
...
Tiga bulan berlalu.
Disalah satu kamar rawat inap rumah sakit imperial.
"Pagi Lex..." Sapa James pada Alex yang masih terbaring.
"Pagi" jawab Alex singkat.
"Gimana keadaan kamu?" Tanya James.
"Sudah lumayan" jawab Alex masih dengan nada yang sama.
"Kamu kenapa sih Lex...?" Tanya James lagi.
"Enggak apa-apa" jawab Alex masih seperti tadi, seperti sedang menanggung beban yang berat.
"Lex... Kita sahabat bukan?" Lalu kenapa kamu tidak mau cerita masalah mu pada ku?" Tanya James.
"Ini memalukan James, aku sudah kehilangan segalanya" jawab Alex yang terlihat begitu sedih.
"Semua bisa diperbaiki Lex, sekarang kamu harus sembuh dulu, baru pikirkan langkah apa yang harus kamu ambil" saran James pada sahabatnya yang terlihat begitu hancur.
"Bagaimana diperbaiki James, dia saja sudah pergi meninggalkan ku" jawab Alex dengan suara yang sangat lemah, begitu jelas kesedihan yang terlihat di wajahnya.
James pertama kalinya melihat sahabatnya yang terlihat begitu terpuruk seperti sekarang ini.
"Kamu bisa mencarinya Lex, aku dan teman-teman kita akan membantu mu untuk menemukan nya, walaupun..." James tahu akan sangat sulit, bahkan itu berarti sedang melawan Lady Lucy Anderson dan Howard Anderson.
Alex melihat sahabatnya yang menggantungkan kata-katanya, dia tahu apa yang sedang sahabatnya pikirkan "aku tahu itu akan sulit, karena mommy pasti menutup semua akses yang berhubungan dengan Eliza, dan lagi sekarang mommy bahkan tidak mau melihat ku, dan aku juga sudah tidak diizinkannya untuk memanggilnya 'mommy' aku harus memanggilnya 'Lady Lucy Seperti orang lain memanggilnya" jelas Alex dengan sangat sedih
"Maafkan kami Lex, jika bukan karena kami yang mengajak mu minum-minum waktu itu ini semua tidak akan terjadi" ucap James penuh penyesalan.
__ADS_1
Alex sangat ingin bertemu dengan Eliza saat ini, dia sangat merindukannya, bahkan kemarahan kedua orangtuanya tidak begitu dipedulikan olehnya, tapi kerinduan pada Eliza yang sangat menyiksanya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan nya... Dengan Eliza istriku" Jawab Alex dengan suara yang lemah.
"Kamu sudah menikah dan tidak mengundang ku, bahkan tidak memberitahuku, apa kita ini sahabat?" Tanya James pada Alex dengan nada sindirannya.
"Sorry James, saat itu aku sama sekali tidak menyukainya, dan aku juga tidak mau bersamanya, tapi setelah beberapa hari bersama, aku justru jatuh cinta padanya, dan tidak ingin jika dia dimiliki oleh orang lain ataupun dekat dengan orang lain" jelas Alex dengan senyuman pahitnya.
"Alex, apa Eliza memiliki saudara atau teman di sini? Kita bisa menanyakannya pada mereka, mungkin saja mereka tahu di mana Eliza" saran James pada sahabatnya.
"Teman? Kupikir Eliza memiliki teman dan dia adalah Nick Petrovic, dan dia tidak akan pernah memberitahukannya padaku, karena dia juga mencintai Eliza" jawab Alex yang terlihat sudah patah semangat.
"Hei...!! Jangan menyerah, apa hanya dia sahabatnya?" Tanya James lagi.
Alex terlihat berpikir hingga terbesit nama seseorang di pikirannya.
"Patricia Smith, dia istri dari Robert Smith, aku yakin jika mereka berdua tahu di mana Eliza" jawab Alex dengan penuh semangat, seolah dia sudah memiliki titik terang yang akan membawanya menemui Eliza yang sangat dia rindukan.
"Tapi Robert Smith sudah tidak menjadi dosen di universitas kita lagi, dia kini sudah memiliki sekolahnya sendiri yang di bangun oleh keluarga Smith di bantu oleh keluarga mu dan dia menjadi dekan di sana" jawab James.
