
.
.
Setelah makan malam bersama, Alex mengantarkan Emelie ke rumahnya.
"Alex... Mampir dulu." Ajak Emelie seraya melepaskan sabuk pengaman yang melindungi tubuhnya.
"Sorry, tapi aku harus segera pulang... Jessy sepertinya sedang menunggu ku."
"Jessy? Bukan Alessia?"
"Alessia lagi? Cemburu lagi?" Emelie tersenyum lebar, dia menggelengkan kepalanya, "aku juga tidak keberatan kalau kamu memang menyukainya. Dan aku tidak keberatan jika memang dua menyukai mu." Jawab Emelie.
"Ha! Hatimu benar-benar sangat mulia, Miss Emelie. Aku yakin kamu adalah jelmaan dari Dewi khayangan." Ucap Alex dengan nada bercandanya. Dia tersenyum lebar pada Emelie yang terlihat begitu senang.
"Alex..." Emelie menarik dasi Alex, hingga bibir keduanya menyatu.
Ciuman yang cukup lama sampai mereka berdua melepaskan ciuman mereka.
"Kenapa rasanya begitu hambar?" Tanya Emelie.
"Hambar? Apanya?" Tanya Alex kebingungan
"Bibirmu. Seharusnya manis, kan? Apa bibir ku juga hambar?"
Alex menggelengkan kepalanya, "bibirmu manis. Hanya saja ciuman ini yang memang terasa hambar. Karena kurang gairah." Jawab Alex
"Gairah? Kamu ingin kita berciuman penuh gairah?" Emelie mengalungkan tangannya di leher Alex seraya kembali mendekat padanya
"Miss Emelie... Your highness... Please behave..." Alex tersenyum lebar seraya mendaratkan ciumannya di keningnya, "jangan memulai hal seperti ini dengan pria dewasa penuh ambisi dan sudah 'tertidur' selama lebih dari lima tahun terakhir ini... Jangan mulai menguji ku. Jika kamu tidak ingin bertanggung jawab. Mengerti?" Alex mencubit gemas pipi Emelie dengan senyuman lebar yang terukir di wajahnya.
"Rasanya sangat menyenangkan bisa bersamamu. Aku sedikit melupakan kesedihan ku selama ini." Ucap Alex seraya menghela nafasnya
"Aku sebenarnya tidak ingin melakukannya. Tapi mau bagaimana lagi... Aku harus mendekati mu agar kamu bisa segera menikahiku. Aku tinggalkan harga diriku di koper besar yang ada di atas lemari pakaian ku."
"Ha ha ha..." Alex tertawa lepas.
"So refreshing... Thank you Miss Emelie."
"You are welcome, my lord." Jawab Emelie. Dia membenamkan kepalanya di ceruk leher Alex, seraya tangannya memeluk tubuh Alex dengan erat.
"My lord..."
"Mm... Ada apa lagi?"
"Aku ingin tidur di kamar mu malam ini..."
"No!" Tolak Alex dengan cepat.
"Kenapa?!!" Emelie melepaskan pelukannya, dia mengerutkan keningnya dengan sebal, "aku tidak mengidap penyakit menular!" Kesalnya
"Tapi kamu sangat berbahaya. Terlebih dengan pemikiran mu yang masih labil... Sebaiknya kamu temui psikiater dulu..."
"Aku tidak gila, Alex!" Sungut Emelie seraya menatap Alex dengan geram
"Memang... Tapi kamu agak gila... Dan itu jauh lebih mengerikan dari pada orang yang benar-benar gila..." Jawab Alex dengan santainya, walaupun ekspresi Emelie sudah terlihat begitu kesal padanya.
"Alex... Bastard! You son of bi.... mmmppph" Alex menutupi mulut Emelie dengan telapak tangannya.
"Aku anak dari Lucy Anderson... Ingat? Bukan son of *****... Kalau kamu mengatakan hal itu tadi, mommy akan meledak-ledak..."
Mendengar itu Emelie kembali tertawa geli.
"Ha... Kenapa aku lupa siapa ibumu..."
