Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
*TASK


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


.


Biff biff biff ....


Suara passcode ditekan dan tak lama disusul suara pintu terbuka. Cahaya masuk dari jendela kaca yang masih kosong tanpa gorden. Ruang tamu yang luas dan lantai marmer mahal mengkilap. Ruangan itu masih kosong, namun kesan mewah dan elegan sudah terpancar dari struktur dan bahan bangunan yang dipakai.


Dua orang wanita masuk ke dalam. Pandangan menelisik ke arah sekitar ruangan dan berakhir pada luar jendela. Apartemen itu memiliki pemandangan yang sangat indah, seisi kota terlihat kecil dari sana. Di bawahnya, terdapat sungai panjang yang menyajikan sebuah perahu untuk turis berkeliling.


“Mulai hari ini, Nona akan tinggal di sini. Apartemen ini sengaja dikosongkan, Tuan Allard meminta anda untuk memilih dan menata apartment anda sendiri, Nona,” lugas Laura dengan senyum ramahnya. Yada mengangguk pelan.


“Saya yakin anda pasti familiar dengan jalanan di ibukota, dan juga tidak perlu mengajarkan anda mengemudi.”


“Ya, aku tahu semua itu, kau tidak perlu melakukan semuanya untukku,” ucap Yada singkat.


“Baiklah Nona, saya akan pergi. Anda harus ingat rencana yang sudah kita bicarakan tadi, jangan membuat kesalahan dan mengecewakan tuan Allard.”


Yada mengalihkan pandangannya ketika mendengar nama pria itu di sebutkan. Pria itu menghilang tanpa jejak tapi namanya selalu Yada dengar.


“Apa seseorang mengawasi ku?” tanya Yada menatap Laura.


Laura menyalakan tab miliknya, lalu memperlihatkan rekaman CCTV yang berada di dalam apartment Yada kecuali kamar tidur dan kamar mandi. Selain itu, semua sisi memiliki CCTV. Melihat semuanya Yada mengangguk dan mengerti.


“Baiklah Nona sampai jumpa.”


Suara pintu tertutup, Yada mengalihkan pandangannya dari memperhatikan bayang-bayang Laura. Dia pergi menuju lantai dua apartement yang tentu saja masih kosong tanpa satupun barang di sana. Pandangannya seketika beralih pada sudut ruangan, CCTV berada di sana. Mereka benar-benar mengawasi semua gerakannya.


Dia mengambil ponsel dari saku Jeans, pergi menghubungi Laura. Yada yakin jika wanita itu masih berada di area gedung apartemen, dan belum pergi terlalu jauh.


“Hallo Nona?”


“Aku tidak pandai menata ruangan, aku ingin meminta bantuanmu.”


“Baik, Nona.”

__ADS_1


 


Allard berada di dalam privateroom bersama Darren dan Yoland. Dua wanita cantik dan seksi berada di sisinya, menyentuh Allard, menelusuri setiap inci berotot tubuh pria tampan itu.


“Bagaimana? Apa dia bisa dipercaya?”


“Tidak ada pilihan lain. Hidupnya sudah sangat menyedihkan di masalalu, aku yakin dia tidak akan kembali dengan bodohnya dan menyia-nyiakan semuanya.”


“Baiklah, jadi apa rencanamu selanjutnya?”


“Membuatnya kembali pulang.”


Allard meraih bibir sintal wanita disisi kanannya, meremass bokong wanita disisi kirinya. Dua wanita cantik itu melenguh, menatap Allard dengan bergairah.


***


“Bagaimana, apa kau menyukainya?”


“Ya, ini sangat bagus dan terlihat mewah.”


Laura tersenyum simpul mendengarkan kepuasan Yada atas hasilnya menata ruangan.


“Sudah waktunya, Nona,” kata Laura.


Laura menatap Yada, mengerti dengan apa yang dirasakan oleh wanita di sampingnya, lantas dia mengenggam telapak tangan Yada yang terasa dingin dan berkeringat. Wanita cantik itu menoleh dengan wajahnya yang memucat.


“Kau tidak perlu khawatir Nona, kami mengawasimu di sini. Tidak akan ada hal buruk yang menimpamu. Percaya padaku,” ucapnya menyakinkan.


Bagaimana aku bisa percaya padamu?


.


.


.


