
.
.
"Aunty Emelie..." Jessy berlari mendekati Emelie yang sudah sampai di depan pintu kamar hotelnya.
"Oh, Jessy? Kamu juga kembali?" Emelie melihat Alessia yang menganggukkan kepalanya padanya.
"Lord Anderson meminta kami kembali. Miss Jessy juga ingin bersama Miss Emelie." Jawab Alessia.
"Ale... Tidak ada yang terjadi di sana, kan?"
Alessia menggelengkan kepalanya, "tidak ada, Miss. Lord Anderson dan tuan Petrovic mengatakan kalau mereka masih ingin bermain air pantai." Jawab Alessia. Alex memang mengatakan hal seperti itu padanya sebagai alasannya
"Jessy mau ke kamar aunty?" Tanya Emelie.
Dengan menggemaskan, Jessy menganggukkan kepalanya, "iya aunty. Daddy bilang kalau autny Emelie halus telcenyum (harus tersenyum)"
Emelie tersenyum lebar, dia mengecup pipi Jessy dengan gemas, "thank you, darling." Ucapnya
"Aunty... Ayo makan ec klim (Ice cream)"
"Ha! Benar! Aku butuh sesuatu yang dingin dan manis!" Jawab Emelie
"Ayo kita makan ice cream!" Emelie mengangkat tubuh Jessy ke dalam gendongannya, setelah itu dia membawanya pergi untuk makan ice cream bersama.
Alessia juga terus mengikuti mereka berdua, sampai mereka berdua tiba ti tempat yang mereka inginkan.
"Ale... Kamu juga pesan! Aku yang akan membayarnya!" Emelie menepuk pundak Alessia.
"Iya Miss..." Jawab Alessia tanpa menolaknya.
Setelah memesan, mereka bertiga duduk bersama sambil menikmati dingin dan manisnya ice cream mereka.
"Aaah! Ini sangat menyegarkan! Sepertinya otak ku kini kembali bekerja. Dan rasa tidak nyaman ku hilang seketika... Terimakasih my princess... Berkat kamu, aunty kini tidak lagi merasakan sesak!" Emelie menciumi pipi Jessy dengan gemas.
"Miss... Apa dia tadi itu pria brengsek yang sudah melakukan kesalahan pada Miss Emelie?" Tanya Alessia, "maaf, Miss. Saya tidak seharusnya bertanya." Alessia menundukkan kepalanya
"Hei... Santai saja. Aku justru senang karena kamu perhatian padaku..." Jawab Emelie, "Ale... Sejujurnya aku ingin memiliki sahabat perempuan yang bisa aku ajak berbicara tentang perasaan ku tanpa aku perlu menyembunyikannya. Tapi... Karena seseorang, aku tidak mempercayai siapapun. Aku menceritakan semuanya padanya karena aku pikir dia adalah sahabat ku, yang aka mengerti diriku, dan tidak akan pernah mengatakan hal itu pada siapapun. Tapi aku salah... Dia justru mengatakan tentang masalah ku itu pada semua orang, bahkan pada orang yang tidak aku sukai. Itu sebabnya orang-orang mengolok-olok ku.
Dan sejak saat itu, aku selalu menutupi semua masalahku. Aku tidak ingin orang lain mengetahuinya... Atau mereka akan menggunakan itu untuk menjadikannya sebagai kelemahan ku. Aku benar-benar tidak ingin menceritakan apapun tentang ku pada siapapun. Bahkan jika itu kamu, Ale. Sorry... Bukan karena aku tidak mempercayai mu. Hanya saja, aku sudah terbiasa menyimpan segala macam masalah yang aku alami sendiri... Di dalam lubuk hatiku yang semakin mengeras karena semuanya itu. Sorry, Ale."
"Tidak apa-apa, Miss. Saya mengerti. Saya sendiri juga tidak suka menceritakan tentang masalah saya pada orang lain. Karena orang-orang hanya akan berpura-pura menjadi pendengar dan pemberi saran yang baik, tapi setelah itu mereka akan membicarakan hal itu pada orang lain dan mengolok-olok ku dari belakang. Itu sepertinya adalah penyakit dasar manusia munafik yang sulit di sembuhkan..." Jawab Alessia.
"Ha ha ha... Kamu benar. Mereka itu munafik. Berpura-pura baik di hadapan kita. Tapi di belakang kita mereka menertawakan kita, bahkan merayakan kehancuran kita... Ha! Aku benar-benar ingin minum wine mahal dengan mu, Ale! Ayo kita lakukan saat kita senggang!"
"Miss Emelie yang akan membayarnya?" Tanya Alessia dengan tawanya.
"Tentu! Tenang saja. Sebenarnya kakak angkat ku memiliki satu bar yang di peruntukan bagi kelas atas... Dan hanya menerima orang-orang yang memiliki kartu member VIP! Kita bisa minum di sana sampai mabuk!"
