
Happy Reading ....
.
.
.
Seharusnya dia lebih bisa mengendalikan diri. Wanita itu ketakutan lagi.
Tidak biasa mendapatkan penolakan membuat Allard murka. Dia dengan paksa memakaikan semua perhiasan yang dia bawa pada wanita cantik itu. Pria itu mendengkus kasar mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Damn!
“Katakan, kau adalah seorang wanita, sebenarnya apa yang membuat wanita merasa senang. Apakah harta tidak cukup? Atau perhiasan yang kau pilih tidak terlalu cantik menurutnya?”
Wanita adalah makhluk tuhan yang paling merepotkan. Itulah sebabnya Allard tidak ingin memiliki hubungan spesial dengan seorang wanita. Dia akan mencari mahluk itu jika membutuhkannya saja. Menuntaskan hasrat birahinya.
Laura berdiri tegap di hadapan tuannya yang tampak gusar itu. Sejak tadi dia hanya membisu dan mendengarkan semua cerita yang Allard katakan. Laura hanya tau, menaklukkan Yada bukanlah hal yang sulit. Buktinya hari ini dia menjadi lebih dekat dengan wanita yang di panggilnya sebagai 'nona muda' itu. Hanya saja tuannya ini sedikit kaku dalam memperlakukan wanita. Itulah sebabnya rencananya gagal.
“Mungkin untuk saat ini, bukan perhiasan yang nona Yada butuhkan. Tapi sikap lembut. Bukankah sudah saya jelaskan kepada Anda tuan, jika hidupnya selalu menderita. Tidak ada seorang pun yang mendukungnya.”
“Anda harus memperlakukannya dengan penuh kesabaran, dan mulai pendekatan dari hati.”
Dari hati.
***
Yada berbaring di atas ranjang apartment. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain makan dan tidur. Beberapa penjaga yang Allard perintahkan tidak membiarkannya keluar dari sana jika tidak ada ijin dari Allard. Sudah tiga hari semenjak kejadian di dalam club itu Allard tidak kunjung menemuinya.
Karena bosan, Yada membuka internet. Foto Allard berada di halaman pertama sebuah artikel gosip. Pria itu terlibat skandal dengan para wanita dari kalangan arti, sosialita, dan model. Pria itu terkenal dengan prestasinya di sekitar wanita-wanita cantik.
Sejauh artikel yang Yada baca. Allard hanyalah sosok seorang pebisnis tampan dan memiliki karier yang sangat cemerlang. Tidak ada satupun yang membahas bagaimana kejamnya pria itu, ataupun dunia hitam yang dikelolanya.
Tentu saja, dunia bawah selalu gelap dan tidak terlihat.
Seketika terdengar suara pintu terbuka. Beberapa langkah kaki masuk diiringi suara beberapa barang yang di simpan. Yada segera turun dari ranjang dan keluar kamar. Di ruang tengah apartementnya, beberapa wanita berpakaian rapih sedang sibuk menyiapkan barang-barang mewah seperti baju, sepatu, dan aksesoris lainnya.
__ADS_1
Allard duduk di atas sofa dengan tubuh tegapnya. Pria itu menoleh saat menyadari kehadiran Yada di sana. Lantas dia langsung menghampiri Yada kemudian memeluknya tanpa rasa malu sedikitpun.
“Hello nona muda, aku menyiapkan semua ini untukmu.”
Dia mengiring Yada untuk duduk di atas sofa. Para wanita itu mulai memperkenalkan barang-barang yang mereka bawa. Di mulai dari dress untuk pesta, baju untuk pergi ke club, dan juga bikini untuk berenang. Semuanya lengkap. Tapi seperti beberapa hari yang lalu, respon Yada hanya terdiam.
Suasana menjadi kaku ketika Yada hanya menatap wanita-wanita itu tanpa ekspresi. Allard segera memberikan kode kepada mereka untuk pergi. Para wanita itu pergi meninggalkan apartemen. Menyisakan Allard dan Yada di di ruangan itu.
“Tidak ada satupun yang kau sukai?”
“Apakah kau akan memakaikan semua baju ini pada tubuhku jika aku bilang tidak menyukainya?” sindir Yada pada Allard.
Allard menurunkan pandangannya. Dari semua barang-barang branded yang dia bawa, tidak ada satupun yang menarik perhatian wanita cantik itu. Lantas apa yang bisa membuatnya luluh?
