
Happy Reading ....
.
.
.
“Kau bisa mengendalikannya?”
Allard memberikan sebuah pistol kepada Yada. Dia tidak ragu memberikan senjata api itu meskipun terakhir kali Yada ingin membunuhnya dengan peluru. Allard memiliki perasaan yakin jika wanita itu tidak akan mengulangi kedalamnya di masalalu. Dia memiliki tujuan saat ini dan tidak akan menyia-nyiakan hidupnya lagi.
Yada mengambil senjata api yang disodorkan Allard. Pandangannya tertuju lurus pada target tembakan. Beberapa detik Yada terdiam, memokuskan jarak pandang pada target yang berada beberapa meter jauh di depannya.
*Kau harus memegangnya seperti ini!
Fokuskan pandangan dan pikiranmu.
Tembak*!
Satu peluru meluncur keluar dan mengakibatkan bunyi yang nyaring. Dia berhasil menargetkan peluru tanpa meleset sedikitpun. Allard yang melihatnya tersenyum simpul, kagum dengan wanita di hadapannya.
“Seseorang telah melatihmu, bukan?” Allard mengambil alih senjata api yang dipegang Yada dan mengisinya dengan beberapa peluru lagi. “Lantas kenapa kau meleset saat menembakku waktu itu?”
Yada menatap pria itu tanpa ekspresi. Hari itu ketika dirinya memegang senjata, dia bahkan tidak tahu jika di masalalu pernah ada seseorang yang mengajarkannya memakai senjata api. Jangankan menembak seorang manusia, baru memegang senjata api saja tangannya sudah berkeringat dan gemetaran.
Setelah mengisi peluru penuh, Allard meminta Yada untuk mengarahkan pistolnya pada tiga target sekaligus. Wanita itu terlihat ragu-ragu. Allard tidak bisa menunggu terlalu lama. Dia segera meraih lengan Yada dan berdiri tepat di belakangnya. Mengarahkan senjata api itu pada tiga target sekaligus tanpa meleset sedikitpun.
“Bagaimana? Apa kau terkesan?” Allard berbicara tepat di depan telinga Yada. Wanita cantik itu hanya diam dan tidak menjawab ataupun menoleh. Dia begitu kaku dengan suasana saat ini.
__ADS_1
Ponsel Allard berdering, seseorang menghubunginya. Setelah menerima telepon tersebut. Allard menarik Yada keluar dari sana. Dia meminta Yada untuk duduk di samping kemudi sebuah mobil sport yang dia kendarai sendiri.
“Kau akan membawaku kemana?” tanya Yada yang masih berdiri di samping mobil dan enggan mengikuti Yada.
“Naiklah dan kau akan tahu jawaban atas pertanyaanmu itu.”
Allard mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Seolah jalanan adalah miliknya sendiri. Yada harus menyimpan rasa takutnya, atau pria itu akan mengolok-olok. Mobil sport mewah itu sesekali hampir menabrak mobil lainnya, tapi pria itu berhasil mengemudikan setirnya dengan baik. Benar-benar membuat jantung berdebar kencang.
Mobil sport mewah itu berhenti tepat di depan sebuah club malam. Allard melemparkan sebuah gaun kepada Yada dan memintanya untuk mengganti pakaian saat itu juga di dalam mobil, bersama Allard di dalamnya. Awalnya Yada menolak, namun pria itu jelas-jelas terus memaksa.
“Untuk apa kau malu? Aku sudah melihat setiap inci tubuhmu.” Allard mengatakannya dengan nada merendahkan. Tidak memandang Yada sama sekali.
Bastard!
Tanpa ragu-ragu lagi Yada langsung membuka bajunya dan menggantinya dengan sebuah dress yang Allard berikan. Dress slim fit berwarna hitam dengan ukuran yang sangat pendek, memperlihatkan bagian paha mulusnya. Dia terlihat sangat **** dengan balutan dress seksi tersebut meskipun berat badannya masih Benyak berkurang dari sebelumnya.
Beberapa pria dan wanita menyapa Allard sebagai tanda hormat. Pria itu tidak terlalu memperhatikan mereka. Beberapa wanita penghibur juga sangat girang ketika Allard datang, tapi sayangnya kali ini mereka tidak bisa mendekati tuan muda itu karena seorang wanita yang datang bersamanya.
