Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Tubuhku!


__ADS_3

Happy Reading ....


Siang hari ini, Allard sibuk dengan pekerjaan di perusahaan. Sehari penuh pria itu hanya berada di dalam ruang kerjanya dan tidak pergi keluar bahkan untuk melakukan makan siang. Dia sangat fokus bekerja.


Kali ini, pikirannya tidak tertuju pada hal lain selain pekerjaan, sampai saat seorang asistannya membawa sebuah kotak kecil lalu memberikannya kepada Allard.


“Sebuah paket untukmu, Tuan.”


“Simpan sana,” ucap Allard tanpa memperhatikan.


“Ini dikirim dari perusahaan Aurora.”


Seketika Allard menghentikan pekerjaannya, mawajhnya mendongak dan langsung melihat kotak kecil yang asistennya bawa. Allard meminta kotak tersebut.


“Bagaimana kau mendapatkan ini? Siapa yang mengirimnya?”


“Kotak tersebut ada di antara tumpukan kotak surat, Tuan.”


“Baiklah, kau boleh pergi.”


Pria tersebut mengangguk kemudian pergi dari dalam ruang kerja Allard. Sementara Allard yang penasaran dengan isi kotak itu langsung membukanya, ternyata isinya hanyalah sebuah flashdisk. Allard langsung menghubungkannya pada MacBook di atas meja.


“Jangan putraku!” Suara seorang wanita menangis dan memohon.


Kedua mata Allard membeliak ketika melihat rekaman video yang berada di dalam flashdisk tersebut. Sebuah video yang memperlihatkan satu keluarga sedang menjadi sandera dan mengalami kejamnya penyiksaan. Dia tidak sanggup melihatnya lagi, Allard langsung menutup layar macbooknya.


Peluh menetes pada dahinya, dan tubuhnya bergetar hebat. Kejadian mengerikan saat pembantaian kedua orang tuanya teringat kembali. Allard mengepalkan kedua telapak tangannya erat, hatinya panas seperti terbakar api.


Sementara itu di mansion, Yada sedang merasakan seluruh tubuhnya yang sakit seperti tertusuk-tusuk oleh pisau. Matanya tidak berhenti memperhatikan pintu kamar, menunggu seorang pelayan datang untuk memberinya obat. Sialnya tidak kunjung datang.


Setengah jam berlalu, dia merasa kematian sudah terlalu dekat dengannya. Tubuhnya mulai merasakan mati rasa dan matanya sulit untuk terbuka. Badannya tetap meringkuk pada satu posisi.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Yada tidak bisa membuka matanya lagi untuk melihat. Dia hanya berharap jika pelayan yang datang untuk memberikannya suntikan.


“Sangat sakit bukan?”

__ADS_1


Yada mengeryitkan dahinya, terdengar dengan jelas suara seorang pria yang amat dikenalnya menanyakan sesuatu. Dia mencoba membuka matanya. Di dalam penglihatan yang buram, dia melihat sosok Allard yang sedang berdiri tepat di samping ranjang.


Tiba-tiba saja Allard mencengkram bahunya dengan kuat, membalikan posisi Yada agar terlentang. Pria itu menatapnya dengan tajam.


“Aku terlalu ringan menyiksamu, membiarkan David Aurora bertindak sesuka hati!”


“Aku tidak akan menunggu lagi!” lugas Allard.


Dia membanting pintu kamar dengan sangat kencang. Kemudian naik ke atas ranjang, dan tiba-tiba saja menindih tubuh Yada yang jelas sedang merasakan kesakitan. Allard merentangkan kedua tangan Yada ke atas, menatap wajah cantik yang sedang menahan rasa sakit tepat di bawah kendalinya.


Apa yang dia lakukan! Batin Yada.


Yada tidak mampu berteriak, meronta, ataupun melawan. Seluruh tubuhnya lemas dan mati rasa, hanya rasa sakitnya yang tidak berkurang. Dia hanya bisa mengungkapkan kekesalan atas tindakan Allard melalu ekspresi wajahnya.


Hati dan pikiran Allard menjadi tidak karuan semenjak dia melihat sebuah video yang dikirimkan David padanya. Video pilu yang melibatkan kematian seluruh keluarganya. Perasaanya terbakar habis, api dendam kembali menyala dan tidak terkendali.