Sialan!
“Kenapa kau bersikap baik padaku, sedangkan beberapa hari yang lalu sikapmu masih sangat kasar.”
“Salahkah jika aku bersikap baik? Aku hanya ingin menebus semua dosaku padamu,” jelas Allard.
“Aku akui, dulu aku menyiksamu karena aku mengira kaulah putri Aurora. Menyekapmu adalah pilihan yang bagus. Tapi ternyata aku salah.”
“Ya!”
Yada menatap dalam kedalam mata coklat pria di hadapannya. Raut wajahnya terlihat datar, tidak memperlihatkan raut wajah penyesalan sedikitpun. Yada tahu jika pria ini sedang mempermainkannya.
“Yada, aku tidak pandai mengekspresikan sesuatu. Aku harap kau bisa mengerti.”
“...aku benar-benar menyesal.”
Yada tidak bisa mempercayainya. Lagipula jika pria itu benar-benar menyesal, apa yang akan didapatkan Yada kembali. Semuanya telah direnggut paksa olehnya. Ya! Semuanya telah hancur.
“Bagaimana dengan diriku? Apa dengan penyesalanmu semuanya akan kembali membaik?”
Yada mulai berkaca-kaca. Tubuhnya selalu bergetar hebat saat mengingat masalalu di mana Allard selalu menyiksanya hingga parah, melecehkan, dan juga merendahkannya. Hati dan pikirannya masih berkecamuk dan tidak bisa menerima semua yang telah terjadi.
Penilaian Laura selalu benar. Wanita ini sangat rentan sepeti kaca. Dia akan retak atau bahkan hancur berkeping-keping jika tidak di jaga dengan baik. Dia begitu lemah.
__ADS_1
“Aku akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi padamu. Akan aku pastikan jika hal itu tidak akan terulang kembali.”
“Bertanggung jawab? Bagaimana kau bisa bertanggung jawab?”
“Aku akan menjamin kehidupanmu.”
“Tidak! Terlalu banyak orang yang mengharapkan kematian ku. Aurora, mungkin mereka hanya satu dibanding seribu. Aku tidak mengetahuinya. Aku rasa seluruh dunia adalah ancaman bagiku.”
Yada gusar, hatinya melemah. Selama hidupnya dia bergantung pada keluarga Aurora meskipun keluarga itu yang selalu menyiksanya. Namun di sisi lain keluarga Aurora ibarat pegangan duri untuknya menyebrangi jurang. Jika pegangan itu terputus, maka dirinya akan mati. Tapi jika dia terus berpegang, maka tangannya akan terluka parah.
“Aku akan melindungimu, seluruh klan WS akan melindungimu.”
“Tidak, itu semua tidak cukup.”
“Apa yang bisa membuatmu cukup untuk merasa aman?”
“Menikahlah ... denganku ....”
***
Yada berada di dalam kamarnya. Berdiri menatap jendela memandangi pemandangan sungai memanjang di tengah-tengah kota. Kuku tajam mencengkram bahu dan menyebabkan luka. Dia memikirkan semua resiko atas perkataanya kepada Allard.
Pria itu mengatakan jika dia menyesali semua perbuatannya dan akan bertanggung jawab. Yada meminta sebuah pernikahan karena hal itulah yang sangat tepat bagi hidupnya sekarang. Jika Yada menjadi nyonya Washington, maka sekuat apapun klan Aurora membencinya, mereka tidak akan berani mengusik Yada. Atau perang besar akan terjadi di antara dua klan.
Tapi pernikahan bukanlah hal yang mudah. Jika saja semua itu berjalan lancar seperti apa yang telah direncanakannya, maka Yada bisa bernafas lega. Menjadi istri dari Allard Washington bukanlah hal yang buruk jika dilihat dari luar, tapi jika ditelisik lebih dalam, tidak ada seorang wanita pun yang ingin menjadi istri dari seorang laki-laki yang sangat kejam.
“Nona?”
Seorang memanggil namanya seraya mengetuk pintu kamar yang tidak ditutup. Yada berbalik dan melihat Laura yang sedang berdiri di ambang pintu.
“Bagaimana dengan persiapan pernikahan? Apakah Anda ingin memilihnya sendiri?”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....