
Happy Reading ....
.
.
.
.
Hari sudah menunjukan pukul satu siang hari. Seorang dokter dengan beberapa perawat masuk ke dalam ruang rawat lengkap dengan membawa alat medis. Sorot mata Yada tertuju pada mereka, mengernyitkan kening saat melihat dokter yang datang untuk memeriksanya bukanlah Yoland.
“Hallo Nona, bagaimana kabarmu hari ini?” sapa seorang perawat dengan senyum ramahnya.
Yada menatapnya sesaat, seperkian detik mengedipkan kembali kedua matanya. Heran. Pikirannya bertanya-tanya ketika perawat itu tiba-tiba saja menyapannya dengan ramah. Hal ini tidak pernah terjadi karena sebelum itu mereka hanya diam seperti robot, dan hanya selalu focus pada pekerjaan mereka.
Mulutnya tidak sempat terbuka untuk menjawab sapaan perawat itu. Dokter dan beberapa perawat berlalu pergi sangat cepat meninggalkan ruangan setelah memeriksanya. Sementara Yada masih termenung.
Sorot mata Yada tertuju pada beberapa lembar kertas di atas meja yang terletak tidak jauh dari ranjangnya. Dia menyadari berkas Allard yang tertinggal sejak tadi pagi saat dirinya pergi ke dalam toilet. Namun sampai siang hari, Yada enggan mengambil berkas tersebut.
Dia sengaja meninggalkannya di sana. Ini jebakan.
Pikiran Yada berkecamuk. Sesekali dia melihat kaca kecil pada pintu, dan seorang pria bertubuh tegap menjaga di sana. Mereka mengawasinya. Yada yakin jika Allard meninggalkan berkas itu untuknya, bukan sekedar hanya 'tertinggal' di ruang rawatnya.
Dia menurunkan kakinya, mengambil botol infus dan berjalan menuju meja. Matanya menatap beberapa detik lembaran kertas yang ternyata berisi biodata miliknya. Yada Aurora.
Pandangan Yada kembali tertuju pada pintu. Tidak ada pergerakan di sana. Para pengawal itu membiarkannya mengambil berkas tersebut.
Yada duduk di atas sofa, berkas itu sudah ada di dalam genggamannya. Dia mulai membuka satu persatu halaman dengan mata yang terbelalak lebar. Identitas dirinya lengkap dengan foto masa kecil Yada, ada juga gambar sebuah foto tato misterius itu. Berkas itu juga berisi tentang masalah kesehatan Margareth, wanita itu hanya bisa memiliki seorang anak di dalam hidupnya yaitu, David.
Dia melemparkan lembaran kertas tersebut ke atas meja. Pergi dengan tergesa membawa botol infusnya masuk ke dalam toilet. Tubuh rampingnya tersungkur di depan closet, memuntahkan isi perutnya yang terasa mual.
Yada termenung, mengatur nafasnya kembali. Semua hal yang timbul di dalam pikirannya selama ini benar-benar nyata terjadi. Tidak mengherankan kehidupannya sangat mengerikan sebagai putri tunggal Aurora, ternyata dia bukanlah anak kandung dari keluarga tersebut.
__ADS_1
***
Dua Minggu berlalu begitu cepat semenjak dia dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit. Selama itu Yada berada di bangunan besar itu sendiri, hanya di temani oleh beberapa pelayan. Sementara pria yang selalu bersamanya ketika makan malam, menghilang entah kemana.
Waktu makan malam. Makanan yang disajikan begitu banyak dan sangat lezat. Namun yang dipilih Yada hanya beberapa sayur dan daging sesuai porsi harian tubuhnya. Dia melewatkan malam hening itu sendirian. Sepi, seolah sudah menjadi sahabat karibnya.
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar nyaring. Yada melirik. Siapa yang datang? Jelas terdengar seperti langkah kaki seorang wanita. Higheels itu terdengar sangat nyata ketika menghentak lantai.
“Nona.”
Seorang wanita berpakaian jas rapih menyapannya dengan membungkukkan badan yang ramah. Rambutnya tertata rapih, jas hitam dengan rok yang dipakainya memancarkan aura tegas pada wanita tersebut.
Siapa dia?
Wanita itu memberi isyarat, lalu seorang pelayan datang dan menyimpan satu kotak sedang dan membukannya. Yada memperhatikan. Sebuah kunci mobil, kunci lainnya, dan sebuah handphone yang berada di dalam kotak tersebut.
