Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Drugs


__ADS_3

Happy Reading ....


Yada termenung di kursi meja makan melihat beberapa porsi makanan di hadapannya. Tidak ada selera untuk makan, bahkan mulutnya terasa sangat pahit.


Sudah dua malam Yada terjaga dan tidak bisa menutup matanya untuk tertidur, nafsu makannya juga berkurang. Entah apa yang Allard berikan padanya hari itu.


“Are you oke?” tanya Allard menatap wanita cantik itu.


Yada sama sekali tidak menghiraukannya, karena pikirannya tidak berada di dalam kepala. Beberapa halusinasi aneh muncul semenjak Allard memaksanya menghisap sesuatu.


Allard tersenyum simpul, mengelus rambut Yada dengan lembut. “Kau yang seperti ini lebih baik.”


“Aku akan memberikannya lagi untukmu nanti,” ucap Allard. “Makanlah sedikit, atau kau akan sakit.”


Semenjak Allard memberikannya sebuah barang terlarang, Yada menjadi banyak merenung beberapa hari terakhir. Dia menjadi sangat pendiam di hadapan Allard.


“Kau harus menyesuaikan diri, makan dan tidur itu sangat penting.”


Yada menatapnya dengan kosong. “Apa yang telah kau berikan padaku?”


“Aku hanya memberikanmu obat.”


“Obat?” decih Yada. “Kau pikir aku bodoh?”


Allard menaikan sebelah halisnya. “Kau sangat pintar,” kata Allard mengejek.


“Aku tidak mau melakukannya lagi!”


“Kau harus melakukannya, Baby. Apapun yang aku perintahkan, kau harus melakukannya,” kata Allard menekankan.


“Aku tidak mau menjadi gila sepertimu!”


“Hei~ bekerja samalah dengan baik, sekarang ikut denganku.”


Allard menarik pergelangan tangan Yada dan membawa Yada pergi dari meja makan tanpa membiarkan wanita cantik itu menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Dia menariknya masuk ke dalam sebuah ruangan yang di mana banyak buku-buku tersimpan di sana. Ruang baca Allard.


Dia menarik gaun Yada, merobeknya di bagian Yada.


“Damn it! Kau-”


Allard tersenyum, lalu dia melanjutkan dengan mengacak-acak rambut Yada. Wanita cantik itu tentu menolak, mendorong Allard dan kemudian pergi dari sana.


Allard menarik lengannya, membawa tubuh Yada ke dalam pelukan. “Sttt ... Yada, apa kau ingin aku menggunakan kekerasan?”

__ADS_1


Yada menggertakan giginya kesal. Allard tahu kelemahan Yada sekarang. Wanita cantik itu begitu menjaga kehormatannya. Menyiksa fisik Yada tidak akan membuatnya merasa takut, melainkan mengancamnya dengan hal yang paling berharga. Virginity.


Allard menyeringai, mengusap bibir Yada dan menekankannya ke pipi, membuat lipstik berwarna merah itu tercoreng di wajah cantiknya.


“Very impressive!"


Kemudian tubuh Yada di dorong ke atas sofa, dan Allard sudah siap dengan kamera di ponselnya. Dia ingin membuat video seolah-olah Yada tengah dinodai olehnya. Hal ini akan sangat menyenangkan jika David melihatnya.


“Tubuhmu sangat indah, Yada.”


Allard menyentuh paha Yada, membuat wanita cantik itu semakin geram. “Stop it!”


Allard tersenyum puas. Dia mematikan layar ponselnya dan menyimpannya ke atas meja. Tubuhnya seketika menindih tubuh Yada, membuat Yada terkejut tidak terima.


“Bagaimana jika aku menikmatimu malam ini?”


Yada meronta, mencoba melepaskan diri dari kukungan tubuh Allard. “Jangan harap kau bisa mendapatkannya, Bastard!”


Allard terkekeh samar. “Sikapmu yang seperti ini aku sangat menyukainya.”


Gerakan Allard cepat ******* bibir Yada, ********** hingga habis. Sementara wanita cantik itu masih terus meronta menolak. Allard yang sama sekali tidak memperdulikannya justru semakin liar bermain dengan sentuhannya.


Dia menarik kembali tubuhnya, menatap wajah cantik Yada yang sedang terengah-engah. “Kau sangat menikmatinya.”


****! Sama sekali tidak!


“Ah~ Pergilah ... cukup untuk malam ini,” kata Allard menghentikan permainan.


