Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
*PERNIKAHAN


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Gedung megah dengan dekorasi yang mewah telah dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk menyaksikan janji suci mempelai pengantin. Masing-masing mereka datang dari sesama klan, tetua, dan juga rekan bisnis Allard. Gedung itu dipenuhi ratusan orang-orang penting. Penjagaan yang sangat ketat tidak perlu diragukan lagi.


Allard berdiri di pintu masuk untuk menyambut para tamu ditemani beberapa tetua klan. Mengingat dirinya tidak memiliki orang tua kandung karena mereka meninggal ketika Allard masih kecil. Para tetua klan lah yang mengasuhnya hingga besar sampai saat ini.


Pria itu menyimpulkan senyumannya ketika seorang pria berwajah tajam berjalan mendekati. Lengan pria tersebut mengepal kencang seolah siap melayangkan tinju kepada Allard.


“Aku senang kau datang, David!”


Pria itu mengabaikan sambutan Allard. Namun pria paruh baya di sampingnya berbisik pada David untuk sedikit memperlihatkan rasa hormat. Seluruh klan mafia di negara itu berkumpul. Jika mereka melihat keretakan di antara dua klan Aurora dan WS, maka yang akan sangat dirugikan adalah klan Aurora.


Dengan perasaan terpaksa David menjabat tangan Allard dan memeluknya ringan untuk memberikan ucapan selamat. Banyak orang memperhatikan tingkah mereka dengan intens. Beberapa media meliputnya.


Barrack dan Margareth melakukan hal yang sama. Wajah mereka menunjukan ekspresi tenang seolah menerima pernikahan itu. Keduanya begitu pandai berakting di depan banyak orang.


Sementara itu Yada berada di ruang ganti. Sam sedang memoleskan make up pada wajahnya. Pria gemulai itu turun tangan sendiri untuk melayani klien VVIP nya. Riasan wajah Yada di buat dengan begitu cantik olehnya.


Laura masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Dia mengatakan jika sudah waktunya Yada keluar dan berjalan di altar. Wanita itu juga memberikan sebuah pistol yang harus Yada simpan di dalam gaunnya. Terselip tepat di paha kanan. Itu semua untuk berjaga-jaga.


Sam tersenyum canggung melihat hal itu. Meskipun ini bukan yang pertama kali dirinya menghadiri acara pernikahan mafia. Tapi seorang pengantin wanita yang membawa pistol, ini benar-benar langka.


“Kau tau menggunakannya, Nona?”


“Tentu saja.”

__ADS_1


Laura keluar dari ruangan itu. Sam kembali menata rambut Yada dan merapihkannya. Sesekali lirikan matanya menatap tatapan mata kosong wanita cantik di depannya. Padahal pengantin wanita biasanya akan merasa gembira dan memuji dirinya sendiri dihari pernikahannya. Tapi yang satu ini berbeda.


***


Waktu yang baik telah tiba. Yada keluar dari ruang ganti diiringi dua pengiring wanita cantik yang Yada sendiri tidak tahu itu siapa. Barrack sudah berdiri di ujung altar menunggu kedatangannya. Anak dan ayah palsu itu akan berjalan di atas altar bersama-sama.


Diiringi musik romantis. Barrack menggandeng lengan Yada dan berjalan di atas altar. Senyuman dari dua orang itu tidak lepas dari wajah mereka. Meskipun senyuman itu menunjukan kepalsuan.


“Daddy.” Yada berbisik. “Apakah kau bahagia dengan pernikahanku?”


Barrack terdiam sejenak. Kenapa tiba-tiba Yada bertanya hal semacam itu. Padahal wanita itu tahu dengan jelas jika Barrack tidak pernah menyetujuinya. Jika bukan karena klan miliknya terancam, Barrack tidak akan hadir hari ini di pernikahan mereka berdua.


“Tentu saja aku bahagia. Kau adalah putriku.”


Yada terkekeh samar. Kekehan itu terdengar seperti cemoohan untuk Barrack.


