
.
.
"Pertama... Alessia, kamu benar-benar sudah membohongi Emelie. Walaupun itu tidak di sengaja... Seharusnya kamu katakan saja jika kamu mungkin bisa saja menyukai Alex kedepannya, mengingat kamu akan hidup lama di rumah ini. Perasaan suka ataupun cinta mungkin akan tumbuh... Mau bagaimana lagi. Walaupun putraku memiliki masa lalu yang sangat buruk, dia adalah pria yang tampan... Pesonanya memang tiada duanya. Wajar saja jika kamu atau gadis manapun akan jatuh hati padanya..." Emelie dan Alessia melongo mendengar apa yang baru saja Lucy katakan.
Rasanya seperti mendengar sesuatu yang sangat tidak nyata dan asing.
"Haissshh... Kenapa ekspresi wajah kalian seperti itu?"
"Yang aunty katakan benar-benar sangat berlebihan..." Jawab Emelie, "itu sangat mengejutkan..."
"Sudahlah lupakan!" Lucy kembali tersenyum pada dua gadis yang masih memperhatikannya.
"Kita lanjutkan saja yang tadi... ekhem!" Lucy mulai kembali mengosongkan tenggorokannya untuk kembali melanjutkan perkataannya tadi, "Perasaan seseorang tidak ada yang tahu... Emelie juga harus memahaminya... Bukan begitu Emelie?"
Emelie menganggukkan kepalanya, "benar aunty... Aku sudah mengatakan padanya juga tentang itu." Jawab Emelie, "aku tidak masalah jika memang dia menyukai Alex. Asalkan dia jujur. Aku tidak keberatan... Tapi Alessia tidak jujur padaku. Itu sebabnya aku berfikir kalau Alessia sama saja seperti orang lain yang pernah aku temui. Di mana orang itu selalu tersenyum padaku, namun di belakang ku, dia menjelekkan ku dan terus mengutuki ku. Aku benci orang-orang munafik seperti itu." Jawab Emelie
"Ampun miss... Saya benar-benar tidak tahu tentang bagaimana saya bisa di kategorikan sebagai seseorang yang menyukai lord Anderson... Saya benar-benar tidak tahu tentang perasaan yang seperti itu." Alessia menundukkan kepalanya. Dia benar-benar ketakutan.
"Bagaimana bisa kamu tidak memahami perasaan mu sendiri?!" Kesal Emelie
"Miss Emelie sendiri juga tidak memahami perasaan Miss Emelie sendiri. Miss Emelie sebenarnya juga sangat menyukai lord Anderson, kan?"
"Kamu!!" Emelie terlihat lepas kendali.
"Cukup dulu... biar aku lanjutkan apa yang ingin aku katakan pada kalian berdua." Lucy menghentikan keduanya.
Emelie dan Alessia terdiam. Keduanya terlihat begitu patuh pada apa yang Lucy perintahkan.
Walaupun Emelie masih terlihat begitu kesal.
"Yang kedua... Untuk Alessia juga... Kamu sendiri tidak memahami tentang perasaan mu itu. Seharusnya kamu tidak mengatakan pada Emelie seperti itu di awal! Katakan saja jika kamu tidak akan menjadi penghalang baginya, jika memang kedepannya kamu menyukai Alex..." Ucap Lucy lagi.
"Ampun nyonya... Saya benar-benar tidak berfikir panjang tentang itu. Tapi saya benar-benar tulus ingin berteman dengan Miss Emelie... Saya juga ingin menjadi pendukung setianya. Saya benar-benar ingin menjadi Emelicious..."
'emelicious? Apa itu?' pikir Lucy dalam hatinya.
"Saya benar-benar tidak sengaja jika saya sudah membohongi Miss Emelie... Dan sampai membuatnya meragukan saya..." Alessia menitikkan air matanya. Rasa takutnya kini melebihi segalanya. Bukan rasa takut jika dia akan kehilangan pekerjaannya, tapi rasa takut untuk kehilangan seseorang yang sudah mempercayainya mengingat siapa dirinya itu, "ampuni saya Miss...."
Mendengar itu Emelie tidak bereaksi apapun. Dia terus diam dan tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya.
"Dan yang ketiga untuk Emelie..."
"Aku?"
Lucy menganggukkan kepalanya saat melihat Emelie menunjuk pada dirinya sendiri.
