
Happy Reading ....
“Mengapa kau selalu mengusik ketenanganku!”
PLAK!
Yada menatap pria itu dengan tajam setelah dia menamparnya. Rasa perih pada pipinya membuat kulit putih mulus itu mengalami merah dan memar. Dia terdiam dan tidak mengatakan apapun.
“Sampai kapan kau akan menyekapku di sini?” tanya Yada datar.
“Apa kau muak?”
“Bukankah sudah aku katakan jika tidak ada gunanya aku berada di sini? Kau ingin terus menutup mata?” lugas Yada.
“Untuk apa menutup mata jika mata ini sudah buta?” bentak Allard lantang.
Keduanya tampak tenang untuk beberapa saat. Namun tidak ada satu orangpun yang tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Di sisi lain, Allard yang sudah kehabisan cara memeras klan Aurora dengan menggunakan Yada. Sementara Yada terus berpikir alasan dia terus hidup di dunia ini.
“Bunuh aku!” pekik Yada lantang. “Tidak bisakah kau membunuhku? Untuk apa aku hidup jika terus merasakan sakit karena siksaan! Kalian! Kenapa kalian sangat suka menyiksaku! Kenapa!” pekik Yada lantang, wajah cantiknya menampilkan raut wajah frustasi.
Allard membeliak menyikapi wanita yang tersungkur di hadapannya. Wanita itu tampak tenang untuk beberapa saat. Tapi hari ini dia benar-benar kehilangan kendali untuk dirinya.
“Kenapa aku yang selalu menjadi pion di dalam permainan kalian! Aku tidak mau!”
Air matanya jatuh tidak terbendung. Pikirannya kacau lantaran akses untuk mengendalikan dirinya telah hancur. Pikiran Yada sudah tidak sehat, ditambah dengan kecanduan yang dimilikinya sekarang. Allard menghentikan dosisnya secara tiba-tiba, membuat Yada tidak bisa menerima itu semua.
“Aku tidak mau lagi ....”
Dia menangis tersedu-sedu, dan Allard hanya menatapnya dengan diam tanpa rasa iba sama sekali. Allard hanya merasakan ada yang aneh dengan perilaku dan perkataan Yada. Siapa 'kalian' yang dimaksudnya? Bukankah hanya Allard?
“Akan lebih baik jika tidak pernah dilahirkan.”
Allard berbalik pergi dan menutup pintu dengan keras. Sementara ponselnya tidak berhenti berdering menampilkan sebuah notifikasi panggilan suara dari Yoland. Dia tidak memperdulikannya.
***
Dua minggu berlalu, akhirnya David dapat kembali ke negaranya setelah menyelesaikan beberapa pertemuan yang diadakan lebih awal dari jadwal sebelumnya. Sesampainya di bandara, David langsung pergi ke kediaman Barrack untuk meminta penjelasan dari ayahnya itu.
“Tuan dan Nyonya sudah pergi satu minggu yang lalu, Tuan.”
“Kemana mereka pergi?”
__ADS_1
“Mereka merahasiakannya.”
“Shit!” umpat David kesal.
Sementara itu, Allard berada di ruang kerja perusahaan. Seorang wanita cantik duduk di atas sofa di hadapannya sembari terus menatap pria itu. Allard memperlihatkan sebuah rekaman CCTV padanya.
Perasaan Zinth tidak karuan setelah melihat adegan di depannya. Seorang wanita tidak berdaya di atas sebuah ranjang dengan kaki tangan yang terikat tali. Perasaan tidak enak itu antara menandakan jika dia merasa senang karena melihat putri dari klan musuh mendapatkan penderitaan, tapi di sisi lain hatinya berdetak ketika melihat wajah yang sangat tidak asing di pandangannya.
“Siapa namanya?” tanya Zinth.
“Yada Aurora.”
Zinth mengesampingkan emosional ketika melihat wanita itu, dan terus meyakinkan diri jika dia bukanlah orang yang dicarinya, melainkan keluarga dari klan musuh terberat.
“Aku akan mengunjunginya hari ini,” ucap Zinth.
“Pastikan jika kau tidak akan membunuhnya. Dia adalah pion penting untuk kita.”
“Ya, tentu saja.”