"Tapi tenang Lex, setahuku Nyonya Patricia Smith bekerja di salah satu rumah sakit di sekitar sini, biar aku coba cek semuanya, setelah aku menemukan kabar tentang istrimu, aku akan mengajarimu, sekarang kamu harus bisa fokus dengan pengobatan mu, agar kamu bisa cepat kembali berjalan, huh...!! Sangat mengerikan mungkin jika aku melihat bagaimana Lucy Anderson menghajarmu, sampai-sampai anaknya sendiri dia buat cacat dan hampir mati dan bahkan tidak pernah sekalipun mengunjungimu, selamat Alex kamu punya ibu luar biasa" ucap James yang langsung mendapatkan lemparan bantal dari Alex.
"Haha... Cepat sembuh Alex, aku pergi!" Jawab James lagi seraya melemparkan bantal itu kembali pada Alex dan segera mengambil langkah seribu dan keluar dari ruangan rawat Alex.
Alex membaringkan tubuhnya di ranjang pasiennya, dia menatap langit-langit kamar itu "kamu di mana Eliza? Aku merindukanmu" ucapnya.
Sementara itu di rumah Patricia
"Za, kita harus ke rumah sakit lagi, kamu perlu melakukan pemeriksaan rutin untuk penyakitmu dan juga calon anakmu" ucap Patricia pada Eliza yang sedang menyisir rambutnya di kamarnya.
Eliza menyembunyikan rontokan rambut miliknya yang tertinggal di sisirnya agar Patricia tidak khawatir dengannya.
"Iya Tris, ayo!" Jawab Eliza dengan suara yang dia ucapkan dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, aku tahu apa yang kamu sembunyikan dari ku, yang penting kamu sekarang sudah terlihat bahagia, itu yang penting bagi aku Za" ucap Patricia pada Eliza yang justru tersenyum manis padanya.
"Iya Bu dokter, kamu tahu, jika aku sangat bahagia, lihatlah perutku nanti akan membulat dan aku akan menghadirkan menantu untuk mu, kamu hanya perlu berdoa jika anakku adalah perempuan, dan Leo pasti menyukainya" jawab Eliza dengan semangat yang bahkan tidak seperti orang yang sakit parah.
Eliza merias wajahnya dengan makeup yang menutupi semua wajah pucat nya, dia bahkan terlihat lebih menggoda dengan makeup yang dia aplikasikan di wajahnya.
"Ayo Nyonya Smith, dan tuan muda Smith" ajak Eliza pada Patricia dan Leo yang sudah siap untuk pergi bersamanya.
Sesampainya di rumah sakit, Eliza mendapatkan perawatan khusus mengingat Eliza memiliki penyakit yang sudah sangat menggerogoti tubuhnya.
"Syukurlah bayinya berkembang dengan baik, dan sehat, kami sudah memberikan berbagai macam vaksin agar dia tidak memiliki penyakit seperti yang anda derita sekarang ini" jelas dokter yang mereka temui.
"Terimakasih dokter Amerta" jawab Eliza pada dokter wanita bernama Amerta yang memeriksanya.
"Sama-sama, jaga kesehatan mu baik-baik jika terjadi sesuatu atau merasakan sesuatu segera beritahu Patricia dan segera temui aku" ujar Amerta yang merupakan sahabat dari Patricia.
"Iya dokter pasti, karena aku juga tidak mau jika calon anakku kenapa-napa" jawab Eliza.
"Baiklah Amerta, kami permisi dulu ya, Eliza harus banyak istirahat, aku tidak mau jika dia kelelahan dan berakibat fatal" ucap Patricia yang kemudian di angguki oleh Amerta.
Eliza, Patricia dan Leo berjalan keluar dari ruangan dokter Amerta dan mereka terus berjalan sambil bercerita sampai mereka keluar dari rumah sakit dan berada di parkiran.
"Za, kita langsung pulang ya?" Tanya Patricia pada Eliza yang sudah bisa di tebak jawabannya.
"Tentu Nyonya Smith" jawab Eliza dengan tawanya.
"Kamu ini, ayo masuk" ucap Patricia pada Eliza yang kemudian memasuki mobilnya.
Patricia membawa laju mobilnya ke arah rumah mereka, Leo yang di pangku oleh Eliza juga sudah tertidur pulas di pelukan Eliza.
Sesampainya di rumah Patricia, Patricia segera keluar dari mobilnya dan membawa Leo yang sudah tertidur pulas, Eliza turun dari mobil dan segera mengikuti Patricia memasuki rumah Patricia.
Di luar rumah Patricia seseorang sedang mengawasinya sedari tadi, karena dia mengikuti mobil Patricia saat baru keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Jadi itu Eliza? Huh?! Benar saja Alex sangat merindukannya, dia sangat cantik, dan mereka tinggal di sini, aku harus memberitahu hal ini pada Alex" ucap James yang terus mengikuti mobil Patricia itu.
...