Oh My Lord

Oh My Lord
season 2~ 32


__ADS_3

.


.


"Emelie... Kamu di sini?" Ariand tersenyum lebar seraya terus berjalan mendekati Emelie, "aku yakin ini adalah takdir. Kita di pertemukan di tempat yang sama sekali tidak pernah di duga." Ucapnya lagi.


"Ini memang takdir. Di mana kamu akan segera berakhir." Gumam Emelie.


"Siapa?" Tanya Lucy.


Mendengar pertanyaan itu, Emelie tersenyum lebar, dia juga menyeringai pada Ariand yang kini sudah sampai di dekar kursinya.


"Perkenalkan dia, aunty. Namanya Ariand Lizto Adelante..." Ucap Emelie dengan senyuman lebarnya.


"Siapa?!" Tanya Lucy seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Dia Ariand Lizto Adelante, nyonya." Kali ini Alessia yang menjawabnya. Karena Emelie sibuk terus tersenyum menyeringai pada Ariand.


"Ariand si..."


"Iya, nyonya." Jawab Alessia sebelum Lucy menyelesaikan kalimatnya.


"Ha!" Lucy terlihat begitu geram. Walaupun dia tersenyum, dia terlihat begitu mengerikan


Alessia bergidik ngeri melihat bagaimana ekspresi menakutkan Lucy saat ini


"Halo semuanya..." Sapa Ariand dengan begitu ramah dan senyuman lebarnya yang begitu manis.


"Kamu.... Siapa?" Tanya Lucy dengan senyuman dinginnya.


"Saya..."


"Apa kita saling mengenal? Kenapa kamu menghampiri kami seolah-olah kita ini sangat dekat?" Tanya Lucy lagi masih dengan begitu dingin.


Ariand sangat tidak suka dengan sikap Lucy yang begitu dingin padanya itu. Dia juga tidak suka dengan caranya merendahkannya seperti itu.

__ADS_1


"Kamu tahu siapa kami?" Tanya Lucy lagi, "apa kamu mengenal orang rendahan sepertinya, Emelie?"


Emelie menggeleng-gelengkan kepalanya, "tidak sama sekali, aunty Lucy." Emelie kembali tersenyum menyeringai, dia sangat senang melihat ekspresi wajah Ariand saat ini. Di mana dia terlihat begitu terkejut dan sangat ingin memakainya, namun dia tidak berani melakukannya.


"Aku sendiri tidak tahu kenapa pria ini datang kemari mendekati kita seperti itu... Dia pikir dia ini siapa sampai-sampai dia berani mendekat pada keluarga bangsawan seperti kita ini. Mungkin saja karena tahu kalau aunty adalah nyonya dari keluarga Anderson, dan mungkin juga karena dia tahu kalau aku berasal dari keluarga Kiran Brods." Tambah Emelie yang semakin membuat Ariand terlihat sangat terkejut.


"A-anderson?"


"Benar! Saya adalah Lucy Anderson. Istri dari Howard Anderson, juga kedua orang tua dari Alexander Anderson. Dan calon ibu mertua dari Emelie Kiran Brods. Apa perkenalan ini cukup?"


Mendengar ucapan Lucy, Emelie tersenyum puas. Terlebih saat melihat ekspresi wajah Ariand yang terlihat sangat pucat.


"Sudah dengar, apa yang aunty Lucy katakan tadi?" Tanya Emelie masih dengan senyuman menyeringainya, "aku calon menantunya... Calon istri dari Alex Anderson." Ucap Emelie.


"K-kk-ka-ka-ka-mm-mmu... Bohong, kan?" Tanya Ariand dengan suara yang tergagap.


"Bohong? Aku tidak pernah berbohong... Tidak seperti seseorang yang terlalu sering melakukannya. Itu sebabnya dia mengira setiap ucapan orang lain adalah kebohongan seperti yang biasa dia lakukan!" Jawab Emelie dengan sinis.


Grabbb!


