Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Celaka


__ADS_3

Happy Reading ....


Yada menarik pelatuknya setelah dia mengarahkan pistol tersebut ke arah Allard. Suara tembakan nyaring di telinga, bahkan Yada sendiri memejamkan kedua matanya.


Darah segar mengalir pada baju putih yang dikenakan pria itu, dan dalam seperkian detik tubuhnya lunglai tak bernyawa. Yada membuka matanya perlahan, shock melihat kejadian di depannya.


Dia duduk di atas sofa dengan tatapan kosong, di hadapannya ada Yoland yang sedang memeriksa denyut nada wanita cantik itu. Yoland menatapnya dengan datar.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Yoland. “Merenung seperti itu tidak akan membuatmu lebih baik.”


“Aku membunuh seseorang,” kata Yada dengan nada datar.


“Kau akan melakukan lebih banyak kejahatan kedepannya, maka hadapilah.”


Allard duduk di sampingnya dengan segelas whisky di tangan. Dia memberikan whisky tersebut kepada Yada, namun wanita cantik itu hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Jika saja Allard tidak dengan sigap mengalihkan mata pistol itu, maka hari ini yang akan mati adalah dirinya.


Yoland keluar dari ruangan setelah pekerjaannya selesai. Sementara Yada masih termenung dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Allard sendiri sangat kesal dengan wanita itu dan ingin memberikannya pelajaran. Tapi tidak malam ini. Dia memiliki janji temu dengan orang penting.


Allard melemparkan sesuatu pada Yada. Satu bungkus rokok serta korek api. “Jalang!” ucapnya penuh penekanan.


Pria tampan itu beranjak pergi setelah mengatakan umpatan kepada Yada. Tapi Yada sendiri tidak peduli akan hal itu. Hatinya sedikit menyesal karena kesempatan untuk membunuh Allard malah gagal.


Allard pergi bertemu dengan seseorang yang telah memiliki janji dengannya, di sebuah privateroom club malam milik Darren. Seorang wanita cantik dengan gaun **** tengah duduk menunggunya.


“Bagaimana kabarmu?” Wanita cantik itu menyambutnya dengan senang hati, memberikan kecupan pipi kanan dan kiri serta memeluk Allard ringan.


“Lebih baik.”


Zinth Yora adalah putri satu-satunya keluarga Yora, yang mana memiliki klan mafia terbesar di satu negara. Dia sengaja datang untuk menemui Allard yang tak lain adalah rekan kerja sama untuk menghancurkan klan Aurora.


Sebelumnya mereka saling terhubung melalui jejaring ponsel saja. Namun kali ini Zinth sengaja menemui Allard karena suatu hal penting.


“Aku ingin bertemu dengan wanita itu,” ucap Zinth.


Allard menatapnya intens. Meskipun Zinth adalah seorang wanita cantik, namun kekejamannya bisa setara dengan Allard. Terlebih lagi seorang wanita tidak terlalu bisa mengendalikan amarah. Allard cemas jika dia bertemu dengan Yada, maka Yada akan habis ditangannya, dan ancaman untuk klan Aurora akan lenyap.


“Aku akan mengatur waktu untukmu,” jawab Allard. Dia tidak bisa menolak, hanya bisa mengulur waktu sebaik mungkin.


Zinth memiliki dendam yang sama dalamnya seperti Allard kepada klan Aurora. Hampir seluruh keluarganya lenyap karena keserakahan dari Barrack Aurora.

__ADS_1


Dulu, Barrack hanyalah seorang bawahan dari ayahnya, Gurreth Yora. Tapi pria sialan itu membentuk sebuah klan sendiri, dan ingin mengambil alih seluruh klan Yora. Membuat konspirasi di dalam klan dan menjebak seluruh keluarganya.


Ibunya mati, adiknya menghilang dan ayahnya kini terbaring sakit. Kehancuran hidup Zinth berpusat pada Barrack Aurora. Dia ingin membalaskan kesengsaraan hidupnya pada pria tua bangka itu.


“Aku akan menetap di negara ini untuk waktu yang lama. Tidak perlu terburu-buru,” ucap Zinth seraya menegak segelas whisky.


