
.
.
"Miss... Sudah waktunya tidur siang." Alessia dengan lembut menuntun tangan mungil Jessy agar mengikutinya.
"Tapi kakak Leo belum datang..." Suara mungil Jessy membuat Alessia tersenyum senang.
'dia sangat manis. Tapi... Bagaimana bisa dia memiliki ayah yang sangat mengerikan...' Alessia bergidik ngeri. Membayangkan suara Alex yang sepertinya sangat ingin membunuhnya membuatnya kembali berkeringat dingin.
"Saya akan membuat susu dulu, Miss. Ayo." Alessia menggendong tubuh mugil Jessy di tangannya. Kemudian berjalan menuju ke arah dapur.
Alessia begitu senang melihat wajah cantik Jessy yang membuatnya merasa sangat berbunga-bunga.
'dia pasti akan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik... Dia juga dari keluarga yang tidak main-main... Masa depannya pasti sangat cerah. Tidak seperti ku yang hanya berakhir menjadi pengasuh walaupun lulusan sarjana!' Alessia menghembuskan nafasnya dengan kasar mengingat nasib kehidupannya sendiri.
"Ale..." Panggil Jessy dengan suara yang begitu manis.
"Iya, Miss. Miss butuh sesuatu?" Tanya Alessia.
"Hubungi Daddy. Aku mau dengal cualanya... (Aku mau dengar suaranya)" Jawab Jessy.
Deg!
Jantung Alessia terasa berhenti saat itu juga. Dan kakinya terasa kembali lemah seakan-akan dia akan kembali terduduk di lantai.
Alessia berpegang pada meja ruang makan untuk membantu menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Hubungi Daddy cekalang(sekarang)..."
"I-ya Miss." Jawab Alessia pasrah. Dia berusaha untuk mengatur nafasnya yang sudah kembali terasa sesak.
Dia ingat pagi tadi, saat dia terbangun di sebuah kamar mewah. Yang ternyata adalah kamar tamu di istana megah keluarga Anderson.
Dan sekarang dia tidak ingin kembali terbangun di kamar mewah lagi!
"Tunggu Miss!"
Alessia mengambil handphone yang sengaja di siapkan khusus untuk Alessia. Agar dia bisa menghubungi anggota keluarga Anderson dengan nomor itu.
Alessia melihat nama 'Alex' yang tertera di layar handphone.
Keringat dinginnya kembali terasa membanjiri sekujur tubuhnya. Tangannya sampai gemetaran hanya untuk sekedar menekan layar handphone.
Tap!
Alessia berhasil menghubungi nomor Alex.
Dia menghela nafasnya. Rasanya benar-benar lega hanya karena hal kecil itu.
"Halo!"
"Ah!" Alessia terkejut setengah mati saat mendengar suara dingin dari pria yang di hubunginya.
"L-ll-llo-lord..." Ucap Alessia dengan suara yang gemetaran.
"Mana Jessy?" Tanya Alex dengan cepat.
Alessia tidak mengatakan apapun, dia langsung memberikan handphone di tangannya ke Jessy.
Brukk!
Dia terduduk di lantai dengan lemas, setelah dia memberikan handphone pada Jessy.
"Ya Tuhan. Bagaimana aku bisa bekerja di sini. Kalau aku begitu ketakutan pada boss ku!'
.
.
Di kantor Alex.
__ADS_1
"Iya Jessy sayang. Daddy akan segera pulang setelah pekerjaan Daddy selesai. Jessy main dulu sama pengasuh baru Jessy, okay?" ucap Alex dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang, seolah-olah dia sedang berhadapan langsung dengan putrinya.
"Glendma, glendpa pelgi... Jessy cama Ale doang..."
"Daddy tahu sayang. Daddy akan segera pulang. Sekarang waktunya Jessy tidur siang, kan? Jadi, Jessy tidur siang dulu, saat Jessy bangun... Daddy sudah ada di sebelah Jessy. Daddy janji..." Alex menatap tajam pada orang-orang yang melihat ke arahnya.
Saat ini Alex sedang berada di sebuah ruangan meeting. Dia sedang berada di tengah-tengah diskusi yang sangat menegangkan. Namun saat melihat layar handphonenya menyala, dia langsung mengambilnya dan menerimanya. Karena dia tahu siapa yang menghubunginya.
Dan sekarang orang-orang yang ada di sekelilingnya justru terus melihat ke arahnya dengan tatapan mata mereka yang seperti tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Jessy sekarang main sama Ale atau siapapun itu dulu ya... Daddy akan pulang setelah Jessy tidur siang." Ucap Alex lagi saat dia tidak mendengar suara putrinya
"Jessy tidak marah sama Daddy, kan?"
