
Happy Reading ....
.
.
.
Buku bodoh?
Yada menatap pria gemulai bernama Sam itu. Wajah tampannya mencebik kesal lalu tak lama dia melenggang pergi dari sana. Lalu Yada mengalihkan sorot matanya pada Allard yang ternyata juga sedang menatapnya. Secepat kilat dia membuang tatapannya dari Allard.
Sam kembali dengan membawa beberapa katalog. Dia menyusun rapih di atas meja tepat di hadapan calon pengantin itu. Wajahnya masih cemberut, hatinya selembut kapas dan tidak bisa menerima bentakan sedikitpun. Meskipun sikapnya seperti itu, Sam adalah orang yang baik dan pengertian. Dia tidak akan berlarut dalam amarahnya.
“Nona, pilihlah tempat yang paling Anda sukai. Mungkin di seumur hidupnya hanya Anda yang bersedia menikah dengannya.” Sam mengatakannya dengan tatapan iba gemulai pada Yada. Wanita itu hanya tersenyum tipis mendengar Sam yang sengaja mencemooh Allard.
Wajah Allard dingin sedingin es. Setiap hal yang menatapnya akan mati membeku. Yada sedang mencari tempat untuk pernikahan. Meskipun dia tidak berniat memilihnya, tapi Allard meminta dia untuk memilih. Jujur saja, semua tempat yang ditawarkan Sam sangat indah. Yada takjub dengan beberapa tempat itu.
Pernikahan akan menjadi hari yang paling bahagia bagi kedua mempelai. Tapi mengingat Yada dan Allard menikah hanya untuk keuntungan mereka semata. Maka persiapan pernikahan tidak terlalu penting untuk dilakukan.
“Aku menyukai ini.” Telunjuknya menunjuk sebuah gambar di katalog. Sebuah gedung besar dengan dekorasi yang mewah dan anggun. Dia menyukai itu.
Yada melihat gambar yang Allard tunjukan. Dia mengangguk samar mengakui selera Allard yang begitu tinggi. Tapi gedung itu terlalu besar, dan mungkin bisa memuat ribuan orang. Tidak peduli dengan hal itu. Yada meminta Sam untuk menyiapkan gedung tersebut untuk acara pernikahannya.
Setelah drama pemilihan tempat untuk acara pernikahan, Yada dipaksa untuk mencoba beberapa gaun pengantin. Semua gaun itu adalah merk terkenal dan mahal, hanya dibuat satu di dunia. Dan hari ini beberapa gaun itu terpasang di tubuh Yada.
“Bagaimana dengan gaun yang ini? Kau terlihat sangat cantik dan cocok ketika mengenakannya.” Kalimat yang sama yang Sam ucapkan setelah tiga gaun terakhir. Pria gemulai itu berkata jujur, Yada memang terlihat sangat cantik dan mempesona.
Allard sesekali melirik ke arah Yada. Wanita itu terlihat cantik dan anggun, tapi Allard tidak akan mengakuinya. Yada bukanlah satu-satunya wanita cantik yang dia lihat seumur hidupnya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan gaya rambut ini?” Sam mengikat rambut Yada dengan lihai. Meskipun dalam waktu yang singkat dan tanpa perhiasan rambut, tapi gaya rambut yang Sam buat semakin memancarkan aura kecantikan Yada.
Allard berdiri di belakang Yada setelah menyingkirkan Sam dari sana. Dia menatap Yada melalui bayang-bayang cermin. Kedua lengan Allard melepas ikatan rambut yang Sam buat, dan membuat pria gemulai itu kembali menampilkan ekspresi tidak sukannya. Allard membiarkan rambut Yada terurai dengan indah.
“Biarkan seperti ini, kau terlihat lebih anggun.”
Yada tertegun mendengar itu. Sebelumnya hanya ada kata-kata kotor dan hinaan yang pria itu lontarkan padanya. Tidak disangka jika Allard juga bisa mengeluarkan kata-kata manis yang menyanjung.
“Kau mengabaikannya sejak tadi, kata-kata manis saja tidak cukup untuk menebus perasaanya yang merasa terabaikan,” celetuk Sam.