Allard memperhatikan wanita itu dengan intens. Betapa anggunnya ketika dia memegang gelas panjang berisi alkohol lalu meminumnya, kata-katanya yang jelas dan berani, dan yang paling penting sebuah tato di bagian belakang punggungnya yang membuat wanita itu terlihat semakin kejam namun ****. Wanita yang sangat cantik dan sempurna.


Zinth berdiri, mengambil handbag miliknya. Dia menatap Allard. “Hubungi aku kapanpun.”


Allard mengangguk mengiyakan.


Memiliki rekan seperti Zinth memang sangat menguntungkan. Tapi posisi keduanya akan sama-sama berada di ujung jurang jika sampai perselisihan terjadi di antara mereka.


Zinth pergi keluar dari ruangan dan berpapasan Darren. Pria itu memperhatikan wanita cantik yang melenggok berjalan melewatinya dengan decak kagum. Wanita cantik dan **** namun terkenal dengan kekejamannya di seluruh klan. Hawa dingin begitu terasa ketika dia berjalan di hadapannya.


Darren masuk ke dalam ruangan, mendekati Allard yang sedang menuangkan redwine ke dal gelas.


“Dia berulah?" tanya Darren. “Aku dengar wanita itu menembakan peluru ke arahmu.”


“Hanya seorang wanita lemah, apa yang bisa dia lakukan untuk melukaiku?” lugas Allard.


Allard menegak redwine hingga tandas. “Zinth Yora akan tinggal di negara ini untuk beberapa waktu. Kita akan repot untuk mengendalikannya.”


“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”


“Biarkan dia melakukan apapun yang ingin dia lakukan untuk sementara waktu. Kita hanya perlu memperhatikannya, jangan sampai dia bertindak berlebihan.”


“Baiklah.”


“Satu hal lagi, dia ingin bertemu dengan Yada Aurora. Kau atur untuk itu.”


“Ya.”


***


“Pegang dengan benar, lalu focuskan pandanganmu ke arah target. Kau tidak akan meleset!”


“Seperti ini?”

__ADS_1


“Ya!”


“Jika aku melakukannya dengan benar, apa kau akan bermain boneka bersamaku?”


“Tentu saja.”


Yada kembali termenung mengingat kepingan puzzle mimpi yang didapatinya tadi malam. Semenjak memakai barang terlarang yang Allard berikan, dia semakin sering mengalami halusinasi.


“Nona, sudah waktunya makan malam.”


Yada melirik pelayan yang datang dengan tangan kosong. Biasanya makan malam akan dihantar ke dalam kamarnya berupa beberapa jenis buah. Tapi malam ini pelayan itu justru tidak membawakan apapun.


“Nona, apa kau belum bersiap?” tanya pelayan tersebut dengan ekspresi cemas.


Yada menoleh ke atas meja, di sana sudah disediakan sebuah gaun cantik berwarna merah. Seharusnya Yada segera bersiap untuk memakainya, namun dia malah asyik termenung dan tidak melakukan apapun.


“Keluarlah, aku akan mengganti pakaianku.”


“Baik, Nona. Tuan sudah menunggumu.”


Allard sudah berada di meja makan sekitar sepuluh menit, namun Yada tidak kunjung hadir. Seorang pelayan yang diperintah untuk menjemput Yada hanya tertunduk takut kepada tuannya.


“Di mana dia?” tanya Allard.


“Tuan ... Nona sedang bersiap?”


“Bersiap?” tanya Allard penuh penekanan.


Tidak seorangpun yang bisa membuat Allard Washington menunggu. Dan para pelayan itu ditugaskan untuk mengurus Yada, tapi malah mengecewakan.


“Lihat bagaimana kalian akan mengurusnya!” ancam Allard.


Hentakan dari suara higheels terdengar mendekat. Wanita cantik dengan gaun merah dan rambut terurai itu duduk di samping Allard dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikit pun karena telah membuat Allard menunggu.


Allard tersenyum simpul. “Kau terlihat lebih baik dari sebelumnya ”


Yada menatapnya. “Dan kau, kau malah terlihat lebih buruk. Suaramu terdengar sampai beberapa meter dari sini,” kata Yada sengaja.


Allard menatapnya intens. Wanita di hadapannya ini benar-benar sedang menguji kesabarannya. Lihat saja bagaimana nanti dia akan mengurusnya dan memberikan pelajaran setelah makan malam.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2