"Itu karena kamu benar-benar butuh psikiater. Sembuhkan dirimu dulu. Baru kita bahas tentang pernikahan. Kamu yang sekarang ini bukanlah dirimu sendiri. Aku janji kalau kamu sudah menemui psikiater dan di nyatakan normal... Aku akan menikahimu."
Ekspresi Emelie berubah menjadi begitu dingin
'lagi? Apa kali ini dia juga akan mencekik leher ku?' pikir Alex dalam hatinya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya... Aku hanya ingin kamu yang menumbuhkan penyakit ku. Apa kamu paham?"
"Ya ya ya..." Alex menyerah pasrah, "sudah malam... Masuklah. Aku juga harus segera pulang."
"Tapi ini mobil ku..." Jawab Emelie.
Alex melihat ke sekelilingnya, di mana dia baru menyadari jika dia memang berada di dalam mobil Emelie.
"Mobil ku ada di kantor... Akan memakan banyak waktu kalau aku harus kembali ke sana..." Ucapnya, "Kamu tega membiarkan ku naik taksi?"
"Mana mungkin..." Emelie kembali memeluk Alex dengan erat.
"Aku akan datang rumah mu besok pagi. Kita berangkat ke kantor bersama."
"Ya. Kamu besok sudah mulai bekerja di kantor ku. Aku lupa itu." Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "aku akan meminta James untuk menyiapkan ruangan mu besok."
"Mm... Thanks Alex." Emelie kembali mencium bibir Alex sekilas, setelah itu dia memberikan senyuman termanisnya.
"Good night my lord, Alex."
"Good night, Miss Emelie." Jawab Alex seraya melambaikan tangannya pada Emelie yang sudah keluar dari dalam mobil.
"Mm..." Emelie menganggukkan kepalanya seraya memperlihatkan senyum manisnya pada Alex yang kini sudah mulai mengemudikan mobilnya pergi menjauh dari kediaman keluarganya.
"Kenapa aku jadi emosional begini?! Apa aku benar-benar menyukai Alex? Ini benar-benar tidak mungkin!" Emelie memukuli kepalanya sendiri seraya berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Emelie..."
Emelie menghentikan langkah kakinya saat dia mendengar panggilan dari ayahnya.
"Papa... Papa belum tidur?" Tanya Emelie seraya berjalan mendekatinya yang sedang duduk di ruang tengah sembari menikmati minuman hangatnya.
"Papa menunggumu."
__ADS_1
"Menunggu ku?"
"Ada yang ingin papa tanyakan padamu." Jawab Kenn Kiran Brods
"Sepertinya itu serius.."
"Tidak juga. Papa hanya ingin tahu tentang hubungan mu dengan Alex. Apa kamu benar-benar ingin menikah dengan duda sepertinya?"
"Duda?" Emelie tertawa geli, "kenapa aku tidak pernah memikirkan tentang itu. dia duda." Gumamnya.
"Kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik darinya." Ujar Kenn pada putrinya.
"Tapi, aku hanya ingin Alex." Jawab Emelie dengan serius
"Apa karena putrinya? Papa bisa mencarikan anak adopsi untuk mu." Emelie menatap ayahnya penuh selidik.
"Papa... Papa tidak menyukai Alex?"
"Apa papa harus menyukai pria buruk sepertinya? Image nya yang buruk siapapun mengetahuinya... Mereka hanya menghormatinya karena Lucy dan Howard yang merupakan orang tuanya..."
"Papa itu keterlaluan! Papa lihat aku ini... Apa aku pantas jika mendapatkan seorang pria baik-baik? Aku juga bukan wanita yang baik..." Emelie merasa sangat kesal dan tidak terima dengan kata-kata ayahnya tadi. Terlebih bagaimana dia menjelekkan Alex. Dia sangat tidak bisa menerimanya
"Sepertinya... Bukan hanya karena Jessy. Tapi juga karena Alex... Kamu sudah jatuh hati padanya?" Wajah Emelie memerah seketika. Rasanya malu untuk menjawab pertanyaan dari ayahnya itu.
Kenn tersenyum lebar.
"Jadi, kamu benar-benar menyukainya?"