Pria itu membuka seluruh kancing kemeja miliknya, bertelanjang dada di hadapan Yada. Sementara Yada tidak bisa berpikir positif lagi setelah melihat tindakan yang pria itu lakukan. Dia berusaha menggelengkan kepalanya, berharap jika Allard menghentikan tindakannya itu.


“Seharusnya aku menghancurkanmu sejak awal untuk memperingatinya,” kata Allard penuh penekanan.


NO!!!


Yada sangat ingin berteriak dan meronta, tapi apa daya dia tidak memiliki kendali lagi atas tubuhnya. Dia hanya bisa menahan semua pelecehan yang Allard berikan tanpa bisa berbuat apa-apa. Sangat menyedihkan.


Allard membuka seluruh pakaian yang dikenakan Yada, membuat tubuh ramping wanita cantik itu polos tanpa sehelai kainpun. Air mata yang terbendung pada kelopak matanya tidak bisa ditahan, menetes membasahi wajah cantiknya. Hati dan harga dirinya ternodai oleh pelecehan Allard.


Pria itu menjamah tubuhnya sesuka hati. Mencium bibir Yada, meremas dada, dan juga mempermainkan bagian inti tubuh Yada dengan gerakan yang sarkas. Membuat rasa perih di area bawah sana.


Yada tidak bisa melakukan apa-apa selain menggigit bibirnya dengan air mata yang terus menetes. Dia tidak bisa mengatakan umpatan-umpatan tajam untuk menghina perlakuan keji Allard terhadap dirinya.


Seketika Allard menarik tubuhnya dari tubuh Yada, menatap wanita cantik dengan wajah memerah di bawahnya.


“Sama sekali tidak ada perlawanan, tidak menyenangkan,” ucap Allard. “Tidak adil jika aku menyiksamu dengan kondisimu saat ini.”


Berharap jika Allard akan menghentikan semuanya. Tapi tidak, Allard justru mengeluarkan sebuah suntikan berisi obat dari dalam saku celananya. Dia dengan handal menyuntikan obat tersebut tepat pada urat nadi Yada. Membiarkan beberapa menit sampai obat itu bereaksi.

__ADS_1


Dan rasa sakit Yada mulai berkurang, dia mulai bisa menggerakkan jemari kaki dan tangannya. Allard menyeringai melihat itu.


“Lepaskan aku! Menyingkirlah dari tubuhku!” ucap Yada parau.


Allard tersenyum. “Alangkah baiknya jika kau terus bersuara seperti ini. Suaramu begitu merdu, Yada.”


Allard tidak memberikan kesempatan kepada Yada untuk berbicara lagi. Dia ******* habis bibir wanita cantik itu hingga membuatnya sesak nafas.


Meskipun tenaganya masih kurang, tapi lengan Yada tidak berhenti meronta, menolak dan mencoba menyingkirkan tubuh Allard dari atas tubuhnya.


Kemudian Allard menarik tubuhnya kembali, dan turun dari atas ranjang. Yada mencoba bangun sekuat yang dia bisa, sementara pria itu sedang membuka sisa pakaian yang melekat ditubuhnya.


Belum sempat Yada turun dari ranjang, Allard menarik pergelangan tangannya, menghempaskan tubuh Yada agar terbaring d


kembali. Yada tetap bertahan, meronta dan memukuli dada pria itu.


“NO!” tolak Yada.


Jemari Allard liar di bawah sana. Sementara Yada dapat merasakan benda sensitif yang keras dan hangat milik pria itu menempel tepat di pintu masuk inti tubuhnya. Yada meronta sekuat tenaga yang dia punya.


Dengan paksa Allard menerobos lorong terlarang milik wanita cantik itu, namun miliknya tidak bisa masuk setelah dia mencoba mendorongnya tiga kali.


Yada memejamkam matanya, kedua lengannya terus memukuli dada Allard sementara dia juga menahan rasa perih di bawah sana akibat sentuhan yang diberikan Allard.


“Jangan lakukan itu!”


“Jangan!”


Yada memberontak, namun Allard tidak memperdulikannya. Pria itu masih melakukan hal yang sama, mencoba memasukan barang sensitif miliknya ke dalam inti tubuh wanita tidak berdaya itu.


“UH!” lenguh Yada, seketika matanya terbuka sempurna diiringi deru nafas yang tidak karuan saat Allard berhasil memasukan miliknya dengan sempurna.


Cairan putih bening keluar dari bagian inti tubuh Yada disusul dengan darah segar yang keluar dan membasahi sprei di atas ranjang.


Allard telah mengambil semua yang dia miliki ....

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2