
.
.
Pagi harinya.
"Setelah sarapan kita main dulu di pantai. Saat tengah hari kita akan kembali ke rumah." Ucap Howard pada semuanya yang sudah berkumpul untuk sarapan pagi bersama.
"Iya, dad." Jawab Alex yang di angguki oleh semuanya.
"Jessy, sini... Biar aunty suapi." Emelie menepuk kursi di sebelahnya, dengan cepat dan begitu bersemangat, Jessy bergerak naik ke atas kursi dan duduk di sebelahnya.
"Ale, biar aku yang menyuapinya..." Emelie tersenyum manis seraya mengulurkan tangannya untuk meminta piring milik Jessy dari tangan Alessia.
"Oh... Iya, Miss." Jawab Alessia seraya berjalan mendekatinya dan memberikan piring makan Jessy padanya.
"Princess Jessy yang cantik... Buka mulutmu, sayangku. Aaa..." Dengan senyuman lebarnya Emelie mulai menyuapi Jessy.
Lucu terlihat begitu puas melihat bagaimana Emelie yang begitu serius menyuapi Jessy, bukan hanya itu... Sejak pagi, Emelie terus menyibukkan diri mengurus Jessy, mulai dari membantunya mandi, berpakaian dan mengikat rambutnya. Sampai sekarang ini, dia masih menyuapi Jessy.
Lucy senang melihat bagaimana Emelie memperlakukan Jessy seperti putri kandungnya sendiri.
"Emelie... Setelah pulang dari sini, kamu bisa menginap di rumah kami jika kamu mau...." Ucapnya.
"Sungguh, aunty?" Emelie tampak begitu senang dan sangat bersemangat.
"Tentu. Ada banyak kamar kosong. Dan kamu bisa mangurus Jessy dengan sangat baik. Aku sangat puas dengan kasih sayang mu padanya..." Jawabnya.
"Tapi... Aku bukan istri Alex. Akan banyak rumor buruk tentang kalian nanti nya... Kalau rumor buruk itu hanya tentang aku... Aku sama sekali tidak akan keberatan... Justru aku senang. Dengan begitu aku akan semakin terkenal..." Ujar Emelie yang membuat Howard Anderson terkekeh geli, begitu juga Lucy dan Nick yang selalu bisa tertawa geli karena ucapan Emelie yang selalu keluar begitu saja tanpa di saring terlebih dulu.
Sementara Alex hanya menatapnya dengan jengah. Sedangkan Alessia hanya bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa, mengingat dirinya tidak sebanding dengan mereka semua.
"Aku bilang jangan bahas tentang itu lagi!" Sungut Alex.
"Aku tidak membahasnya. Aunty Lucy yang memulainya!" Desis Emelie sebak, "iya kan, aunty?" Lucy menganggukkan kepalanya, "memang tidak pantas jika Emelie menginap di rumah kita tanpa status yang jelas... Tapi jika kamu mau, kami tidak masalah. Sudah sejak lama nama baik keluarga kami rusak karena seseorang!" Lucy dengan tajam melirik ke arah putranya.
"Lihat Emelie!!! Gara-gara kamu, aku juga mendapatkan 'sesuatu' yang..." Alex tidak berani melanjutkan kalimatnya, begitu melihat tatapan tajam dari mata ibunya yang sepertinya siap untuk melemparkan pisau sandwich dari tangannya, "Ah sial!" Gerutu nya.
Nick terkekeh geli.
Dia tersenyum puas melihat Alex yang terlihat begitu kesal.
"Apa?! Kamu pasti sangat puas, huh?!" Kesalnya.
"Uh! Sangat puas!" Jawab Nick dengan santainya.
"Kalian mulai kekanakan lagi!" Desis Emelie sebal. Dia kembali menyuapi Jessy dengan senyuman yang terlihat begitu manis padanya, "Jessy sayang, akan lebih baik kalau kamu segera habiskan sarapan mu. Setelah itu kita berdua bisa pergi ke pantai bersama. Jangan dengarkan ucapan daddy-mu yang terkadang seperti orang gila. Dan uncle Nick kesayangan mu yang juga terkadang gila..." Ucap Emelie seraya menunjuk ke arah kedua pria yang di bicarakanya tadi
"Lihat... Siapa yang gila dan mengatakan orang lain gila!" Desis Alex seraya mengerucutkan bibirnya sebal.