"Itu karena perhatian nya padaku..."
"Bagaimana kalau perhatian darinya yang sama persis seperti yang dia berikan padamu, juga dia berikan untuk orang lain?" Pertanyaan Kenn membuat Emelie kembali terlihat serius.
"Ingat Emelie... Siapa Alex yang sebenarnya... Jangan tertipu hanya karena perhatiannya padamu yang berlebih... Dia tetap Alex yang sama. Yang membawa takdir buruk bagi siapapun yang menyayangi nya."
"Papa... Jangan seperti ini. Aku tidak mengharapkan sesuatu yang berlebih-lebihan seperti yang papa pikirkan..." Emelie menggeleng-gelengkan kepalanya, "please... Jangan seperti ini." Emelie mengerucutkan bibirnya.
"Papa... Alex dan aku sama saja. Sama-sama memiliki masa lalu yang sangat buruk. Itu sebabnya aku memilihnya. Bukan karena aku menyukainya." Ucap Emelie lagi.
"Kamu yakin? Jangan membohongi diri mu sendiri. Jika sampai Alex benar-benar menyukai orang lain... Kamu sendiri yang akan terluka nantinya." Kenn mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Butuh waktu lama baginya untuk bisa menerima kehadiran Emelie di hidup nya. Butuh lama baginya untuk bisa menyayanginya, dan butuh waktu sangat lama baginya untuk bisa dekat dengan putrinya seperti itu. Dia tidak ingin siapapun menyakitinya hanya karena keras kepala putrinya yang memang sudah dia miliki sejak awal.
"Emelie... Apa Alex tahu tentang 'perbedaan' mu dengan orang normal lainnya?"
Emelie menganggukkan kepalanya, "iya pa. Aku bahkan pernah beberapa kali berusaha untuk mencekiknya."
"Huh?! Lalu? Apa yang terjadi?!" Tanya Kenn yang sangat terkejut.
"Tidak terjadi apa-apa. Dia justru menenangkan ku. Dan mengembalikan ku ke situasi normal yang seharusnya. Dia tidak membenciku karena itu. Dia juga tidak menghindari ku karena itu. Dia tulus menjagaku. Walaupun..."
"Walaupun? Kenapa ada kata 'walaupun' di sini?" Kenn dengan cepat menyela pembicaraan putrinya.
Emelie tersenyum lebar, "dia hanya menganggap aku yang mirip seperti mendiang istrinya..." Jawab Emelie.
"Oh..." Kenn mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Untuk apa aku marah? Aku yakin karena alasan itulah kamu bisa bertahan dengan terus mengejarnya untuk menikahimu. Jika itu juga alasan baginya untuk bisa menerima mu menjadi istrinya, itu berarti aku harus berterimakasih karena itu, kan?" Jelas Kenn.
Dia juga tersenyum lebar pada putrinya yang tampak senang melihatnya.
"Syukurlah papa mengerti..."
"Itu karena papa adalah ayah mu. Papa sangat memahami mu." Jawab Kenn seraya kembali mengusap lembut puncak kepala putrinya.
"Terimakasih papa..."
"Istirahatlah... Kamu besok sudah mulai bekerja di kantor Alex." Ucap Kenn, "papa heran, bukankah seharusnya kamu kembali kemari untuk membantu papa di perusahaan keluarga kita, tapi kamu justru menggunakan tenaga dan kemampuan mu untuk bekerja di perusahaan keluarga lain... Itu sedikit menyakiti hati papa..."
Emelie bergerak memeluk pria paruh baya yang merupakan satu-satunya anggota keluarganya, "papa... Aku hanya ingin mencari banyak pengalaman. Papa tahu sendiri kalau Alex adalah pria sempurna jika di lihat dari cara dia bekerja. Untuk itulah aku ingin belajar banyak dari nya. Agar nantinya aku bisa mengurus perusahaan kita tanpa melakukan kesalahan. Aku ingin belajar banyak dari expert sepertinya."
"Gadis pintar..." Kenn tersenyum bangga, "belajar dari guru seperti Alex akan benar-benar efektif!"
"Nah! Itu papa tahu..."
.
.
