Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Harapan?


__ADS_3

Happy Reading ....


Like koment dan tambahkan ke favorit jangan lupaaaa....


'Pegang dengan erat!'


'Focuskan pandanganmu!'


'Tembak!'


DORR ... DORR... DORR!


Yada menarik nafasnya dalam, membuka mata dengan sempurna dan menatap langit-langit kamar. Mimpi aneh itu lagi, terus bermunculan di dalam kepalanya.


Tapi benarkah itu hanya sebuah mimpi? Bagaimana jika mungkin itu adalah kepingan dari ingatan masalalu? Mimpi tidak akan datang secara berulang dan memiliki kejadian yang sama persis bukan?


Yada bertanya-tanya di dalam pikirannya. Jika itu ada kaitan dengan masalalunya, maka siapa orang-orang itu? Apakah dia adalah keluarga Yada sesungguhnya, atau malah orang-orang yang hanya ingin menyekapnya saja.


Kepala Yada berputar, memikirkan itu semua. Tiba-tiba perasaan aneh muncul. Dia ingat ketika Allard mengintimidasinya mengenai gambar tato yang dia gambar.


'Hei katakan, di mana kau melihat gambar ini?'


'Apa kau memilikinya?'


'Tapi itu tidak ada di punggungmu.'


Allard. Pria itu mungkin tau sesuatu dengan gambar tato yang sempat dimiliki Yada. Ya! Yada harus mencari tahu.


Tubuh rampingnya bangkit duduk, menurunkan kaki ke tepi ranjang dan mulai menatih tubuhnya untuk berdiri. Beberapa hari ini dia tergeletak begitu saja di atas ranjang tanpa bergerak sedikitpun, persendiannya hampir mati karena itu.


Jemari Yada menarik pelan gagang pintu, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun. Pandangannya melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada pelayan yang melihatnya keluar atau mereka akan meminta Yada untuk kembali berbaring.


Langkahnya tertatih menelusuri lorong. Pergi menuju sebuah pintu dan membukanya. Dia masuk ke dalam ruang kerja Allard, menutup pintu dengan rapat setelah masuk ke dalamnya.


Yada mulai mencari sesuatu di sana. Dia berharap dapat menemukan hal yang berkaitan dengan tato miliknya. Beberapa berkas Yada periksa, namun semua itu hanyalah berkas pekerjaan saja, dan tidak ada hal lain.


Beberapa menit mencari, sampai semua laci meja dia telah geledah namun tetap tidak menemukan apapun. Yada berpindah menuju almari, menelusuri berkas-berkas tebal dan pandangannya tertuju pada sebuah berkas yang bertuliskan 'Aurora'. Yada mengambilnya.


Sebuah amplop putih jatuh saat dia menarik berkas tersebut dan membuat isinya berserakan. Keningnya berkerut melihat isi dari amplop tersebut. Dia mendorong kembali berkas masuk ke dalam deretan buku, lalu bersimpuh mengambil amplop dengan isi yang berserakan di atas lantai.


Sebelah telapak tangannya membekap mulut, tubuhnya bergetar hebat. Sebuah foto sejoli bersimbah darah tergeletak tidak bernyawa. Ada foto yang menunjukan seorang anak laki-laki dengan wajah datar terduduk di sebuah kursi. Dari tatapannya Yada yakin jika anak lelaki tersebut adalah Allard Washington.

__ADS_1


Perut Yada seketika mual. Dia memasukan kembali foto tersebut ke dalam amplop dan menyimpannya ke tempat semula. Yada keluar dari ruang kerja Allard, kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri dan melangkah dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Dia memuntahkan isi perutnya ke dalam closet. Tetesan darah memenuhi lantai kamar mandi. Yada menyeka mulutnya dan bercermin, dia memuntahkan banyak darah.


Dengan segera jemarinya menekan ujung closet, dan membasuh tangan serta bibirnya pada wastafel. Namun perutnya kembali bergejolak, dan lagi-lagi dia memuntahkan banyak darah di sana.


Perutnya semakin mual, pandangannya mulai kabur, lalu tak lama dia ambruk tidak sadarkan diri.


 


Pandangan matanya buram. Samar-samar dia melihat banyak orang mengerumuninya dengan berseragam putih. Wanita dan pria itu terlihat sangat sibuk memasang selang infus, memberikan oksigen, serta beberapa alat yang ditempelkan pada dadanya. Selang beberapa detik, pandangannya kembali gelap.