"Itu kamu, Alex." Emelie tersenyum lebar pada Alex yang terlihat semakin kesal.
"Kalian mulai lagi!" Lucy menghela nafasnya, "Lanjutkan sarapan kalian. Setelah itu kalian bisa kembali bersenang-senang..." tambahnya.
"Kamu bisa menginap sebagai tamu. Apa salahnya dengan itu!" Ucap Alex setelah Alex menyelesaikan sarapannya.
"Tidak perlu... Aku bisa datang kapan saja ke rumah kalian, saat aku merindukan Jessy." Jawab Emelie, "aku takut kalau aku menginap di rumah kalian, nantinya Alex akan jatuh cinta padaku... Itu sangat merepotkan."
"Aku?" Alex menunjuk pada dirinya sendiri, "ayolah... Kita bahkan sudah tidur bersama... Kamu tidak ingat bagaimana kamu tidak mau melepaskan ku bahkan saat hari sudah pagi seperti pagi tadi?" Emelie mengedipkan sebelah matanya pada Alex.
"Hei! Jangan membuat orang lain salah paham!"
"Salah paham bagaimana... Kita sama-sama dewasa, Alex. Semuanya juga tidak keberatan dengan itu. Jadi, kamu tidak perlu menyembunyikannya dari mereka. Tenang saja... Okay?" Emelie kembali mengedipkan sebelah matanya pada Alex yang tampak semakin kesal.
"Dia selalu seperti ini... Ha! Benar-benar..."
Plop!!
Nick menepuk pundak Alex dengan keras.
__ADS_1
"Santai bro! Mengalah pada wanita itu adalah salah satu ciri seorang gentleman!" Ucapnya.
"Gentleman ****** mu!!!" Desis Alex sebal.
Mendengar itu, Emelie tersenyum puas. Dia semakin bersemangat menyuapi Jessy sampai semua makanan di piringnya habis tanpa sisa.
.
.
Di pantai.
Setelah sarapan pagi, semuanya menuju ke pantai.
Alex dan Nick kembali melakukan surfing bersama.
Sementara Emelie berkumpul dengan Jessy dan Alessia. Sedangkan Lucy dan Howard sedang berbicara dengan beberapa orang yang merupakan rekan bisnis mereka yang sama-sama sedang berlibur di pantai itu.
"Ale... Apa yang kamu pikirkan tentang aku? Maksud ku saat kamu pertama kali melihat ku?" Tanya Emelie.
"Tentang Miss Emelie?" Tanya Alessia memastikan.
"Mm... Tentang aku. Aku berfikir kalau aku ini terlalu agresif. Apa menurutmu juga begitu?" Emelie masih melihat Alessia yang terdiam seperti orang yang kebingungan.
"Begini... Aku... Apa kamu pernah berfikir kalau aku mengejar Alex karena aku ingin mendapatkan kekayaannya?"
"Miss... Saya tidak pernah berfikir seperti itu! Saya bersumpah Miss!" Jawab Alessia yang terlihat begitu panik
"Hei santai saja. Aku hanya ingin tahu pendapat mu... Aku tidak sedang menuduh mu." Emelie menyentuh pundak Alessia untuk menenangkannya.
"Miss... Saat pertama kalinya saya melihat Miss Emelie... Saya merasa seperti sedang melihat Barbie." Jawab Alessia jujur.
"Barbie?"
"Iya, Miss Emelie memiliki rambut pirang yang panjang, dengan bola mata biru yang sangat cantik. Di tambah dengan pakaian yang Miss Emelie pakai seperti para model kelas atas yang sedang memperagakan busana pada fashion show. Miss Emelie juga memakai make up yang berani, tapi masih terlihat wajar dan sangat elegan... Di tambah lagi dengan postur tubuh Miss Emelie yang tinggi... Dan saat Miss Emelie berjalan... Miss Emelie benar-benar seperti boneka Barbie yang sedang berjalan di atas karpet merah..."