"Iya kamu... Kamu sendiri juga bersalah, Emelie. Kamu tidak seharusnya mencurigai 'teman' mu seperti ini. Katakan saja semuanya apa kamu rasakan padanya... Dia akan menjelaskannya dengan senang hati... Aku yakin Alessia lebih suka kamu memarahinya daripada menyimpan kemarahan mu yang tidak akan ada ujungnya jika kamu tidak berusaha untuk menyelesaikannya. Melihat sikap mu yang seperti itu... Itu artinya kamu juga sudah berbohong padanya... Kamu berpura-pura tidak membencinya dengan selalu memperlihatkan senyuman mu. Itu juga sebuah kebohongan! Itu... Jika kamu seperti itu, apa bedanya kamu dengan mantan teman-teman ku dulu? Tidak ada!" Emelie tampak sangat terkejut mendengar itu.
Dia menatap Lucy yang menganggukkan kepalanya padanya.
"Apa yang aku katakan benar, Emelie. Kamu akan menjadi sama seperti mereka yang bersikap munafik! Apa kamu benar-benar ingin seperti mereka? Yang manis di depan dan sangat pahit di belakang?" Jelas Lucy lagi, "Jadi sudah jelas disini, kalian berdua sudah sama-sama berbohong... Apa kamu akan tetap bersikap seperti itu pada alessia?"
"Aku..." Emelie tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa.
Lucy menghembuskan nafasnya dengan pasrah.
"Kalian berdua harus menyelesaikan semuanya ini dengan segera! Jangan menyimpan 'sampah' seperti ini lebih lama lagi. Baunya akan sangat tidak enak. Terlebih jika sampai ada 'belatung' dan 'lalat' yang datang menghampiri... Semuanya akan menjadi jauh lebih rumit... Kamu paham, Emelie?"
Emelie menggeleng-gelengkan kepalanya, itu membuat Lucy mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Kamu benar-benar tidak paham dengan perkataan ku?" Tanya Lucy memastikan.
"Aku hanya tidak paham dengan apa itu 'belatung' dan 'lalat' di sini..." Jawab Emelie.
Mendengar itu Lucy sontak tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ha ha ha... Kamu berlagak seperti villainess, tapi kamu sama sekali tidak tahu apa itu 'belatung' dan 'lalat'..." Ucap Lucy dengan tawanya.
"Aunty..." Emelie mengerucutkan bibirnya sebal.
"Belatung dan lalat, itu seperti pihak ketiga dan keempat yang ikut campur dalam masalah mu, dan hanya akan memperburuk keadaan..." Jelas Lucy.
"Oh..." Ucap Emelie dan Alessia secara bersamaan.
"Alessia juga tidak mengerti?"
Alessia hanya tersenyum lebar seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Haissshh... Pengalaman hidup kalian berdua benar-benar sangat dangkal!"
"Itu mungkin karena kami masih muda." Jawab Alessia.
Emelie menganggukkan kepalanya, "itu benar. Itu karena kami masih muda..."
"Muda? Usia kalian pasti sudah di atas 20 tahun, kan? Itu sudah di kategorikan sudah dewasa!"
"Dewasa bukan berarti tua, aunty!" Jawab Emelie yang di angguki oleh Alessia, "itu benar, nyonya... Dewasa memang bukan berarti tua. Karena terkadang ada yang sudah memiliki usia tua, tapi belum dewasa..." Ucapnya.
"Itu benar!" Tambah Emelie.
"Kalian berdua benar-benar kompak!" Lucy tersenyum puas
"Emelie menatap Alessia yang juga sedang menatapnya.
"Lihat! Kalian berdua benar-benar sangat kompak! Jadi, kenapa kalian berdua harus merusaknya... Itu sangat di sayangkan!" Lucy menarik tangan Emelie, dan juga tangan Alessia. Kemudian menyatukan tangan mereka berdua.
"Jangan bertengkar ataupun bermusuhan hanya karena alasan sepele. Apa lagi hanya karena pria seperti Alex! Kalian jangan merendahkan harga diri kalian yang sangat berharga itu. Jadilah wanita terhormat yang hanya akan berkelahi untuk kehormatan diri kalian sendiri. Bukan justru untuk hal-hal hina seperti itu... Mengerti?"
"Aunty... Aunty baru saja mengatakan hal buruk tentang putra aunty sendiri..." ucap Emelie
"Itu karena memang benar. Mau bagaimana lagi..."
"Ha ha ha ha...."
Melihat itu Lucy tersenyum puas.