"Kalian!"
Alessia dan Emelie terkejut saat mendengar suara seseorang yang keras.
"Uh? Alex? Nick?" Alex dan Nick berjalan ke arah Emelie dan Alessia.
"Kamu membicarakan tentang wine mahal dan mabuk di hadapan Jessy-ku?!" Sungutnya.
"Itu benar. Tapi tidak semuanya benar" kilah Emelie. Dia sangat antusias tadi, sampai-sampai dia lupa kalau dia sedang bersama dengan Jessy.
"Kamu juga, Ale! Kenapa kamu membiarkan Jessy mendengar ucapan kalian yang vulgar itu?!" Sungut Alex pada Alessia.
"Hei, honey!" Emelie tersenyum manis, dia menggenggam tangan Alex agar duduk di sebelahnya, "kita bukan membicarakan tentang wine dan mabuk. Aku hanya bilang kalau kakak angkat ku memiliki bisnis bar yang sangat terkenal di kalangan atas. Bukan begitu, Ale?"
"I-ya Miss..." Jawab Alessia gugup.
"Jangan salah paham..." Emelie menyuapi Alex dengan ice cream coklat miliknya, "enak, kan?"
"Mm... Manis." Jawab Alex. Dia kembali membuka mulutnya begitu Emelie bergerak menyuapinya lagi.
__ADS_1
Melihat itu Nick menatapnya dengan malas.
"Dia benar-benar bodoh!" Gumamnya.
Nick melihat ke arah Alessia yang segera menundukkan kepalanya begitu tatapan mata mereka tanpa di sengaja bertemu.
"Aku juga ingin mencicipinya... Yang rasa avocado." Ucapnya. Dia melihat ice cream warna hijau di hadapan Alessia.
"Ini rasa green tea. Bukan avocado..." Jawab Alessia.
"Ha ha ha ha...." Alex tertawa terbahak-bahak, "brother... bisakah kamu bertanya dulu sebelum mengatakannya? Itu memalukan!" Ucap Alex dengan tawa keras nya.
"Diam lah!" Sungut Nick kesal.
"Uncle Nick... Aaa...." Jessy mengulurkan sendok berisi ice cream miliknya ke arah Nick Petrovic.
"Oh... My Jessy..." Dengan cepat Nick memakan ice cream yang di suapi oleh jessy.
"Rasanya semakin manis saat Jessy yang menyuapinya." Ucap Nick seraya tersenyum miring ke arah Alex yang terlihat begitu kesal.
"Jessy, Daddy juga mau di suapi Jessy." Ucap Alex dengan penuh harap.
"Daddy di cuapi (suapi) aunty Emelie..." Tolak Jessy.
"Ugh Jessy sayang... Daddy benar-benar sedih..." Alex memperlihatkan ekspresi wajah sedihnya.
"Makanlah! Jangan menggangunya!" Emelie dengan cepat kembali menyuapi Alex dengan satu sendok penuh ice cream.
"Rasakan!" Ucap Nick dengan begitu senang, dia kembali mendapatkan suapan manis dari tangan Jessy yang mungil.
"Ah sialan!" Desis Alex.
.
.
Malam harinya, semuanya kembali berkumpul untuk makan malam.
"Makan mu kurang banyak, Jessy. Kamu harus menjadi bulat, itu akan semakin menggemaskan!" Emelie menciumi gemas pipi tembem Jessy
"Ah... Geli aunty..."
Alex tersenyum melihat bagaimana putrinya yang tersenyum begitu lebar dan begitu bahagia.
'apa benar aku harus menikahi Emelie? Tapi kami berdua sama sekali tidak memiliki perasaan apapun untuk satu sama lain. Kami hanya saling membutuhkan satu sama lainnya saja. Apa pernikahan untuk hal seperti itu di perbolehkan? Atau nantinya aku hanya akan menyakiti wanita lemah seperti Eliza lagi?' tanya Alex dalam hatinya.
Dugh!
Nick menyikut lengan Alex, "apa yang kamu pikirkan dengan terus menatap Emelie?" Tanya Nick dengan suara yang berbisik.
"Entahlah.... Mungkin apa aku benar-benar harus menikahinya?"
"Oh..." Ucap Nick singkat.
"Hanya 'oh' saja?" Alex terlihat kesal.
"Lalu, apa yang ingin kamu dengar dariku, huh?"
"Aku sendiri tidak tahu. Yang jelas bukan hanya 'oh' seperti yang kamu lakukan tadi!" Gerutu Alex.
"Jangan lakukan jika kamu tidak yakin... Kamu hanya akan menyakitinya... Dan menyakiti dirimu sendiri." Ucap Nick Petrovic.
"Tapi... Jessy sepertinya membutuhkannya..." Ucap Alex dengan suara lemahnya.