Di rumah keluarga Anderson.
Alex baru saja memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Dia kini sedang berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Oh my God!" Alex terkejut setengah mati saat dia melihat ibunya yang sedang menggunakan masker kecantikan wajah berwarna putih yang menutupi seluruh wajahnya.
"Mom... Mommy tidak berniat untuk membuat ku mati karena serangan jantung, kan?"
"Apa itu perlu? Kamu juga akan segera mati jika tidak mendengarkan ucapan ku!" Jawab Lucy dengan santainya.
"Mommy! So annoying!" Desis Alex.
"Wah! Anak ku ini benar-benar minta Tiket ke neraka!" Alex segera duduk di sebelah ibunya seraya memeluk lengannya.
"Bercanda mom..." Ucapnya seraya memperlihatkan senyuman lebarnya.
"Darimana saja? Kenapa kamu terlambat pulang?" Tanya Lucy, "Jessy menunggu mu sampai mengantuk!"
"Aku makan malam dengan Emelie." Jawab Alex
"Emelie ke kantor mu?"
"Mm... Dia menceritakan tentang... Semuanya yang dia katakan pada mommy..."
"Oh... Jaga dia baik-baik." Jawab Lucy, "dan hati-hati. Si bastard Ariand itu aku lihat bukanlah seseorang yang akan menyerah begitu saja. Dia mungkin akan melakukan hal buruk pada kalian berdua nantinya... Aku punya feeling buruk tentang nya." Jelas Lucy.
"Iya mom... Aku juga merasa seperti itu. Dia sangat berani pada ku. Dia sama sekali tidak takut padaku ataupun pada keluarga kita." Jawab Alex
__ADS_1
"Mungkin karena dia memiliki backing yang memiliki status sosial jauh lebih tinggi dari kita?"
"Mungkin..." Gumam Alex.
"Aku dengar sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di kantor?" Lucy menatap putranya penuh selidik.
"Emelie menyelesaikan semuanya dengan sangat mudah dan sangat rapi." Jawab Alex, "dia datang di saat yang paling tepat!" Alex tersenyum lebar.
"Baguslah. Aku pikir itu benar."
"Mommy ingin punya cucu selain Jessy?"
"Jika itu benar adalah anakmu, aku benar-benar akan membunuhmu dulu sebelum menerimanya menjadi cucuku. Bagaimana?"
"Ayolah mom... Kata-kata mommy selalu mengerikan!"
Pletakkk!
"Ouch!"
Alex memegangi jidatnya yang di jitak Lucy dengan keras.
"Sakit mom!"
"Sakit? Itu belum seberapa sampai kamu mendapatkan tiket resmi ke neraka!" Jawab Lucy geram.
"Kenapa harus neraka? Apa tiket ke surga sudah sold out?"
"Itu karena kamu tidak layak!" Jawab Lucy dengan santainya.
"Lalu, apa mommy layak?" Tanya Alex dengan nada bercandanya.
Lucy menatap putranya dengan sangat tajam, "tentu saja mommy tidak layak!" Jawab Lucy dengan begitu percaya diri.
Alex menahan tawanya, dia tidak menyangka ibunya akan mengatakan hal itu.
"Sudah cukup bercandanya! Pergi mandi dan segera tidur dengan putrimu!"
Dugh!
Lucy menendang keras pinggang Alex agar segera pergi dari hadapannya.
"Huh! Mungkin mommy adalah mommy terkasar di dunia!" Desis Alex kesal.
"Dan mungkin kamu adalah putra terburuk di dunia!" Jawab Lucy, "mau melawan ku, huh?! Mustahil!" Lucy tersenyum puas melihat wajah kesal putranya.
"Bagaimana bisa aku memiliki mommy yang seperti dirinya..." Alex memanyunkan bibirnya seraya berjalan menuju ke kamarnya.
"Durhaka kamu Alex! Mau aku kutuk menjadi batu?!"
"Kutuk aku jadi berlian mom... Setidaknya aku berharga..." Alex segera berlari kencang menuju ke kamarnya sebelum dia mendapatkan hukuman lain dari ibunya.