"Kakak Leo tidak datang... Mama patlicia dan uncle lobelt juga tidak datang... (Mama Patricia dan uncle Robert juga tidak datang). Jessy sedih..."
"Jessy sayang... Daddy akan pulang sebentar lagi. Jessy jangan sedih ya... Nanti Daddy akan belikan Jessy boneka Teddy merah muda yang super besar. Bagaimana?"
"Daddy janji?"
"Iya sayang, Daddy janji!"
Alex tersenyum lebar saat mendengar suara kecupan mungil dari putrinya. Sebelum akhirnya panggilan mereka berakhir.
Alex meletakkan handphonenya kembali ke meja yang ada di hadapannya. Tatapan matanya kembali begitu tajam seperti sebelum menerima panggilan dari Jessy.
"Kalian sepertinya sangat senang bermalas-malasan! Bagaimana kalau aku memecat kalian semua... Dengan begitu kalian bisa bermalas-malasan tanpa ada yang mengomentari ataupun memarahi kalian!!!"
Bammm!!!
Alex menggebrak meja meeting dengan keras
"Kalian sebut ini laporan?! Ini bahkan amat sangat buruk dari tulisan Leo yang berusia sembilan tahunan!!!" Alex menepis tumpukan berkas di hadapannya sampai semuanya terjatuh berantakan di lantai
Wajah pucat terlihat jelas di wajah mereka semua yang ada di dalam meeting room.
Semuanya ketakutan karena kemarahan Alex yang selalu sangat mengerikan.
"Meeting selesai! Perbaiki semuanya sekarang juga! Dan saya ingin melihat hasilnya besok pagi!" Alex melonggarkan dasinya. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kalian tunggu apa lagi?! Bukankah seharusnya kalian kembali ke desk kalian masing-masing untuk memperbaiki laporan kekanakan kalian?!" Mendengar itu semuanya bergegas keluar dari ruangan meeting.
"Alex... Kamu benar-benar memberikan kesempatan pada mereka untuk bisa membencimu..." Ucap seseorang yang baru saja memasuki ruangan meeting.
Alex melirik sekilas siapa yang datang menemuinya, setelah itu dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang dia duduki saat ini.
"Aku sama sekali tidak peduli, James!" Jawab Alex.
"Tapi aku adalah asisten mu. Aku sangat peduli dengan citra bos ku..." James duduk di dekat kursi Alex, "bagaimana keadaan princess Jessy?"
"Dia baik-baik saja." Jawab Alex dengan malas.
"Princess Jessy yang cantik... Cepatlah besar, agar aku bisa menikahimu." Alex melotot seketika pada sahabatnya yang kini adalah asisten pribadinya.
"Santai bro! Aku hanya bercanda..." Ucap James. Dia menepuk pundak sahabatnya.
"Tapi kalau kami berjodoh..."
"Berjodoh??!" Dengus Alex malas.
"Oh Alex! Aku lupa... Tadi aku melihat Emelie Kiran Brods." James melirik ke arah sahabatnya yang sama sekali tidak tertarik untuk mendengar tentang apa yang sedang dia katakan.
"Ah! Aku lupa kalau wanita gila itu adalah seseorang yang tidak seharusnya aku sebut." James tersenyum lebar, "tapi sekarang dia sudah kembali ke kota ini... Itu yang ingin aku sampaikan."
Alex melirik tajam pada sahabatnya, "jangan sampai dia masuk kemari! Atau..."
Brakkk!
Alex dan James terkejut saat seseorang menerobos masuk begitu saja ke dalam ruangan itu.
"Maaf nona... Tapi anda tidak bisa masuk seperti ini!" Ucap salah satu petugas keamanan yang sedang berusaha untuk menahan wanita itu.
__ADS_1
"Alex..." Wanita itu tersenyum seraya melepaskan kacamata hitamnya, "long time no see... How are you, dear?"
James ternganga melihat wanita yang baru saja di bicarakanya kini sudah ada di hadapannya.
"Waah! Sepertinya takdir benar-benar kejam..." Desisnya.
"Get lost!" Usir Alex keras.
"Itu terlalu kejam untuk mengusir seorang gadis, kan? Terlebih aku baru sampai kesini setelah melakukan penerbangan hampir 20 jam! B*kong ku sangat sakit..." Emelie mengusap b*kongnya di hadapan Alex dengan sengaja, "sangat sakit, Lex. Jadi, biarkan aku duduk dulu. Okay?"
Emelie tersenyum lebar tanpa mempedulikan tatapan mata Alex yang begitu tajam padanya.
