Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
*BAGIAN YANG HILANG


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Allard berada di ruang privateroom bersama tiga orang sahabatnya. Dia memberitahukan kepada tiga sahabatnya tentang permintaan Yada. Tiga sahabatnya itu hanya terdiam dan tidak berkomentar apapun. Pernikahan itu bukanlah hal yang buruk mengingat Yada adalah anggota dari klan Yora. Jika kedua klan digabungkan, maka akan menambahkan kekuatan yang lebih besar lagi.


Allard sendiri tidak terlalu memperdulikan masalah permintaan itu. Pernikahan akan menguntungkannya terlebih lagi jika nanti Yada telah menjadi anggota klan Yora sepenuhnya. Maka dari itu Allard tidak menolak permintaan Yada. Dia menyetujui pernikahan itu, dan bahkan akan mempercepat proses penyelenggaraan.


Pernikahan itu akan menjadi hal yang mengejutkan bagi klan Aurora. Ketika klan WS dan Yora bersatu, maka itu akan menjadi ancaman besar bagi semua klan termasuk klan Aurora. Allard sudah tidak sabar menantikan raut wajah cemas dan pucat dari Barrack Aurora.


***


Laura membawakan beberapa katalog pernikahan untuk Yada. Dimulai dari gedung, gaun pernikahan, dan model undangan. Asistant cantik dan kompeten dari Allard tidak melewatkan hal sekecil apapun termasuk souvernir pernikahan.


Yada melihat katalog gedung yang akan menjadi tempat dirinya mengadakan pernikahan. Beberapa model indoor dan outdoor disediakan. Semua itu disusun dengan sangat indah dengan hiasan berbagai macam bunga sebagai pelengkap. Dia memilih dan memilahnya satu persatu, seolah begitu yakin akan pernikahannya dengan Allard.


Pilihan gedung Yada terhenti pada halaman tiga yang menyediakan ruang untuk indoor dan outdoor. Pandangannya tertuju pada kertas di pangkuannya seolah terkesima atas kecantikan dekorasi yang ditampilkan. Padahal kenyataanya Yada sedang memikirkan bagaimana rencana ke depannya setelah dia menikah. Yada tidak bisa mengendalikan dirinya untuk terus bersabar demi bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


Pintu apartementnya tiba-tiba terbuka. Kedua wanita cantik itu langsung menoleh pada pintu. Allard datang dengan membawa satu buket bunga mawar merah. Laura langsung beranjak keluar dari apartement setelah mendapatkan isyarat dari Allard.


Allard tersenyum dengan penuh kehangatan. Dia duduk di samping Yada dan memberikan buket bunga itu kepadanya. Yada menerima bunga itu, dan membalas senyumannya. Hari ini, dia akan menerima Allard sepenuhnya sebagai donatur untuk rencana balas dendamnya.

__ADS_1


“Bersiaplah malam ini, aku akan membawamu ke satu tempat yang sangat spesial.”


Yada mengangguk mengerti. “Baiklah.”


Allard mengeluarkan sebuah dokument dan memberikannya kepada Yada. Dia meminta Yada untuk membaca dan memahami isi dokument itu. Yada membukannya tanpa ragu, membaca setiap kata demi kata. Yada tidak bisa memahami semua isi berkas itu, ini sangat tiba-tiba untuknya seolah tidak dapat dipercaya.


“Berkas yang kau baca di rumah sakit hari itu, bukankah ada beberapa bagian yang hilang? Inilah bagian yang hilang itu.”


Beberapa lembar foto tragedi itu mengingatkan Yada pada ingatan sebelumnya. Ketika seorang wanita menyembunyikannya di dalam lemari dan wanita itu tewas di tembak. Wanita yang dia panggil dengan sebutan 'mama'.


Mama ....


Di ambang pintu, seorang pria memegang pistol dengan raut wajah penuh dendam. Dia merasa puas saat mendengar jeritan dari wanita yang ditembaknya. Pria itu tersenyum dengan sangat mengerikan.