***


“Dia hampir mati.”


Yoland duduk di sebuah sofa dan menyenderkan punggungnya. Dia terlihat sangat lelah. Di depannya duduk Darend yang tampak gelisah melihat kondisinya.


“Jadi benar, dia adalah anggota keluarga Yora?”


Yoland terdiam, dan Darren menganggap itu sebagai jawaban 'ya'.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Darren.


“Apa lagi? Zinth tidak akan mengampuni kita, dan dua klan akan saling bentrok.”


“Dan lagi, Aland telah lebih menghancurkannya,” imbuh Yoland.


“Maksudmu?” Darren bertanya dengan bingung.


“Wanita itu, mungkin sudah tidak memiliki harapan hidup lagi.”


***


Allard baru saja menyelesaikan urusan bisnisnya dengan klien. Dia kembali ke hotel tempatnya menginap. Seorang wanita cantik dan **** sedang menunggunya di sana.


Ketika Allard datang, wanita itu langsung menyambutnya dengan baik. Membantu Allard melepaskan jas dan dasi, menyiapkan sandal untuknya, dan membuatkan minuman untuk Allard.


“Kembalilah ke kamarmu, aku membutuhkan waktu sendiri.”


Wajah cerah dengan senyuman terpancar pada wajah wanita tersebut hilang. Ekspresinya kembali muram dan tanpa berkata apapun dia pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Allard berjalan menuju jendela kamarnya yang langsung menyajikan pemandangan kota. Dia mengambil ponsel dan dalam saku celana dan menghubungi Yoland.


“Bagaimana kondisinya?”


'Dia ada di rumah sakit, kondisinya sangat buruk.'


'*Kau harus menemui Zinth dan meminta penawarnya, atau dia akan mati.'


CK! Bagaimana mungkin*? Pikir Allard.


Sambungan telepon dimatikan. Allard menatap suasana kota. Pikirannya melayang mengingat kondisi terakhir wanita yang dia tinggalkan. Lemah, sakit, dan tidak berdaya.


Pengungkapan akan identitas aslinya membuat rencana yang telah disusun rapi selama bertahun-tahun hancur terkoyak begitu saja. Dan kini, apakah Allard harus memperjuangkan hidup wanita itu? Jika dia tidak menguntungkan baginya, akan lebih baik jika dia mati.


Dia memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya jemarinya bergerak untuk menghubungi seseorang.


“Siapkan perjalananku, aku akan kembali malam ini.”


'Baik, Pak!'


***


Sebuah cahaya terang menyilaukan pandangannya, lengannya bergerak naik melindungi matanya. Langkah kakinya teratur namun tidak memiliki arah tujuan.


Tiba-tiba saja Yada berada di sebuah Padang bunga lili putih. Jemari lentiknya menyentuh lembuh bunga dengan simbol cinta tersebut. Seketika terdengar suara langkah kaki dari belakang, dia langsung menoleh dengan cepat.


Seorang wanita cantik berdiri di belakangnya dengan tersenyum. Wanita itu berjalan mendekati Yada yang menatapnya dengan bingung. Dia meraih lengan Yada, mengenggamnya dengan erat.


'Bangunlah, kau harus hidup, ambil kembali kehidupanmu yang telah direnggut, temui orang-orang yang sedang menunggumu, mereka merindukanmu.'


Suaranya terdengar lembut namun dengan nada bergetar. Setelah itu dia meneteskan air mata, menangis tersedu-sedu dengan begitu sedih dan menyakitkan.


Yada bertanya-tanya siapa dia, ada apa dengannya sehingga membuat tangisannya terdengar begitu menyayat hati? Lalu apa maksud dari perkataanya? Siapa orang-orang yang sedang menunggunya?


Pandangan Yada tak menentu. Wanita itu mengenggam tangannya semakin erat, dan kata-kata terus berulang.


Bangunlah, kau harus hidup, ambil kembali kehidupanmu yang telah direnggut, temui orang-orang yang sedang menunggumu, mereka merindukanmu.


Bangunlah, kau harus hidup, ambil kembali kehidupanmu yang telah direnggut, temui orang-orang yang sedang menunggumu, mereka merindukanmu.


Kalimat itu terus berulang beberapa kali, terngiang-ngiang di dalam kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2