Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Memory


__ADS_3

Happy Reading ....


“Kau harus memegangnya dengan benar.”


“Aku tidak suka ini, Kak, aku ingin bonekaku.”


“Kau harus mulai belajar menggunakan senjata.”


“Tidak ... aku ingin bonekaku, aku ingin bermain boneka.”


“Jangan menangis. Kau akan mendapatkan lebih banyak boneka jika kau bisa menggunakan pistol.”


“Benarkah?”


“Tentu saja.”


Yada membuka matanya secepat kilat, peluh menetes membasahi dahinya. Dia beranjak duduk, mengambil segelas air putih di atas nakas lalu meminumnya.


Dia melihat dua telapak tangannya yang berpeluh. Yada mengingat bagaimana seorang gadis muda mengajarinya memegang sebuah senjata. Seorang gadis muda yang dipanggilnya kakak.


Apa aku memiliki seorang kakak perempuan?


Mengingat kembali masa kecilnya di keluarga Aurora, Yada tidak pernah bertemu dengan siapapun kecuali David saudaranya. Dia yakin, dia tidak memiliki saudara perempuan.


Siapa dia? Apakah ini hanya mimpiku saja? Atau ingatan masa kecilku yang akhir-akhir ini sering muncul?


Hari ini seorang pelayan mengajak Yada untuk pergi ke halaman belakang mansion. Tentu saja Allard yang telah mengaturnya. Di sana ada sebuah taman yang indah dengan beberapa jenis bunga mawar dan anggrek.


Yada meraih bunga anggrek berwarna ungu. “Sangat indah, tapi sayang kau berada di tengah-tengah hutan dan tidak ada siapapun yang bisa melihat keindahanmu.”


“Yada?”


Seseorang memanggilnya, dan Yada berbalik untuk melihat. Itu adalah Yoland yang tengah berjalan mendekatinya.


Keduanya duduk di kursi taman, dan Yoland sibuk memeriksa tekanan darah wanita cantik itu. Yada menatapnya halus. Setidaknya di antara pria-pria gila di sekitar Allard, Yoland adalah pria yang memiliki sopan santun lebih.


“Bagaimana waktu tidurmu?” tanya Yoland seraya menatapnya.


“Tiga puluh menit untuk dua hari.”


Yoland tidak tercengang, dia tahu segalanya karena Allard memberitahunya. Tubuh Yada tidak terbiasa menerima benda asing, terlebih lagi jenis narkotika keras. Karena itu, tubuhnya tidak beradaptasi dengan baik.


“Kau harus meminum lebih sering vitamin.”

__ADS_1


“Untuk apa?” celetuk Yada. “Agar aku terlihat segar ketika dia menyiksaku nanti?”


Yoland menatapnya datar. “Mungkin ya, jika memang itu yang kau pikirkan.”


Dokter muda itu membereskan peralatannya, memberikan itu pada seorang pelayan kemudian beranjak pergi menjauh dari Yada tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Bahkan tidak ada kalimat selamat tinggal dan berjumpa lagi.


Yada terkekeh samar. “Tidak lebih baik.”


“Nona.”


Seorang pelayan datang memanggilnya. Dia membawa satu baki berisikan benda kecil yang membuat Yada tercengang.


Barang itu lagi!


“Nona, ini perintah.”


“No!” tolak Yada keras.


Dia berdiri dari duduknya dan hendak pergi. Namun belum sempat Yada melangkah, dua pria bertubuh tegap menghalangi jalannya.


“NO! DAMN!”


Yada berteriak kencang ketika dua pria besar itu mengukung tubuhnya, memaksanya untuk menggunakan barang terlarang. Dia tidak bisa berbuat apapun selain memberontak yang hasilnya hanya sia-sia.


Sementara itu, Yoland menatapnya dari balik pintu kaca. Melihat bagaimana perjuangan seorang wanita di bawah kendali dua pria bertubuh tegap. Wanita yang sangat malang.


“Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa baru sekarang!” bentak David kuat.


“Aku memintamu untuk tidak gegabah, David.” Suara berat Barrack Aurora memenuhi ruangan.


Pria paruh baya itu meminta dua orang bertubuh tegap untuk keluar dari ruangan dan meninggalkannya berdua dengan David.