"Aku tahu. Tapi aku hanya tidak ingin kamu kembali menyakiti seorang gadis dengan kejam hanya demi kebutuhan mu sendiri..."
"Dia sendiri juga menginginkannya..." Jawab Alex.
"Meskipun begitu, kamu harus meyakinkan dia, apakah dia benar-benar menginginkannya? Atau dia hanya merasa seperti itu sesaaat saja. Aku takut dia akan berubah nantinya dan membahayakan Jessy. Walaupun itu tidak akan pernah di lakukan oleh Emelie." Jelas Nick.
__ADS_1
"Kalian berdua terus saja berbisik-bisik!" Lucy Anderson menatap wajah putranya dengan tajam, "kalian berdua sudah akrab sekarang, huh?!"
"Aku?" Alex menunjuk pada dirinya sendiri, "aku akrab dengannya?! Mana mungkin!"
"Aku juga tidak ingin akrab dengannya, lady Anderson." Tambah Nick Petrovic.
"Ha ha ha... kalian berdua menyangkalnya. Itu berarti kalian berdua memang sudah mulai dekat." Lucy Anderson tertawa puas.
"Mommy!" Alex mendengus sebal.
"Lihat dirimu sendiri! Kamu sudah memiliki putri tapi masih bersikap kekanak-kanakan!"
"Bukan salah ku, mom! Ini bawaan dari lahir. Mommy sendiri yang mewarisinya padaku." Jawab Alex dengan santainya
"Howard! Putramu benar-benar ingin aku pukul sampai babak belur!" Geram Lucy
"Jangan, dear. Wajahnya yang cukup tampan akan kehilangan jati dirinya..." Jawab Howard.
Emelie dan Alessia yang ada di sana hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat bagaimana keluarga Anderson yang sangat 'harmonis' itu.
"Jessy, mau tambah nasi lagi?" Tanya Emelie dengan begitu bersemangat.
"Tidak autny. Jessy kenyang."
"Oh. Kalau begitu, apa Jessy mau dessert? Biar aunty pesankan..."
Jessy menggelengkan kepalanya, "Jessy ngantuk, aunty. Hoammmmzzz...." Jessy menguap sampai air matanya keluar ke sudut matanya.
Alex beranjak dari tempat duduknya, "ayo kita ke kamar. Daddy akan membacakan cerita untukmu sampai kamu tertidur." Ucapnya seraya mengangkat tubuh Jessy dalam pelukannya.
"Iya, Daddy. Jessy menyayangimu."
Cup!
Jessy mendaratkan ciumannya di pipi Alex. Setelah itu dia menyandarkan kepalanya di pundak Alex.
"Dia sepertinya sangat mengantuk..." Ujar Emelie Begu melihat Jessy yang terpejam di pundak Alex begitu saja.
"Ayo ikut." Ajak Alex pada Emelie.
"Okay!" Dengan begitu bersemangat Emelie berjalan mengikuti langkah kaki Alex menuju ke kamar Jessy.
"Ale... " Lucy menghentikan apa yang akan Alessia lakukan, Alessia bersiap untuk mengikuti Alex dan Emelie untuk membantu Jessy tidur, tapi sepertinya Lucy tidak akan mengizinkannya melakukannya malam ini, "tidak perlu mengikuti mereka. Kamu tidur saja di kamar Emelie. Dia tidak akan kembali ke kamarnya."
"Oh... Saya mengerti, nyonya Anderson." Jawab Alessia
"Lanjutkan makan malam mu saja." Alessia menganggukkan kepalanya, dia mulai kembali melanjutkan makan malamnya yang masih tersisa di piringnya.
"Pelan-pelan saja." Bisik Nick Petrovic.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Alessia tersedak begitu mendengar suara Nick.
"Hei... Minumlah." Nick Petrovic memberikan air minumnya pada Alessia. Dengan cepat Alessia meminumnya hingga tandas.
"Sebenarnya itu tadi minuman milik ku. Secara tidak sengaja... Sepertinya kita sudah berciuman."
"Aah!" Alessia dengan cepat menyuapi mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku bercanda. Aku sama sekali belum meminumnya." Ucap Nick seraya memperlihatkan senyumanya yang manis.
"Oh...." Alessia kembali menarik tangannya untuk membuka mulutnya.
"Kalian berdua sepertinya juga mulai dekat?" Ucap Lucy dengan senyuman menggoda keduanya.
"Ah... Itu benar, lady Anderson..." Jawab Nick Petrovic.
"Baguslah. Jadi, kamu memiliki alasan lain untuk tetap datang ke kediaman kami. Selain hanya untuk Jessy."
Mendengar itu, Nick tersenyum simpul, "jangan berharap lebih. Aku hanya selalu menjadi seseorang yang mudah berteman dengan siapapun." Jawabnya
__ADS_1
.
.