Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
*LUKA


__ADS_3

Happy Reading ....


Yada meringkuk di atas ranjang dengan tatapan yang kosong. Selimut tebal menutupi seluruh bagian tubuhnya yang polos. Pikirannya kosong, tapi ketika dia mengingat adegan beberapa jam tadi rasanya dia tercekik sampai mati.


Wanita yang selalu bisa melawan perkataan Allard dengan lugas kini tidak bisa melakukan hal apapun lagi setelah Allard mengmbil kehormatannya. Dagunya yang selalu naik ke atas sudah turun ke bawah, menundukan wajahnya dengan sangat dalam.


Hal yang telah terjadi benar-benar sangat mengerikan, dia tidak pernah membayangkan kehidupannya akan menjalani takdir seperti ini.


Beberapa pelayan datang mengetuk pintu, masuk ke dalam ruangan dan melihat kondisi wanita cantik yang bergeming di atas ranjang.


“Nona, Tuan memintamu untuk turun dan makan malam.”


Yada terdiam, hanya mengepalkan jemarinya erat di bawah selimut. Setelah apa yang terjadi, bisa-bisanya Allard memintanya untuk datang makan malam. Pria itu sangat tidak berperasaan.


“Kami akan membantumu bersiap, Nona.”


“Tidak.” Yada menolak, menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut.


Sementara itu Allard terdiam di meja makan, menatap datar beberapa hidangan makan malam di atas meja. Dia sudah duduk di sana sekitar dua belas menit, namun wanita yang ditunggunya tidak kunjung datang. Allard kehilangan selera makan.


Dengan rasa kesal di hatinya, pria itu berdiri dan beranjak pergi. Dia berjalan menuju kamar Yada dan melihat beberapa pelayan yang sedang berdiri di samping ranjang, sementara Yada masih terus terdiam di bawah selimut.


“Pergi,” perintah Allard kepada para pelayannya.


Allard membuka selimut itu dengan kasar, menarik lengan Yada dan membuatnya terbangun dengan posisi duduk.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Allard kesal.


Yada terdiam.


“Kau marah?”


“Kau tidak berhak marah!” lugas Allard. “Kau milikku Yada, kau harus menuruti semua perintahku!”


“Apa yang kau inginkan lagi?” tanya Yada mengangkat dagunya ke atas.


“Kau, menyiksamu lagi dan lagi.”


Aliran darah pada tubuh Yada seolah terhenti mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Seakan penderitaannya itu tidak akan ada habisnya.


Allard menatapnya tajam. “Bukankah hanya sebuah keperawanan? Untuk apa merenunginya?” ucapnya enteng.

__ADS_1


“Apa kau tidak menyangka tubuhmu akan dinikmati dengan cara seperti ini? Apa yang kau impikan? Memiliki malam pertama dengan pria yang kau cintai?” kata Allard menghina.


Yada terdiam dan menatap pria itu dengan nanar. Lihat bagaimana Allard merendahkan harga dirinya, menyiksanya, dan menganggap enteng mahkota Yada yang telah dia renggut.


Aku sangat membencinya! Kau harus membayar mahal untuk ini! Batin Yada.


“Ada apa? Dendam kepadaku?” Allard terkekeh. “Hiduplah dengan baik untuk membalaskan dendam mu, Yada.”


Yada tertegun, menelan salivanya dengan susah payah.


Seketika Allard mendekatkan wajahnya pada sisi wajah Yada dan membisikan sesuatu, “Kau harus tau, tadi aku sangat menikmatinya.”


Kedua mata Yada membeliak lebar, mendorong tubuh Allard menjauh lalu menamparnya dengan keras.


“Hentikan omong kosongmu!” pekik Yada tidak terima.


“Aku benar-benar menikmatinya.”


Tiba-tiba Allard menggendong tubuhnya, membuat Yada terkesiap dan meronta agar pria itu mau menurunkannya. Tapi tidak, Allard justru membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Tubuh Yada di simpan di dalam bathup, Allard menggugurkannya dengan air dingin dan membuat wanita cantik itu menggigil.


“Dingin? Maka aku akan menghangatkan mu.”


“Tidak! Uh-” pekik Yada.