Emelie melongo mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Alessia.
"Oh? Alex tampan?"
Alessia segera menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Melihat itu Emelie tertawa kecil.
"Tidak apa-apa. Semua orang memiliki pemikirannya sendiri tentang seseorang. Tidak ada salahnya mengutarakan pikiran kita pada orang lain. Jangan menyembunyikannya... Itu justru akan membuat mu menjadi seseorang yang munafik." Ucap Emelie.
"Iya Miss... Maafkan saya miss.
"Jangan khawatir. Aku senang mendengarnya. Karena itu adalah kenyataan. Nyatanya... Alex memang tampan. Itu sebabnya dia menggunakan wajahnya itu untuk mendapatkan keinginannya. Tidak ada salahnya memanfaatkan sesuatu yang memang di milikinya sejak dia lahir..." Emelie tertawa kecil, "banyak orang yang mengatakan hal itu. Ada banyak orang juga yang akan melakukan segala cara agar bisa mendapatkan perhatiannya..."
"Miss... Jujur saja, saya sempat memiliki perasaan seperti padanya..." Alessia menundukkan kepalanya, "walaupun awalnya dia sangat menakutkan... Tapi dia bersikap lembut pada orang-orang yang tulus menyayanginya..."
"Kamu benar... Dia memang seperti itu. Dan kamu bebas menyukainya jika memang kamu memiliki perasaan untuk nya." Jawab Emelie.
Alessia menggelang-gelengkan kepalanya, "tidak Miss... Perasaan saya bukan perasaan yang seperti itu. Perasaan saya hanya sekedar menyadari bahwa dia tidak seburuk yang orang-orang bicarakan di belakangnya... Hanya sampai batas itu. Bukan karena saya minder karena saya bukan siapa-siapa... Tapi karena saya murni hanya menyadari tentang dirinya yang tidak seburuk orang lain pikirkan tentangnya." Jelas Alessia.
"Sebaliknya... Saya sangat mendukung hubungan Miss Emelie dengan tuan muda Anderson... Walaupun aku dengar kalau tuan muda tidak ingin menikah lagi... Tapi jika Miss Emelie menunjukkan keseriusannya... Saya rasa tuan muda Anderson juga akan mulai bisa membuka pintu hatinya untuk kiss Emelie... Saya akan siap menjadi pendukung setia Miss Emelie! Emelicous..." Tambah Alessia dengan begitu bersemangat.
"Emelicous?"
"Itu adalah nama club penggemar Miss Emelie nantinya... Saya akan menjadi ketua leader nya."
"Ha ha ha ha..." Emelie tertawa terbahak-bahak.
Mendengar bagaimana Alessia yang begitu bersemangat mendukungnya, dia merasa benar-benar senang.
"Jeci (Jessy) juga mau jadi Emelicous..." Ucap Jessy seraya memeluk Emelie.
"Oh... Pasti boleh sayangku..."
__ADS_1
Emelie menatap jauh ke air pantai yang terlihat berombak.
"Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, Ale." Gumamnya.
"Bagi saya, Miss Emelie adalah wanita terbaik di dunia!" Jawab Alessia yang lagi-lagi dengan penuh semangat.
"Kamu akan menyesal saat mengetahui seperti apa aku yang sebenarnya... Karena aku bukan wanita tanpa dosa seperti yang kamu pikirkan itu..." Ucap Emelie lagi.
"Siapa yang tidak memiliki dosa di dunia ini, Miss? Semua orang memilikinya. Tidak ada orang suci di dunia ini. Jadi, kita adalah sama..." Alessia tersenyum begitu hangat ke arah Emelie, namun senyumnya menghilang, kini tatapan matanya terlihat begitu dingin.
"Tapi... sangat berbeda bagi mereka yang tidak memiliki hati. Orang-orang yang akan melakukan segala hal hanya agar bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sampai mereka melewati batas kemanusiaan yang pada akhirnya merubah mereka menjadi binatang yang sebenarnya! Orang-orang seperti mereka itu... Pantas mati mengenaskan!" Ucapnya.
