Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
*HUBUNGAN


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


“Kenapa kau berada di sini?”


Allard yang sedang membuka bajunya langsung berbalik melihat Yada. Pandangan wanita itu langsung tertuju pada dada bidang Allard dan perut sispaxnya. dia baru menyadari jika pria itu juga memiliki banyak bekas luka seperti dirinya. Namun jika dilihat, bekas luka itu malah lebih dalam dari beberapa bekas luka miliknya sendiri.


Allard tahu apa yang sedang dilihat Yada pada tubuhnya. Beberapa luka dalam yang Allard dapatkan di masalalu ketika dirinya mencoba memperjuangkan klan WS dari tangan-tangan orang jahat yang ingin mengendalikan klan keluarganya. Sejak kecil, dia juga memiliki kehidupan yang keras. Pukulan serta panasnya peluru yang menembus kulit dan dagingnya sudah biasa Allard rasakan.


Dia mendekati Yada yang masih berdiri di ambang pintu sembari memeluk erat handuk yang membalut tubuh polosnya. Wanita itu hendak berjalan mundur, namun lengan kuat Allard lebih cepat memegang pergelangan Yada dan menariknya mendekat.


“Kenapa kau masih begitu kaku? Ini akan menjadi hal lumrah yang kita lakukan setelah menikah. Kau akan melayaniku sebagai Nyonya Washington.”


Allard menyentuh kedua lengan Yada, membuat wanita itu melepaskan genggamannya dari handuk putih yang dipakainya. Yada hanya berdiri kaku, berharap jika pria itu tidak melakukan apapun padanya kali ini.


Harapan Yada musnah saat tiba-tiba Allard menarik handuk miliknya dan membuat handuk itu terlepas. Seluruh tubuh polosnya menegang, namun Yada tidak memiliki perlawanan apapun kepada Allard.


Allard menatap tubuh polos Yada tanpa ekspresi. Seolah melihat tubuh bugiil wanita bukanlah hal yang aneh baginya. Dia menelisik setiap inci tubuh Yada dengan tatapan intens. Melihat beberapa luka pada tubuh wanita itu. Luka pada bahu kanan, dan juga perut bawah dada bagian kiri, Allard ingat jika itu adalah luka yang dibuat oleh tangannya sendiri.


Wanita malang!


Yada menatap setiap gerakan Allard dengan waspada. Khawatir jika pria itu tiba-tiba menyentuh bagian tubuhnya. Allard yang menyadari tatapan Yada padanya langsung membalas tatapan wanita itu dengan tajam.

__ADS_1


“Berhenti menatapku seperti itu, aku hanya ingin meminjam handukmu,” kata Allard dengan nada datar, lalu dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Yada berjalan dengan cepat memasuki ruang ganti. Mengambil satu handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Di ruangan yang besar itu terdapat puluhan handuk. Tapi entah kenapa pria itu justru memakai handuk bekas miliknya. Pria itu sangat aneh. Tatapannya yang tajam seperti harimau mampu menerkam seseorang kapan saja yang dia inginkan.


Pandangannya menelisik sekitar ruang ganti. Yada tidak menyadari ruangan itu sebelumnya karena dia hanya datang untuk mengambil beberapa helai baju. Ruangan ganti itu ternyata memiliki lemari kaca besar yang menyimpan puluhan perhiasan brand terkenal. Bahkan perhiasan yang Allard bawa beberapa hari lalu terpajang di sana.


Kapan mereka meletakan itu semua?


Yada tidak ingin berlama-lama terpukau dengan kecantikan perhiasan itu. Dia segera mengambil bajunya untuk dipakai. Pikiran Allard tidak bisa ditebak. Pria itu mungkin saja masuk ketika dia sedang mengenakan pakaian.


Allard duduk di sofa tunggal di dalam kamar. Rambutnya masih basah dan tubuhnya terbalut bathrobe. Dia focus pada ponselnya, membaca beberapa email pekerjaan yang masuk. Dia terlihat sangat sibuk dan tidak memperhatikan Yada yang baru keluar dari ruang ganti. Yada melangkah dengan perlahan, berusaha keras tidak menimbulkan suara sedikitpun.


