
Happy Reading ....
.
.
.
Ada beberapa hal yang tidak boleh Yada ketahui. Rose meminta Yada untuk melatih dirinya sendiri sekuat mungkin agar pantas mendapatkan kembali identitas miliknya. Setelah itu, Rose akan membawanya pada keluarga mereka. Untuk saat ini, Yada hanya perlu mengetahui Rose dan Marteen lah keluarganya.
Yada tidak menyetujui hal itu. Ini sedikit rumit. Kenapa ada syarat untuk bertemu dengan anggota keluarga sendiri. Terlebih lagi untuk bertemu dengan orangtua dan saudaranya, kenapa mereka tidak memperbolehkannya dan malah membuat hal-hal yang rumit.
Rose menjelaskan, jika semuanya perlu dilakukan. Jika Yada memiliki mental dan sikap yang tegas, serta pembelaan diri yang kuat, maka dia bisa bertemu dengan anggota keluarga. Karena tidak semua orang yang memiliki hubungan sedarah dengannya berada di pihak yang sama. Yada harus memiliki otak yang cerdas sebelum masuk ke dalam keluarga yang penuh kospirasi.
Untuk saat ini dia sangat lemah, hatinya begitu lembut dan berlapang dada. Sikapnya sekarang sangat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh keluarga Yora. Dia harus melatih dirinya sendiri, dan memiliki tekad yang kuat jika dia benar-benar ingin bertemu dengan anggota keluarga yang lain.
Meskipun Yada memiliki dendam yang kuat pada keluarga Aurora akibat disiksa pada masakecilnya, namun itu semua tidak cukup untuk seseorang memiliki hasrat balas dendam yang besar dan kejam. Dia harus memiliki hasrat itu, mencari dan membesarkannya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Rose?” tanya Yada khawatir. Dia tidak yakin akan menjadi seorang wanita yang Rose harapkan. Wanita kejam dan tidak berperasaan.
“Kamu hanya perlu melakukan apa yang perlu kamu lakukan.”
Suara riuh helikopter yang terdengar semakin mendekat menghentikan perbincangan keduanya. Rose dan Yada pergi menuju atas untuk melihat siapa yang datang dengan helikopter.
Kehadiran helikopter itu menyita perhatian semua tamu yang berada di sana. Semua mata tertuju pada benda besar dengan baling-baling itu untuk melihat siapa yang akan turun dari sana.
David Aurora turun dari helikopter, dia datang bersama beberapa pria bertubuh tegap berpakaian jas rapih. Pria dengan wajah tegas memiliki sorot mata yang tajam itu berjalan dengan gagah bersama para pengikutnya. Pandangannya mencari menelisik ke setiap sudut.
Allard datang dan merangkul pundak Yada. Dia memberi tatapan intens pada wanitanya, memberi arahan agar Yada tetap kuat dan tidak terlihat lemah atas pendiriannya.
__ADS_1
“Yada.” David menyebut nama Yada dengan suara baritonnya, dia mengulurkan tangannya pada Yada.
Yada menatapnya dan terdiam. Wajahnya tidak menunjukan ekspresi apapun sehingga semua orang yang melihatnya tidak bisa membaca pikirannya.
Kemudian sebelah lengannya terulur memegang tangan David. Lalu pria itu menciium punggung telapak tangan Yada dengan lembut dan disaksikan oleh semua orang. Setelah melakukannya, dia memeluk Yada, menciium pucuk kepala wanita cantik itu dengan penuh kasih sayang.
Semua orang terperangah melihat kemesraan mereka, terutama para tamu resort yang tidak terlalu mengenal siapa mereka. Beberapa orang beranggapan jika pria yang sedang memeluk Yada adalah mantan dari wanita cantik itu.
Sementara Allard menyikapinya dengan tenang. Dia hanya menatap dua orang itu dengan tatapan intens. Beberapa pengawal di belakangnya sudah siap siaga mengeluarkan senjata mereka, hanya menunggu arahan dari tuannya.
“Sekarang kamu resmi menikahinya dan seluruh dunia mengetahui itu.” David berbisik seraya mengelus lembut rambut Yada. “Selamat untuk pernikahanmu. Kamu mengikat ikatan baru dan memutuskan ikatan lama.”