Emelie terdiam karena sedikit terkejut.
Namun dia kemudian tertawa miris
"Ha ha ha... Orang-orang seperti mereka justru biasanya panjang umur..." Ucapnya.
"Sepertinya benar..." Jawab Alessia yang juga tertawa lepas.
Dari kejauhan Lucy dan Howard melihat keduanya. Mereka saling pandang satu sama lainnya seolah-olah menanyakan; apa yang membuat mereka begitu senang?
"Sangat menyenangkan berbicara dengan mu, Ale." Emelie membaringkan tubuhnya di atas pasir pantai yang mulai terasa hangat.
"Sama Miss. Saya juga sangat senang bisa berbicara dengan Miss Emelie seperti ini... Ternyata sangat menyenangkan." Jawab Alessia, "saya pikir... Miss Emelie adalah wanita bangsawan yang sangat sombong dan tidak akan pernah mau berbicara dengan lowly Maiden like me..."
Emelie tersenyum lebar, "aku sebenarnya tidak pandai berteman. Itu sebabnya aku tidak pernah memulai pertemanan. Aku takut orang-orang akan bosan padaku yang sangat kaku. Tapi... Setelah berbicara dengan mu... Aku mulai bisa membuka diri. Ternyata tidak semua orang menyebalkan." Jawab Emelie. Dia melihat ke arah daun pohon kelapa yang melambai-lambai tertiup angin.
"Ah... Menyegarkan...." Ucapnya seraya menutup matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
"Memang sangat menyegarkan..." Jawab Alessia yang juga melakukan hal yang sama.
"Ale... Aunty... Jeci (Jessy) juga mau tidulan (tiduran)..." Jessy membaringkan tubuh mungilnya di antara Emelie dan Alessia.
Ketiganya tersenyum menatap langit pagi yang cerah dan hangat.
"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Alex saat melihat mereka.
"Who knows..." Jawab Nick seraya mengangkat kedua bahunya, "Alex... Kamu benar-benar tidak ingin menikah lagi?"
"Kenapa kamu bertanya, huh?!"
"Jawab saja!" Kesal Nick.
"Tsk! Dia yang bertanya... Tapi dia juga yang nyolot..." Desis Alex seraya menatap Nick dengan malas.
"Kenapa kamu menanyakan tentang itu pada pria yang sudah menikah, huh?! Kenapa kamu sendiri tidak menikah saja! Kamu belum Pern menikah, kan? Sebaiknya cepat menikah! Kamu sudah berumur!"
"Berumur?! Kamu berbicara tentang umur seolah-olah umurku sudah mencapai kepala 4!" Jawab Nick Petrovic dengan kesal, "usia mu dan usia ku sama saja, Alexander Anderson! Kita baru akan masuk 29 tahun!" Jawab Nick.
"29 tahun usiaku, aku sudah menikah dan memiliki anak... Tapi kamu? Kamu bahkan belum Pern melakukan hubungan intim, kamu masih perjaka, kan?"
Dugh!
"Ouch!"
Pekik Alex saat Nick dengan sengaja menyandung kakinya, sampai dia terjatuh.
"Hati-hati... Bukan hanya pada langkah mu, tapi juga pada ucapan mu. Dan jangan bangga karena kamu sudah menikah ataupun memiliki anak! Walaupun kamu memiliki apa yang belum aku miliki, tapi kamu memiliki luka dan rasa bersalah yang tidak ada tandingannya bagi siapapun... Karena aku bahkan tidak memilikinya... Jadi, dengan kata lain... Kita seimbang!" Nick menepuk pipi Alex dengan cukup keras
Plak!
"Jangan terus duduk di situ! Ayo kita kembali ke air." Ucapnya seraya tersenyum miring padanya.
Alex melongo melihat bagaimana Nick yang masih memperlihatkan senyuman miringnya padanya seraya kembali berjalan masuk ke air pantai.
"Dia juga gila! Sepertinya aku di kelilingi oleh orang-orang gila!" Alex menghembuskan nafasnya dengan kasar, "itu sepertinya... karena aku juga gila!"
.
__ADS_1
.