“Masaklah sesuatu untuk makan malam. Kau sendiri yang tidak mau makan diluar.”


Yada memegang dadanya yang berdetak kencang karena terkejut. Dia mengangguk pelan untuk menjawab perintah Allard lalu segera keluar dari dalam kamar. Dia turun menuju dapur dan melihat bahan masakan di dalam kulkas.


Kulkas di dapur selalu diisi penuh dengan sayur dan buah-buahan segar. Terakhir kali Yada membuka kulkas itu saat dirinya menata ruangan bersama Laura beberapa hari yang lalu. Seharusnya sayuran itu sudah layu, tapi hari ini sayuran itu masih sangat segar. Mungkin seseorang mengganti sayuran dan buah-buahannya setiap hari.


Dua piring makanan lezat tersimpan di atas meja. Dia sedang menuangkan jus buah ke dalam gelas ketika Allard duduk di kursi meja makan. Tatapan pria itu terarah pada makanan lezat lalu pada Yada.


“Kau bisa memasak?” Allard menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Mengunyah serta menilai makanan lezat itu.


“Ya.”


Yada duduk jauh di depan Allard. Posisinya tidak berhadapan ataupun bersebelahan. Dia menjaga jarak dengan pria itu. Allard menatapnya intens. Tapi Yada tidak peduli. Setidaknya menjaga jarak dari pria itu membuatnya merasa sangat aman. Allard juga tidak ingin menegurnya saat ini. Beberapa hari lagi mereka akan sah menjadi pasangan suami istri. Tidak ada alasan untuk wanita itu menjauhinya.


“Kau sudah memilih tempat untuk pernikahan kita?”

__ADS_1


Wanita cantik itu hampir saja tersedak. Dia langsung menghentikan acara makannya. Pria itu menanyakan hal-hal seperti itu pada saat jam makan malam. Sungguh pemilihan waktu yang sangat tidak tepat.


“Aku meminta Laura untuk memilihkannya.”


Allard terdiam mendengar jawaban itu seakan tidak puas saat mengetahui Yada tidak memilih sendiri tempat untuk pernikahan mereka. “Bagaimana dengan gaun pernikahan?” Dia menggantinya dengan pertanyaan lain.


“Aku juga meminta Laura yang memilihkannya.”


Allard menatapnya intens. “Besok kita akan pergi mencari cincin pernikahan. Jangan sampai seseorang memilihkannya juga untukmu.”


“Baiklah.”


***


David berada di dalam ruang kerjanya. Dia menatap beberapa gambar kebersamaan Yada dengan sosok pria itu. Sebuah alamat tercantum di dalam informasi. Namun David tidak ingin pergi untuk mengunjunginya. Dia melihat Yada pergi dengan pria itu tanpa paksaan. Pikiran David tidak karuan memikirkan apa yang terjadi di antara mereka berdua.


Terakhir kali dia menghubungi adiknya adalah beberapa hari yang lalu. Adiknya itu mengatakan jika dia baik-baik saja. David lega akan hal itu. Dia paham jika keluarga Aurora bukan tempat yang baik untuk Yada. Tapi kini adiknya justru berada di tangan Allard Washington. David tidak habis pikir. Jika dia terus membuntutinya dan Yada mengetahui itu semua, mungkin hubungan mereka berdua akan semakin memburuk.


Allard Washington bukanlah orang biasa. Pria itu pasti memiliki sesuatu hingga membuat Yada berada dipihaknya. Pikiran David semakin kalut saat memikirkan Yada mengetahui masalalunya dan siapa dia sebenarnya. Wanita itu mungkin tidak akan pernah menerima semua kejadian yang telah menimpanya di masalalu.


DAMN IT!


Pikirannya sakit memikirkan itu semua. David membuang semua benda yang ada di atas meja ke lantai. Semua berserakan dan kacau balau.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2