“Apakah kau merasa diabaikan?”
Yada menggeleng pelan sebagai jawaban. Allard langsung menatap Sam dengan sinis. Memperlihatkan kemenangannya pada pria gemulai itu. Sam langsung pergi dari sana dengan tatapan malas kepada Sam.
***
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Allard dengan nada memprotes.
Yada dengan cepat menghapus senyumannya dan kembali dengan ekspresi datar. “Tidak ada.” Allard hanya menatapnya dengan intens.
“Persiapkan dirimu, karena kita akan mengunjungi kediaman Aurora.”
Yada tertegun mendengar kata 'Aurora'. Dadanya langsung berdegup dengan kencang dan membuatnya sesak. Dia tidak siap bertemu dengan mereka untuk saat ini. Tapi Allard dengan tiba-tiba membawanya ke sana.
“Tidak ada yang perlu kau takuti, aku bersamamu.”
“...bukankah kita akan menikah? Setidaknya kita harus meminta restu kepada orang tua dan kakakmu.”
Yada tidak mengatakan apapun. Sampai akhirnya mobil yang dikendarai Allard berhenti tepat di depan kediaman itu. Telapak tangan Yada mulai dingin, dan dia gugup. Allard menatapnya tanpa ekspresi. Berpikir kenapa wanita itu masih tetap takut meskipun dia datang bersamanya. Apakah dia tidak yakin jika Allard bisa melindunginya?
__ADS_1
Seorang penjaga menghadang mereka dan tidak memperbolehkan mereka masuk. Namun Allard menurunkan kaca mobil dan penjaga itu melihat Yada. Tanpa mengatakan apapun mereka langsung membuka gerbang kediaman Aurora.
Untuk kedua kalinya Allard pergi ke rumah mewah itu. Pertama, Allard menculik Yada, dan yang kedua hari ini. Dia akan meminta restu pada Barrack Aurora. Jika diingat, ini adalah hal yang lucu dan menakjubkan. Allard tidak sabar untuk melihat ekspresi wajah pria tua Bangka itu.
Apa kau bisa melarikan diri lagi sekarang Barrack?
Keduanya masuk ke dalam rumah setelah disambut oleh beberapa pelayan. Yada memimpin jalan dan berpapasan langsung dengan Margareth. Wanita paruh baya dengan gaya modis itu membeliakan mata, ekspresi wajahnya langsung memerah karena marah setelah seorang pelayan memberitahu jika nona muda telah kembali.
“Apa kau masih memiliki nyali untuk datang ke rumah ini?” Margareth meninggikan suaranya, dan pada saat itu Allard datang dan berdiri di samping Yada. Wajah pria itu dingin dan menusuk dengan tatapan tajamnya.
Margareth tersentak melihat kedatangan pria itu. Dia langsung menatap Yada dengan tatapan benci. Wanita itu langsung mundur dan meminta seorang pelayan untuk memanggil Barrack Aurora agar suaminya itu segera datang dan melihat Allard Washington yang berada di dalam kediamannya. Tatapan tajam Margareth langsung mengarah pada beberapa penjaga bodoh yang melakukan kesalahan besar karena telah memasukan Allard ke dalam kediaman. Mereka semua pasti akan mati.
Barrack datang dengan banyak pengawal di belakangnya. Para pengawal bertubuh besar itu berdiri mengelilingi mereka seolah siap menyergap Yada dan Allard. Pria paruh baya itu menatap tajam Yada dengan penuh kebencian, tatapan yang sama tertuju juga pada Allard.
Tiba-tiba Allard tertawa di tengah-tengah situasi tegang itu. Suara tawa yang menggema di dalam ruangan membuat semua orang yang berada di sana langsung mengeryitkan kening.
“Kau sangat berjaga-jaga?” Allard berkata dengan nada mencemooh.
“Apa maksud kedatanganmu kemari Allard Washington?” Suara berat Barrack Aurora terdengar mencekam.
“Untuk memberikan undangan pernikahan.”
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1