Yada melemparkan foto itu ke atas meja. Dia tidak ingin melihatnya lagi. Semuanya sudah cukup jelas jika pria yang berada bersamanya hari itu adalah Barrack Aurora. Pria itu menembak ibunya dan menculiknya dari keluarganya yang asli. Tapi kenapa, kenapa dia melakukan itu semua. Membantai seluruh keluarganya.


“Apa kau siap untuk membalas dendam kepada mereka, Yada?”


Yada mengepalkan jemarinya erat. Kehidupannya telah hancur dan keluarganya tewas akibat dari aksi bejad pria itu. Bagaimana mungkin Yada bisa diam dan menerimanya begitu saja.


“Ya! Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal!”


“Bagus! Kali ini kau tidak perlu ragu untuk menikah denganku. Kita memiliki dendam yang sama.”


Yada menatap Allard dengan tatapan nanar. Dia mengangguk samar, setuju dengan apa yang dikatakan oleh Allard. Dia akan membalas dendam kepada Aurora, Allard akan berada di sampingnya. Yada tidak akan pernah mundur dari pembalasan dendam itu.

__ADS_1


Allard memakaikan mantel kepada Yada. Mengajaknya keluar untuk pergi ke suatu tempat. Pria itu tidak mengatakan kemana dia akan mengajaknya. Dia hanya mengatakan jika mereka akan pergi untuk 'meminta restu'.


Pria itu mengemudikan mobilnya membelah jalanan. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih sekitar dua jam lamanya. Mobil sport mewah itu terhenti pada jalanan sepi dengan pepohonan di sisi kanan dan kirinya. Allard meminta Yada untuk turun dari mobil.


Pandangan Yada melihat sekeliling area pemakamam yang begitu luas. Dia kembali menatap Allard dan melangkah mendekatinya. Allard menggandeng tangannya dan mengajak Yada pergi untuk mengunjungi satu makam.


Dua makam bertuliskan Nyonya dan Tuan Ws berjejer dan sangat terawat. Allard mulai bersimpuh di hadapan makam tersebut dan menyiramkan air di atasnya. Yada hanya berdiri diam di belakang, dia terus memperhatikan pria yang tampaknya jauh berbeda ketika pertama kali Yada melihatnya. Hari ini, Allard terlihat lebih hangat dan perhatian. Berbeda dengan pria kejam yang beberapa hari yang lalu memaksanya untuk memakai semua perhiasan.


Setelah selesai dengan sesi penghormatan. Allard kembali berdiri di samping Yada dan menggenggam tangannya. Ekspresi pria itu terlihat begitu meyakinkan ketika dia memperkenalkan Yada pada mendiang kedua orang tuannya. Yada mengerti, inilah yang tadi Allard katakan jika mereka akan 'meminta restu'.


“Dia adalah calon istriku, menantu kalian. Kami berdua akan menikah dalam minggu ini. Kami harap kalian menyaksikan pernikahan kami dari atas sana.”


'...dengan menikahinya, kedua klan akan bersatu. Rencana balas dendam tentunya akan segera terselesaikan. Aku akan memastikan, bahwa tidak akan ada yang tersisa di antara mereka.' Allard menyambung kalimatnya dalam hati.


Mereka kembali ke mobil setelah meminta restu. Allard mengajak Yada untuk makan malam bersama. Tapi perjalanan sudah cukup melelahkan baginya. Yada hanya ingin segera kembali pulang. Pria itu tidak menolak, dia menuruti permintaan Yada tanpa ada amarah sedikitpun. Yada sedikit merasa tidak biasa melihat Allard yang sangat pengertian seperti sekarang.


Mereka berdua sampai di apartment Yada. Wanita itu segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Tidak lupa Yada mengunci pintu kamarnya untuk berjaga-jaga jika saja tiba-tiba Allard masuk ke dalam kamarnya ketika dia sedang mandi.


Yada keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan mandinya. Dia terkesiap ketika melihat Allard yang sudah berada di dalam kamarnya dan sedang bertelanjang dada.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2