Wanita cantik itu mengatur nafasnya perlahan. Dia berada di dalam sebuah mobil yang terhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah mewah. Rumah besar itu, rumah yang menaunginya selama beberapa tahun, memberikan luka yang mendalam bagi kehidupannya.


Hidup dan matiku hanya sekali, tapi aku tidak akan mati ketika aku masih tidak mengetahui siapa aku sebenarnya.


Dia membunyikan klakson mobilnya, gerbang itu otomatis terbuka karena Yada memiliki remote otomatis untuk membuka dan menutup gerbang rumah itu. Ini miliknya dulu, mungkin Allard sengaja menyimpannya untuk digunakan hari ini. Pria itu merencakan dengan sangat detail.

__ADS_1


Pintu gerbang terbuka. Seorang pria bertubuh tegap di samping gerbang menghentikan mobil Yada. Plat nomor itu asing, pria itu tidak mengijinkannya untuk masing.


Yada membuka jendela pintu mobil, memandang pria itu dengan tatapan tajam. Seketika pria tersebut bergeming, matanya membeliak lebar. Kabar mengenai hilangnya Yada tentu saja sudah menyebar, pria itu tertegun melihat kehadiran nona rumah yang telah lama hilang itu.


“Nona?”


“Ya, ada apa? Kau tidak akan membiarkanku masuk ke dalam rumahku sendiri?” ucap Yada tegas sembari terus menatap pria itu dengan tatapan tajam dan dingin yang menusuk.


Tubuh tegap pria itu berjalan mundur, tidak menghalangi jalan Yada lagi. Yada menjalankan mobilnya kembali, melihat sekilas pria tersebut dari kaca spion. Pria itu tampak sedang menghubungi seseorang.


Mobil mewah itu berhenti tepat di pintu masuk rumah. Sesaat Yad hanya memandang nanar pintu rumah tersebut. Hatinya terasa sangat sakit, air mata tergenang di pelupuk mata, lengannya bergetar hebat, kecemasan mendera jiwanya.


Aku tidak bisa ... aku tidak bisa ....


Dia sangat ingin pergi dari sana. Tapi seketika seluruh tubuhnya lemah, bahkan lengannya pun tidak mampu mengendalikan setir mobil lagi. Sampai pada akhirnya beberapa pria bertubuh tegap mendatangi mobilnya, Yada tertegun. Namun dia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri, terlihat tetap baik-baik saja.


“Nona?” Satu dari mereka mengetuk pintu mobil.


Yada memasang cermin mata guna menutupi matanya yang memerah. Kemudian dengan santai dia menurunkan kaca pintu mobil. Terlihat sangat jelas jika beberapa pria bertubuh tegap itu tertegun ketika melihat dirinya.


“Ada apa?” tanya Yada dengan nada santai, namun di dalam hatinya sangat berkecamuk hebat. Dia mengepalkan jemarinya, kuku panjang dengan nail art perlahan menusuk telapak tangannya.


“Apa kalian ingin menghalangiku juga?” tanyanya lagi, menyalahkan para pria itu karena menghalanginya.


Para pria itu menarik pandangan dari menelisiknya. Berdiri rapih berjejer dan membungkuk perlahan.


“Selamat datang di rumah, Nona.”


Yada menghela nafasnya perlahan, melonggarkan kepalan tangannya. Dia sangat waspada, cemas jika para pria itu akan langsung membawanya ke dalam ruang bawah tanah untuk disiksa kembali.


Pintu mobil dibuka, Yada melangkah keluar dengan anggun. Rambutnya yang terurai dan ikal diujung langsung diterpa semilir angin dan lembut, higheelsnya menyentuh lantai dan membuat bunyi nyaring, kacamata hitam membuat auranya terlihat tegas dan berani.


Kaki jenjangnya melenggang menuju pintu besar yang sudah terbuka lebar. Beberapa pelayan wanita berdiri berjejer sembari membungkukan setengah badan untuk menyambutnya. Aroma khas yang tercium dari dalam rumah megah itu, aroma itu mengingatkan Yada pada kejadian di masalalu.


Akhirnya aku kembali ....


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


Hay guysss, dukung terus author dengan memberikan like dan koment terbaik kalian yaaaa.. See you di chapter selanjutnya. Byebyeee.


__ADS_2