“Aku harap kau tidak kecewa,” imbuhnya.


Yada menatapnya dengan bengis. Pria itu menyiksanya dengan kejam, dan kali ini dia sudah berani menyentuhnya.


Aku sangat membencimu!


Yada pergi keluar ruangan dengan tergesa-gesa, menghindar dari pria gila yang baru saja menerkamnya. Dia masuk ke dalam kamarnya, mencuci wajah serta bibir yang tadi telah terjamah oleh Allard.


“Menjijikan!”


Yada berada di dalam kamarnya, membuat sebuah gambar tato yang dimilikinya di masalalu. Ingatannya akan hilang jika dia tidak memiliki gambar itu dalam bentuk nyata.


Tiba-tiba pintu kamar dibuka, Yada segera menyembunyikan kertas dan pena ke dalam laci meja. Ternyata seorang pelayan datang dengan membawa baki berisikan makanan.


“Makanlah buah ini, Nona, kau akan merasa lebih baik,” ucapnya seraya menyimpan buah tersebut ke atas meja.

__ADS_1


Sudah dua hari Yada tidak makan apapun selain meminum beberapa gelas jus. Dia sangat tidak selera melihat makanan di hadapannya. Tubuhnya yang kecil mungkin akan kehilangan berat badan beberapa kilo lagi, dan lingkar hitam di matanya membuat wajah Yada terlihat seperti mayat hidup.


Yada mengambil satu piring berisi buah tersebut, membuangnya ke dalm tong sampah.


“Aku tidak lapar,” gumamnya rendah.


Allard yang masih berada di dalam ruang baca melihat tingkah laku Yada dari dalam layar macbooknya. Dia terkekeh kecil ketika melihat Yada membuang makanan itu.


“Sepertinya dia sangat menyukai desain. Berikan banyak kertas dan pena untuknya,” perintah Allard pada Jasson.


“Baik, Tuan.”


“Dan pastikan kau harus menyiapkan barang itu untuknya setiap hari. Buat dia tidak bisa melepaskannya.”


“Baik, Tuan.”


Yada membuka tirai gorden di kamarnya, suasanan malam yang gelap dan hutan rimbun di luar sana. Dia menatapnya untuk beberapa saat.


Tidak lebih mengerikan dengan hidup di dalam keluarga Aurora.


Wanita cantik itu meratapi nasib dirinya yang malang.


***


David mengurutkan pangkal hidungnya pening. Kondisi perusahaan sedang tidak stabil, ditambah dengan keberadaan Yada yang belum menemui titik terang. Dan sialnya lagi, lima persen saham perusahaan perhiasan Yada lolos darinya, dan malah jatuh ke tangan Allard Washington.


Seketika ponselnya berdering, sebuah email masuk. David membuka email tersebut yang tidak jelas nama pengirimnya. Sebuah video tidak menyenangkan kini membakar hati dan pikirannya.


“DAMN!”


Dia melemparkan ponselnya ke dinding, membuat layar ponsel itu pecah parah. Emosinya meluap tidak terkendali. Dengan kaki jenjangnya dia pergi ke luar dari ruang kerjanya.


David mengendarai sebuah mobil sport mewah pribadi miliknya. Mengendarai dengan kecepatan maksimal dan pergi ke sebuah perusahaan besar. Kedatangannya ditolak oleh seorang resepsionis karena dia tidak memiliki surat janji temu untuk masuk ke dalam perusahaan.


Ternyata diam-diam seseorang mengikutinya. Dua pria bertubuh tegap itu menghampiri David dan memberikan sebuah informasi kepadanya.


“Tuan, kau tidak bisa bertindak seperti ini. Publik akan menyorotmu nanti.”


Ternyata dua orang tersebut adalah pesuruh yang diperintah Barrack untuk mengawasinya. Barrack tahu jika putra semata wayangnya itu akan bertindak gegabah untuk mencari Yada.


“Kami memiliki sebuah informasi penting mengenai keberadaan nona Yada. Kami harap kau bisa melihatnya.”


Sudah satu bulan lebih David mencari, namun dia tidak bisa menemukan hasil apapun. Itu bukan tentang Allard yang sangat tertutup, atau bawahannya yang tidak kompeten. Usaha David ternyata selalu dihalangi oleh Barrack. Oleh karena itu dia tidak pernah mendapatkan informasi apapun mengenai Yada.

__ADS_1


Barrack yang telah mengaturnya.


Bersambung ....


__ADS_2