"Ingat! Hubungan persahabatan bukan hanya sekedar ucapan 'kita berteman' tapi ini adalah suatu hubungan yang seperti merawat sebuah tanaman. Itu harus di jaga dan di rawat dengan baik. Terus siram dengan kasih sayang dan di pupuk dengan rasa saling percaya. Jika semuanya itu kalain berdua lakukan... Maka hubungan persahabatan kalian berdua akan menjadi hubungan yang sangat istimewa... Seperti hubungan antara Eliza dan Patricia yang abadi bahkan sampai detik dimana Eliza sudah tidak lagi ada di dunia ini. Hubungan persahabatan adalah hubungan yang akan terus ada, walaupun salah satu dari mereka itu sudah tidak ada lagi di dunia ini... Paham?"
Lucy tersenyum senang melihat Emelie dan Alessia yang sama-sama menganggukkan kepala mereka.
"Dan ingat... Jangan sampai ada 'ulat' ataupun 'hama' yang merusak tanaman persahabatan kalian itu." Tambah Lucy.
"Kali ini 'ulat' dan 'hama', di mana 'belatung' dan 'lalat' tadi?" Tanya Emelie.
Lucy dengan gemas mencubit pipi Emelie.
"Ouch! Sakit, aunty!" Melihat wajah Emelie yang menggemaskan, Lucy melepaskan tangannya dari pipinya.
"Sekarang bagaimana kamu akan memperlakukan Alessia?" Tanya Lucy pada Emelie.
Emelie mengarahkan pandangannya pada Alessia yang masih duduk di lantai. Ekspresi wajahnya terlihat begitu pasrah.
"Karena dia sudah jujur... Dan aku juga bersalah... Aku tidak akan mempermasalahkan tentang ini lagi. Aku juga ingin meminta maaf padanya... Aku seharusnya langsung menanyakan padanya tentang permasalahan yang mengganggu ku. Tapi aku justru memendamnya sendiri dan membencinya karena itu. Aku benar-benar sangat menyesal..." Jawab Emelie yang terlihat begitu merasa bersalah.
"Maaf, Miss... Ini semua karena kesalahan saya. Saya benar-benar minta maaf, Miss."
"Tidak Alessia... Kamu memang salah. Tapi bukan hanya kamu. Aku juga bersalah di sini... Jadi, hentikan semuanya ini. Dan kita bisa berteman seperti sebelumnya... Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku." Mendengar itu Alessia menangis sesenggukan. Dia tidak pernah berharap Emelie akan mengatakan hal itu. Dia juga tidak pernah berharap Emelie akan meminta maaf padanya. Dia hanya ingin berteman dengan Emelie. Menjadi seseorang yang bisa menjadi sandaran bagi Emelie nantinya. Tidak lebih dari itu.
"Terimakasih Miss Emelie..." Ucapnya dengan tangisannya.
"Sorry, Ale." Emelie dengan erat memeluk Alessia yang masih duduk di lantai, "sekali lagi... Sorry." Alessia menggelengkan kepalanya, "tidak Miss, ini semua adalah salah saya... Maafkan saya, Miss." Alessia mengeratkan pelukannya. Dia merasa sangat bahagia bisa kembali mendapatkan kesempatan untuk bisa lebih dekat lagi dengan Emelie.
Alessia juga tidak pernah memiliki teman selama ini, mengingat status sosialnya yang rendah, tidak ada orang yang tulus hati menganggapnya sebagai teman mereka. Mereka hanya mendekatinya untuk memanfaatkan dirinya yang selalu saja begitu baik pada orang lain dan selalu dengan begitu bodohnya menjadi 'pelayan' bagi mereka semua. Dia selalu merasa di manfaatkan tanpa mendapatkan perhatian mereka yang tulus.
__ADS_1
Dan saat dia dekat dengan Emelie, dia tidak merasakan semuanya itu. Dia justru merasa hangat dan sangat nyaman bersamanya. Sangat jauh dari apa yang pernah dia rasakan saat itu.
"Jadi, kalian berdua benar-benar hampir memutuskan hubungan persahabatan kalian hanya karena Alex... Tidak heran juga... Mau bagaimana lagi... Alex memang terlalu tampan!"
Emelie dan Alessia menatap Lucy dengan tatapan jengah mereka.
"Apa yang salah? Putraku memang sangat tampan. Wajar saja kalian menggila karenanya..."
"Seriously, aunty. Aunty berlebihan!" Desis Emelie.
"Jujur saja kalau kalian mengakuinya. Bahwa putra ku itu memang sangat tampan, iya kan?"
Emelie menatap ke Alessia yang masih memeluknya.
"Ale, sepertinya aunty Lucy perlu istirahat... Dia berhalusinasi." Ucapnya.
"Iya Miss. Nyonya Anderson sepertinya kurang sehat..." Jawab Alessia.