“Nona, perkenalkan nama saya Laura, asistant pribadi tuan Allard. Tuan Allard meminta saya untuk memberikan ini kepada Anda.”
“Anda harus memahami ini, Nona.” Laura tersenyum dengan anggun, namun wajahnya masih memancarkan aura tegas wanita itu.
Yada melihat berkas tersebut, lalu beralih pada dua kunci di dalam kotak. Dia langsung mengetahui maksud Allard. Pria itu mungkin akan membiarkannya keluar namun dengan sebuah syarat. Pandangan Yada tertuju kembali pada kertas itu. Yada bergeming, tidak ada pilihan lain dal hidupnya saat ini. Tapi jika dia bersedia dikurung seumur hidup di mansion besar itu, dia bisa saja menolaknya.
“Aku akan melihatnya.”
Dengan senang hati Laura memberikam berkas itu kepada Yada. Wanita itu hanya tersenyum tanpa berkata apapun ketika Yada menerimannya.
“Nomor teleponku tertera di halaman akhir, jika Nona tidak mengerti isi dari berkas ini, Nona bisa menghubungiku kapan saja untuk bertanya. Saya akan menunggu panggilan dari Anda, Nona.”
Laura membungkukan badannya. “Saya pamit pergi, Nona.” Lalu berbalik dan berjalan pergi menjauh.
Dia bahkan tidak menjelaskan sedikitpun tentang maksudnya memberikan itu semua dan langsung pergi begitu saja? Yada mengeryitkan keningnya halus.
Di dalam kamar, Yada duduk di atas sofa. Beberapa kunci yang Laura berikan terletak di atas meja di hadapannya. Dia memegang berkas itu, menatap sampulnya beberapa saat.
__ADS_1
Haruskah aku ... tidak ada pilihan lain, Yada ....
Jemarinya mulai membuka helai perhelai kertas tersebut seraya membaca dan memahaminya. Sesuai dengan perkiraan Yada, pria itu benar-benar akan membiarkannya keluar namun dengan sebuah kontrak yang mengikatnya.
Aku tidak akan terkecoh. Dia menjadikanku sebuah umpan!
Kebebasan, kehidupan mewah, perusahaan atas namanya, tempat tinggal yang nyaman, seorang teman yang akan menemaninya. Pria itu mengatur semuanya dengan begitu detail.
Tiba-tiba ponsel yang Laura berikan bergetar. Nama wanita itu tertera di depan layar. Yada mengambil ponsel tersebut, menekan layar lalu menyimpannya di depan telinga.
“Apa kau setuju, Nona?”
Yada tertegun. Wanita ini seolah bisa membaca pikirannya. Dia langsung menoleh kanan dan kiri, melihat di sekeliling kamarnya, mungkin saja ada kamera tersembunyi di sana.
Tidak ada jawaban apapun dari Yada. Dia hanya diam tanpa suara.
“Aku akan menemuimu besok pagi, kau memiliki waktu sepanjang malam untuk memikirkannya Nona,” kata Laura kembali.
Sambungan telepon itu langsung terputus. Yada menyimpan ponselnya kembali ke atas meja, menatap berkas di atas pangkuannya.
Apa yang harus aku lakukan?
Yada berdiri di depan cermin. Membuka mantel tidur yang dia kenakan, dan mulai membalikan tubuhnya. Punggung yang kosong, hanya ada beberapa bekas luka dalam. Dia kembali membalikan tubuhnya, berdiri tegap menatap cermin, melihat wajahnya yang cekung dan tidak terurus, mata panda melingkar sangat hitam di bawah matanya. Sangat tidak terawat.
Dia mengingat mimpinya kembali. Seseorang berkata, 'Kau harus sadar, mencari tahu semuanya, ambil kembali semua yang direnggut darimu, mereka menunggumu'.
Tatapannya masih kosong, sementara pikirannya berkecamuk hebat. Tidak tahu apa yang terbaik untuk dilakukan dia masih bingung. Dunia luar nyatanya lebih gelap dan suram dibandingkan mansion megah dan sunyi ini.
Bagaimana jika aku hanya perlu menutup mata? Mengabaikan semua yang terjadi di masalalu, dan bernafas hanya untuk menunggu mati. Aku sudah lelah ....
Bersambung ....
YEAAYYY SEMANGATIN YADA GUYS....
__ADS_1