"Awas!" Emelie menepis tangan petugas keamanan yang terus menahannya, "aku adalah kekasihnya! Kenapa kalian tidak percaya!" Sungut Emelie.
"L-lord... Kami mohon maaf untuk apa yang terjadi..." Ucap petugas keamanan dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Pergilah! Dan pastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi!" Jawab Alex.
"Siap, lord Anderson!" Petugas kemanan segera pergi keluar dari sana.
Melihat itu Emelie tersenyum lebar.
Dia duduk di kursi yang ada di dekat Alex.
"Kenapa wajahmu seperti ini? Padahal aku sangat merindukanmu. Oh! Lebih tepatnya aku merindukan 'anak' ku."
"Dia bukan anak mu!" Jawab Alex dengan begitu dingin.
"Dia anak ku Alex... Aku membantumu merawatnya saat dia bayi. Jadi, dia juga sudah aku anggap sebagai anak ku. Lebih tepatnya adalah putri kecil ku."
"To the point! Aku tidak memiliki waktu untuk chit-chat yang tidak perlu!"
Emelie tersenyum manis pada pria yang masih menatapnya dengan dingin.
"Kamu terlalu dingin, Lex!" Bisik James.
Namun Alex sama sekali tidak peduli. Dia sama sekali tidak merubah pandangannya itu.
"Aku sudah bilang kalau aku merindukan mu." Jawab Emelie dengan santainya.
Dia sudah terbiasa dengan sikap seperti itu dari Alex selama ini.
"Aku tidak akan pernah menikah lagi. Sampai kapanpun! Jadi, jangan pernah melakukan hal yang tidak berguna lagi! Karena aku tidak akan pernah bisa menerima mu atau bahkan siapapun!" Ucap Alex.
"Waah Alex! Kamu terlalu terus terang, kan?" Emelie tersenyum lebar melihat pria yang selalu saja tidak mencoba untuk berbasa-basi sekalipun.
"Sudah jelas, bukan?! Aku tidak akan pernah menikah lagi. Jadi, jangan menggunakan putriku hanya agar kamu bisa menikah dengan ku." Jawab Alex masih begitu to the point.
James hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap dingin sahabatnya itu
'dia benar-benar tidak tahu caranya berbasa-basi!'
Emelie menghembuskan nafasnya dengan pasrah.
"Whatever Alex... Aku tulus menyayangi putrimu. Dan aku tulus ingin menjadi ibu baginya... Bukan karena aku ingin kamu menerima ku atau mencintai ku. Dan bukan karena aku ingin menjadi bagian dari keluarga Anderson yang terhormat. Kamu tahu aku bukan... aku juga kaya raya! Aku melakukan semua itu semua karena murni aku menyukainya dan ingin menjadi sosok ibu baginya. Kamu tahu benar kalau aku hidup tanpa ibu sejak aku lahir... Rasanya sangat tidak enak... Sakit di bagian sini selalu menggerogoti ku. Entah kesalahan apapun yang aku lakukan, orang-orang akan selalu menuding ku karena aku tidak punya ibu yang mengajariku... Itu benar-benar menyakitkan..." Emelie tersenyum pahit.
Dia melihat ke arah Alex yang kini sudah tidak lagi terlihat begitu dingin seperti sebelumnya.
Emelie Kiran Brods adalah putri dari salah satu rekan bisnis Howard Anderson dan Lucy Anderson. Dia memang seorang wanita yang tumbuh tanpa adanya seorang ibu. Mengingat ibunya meninggal tepat setelah melahirkannya. Emelie datang ke kediaman keluarga Anderson sebulan setelah kelahiran Jessy.
Melihat bagaimana bayi mungil itu yang sendirian, dia seperti melihat dirinya sendiri yang memiliki nasib sama. Maka dari it, dia memutuskan untuk membantu mereka menjaganya. Hingga pada akhirnya, Emelie memutuskan untuk menjadi ibu baginya. Dia memaksa ayahnya untuk bisa membantunya menikah dengan Alex.
Karena itulah semuanya berakhir.
Karena kemarahan Alex, dia melarang Emelie untuk datang lagi menemui Jessy. Dan karena itulah Emelie di paksa oleh ayahnya untuk pergi keluar negeri, mengingat hubungan bisnis mereka yang terganggu karena tindakan bodohnya itu.
"Alex... ayo menikah. Biarkan aku menjadi ibunya... hanya menikah saja, apa sulitnya?"
Alex mengerutkan keningnya kesal, "Sudah kuduga... kamu benar-benar tidak waras!"
.
__ADS_1