“Siapa dia?”
“Tidak biasanya Tuan membawa seorang wanita ke club malam.”
“Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, wajahnya sangatlah tidak asing bagiku.”
Perasaan tidak nyaman menghampiri Yada. Tatapan orang-orang di dalam club itu seolah-olah mengulitinya. Sejak dulu, Yada memang tidak pernah pergi mengunjungi club malam. Mungkin karena hal itu perasaan aneh itu muncul.
Allard mengajaknya masuk ke dalam sebuah ruangan dengan pencahayaan yang cukup redup. Sebuah tiang berdiri di depan sofa, sepertinya tiang tersebut untuk sebuah pertunjukan. Pikiran Yada langsung menangkapnya. Dia pernah melihat di dalam sebuah film yang mana pemeran utama wanita adalah penari di dalam club malam. Ya, mungkin untuk itu.
Keduanya duduk di atas sofa. Allard mengeluarkan beberapa kotak perhiasan dari dalam sebuah laci. Dia menjejerkannya dan membuka kotak tersebut satu persatu. Kalung, gelang, dan cincin mewah serta brand terkenal semuanya ada di sana. Yada mengeryitkan dahinya melihat itu semua.
__ADS_1
Allard mendengarkan kata Laura. Jika ingin mengendalikan wanita itu, maka dirinya harus memberikan sebuah kehangatan, perhatian agar mendapatkan kepercayaan penuh darinya. Semua ini Allard lakukan untuk mencapai semua itu. Kepercayaan Yada begitu berharga sekarang. Pada kenyataanya wanita itu adalah putri dari klan Yora, Allard akan sangat beruntung jika dia bisa mengendalikannya sebagai perisai. Dua klan yang menyatu, menambah kekuatan satu sama lain.
“Kau menyukainya?” tanya Allard.
Biasanya wanita paling menyukai perhiasan, karena itu Allard sengaja meminta Laura untuk memilihkan beberapa perhiasan yang paling cantik di antara perhiasan dunia. Pria itu yakin jika Yada akan menyukainya.
“Untuk apa?”
“Untukmu, aku memberikannya sebagai hadiah,” kata Allard mencoba mengeluarkan nada suara sehangat mungkin.
Allard salah. Yada tidak menyukai perhiasan, kecuali perhiasan yang dia desain sendiri. Terlebih lagi diberikan hadia oleh seseorang yang telah menghancurkan hidupnya, itu sama sekali tidak merubah apapun.
“Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan? Aku sama sekali tidak membutuhkan perhiasan itu. Jika kau ingin memberiku hadiah, beritahu aku identitasku yang sebenarnya.”
Ekspresi bersahabat Allard musnah. Air hangat di wajahnya berubah menjadi air dingin kembali yang hampir membeku. Wanita itu sama sekali tidak menghargai usahanya sedikitpun. Allard sampai menurunkan harga dirinya untuk tersenyum dan bersikap ramah padanya. Tapi apa yang di dapatnya justru hanyalah sebuah penolakan. Saat ini Allard sungguh ingin mencekiknya.
Jika tidak karena nasihat Laura, mungkin Allard akan membuangnya ke dasar laut. Menghilangkan jejaknya agar tidak ada satupun fakta yang mengungkit tentang masalalu Yada. Tapi klan miliknya membutuhkan wanita itu untuk mendapatkan dukungan. Allard sendiri tidak bisa menaklukkan Zinth yang memiliki sikap seperti iblis wanita. Yada mungkin harapan satu-satunya.
Bersikap lembut, perhatian, dan penyayang bukanlah bagian dari diri Allard. Tapi semua hal itu justru yang Yada perlukan. Sejak kecil wanita itu hanya mendapat siksaan dan ancaman. Hidupnya sama sekali tidak bahagia. Maka kini giliran Allard yang mengambil alih semuanya. Dia akan memberikan semua yang Yada butuhkan, dan sebagai imbalan adalah klan Yora berada di dalam kendalinya.
.
.
.
***Bersambung ....
jangan lupa like koment untuk terus menyemangati Author yaaa... see you***.
__ADS_1