“Ya benar! Aku adalah putrimu. Nikmati hari-harimu sebagai seorang ayah, Daddy!”


Sementara di ujung ruangan. David mengenggam gelas wine miliknya dan menegaknya hingga habis. Wajah pria itu memerah kesal. Dia tidak bisa menyaksikan pernikahan konyol yang dilakukan oleh adiknya. David harus mencari tahu kenapa Yada bisa bersedia menikah dengan pria itu.


Allard dan Yada resmi menjadi pasangan suami istri. Para tamu yang hadir bergantian untuk memberikan mereka selamat. Yada hanya tersenyum untuk membalas. Dia bahkan tidak mengenal satu orangpun di sana.


Senyum di wajah Yada hilang seketika saat dia melihat seorang wanita berjalan mendekatinya. Wanita yang berpakaian ****, mengenakan sebuah gaun slimfit berwarna hitam, serta make up mencolok dengan bibir yang dipoles lipstik berwarna merah darah.


Wanita itu ....


Tatapan mata wanita itu begitu intens dan tajam. Seolah-olah dia siap memakan siapapun yang berada di hadapannya. Dia menatap Yada dengan begitu dalam. Wanita cantik itu langsung menatap ke arah suaminya dengan bingung.


Zinth mengulurkan tangannya untuk memberi selamat. Meskipun ragu Yada tetap menyalaminya sembari tersenyum. Wanita itu adalah wanita yang dulu pernah meracuninya. Yang jelas Yada sangat tidak menyukainya.


“Selamat atas pernikahanmu.”

__ADS_1


Zinth tidak menyangka jika wanita di hadapannya kini adalah adik kandung yang selama ini dia cari. Dia bahkan pernah membahayakan nyawanya dengan memasukan racun ke dalam tubuh adiknya itu. Perasaan Zinth campur aduk. Dia menyesal, namun waktu tidak bisa mundur ke masalalu. Dia harus menghadapai Yada cepat atau lambat.


***


Pesta pernikahan berjalan dengan lancar sampai akhir. Hal yang ditakuti Yada seharian penuh sama sekali tidak terjadi. Dia khawatir di hari pernikahannya akan terjadi peperangan darah dan menewaskan banyak orang. Ternyata itu hanya pikiran negatif milik Yada saja.


Yada berada di dalam kamarnya. Kamar yang biasanya dia pakai. Tidak ada yang istimewa dari kamar itu. Misalkan seperti kamar pengantin untuk malam pertama. Yada sama sekali tidak mengharapkannya.


Wanita cantik itu masih mengenakan pakaian pengantin. Dia duduk di depan cermin besar dan melepaskan satu persatu aksesoris yang dia pakai. Kemudian membersihkan make up pada wajahnya.


Jemari Yada meraba paha kanannya. Pistol yang diberikan Laura masih melekat di sana. Dia melepaskan gaun pengantinnya dan menyisakan pakaian dalam untuk membalut tubuhnya. Yada mengambil senjata api tersebut dan meletakkannya ke atas meja.


Dia memikirkan bagaimana caranya balas dendam kepada keluarga Aurora. Keluarga yang telah menewaskan seluruh anggota keluarganya. Yada sempat berpikir jika saja tadi dia bertindak untuk menembakan pistol itu tepat di wajah Barrack, mungkin hatinya akan merasa puas. Tapi itu tidak bisa dia lakukan.


Seseorang membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk. Yada melihat Allard masuk ke dalam kamar dan menatap tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam. Wanita itu tidak menutupinya. Membiarkannya seperti itu. Allard sudah pernah melihat setiap inci tubuhnya.


“Kau akan tidur di sini?” tanya Yada.


“Tentu saja.”


Allard melepaskan arloji miliknya dan membuka jas yang dipakainya seharian penuh. Dia membaringkan tubuhnya langsung di atas ranjang tanpa mandi terlebih dahulu. Yada tidak memperdulikannya. Dia kembali menghapus make up pada wajahnya.


“Haruskah kita berbulan madu seperti pasangan lainya?”


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2