“Seperti yang kau tahu, Allard sangat berhati-hati dengan tindakannya. Dia memiliki beberapa orang penting yang mendukungnya. Klan Washington tidak bisa kau remehkan,” lugas Barrack.


“Aku tidak bisa melihatnya terus seperti ini.” David melemparkan beberapa lembar foto itu dan membuatnya berserakan di lantai.


“Tenangkan pikiranmu, ikuti perkataanku. Kau akan cepat mendapatkannya kembali.”


David menatap Barrack tajam. Pria itu, pria tua bangka itu sama sekali tidak bisa diandalkan. Dia hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Dan mungkin kali ini, Barrack akan menggunakan David sebagai umpannya.


Yada berjalan kembali ke kamarnya dengan sebuah apel di tangan. Dia berjalan sangat lambat dengan tatapan kosong. Tidak terasa langkah kakinya sudah melewati kamar yang seharusnya dia masuki, Yada malah berjalan menuju balkoni lantai dua yang pintunya selalu terbuka lebar.


Dia tahu tidak ada pelayan di sekitarnya sekarang. Sengaja pergi ke balkoni dan termenung di sana.

__ADS_1


Aku ingin mati.


Pandangannya lurus ke bawah, kakinya mulai naik ke atas tembok balkoni dan tubuhnya berdiri tegap di sana.


“Aku ingin mati,” gumamnya rendah.


Tiba-tiba seseorang merangkul tubuhnya dari belakang, meraupnya hingga terjatuh ke atas lantai. Pria itu berdiri tegap di hadapan Yada yang terduduk diam di atas lantai tanpa meringis kesakitan sedikitpun.


“Kau ingin mati?” tanya Allard dengan nada dingin.


Yada mendongakan wajahnya ke atas dengan ekspresi frustasi. “Ya.”


“Ah~ Baiklah, aku akan membantumu.”


Allard menggeret lengan Yada, membawa wanita cantik itu keluar dari mansion lalu menghempaskan tubuhnya ke dalam mobil. Allard menutup pintu dengan kasar. Dia duduk di kursi kemudi di samping Yada.


“Terjun dari lantai dua mansion tidak akan membuatmu mati, Yada,” kata Allard.


Yada hanya termenung menatap pepohonan rimbun di sekitarnya. Mungkin ini kedua kalinya dia melewati jalan itu untuk keluar dari dalam hutan. Entah Allard akan membawanya ke mana. Ke sebuah gedung pencakar langit, atau kembali menenggelamkannya.


Sore hari, David memiliki janji temu dengan seseorang. Dia berada di dalam privateroom sebuah club malam. Darren. Pria muda pemilik club malam terbesar itu setuju untuk bertemu dengannya.


Darren masuk ke dalam ruangan, meminta seorang wanita cantik untuk menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas. Dia tersenyum melihat David, memberikan satu gelas berisi whisky itu kepadanya.


“Di mana Yada Aurora berada?” tanya David langsung.


Darren justru terkekeh mendengarnya. “Siapa Yada Aurora? Apakah dia seorang wanita cantik yang menemanimu minum sebelumnya?”


“Jangan bermain-main denganku!” ancam David.


“Allard Washington membawanya kemari beberapa hari yang lalu.”


Darren mengangguk samar. “Allard Washington? Klien VVIP club malam, aku tentu mengenalnya. Tapi wanita itu ... aku tidak ingat. Dia cukup banyak membawa wanita ke dalam sini.”


David geram, melemparkan sebuah foto ke atas meja dengan kasar. Darren meraih halus, kemudian tersenyum simpul.


“Dia?” Darren menatap David. “Dia memang datang beberapa hari yang lalu, tapi tidak dengan Allard Washington.”


David berkerut kening, menunggu sebuah kalimat lanjutan.


“Wanita cantik dan seksi ini, entah datang dari mana, tapi dia secara suka rela menawarkan tubuhnya di dalam club malam ku.” Darren berdecak samar. “Bukankah bagus jika bekerja di sini saja? Bisa menghasilkan lebih banyak uang.”


“Tidak mungkin!”

__ADS_1


Darren sengaja berbohong. Karena jika tidak, keterlibatannya dengan Allard akan terbongkar. Ini strategi yang sengaja Darren dan Allard sediakan untuk membuat David merasa bingung dan kehilangan arah.


Bersambung ....


__ADS_2