Melihat itu Lucy tertawa geli.
"Benar-benar anak nakal!"
Alex berlari ke kamarnya, dia terkejut saat melihat Alessia yang baru saja keluar dari dalam sana
"Ooppsss!" Alex menghentikan langkah kakinya dengan segera, hingga dirinya hampir menabrak Alessia.
"Tuan muda... Bagaimana kalau jangan berlarian di rumah... Maaf, saya tahu kalau ini rumah tuan muda, tapi saya entah bagaimana juga tinggal di tempat ini. Jadi, bukankah sebaiknya kita saling berhati-hati?" Ucap Alessia yang terlihat kesal.
Dia sangat terkejut melihat Alex yang meluncur dengan sangat cepat ke arahnya sampai dia hampir menabraknya.
"Kenapa kamu ada di kamar ku?" Tanya Alex dengan penuh selidik, "kamu... Ingin naik juga ke atas ranjang ku?" Alex tersenyum menyeringai.
Mendengar itu Alessia mengusap wajahnya dengan kekesalannya.
'bisa-bisanya aku berfikir kalau aku mungkin akan menyukainya, bahkan akan menikah dengan pria seperti ini. Aku pasti sedang dalam tekanan yang tinggi. Dia... Menyebalkan!' geram Alessia dalam hatinya.
"Tuan muda... Apa yang membuat anda begitu percaya diri bisa menaklukkan hati saya?" Tanya Alessia yang kini juga memperlihatkan senyuman menyeringainya. Alessia bahkan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dengan tatapan meremehkannya.
"Huh?" Alex terlihat bingung
Alessia tersenyum puas melihat ekspresi wajah Alex yang terlihat begitu kebingungan.
"Yang tuan muda miliki hanya waah tampan dan status sosial yang tinggi. Sisanya... Zero! Bahkan minus! Di bandingkan dengan tuan Nick, saya jauh lebih menyukainya. Jadi, jika saya mau dan saya begitu terobsesi untuk naik ke atas ranjang pria kaya, saya akan lebih memilih naik ke atas tempat tidur tuan Nick Petrovic..." Jawab Alessia, "dan saya ada di kamar tuan muda karena Miss Jessy yang ingin tidur di kamar ini. Saya baru saja selesai membacakan cerita untuknya, dan Miss Jessy baru saja terlelap dalam tidurnya. Itu sebabnya saya keluar dari dalam sana!" Alessia menunjuk ke dalam kamar Alex.
"Walaupun kamarnya besar... Rasanya menyesakkan berada di dalam sana..." Alessia mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menahan kekesalannya, "saya permisi!" Alessia membungkukkan badannya memberikan salam hormatnya pada Alex.
Setelah itu dia berjalan pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.
"Idiot tetap saja idiot..." Desis Lucy yang kini sedang berjalan ke arah putranya.
"Bagaimana rasanya di rendahkan oleh seorang pelayan, huh?!" Tanya Lucy dengan senyuman yang terlihat begitu merendahkan Alex
"Itu..." Alex hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Rasanya menyebalkan... Tapi lebih banyak menyesalinya. Dan ada sedikit rasa bersalah juga. Apa aku benar?" Lucy tersenyum semakin lebar pada putranya yang sepertinya mengiyakan apa yang dia katakan.
"Minta maaf!" Desis Lucy.
"Iya mom... Besok." Jawab Alex.
"Tsk!! Memangnya sehebat apa tubuhmu sampai kamu berfikir wanita manapun akan melemparkan dirinya ke atas ranjang mu! Tsk! Tsk! Tsk!" Lucy menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Meninggalkan Alex yang masih berdiri di tempatnya.
"Apa aku berlebihan? Kenapa Alessia sampai membandingkan ku dengan si brengsek Nick Petrovic itu! Bisa-bisanya dia mengatakan kalau dia jauh lebih baik dari pada diriku? Dia pasti memiliki masalah dengan matanya!" Gerutu Alex seraya berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Dia melihat Jessy yang sudah terlelap di atas tempat tidurnya.
"Haissshh... Sepertinya aku memang harus meminta maaf."
.
__ADS_1
.