Yada terdiam bahkan kedua lengannya tetap lurus tidak membalas pelukan seseorang yang dulu sangat disayanginya. Tapi tak lama kemudian sebelah lengannya terulur untuk membalas pelukan David.
“Ikatan kita tidak pernah terputus David. Sejak awal kita tidak memiliki ikatan apapun.” Dia berkata dengan pelas, mengelus punggung rata David.
“Kau terlalu banyak menipuku, David.”
David tercengang mendengar balasan yang Yada ucapkan. Dulu dia begitu mengenal wanita itu, tapi kini dia justru tidak menyangka dengan sikap dingin yang Yada tunjukan padanya.
Yada menarik tubuhnya dan melepaskan pelukaannya. Dia menatap David dengan senyuman kecil di bibirnya. “Terimakasih sudah menghadiri perayaan pernikahanku, kak.”
David segera mengalihkan pandanganya ke samping guna menghindari tatapan Yada. Untuk menghindari tatapan aneh orang-orang dia lalu mengulurkan sebelah tangannya dan seorang pelayan memberikan satu kotak sedang bertali pita.
Dia memberikan kotak tersebut pada Yada, dan wanita itu menerimanya dengan baik.
David mengelus kembali pipi lembut adiknya, mengecup kening Yada dengan penuh kasih sayang. Ini akan menjadi kali terakhirnya bertemu Yada secara baik-baik. Mungkin di lain kali dia tidak akan bisa mendapatkan kesempatan seperti itu lagi.
“Aku akan pergi.”
__ADS_1
David berbalik pergi diikuti oleh beberapa pengawal di belakangnya. Baling-baling helikopter yang berputar kencang membuat angin yang begitu kencang. Tidak lama kemudian helikopter tersebut melayang dan melesat pergi.
Allard mendekati Yada yang masih berdiri di tempatnya tadi. Sebelah tangannya merangkul bahu wanita itu dan berbisik, “Ayo kembali.”
Sementara itu di dalam helikopter, David mencoba menenangkan dirinya setenang mungkin. Telapak tangannya mengepal dengan erat dan hampir melayangkan pukulan pada jendela helikopter itu, namun dia sebisa mungkin menahannya.
Beberapa jam yang lalu sebelum menemui Yada, dia masih bersikeras meyakinkan dirinya jika Yada memang dipaksa menikah oleh pria itu. David dengan sengaja memancingnya agar wanita itu mau jujur dan setidaknya meminta tolong dengan menguji hubungan persaudaraan mereka. Tapi dia tidak menyangka jika wanita itu sama sekali tidak bereaksi ketika David memutuskan hubungan keduanya.
Dia berpikir jika Barrack dan Margareth benar tentang Yada. Mungkin Allard sudah mencuci otak wanita itu sehingga dia meninggalkan semua miliknya yang dia sayangi, yaitu David.
Mungkin Yada tahu sesuatu yang membuatnya tidak menginginkan kakaknya lagi. Dan jika memang semua itu benar, David tidak bisa meyakinkan Yada untuk kembali padanya. Dia merasa jika dirinya juga bersalah karena telah membohongi Yada selama ini.
Damn!
David hanya berharap wanita itu tidak memilih jalan untuk membalas dendam. Jika tidak, mungkin hidupnya akan hancur seperti keluarga mafia lainnya. Balas dendam tidak selalu memiliki akhiran yang baik.
******
Yada berada di kabin kapal seorang diri. Dia meminta waktu pada Allard untuk beristirahat karena kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Allard mengijinkannya. Pria itu meminta beberapa pengawal untuk menjaga pintu masuk kabin Yada.
Dia duduk di atas ranjang bersama kotak yang David berikan. Jemarinya membuka kotak tersebut. Di dalamnya berisikan sebuah jepit rambut dan gelang kecil yang telah usang. Terdapat sebuah cacatan kecil yang ditulis oleh David.
'Kamu meyakinkan diri untuk pergi hari ini, dan aku tidak bisa mencegahmu. Ini adalah barang yang kamu pakai ketika pertama kali kita bertemu, aku masih menyimpannya. Kamu pasti telah mengetahui semua tentang masalalumu. Maaf selama ini aku telah berbohong, aku hanya tidak ingin kamu pergi dan berusaha melindungimu. Aku berharap jika kamu memilih jalan terbaik untuk kehidupanmu. Aku menyayangimu. David.'
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....