"Kalian berdua kini menyerang ku?"
"Aunty... Istirahat lah, dan jangan lupa minum obat."
"Haissshh... Kalian berdua benar-benar nakal!" Lucy tersenyum lebar, "aku sangat senang melihat kalian berdua yang sudah kembali harmonis seperti ini... Dan sebagai ibu dari pria yang kalian perebutkan... Aku akan memilih kalian berdua sebagai istrinya. Dia akan menikahi kalian berdua. Bagaimana?"
"Serius! Panggil dokter, Ale!" Emelie menepuk pundak Alessia.
"Iya Miss. Halusinasi nyonya Anderson seperti parah." Jawab Alessia dengan cepat.
"Wah! Kalian berdua benar-benar..."
Alessia dan Emelie tertawa bersama.
"Kalian berdua... Aku tanya pada kalian berdua, apa kalian tidak memiliki perasaan suka pada putraku? Terutama kamu, Emelie." Lucy menatap serius pada Emelie yang sudah bersiap untuk menjawab pertanyaan darinya.
"Aku... Untuk saat ini mungkin tidak. Dan mungkin juga tidak akan pernah bisa menyukainya... Tapi itu semua hanya kemungkinan... Karena aku tidak tahu bagaimana Tuhan akan mengatur jodoh ku. Mungkin aku akan perlahan-lahan mulai menyukainya, atau mungkin aku justru jatuh cinta pada pria lain yang aku temui kedepannya... Aku sendiri tidak tahu. Tapi jika aunty ingin tahu apakah aku akan memiliki perasaan suka pada Alex atau tidak... Jawabnya adalah bisa saja itu terjadi padaku. Mengingat Alex sangat pandai saat berciuman. Terlebih aku menyukai pria berotot... Alex termasuk kategori itu. Jadi, aku mungkin akan lebih cepat menyukainya." Jawab Emelie panjang lebar.
Lucy terkekeh geli.
Jawaban dari Emelie benar-benar di luar apa yang dia pikirkan.
"Bagaimana dengan mu, Ale?" Tanya Emelie.
"Aku? harus jujur kan?" Alessia tersenyum lebar pada Emelie sebelum menjawabnya, "Sepertinya saya juga bisa saja menyukai tuan muda Anderson. Mengingat Aliran listrik selalu terjadi setiap kali kami tidak sengaja saling bersentuhan." Alessia melihat ke arah Emelie yang tidak bereaksi seperti apa yang dia pikirkan. Dia sudah sangat ketakutan jika Emelie mungkin akan menjambaknya jika dia mengutarakan pikirannya itu. Tapi Emelie justru tidak bereaksi dengan apa yang dia katakan tadi.
"Tapi.... Saya tidak pernah berharap untuk menikah dengan lord Alex Anderson. Saya akan selalu mendukung pernikahan Miss Emelie dengan lord Alex Anderson..." Tambahnya, "walaupun nantinya saya mungkin berakhir menyukainya atau bahkan mencintainya... Saya tidak ingin menikah dengannya... Bukankah cinta juga tidak harus memiliki... Itu yang bisa saya katakan untuk saat ini."
"Benar... Nasib kita ke depannya... Siapa yang tahu." Tambah Emelie.
Prok! Prok! Prok!
Lucy bertepuk tangan dengan senyuman penuh kepuasannya.
"Aku benar-benar bangga pada kalian berdua." Ucapnya, "dan aku jauh lebih bangga pada putraku yang tampan itu. Karena pesonanya bisa membuat dua hati wanita cantik ini bertekuk lutut padanya..."
Emelie dan Alessia lagi-lagi melemparkan tatapan jengah mereka pada Lucy.
"Ale... Kembalilah ke pekerjaan mu. Jika kamu terlalu lama di sini, aku khawatir kamu akan sakit telinga..." Ucap Emelie seraya bergerak dari posisinya, "aku lebih baik bersama Jessy. Berlama-lama di sini, aku takut aku kembali masuk rumah sakit jiwa..."
"Kamu... Benar-benar pernah masuk rumah sakit jiwa?" Tanya Lucy dengan begitu serius.
"Aunty... Aku... Itu..." ekspresi wajah Emelie tampak sangat kebingungan. Dia juga sangat panik.
Alessia juga terlihat panik dan khawatir. Dia menyentuh tangan Emelie yang mengepal kuat.
"Jadi, benar?" Tanya Lucy lagi. Itu membuat Emelie semakin terlihat pucat. Sama seperti Alessia yang juga terlihat ketakutan.
"Miss...."
__ADS_1
.