Allard terus menghentakan tubuhnya masuk semakin dalam ke dalam inti tubuh Yada. Membuat lenguhan rasa sakit wanita itu semakin kuat.


“Uh-” Nafasnya terengah-engah tidak karuan.


Rasa sakit pada bagian inti tubuhnya masih terasa setelah Allard memakainya siang tadi, tapi malam ini pria itu justru mengulanginya, merobek lukanya semakin dalam.


“Sakit ...,” rintih Yada.


Sementara dia terus merintih, Allard justru sangat menikmatinya. Dia menyukai tubuh Yada, permainan nikmat surga dunia itu, serta rintihan-rintihan kesakitan yang Yada keluarkan. Allard sangat terobsesi seolah ingin mengulanginya terus menerus.


Dua puluh menit berjalan dengan sangat menyakitkan, pria itu menghentikan permainannya setelah mengerang kuat dan mencengkram tubuh Yada. Dia telah mencapai puncaknya.


Allard tersenyum melihat wajah memerah Yada. “Sangat nikmat, bukan?” katanya vulgar.


Yada ingin sekali menampar wajah pria bastard itu, tapi tenaganya seolah terkuras habis. Dan lagi, jika dia menyinggung Allard mungkin kejadian yang sama akan terulang kembali.

__ADS_1


Perlahan pandangan Yada mulai buram, samar-samar dia melihat Allard yang tersenyum ke arahnya. Tiba-tiba pandangannya menjadi gelap, wanita cantik itu tidak sadarkan diri.


“Merepotkan,” gumam Allard.


***


Beberapa hari setelah kembali ke negaranya dan membuat keributan dengan Allard, David berencana untuk meminta pertanggung jawaban Barrack yang sudah menipunya dengan mengirimnya ke luar negeri. Pria itu pergi ke sebuah pulau pribadi di mana tempat ayahnya itu berlibur.


“Apa yang kau harapkan darinya? Dia bukan adikumu,” kata Margareth. “Berhenti melawan perintah ayahmu, David.”


“Apapun yang terjadi, aku akan tetap menyelamatkannya,” lugas David.


Nyatanya setelah sampai di pulau pribadi, yang bisa David temui hanyalah Margareth seorang. Wanita paruh baya itu mengatakan jika Barrack pergi dua hari yang lalu untuk menghadiri sebuah pertemuan penting. David sangat kesal dengan hal itu.


“Untuk apa kau menyelamatkannya? Mungkin dia sudah mati di tangan Allard Washington.”


“Mam!” pekik David. “Aku akan membawa seluruh klan untuk menyerang Allard Washington!”


“Tidak!” bentak Margareth. “Jangan membuat ayahmu murka, David!”


“Apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan Yada!”


“Jalang itu bukan adikmu! Apa yang kau harapkan!”


“Aku tidak peduli!”


Margareth kehilangan akal dengan respon yang dia terima. Dia sendiri tidak ingin anak semata wayangnya itu melawan ayahnya sendiri karena akibatnya akan fatal nanti.


“Jika kau ingin melakukan sesuatu sesuai kehendakmu, baiklah. Tapi setelah itu kau akan menghadiri pemakamanku, David!” ancam Margareth.


Margareth tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghentikan David yang terus-menerus melawan kedua orang tuanya hanya untuk wanita yang sangat dibencinya.


“Mam, apa kau mengancamku?” Nada suara David melunak, namun masih penuh dengan penekanan.


“Ya! Aku lebih baik mati daripada melihat kau dan ayahmu bertengkar terus-menerus!” ucap Margareth lantang disertai tangisan putus asa.


David mengepalkan jemarinya kuat. “Damn!”


Dia berbalik dan pergi meninggalkan Margareth seorang diri dengan membawa kekesalannya. Dia sangat putus asa memikirkan Yada. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa melakukan apapun jika Margareth mengancamnya seperti itu.


Maafkan aku Yada, aku sangat tidak berguna!

__ADS_1


David putus asa, melemparkan semua barang-barang yang terletak di dalam kamarnya dengan kasar, menimbulkan suara ricuh dari dalam sana.


Bersambung ....


__ADS_2