, jika kau berani melawanku lagi, aku akan menghukummu bahkan dengan hukuman yang lebih berat.”


Dia beranjak dari tubuh Yada, dan turun dari atas ranjang, pergi ke luar dari kamar dan meninggalkan Yada seorang diri yang masih shock dengan kejadian yang baru saja dia alami.


Bagaimana aku akan membunuhnya! Aku harus membunuhnya!


***


Suasana di dalam perusahaan perhiasan Yada Aurora sedang tidak baik-baik saja. Seharusnya produk baru siap diluncurkan. Tapi dua hari sebelum peresmiannya, sebuah perusahaan lain telah meluncurkan produk yang sama dengan desain serupa.


“BAGAIMANA BISA!” pekik David lantang penuh amarah.


Asisten memberikan satu berkas berisi identitas seorang karyawan, yang mana karyawan tersebut adalah seorang pengkhianat di dalam perusahaannya.

__ADS_1


“Cari dia!”


“Baik, Tuan!”


Sementara itu di sisi lain, Allard baru saja kembali ke mansion setelah pergi dua hari. Dia hanya melihat kondisi Yada dari balik layar monitor. Seperti biasa, wanita itu masih kokoh dengan pendiriannya yang angkuh. Yada juga menolak makan untuk dua hari.


Allard pergi ke ruang bawah tanah, membuka satu ruangan gelap yang sudah terisi dengan seorang pria di dalam sana.


“Kau berjanji untuk melepaskanku jika aku menuruti perintahmu! Tapi apa ini? Kau pengkhianat!” pekik pria tersebut.


Allard mendekatinya, menatap pria yang terikat di atas kursi. Dia mencengkram rahang pria itu dengan kuat.


“Aku memberikan banyak uang untuk keluargamu apa itu tidak cukup?” tanya Allard. “Sebuah rumah mewah, fasilitas dan kendaraan, mereka sangat menyukainya bukan?”


Pria itu menatapnya bengis. Allard menghempaskan cengkeramannya.


“Semua itu setara dengan nyawamu,” kata Allard. “Hari ini, kau akan bertemu dengan seseorang yang sangat penting,” imbuhnya.


Yada sedang berada di dalam kamarnya, termenung setelah dipaksa untuk mengkomsumsi barang terlarang. Meskipun menolaknya setiap diberikan, tapi efek dari barang tersebut bisa membuat pikirannya terasa tenang.


Seorang pelayan masuk ke dalam kamar, menyimpan satu piring berisi buah penuh di atas meja. Sebelum pergi, dia mengatakan jika Yada harus turun untuk bertemu dengan Allard. Yada malas, padahal sudah dua hari hidupnya sedikit tenang tanpa kehadiran pria bastard itu.


Yada bergeming di ambang pintu, terkejut menatap pria yang diikat pada sebuah kursi. Pria itu, Yada ingat jika dia adalah seorang manager di perusahaannya.


“Nona-”


Yada mengepalkan jemarinya erat, Allard bahkan tidak melepaskan pekerja di perusahaannya. Dia menatap Allard dengan marah.


“Kau mengenalnya bukan?” tanya Allard.


“Kenapa kau mengurungnya di sini? Dia bahkan tidak terlibat dengan klan Aurora!”


Allard tergelak, suaranya menggema di seluruh ruangan gelap itu. “Dia tidak terlibat? apa kau ingat berkas yang kau lihat di dalam club malam hari itu?”


Yada ingat, tentu saja dia ingat. Dia menatap Allard dengan intens.


“Dia.” Allard menunjuk pria tersebut. “Telah bekerja dengan sangat baik.”


Seperti dentuman keras di dalam pikiran Yada. Dia tidak menyangka jika orang yang dipercayainya akan menjadi seorang pengkhianat.


“Kau?” Yada menatap mantan pekerjanya dengan marah.

__ADS_1


“Dia memaksaku Nona, Allard Washington memaksaku,” teriak pria itu melakukan pembelaan. Padahal kenyataanya dia bekerja untuk mendapatkan lebih banyak uang.


“Seorang pengkhianat akan selalu menjadi seorang pengkhianat. Bukankah dulu kau dengan senang hati menerima tawaran dariku?”


Pria itu menunduk malu, Yada melihat tingkahnya dan kecewa.


“Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Yada. Membiarkannya lolos, atau ... membunuhnya,” kata Allard.


Pria itu meronta memohon agar Yada melepaskannya. Tapi tentu saja tindakannya itu tidak akan berguna. Dia seorang pengkhianat dan bagaimana pun juga Yada harus memberikannya pelajaran. Tapi tidak dengan membunuhnya. Jika saja Yada tidak berada di dalam kendali Allard, mungkin saat ini juga dia akan menyeret pria itu ke dalam penjara.


Tapi ... membunuhnya? Batin Yada.


Yada berjalan mendekati pria tersebut, melepaskan kepalan jemarinya dan mulai melayangkan beberapa tamparan hingga bercak darah keluar dari ujung bibir pria tersebut. Sedangkan Allard hanya menjadi penonton setianya.


“Apa kau tahu konsekuensi yang akan kau dapat jika kau menjadi seorang pengkhianat?” ucap Yada penuh penekanan.


“Nona kau-”


Pria itu tercengang ketika melihat ekspresi Yada yang sangat berbeda dari Yada yang dia kenal sebelumnya. Seorang wanita lemah lembut, bagaimana bisa bersikap kasar seperti iblis.


Yada kembali menamparnya dengan keras, membuat suara nyaring menggema di dalam ruangan.


“Aku akan membunuhmu,” ucap Yada pelan.


Dia berbalik dan mendekat ke arah Allard. Mengulurkan lengannya untuk meminta sesuatu dari pria itu. Allard mengerti apa yang dimaksudnya. Sebuah pistol dengan peluru aktif Allard berikan kepadanya.


Yada tersenyum dalam hati. Sebelumnya, hanya di dalam pecahan ingatan masalalu dia memegang sebuah pistol. Tapi hari ini dia benar-benar memegangnya dan bahkan akan membunuh seseorang dengan tangannya sendiri.


“Kau harus ingat ini! Bagaimana perusahaanku mendapatkan kerugian yang sangat besar dengan pengkhianatan yang kau lakukan!”


“Kau harus mengingatnya sebelum mati! Aku sangat membencimu!”


Yada mengangkat pistol tersebut dan mengarahkannya pada pria itu. Tapi dia tidak menarik pelatuknya, dia malah mengarahkan pistol itu ke arah lain, bukan pada pengkhianat melainkan kepada Allard.


“Kau harus ingat sebelum kematianmu, jika aku sangat membencimu!”


DOR!!!


Yada menarik pelatuknya tanpa segan, mengarahkan peluru panas tersebut ke arah Allard.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2