'Aku tahu kau akan kembali, dan tempat pertama yang kau datangi untuk mencariku adalah tempat ini. Maaf karena tidak menyambutmu dengan pantas. Tapi aku memiliki hal dan harus pergi beberapa saat. Kita akan bertemu setelah urusanmu sudah selesai. Aku sangat merindukanmu.'
Allard menghela nafasnya dalam-dalam. Meremas catatan kecil itu lalu membuangnya ke sembarang tempat. Dia menuangkan redwine ke dalam gelas lalu meminumnya hingga tandas, menatap tajam beberapa foto yang tertempel di atas dinding.
“Ternyata kau tidak bisa menerimanya,” gumam Allard rendah.
Yada berada di dalam kamar dengan wajah lesu dan berpeluh. Tiga hari berturut-turut dia hanya meminum air putih dan tidak memakan makanan sama sekali. Dia hampir mati. Akal sehatnya sudah tidak terkendali.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Suara higheels yang menghentak lantai terdengar di telinga. Yada membuka matanya, melihat kaki jenjang putih mulus berada di sampingnya. Seorang wanita.
Tiba-tiba jemari wanita itu mencengkram kuat rahang Yada, menaikan dagunya agar Yada bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“Yada Aurora?” Dia tersenyum.
Yada membuang wajahnya ke arah samping, melepaskan cengkeraman jari wanita itu dengan kasar.
“Kondisimu begitu baik,” ucapnya.
Zinth duduk tepat di sebelahnya, menatap Yada dengan wajah marah namun bibirnya masih bisa tersenyum puas.
__ADS_1
“Bagaimana pria itu mengurusmu? Kenapa kau masih terlihat baik-baik saja?”
Satu orang lagi datang untuk menyiksanya. Yada tidak habis pikir. Sebenarnya dosa apa yang telah diperbuat oleh klan Aurora sehingga menyinggung banyak pihak. Dan yang lebih memuakan adalah, di mana dirinya yang selalu menjadi korban kekerasan di antara mereka.
“Jika kau memiliki dendam kepada klan Aurora, lebih baik balaskan dendam mu langsung. Bunuh aku, atau pergi bunuh seluruh klan itu. Tidak ada gunanya menyekapku terus menerus,” lugas Yada.
Zinth terkekeh samar. “Bukankah hidup lebih baik daripada mati? Melihat orang yang kita benci menjalani kehidupan yang menderita lebih baik daripada melihatnya mati lalu menghilang.”
Jada menaikan dagunya. “Hidupmu pasti sangat menderita selama ini.”
Seketika raut wajah Zinth berubah, dia mengerutkan halisnya.
“Bagaimana rasanya hidup tapi seperti mati? Jujur saja, hidupmu memang menyedihkan,” imbuh Yada yang semakin membuat hati Zinth kesal.
“Kau terlalu banyak berbicara,” kata Zinth.
“Pasti rasanya sangat tersiksa menjalani kehidupan yang diiringi dengan sebuah dendam. Dan kau, belum bisa membalaskan dendam mu sampai hari ini.”
Zinth terkekeh samar. “Apa yang kau tahu? Kau bahkan berbicara terlalu banyak dan melebih-lebihkannya.”
“Aku tahu dengan jelas.”
Karena disepanjang hidupku, aku hanya menemui dan mengenal orang-orang sepertimu. Orang yang sepanjang hidupnya penuh dengan dendam, lalu melampiaskan dendam tersebut kepada orang lain dengan menyiksanya. Batin Yada.
“Kau terlalu banyak berbicara hari ini. Bagaimana jika aku membantu Allard memberikan satu pelajaran untukmu?”
Zinth mengeluarkan sebuah suntikan yang telah diisi oleh obat. Tanpa berbasa-basi lagi, dia menyuntikan obat tersebut ke dalam tubuh Yada dan tanpa perlawanan.
“Kau bahkan tidak menolak?” ungkap Zinth.
“Apa aku bisa?”
Zinth terlalu meremehkannya. Dia pikir Yada akan berteriak dan memohon. Tapi dia salah, wanita dihadapannya sama sekali tidak bereaksi dan malah menerima semu yang dia lakukan.
“Kau harus menggunakan pikiranmu dengan baik, karena penyesalan hanya akan datang di akhir waktu.”
“Untuk apa aku menyesal?” Zinth heran.
Sementara Yada tidak menjawabnya dengan sepatah katapun.
Bersambung ....
__ADS_1