"Emelie... Please... Jangan seperti ini!" Ucapnya, "kamu pikir mereka akan mau menerima mu? Kamu tidak tahu seperti apa Alex Anderson itu... Dia pria yang..."


Plakkk!


Dengan sangat keras Lucy menamparnya. Sampai-sampai membuat Ariand tersungkur ke lantai dan menabrak kursi-kursi restoran yang tertata rapi, dan kini menjadi berantakan.


"How dare you!!!" Teriak Lucy keras.


"Apa kamu memiliki keinginan untuk mati yang begitu besar?!" Lucy bercak pinggang di hadapan Ariand yang masih terbaring di lantai sembari memegangi kepalanya yang berdarah, "kalau kamu begitu ingin mati, aku akan dengan senang hati akan mengabulkannya!" Lucy mengambil pisau steak yang ada di mejanya. Dan dengan cepat dia menekannya ke leher Ariand.


"Aaahhh!!!" Teriakan keras dari para pengunjung restoran yang lain terdengar keras. Mereka juga sangat ketakutan melihat bagaimana Lucy yang terlupakan begitu marah dan akan benar-benar membunuh Ariand.


Petugas keamanan yang berjaga tidak berani mendekat setelah mendapatkan signal dari pemilik restoran untuk tidak ikut campur dalam urusan itu.


Sementara Emelie, Alessia, dan Jessy masih tetap duduk dan menikmati makanan mereka, seolah-olah tidak terjadi apapun di sana.

__ADS_1


"Ucapkan kata maaf mu pada Emelie, sebelum aku menyayat leher mu!" Geram Lucy, "beraninya kamu menjelekkan putraku di depan ku!!! Kamu benar-benar sudah bosan hidup?!"


"A-a-ampun nyonya Anderson..." Ucap Ariand dengan terbata-bata karena begitu ketakutan.


"Kamu pikir kamu siapa, huh?! Kamu pikir kamu jauh lebih baik dari pada putraku?! Disgusting worm like you... Benar-benar membuat ku mual!" Lucy menjambak kuat rambut Ariand, itu membuat Ariand meringis menahan rasa sakitnya.


"Minta maaf pada Emelie sebelum aku mengirim mu ke neraka!!! " Lucy semakin menekan pisau di tangannya ke leher Ariand, hingga darah keluar mengalir dari sayatan kecil di lehernya.


"Cepat!!!" Geram Lucy yang semakin terlihat begitu marah, "minta maaf padanya!!!" teriak Lucy keras.


"A-a-ampuni aku Emelie.. a-a-ampuni aku Emelie... A-a-ku mohon..." ucap Ariand dengan gemetaran.


"Lebih keras lagi!!! Ingat bagaimana kamu meninggalkannya dengan keras hari setelah apa yang kamu lakukan padanya!" Lucy menjambak keras rambut Ariand. Dia merasa sangat marah, ketika dia mengingat cerita Emelie tentang dirinya yang begitu menderita akibat dari keserakahan pria muda yang kini ada di tangannya.


"A-a-ampuni aku Emelie..."


"Emelie?" Emelie tersenyum miring, "aku adalah seorang noble! Di mana wanita noble tidak akan pernah di panggil dengan namanya secara langsung! jika kamu memanggilnya seperti tanpa di perbolehkan olehnya... kamu seharusnya apa yang bisa kamu dapatkan sebagai hukuman mu?!"


Wajah Ariand terlihat semakin pucat"ampun, nyonya Anderson... Ampuni saya juga, miss Emelie. Saya benar-benar bersalah..."


"Apa yang kamu lakukan padaku? sampai-sampai kamu meminta maaf padaku seperti ini?! " Emelie merasa sangat puas melihat ekspresi wajah Ariand yang terlihat begitu pucat.


"A-a-ampuni saya, Miss Emelie... Saya mohon." Ucap Ariand yang terlihat begitu memelas dan ketakutan.


"Bahkan jika kamu sampai menangis darah di hadapan mu, aku bisa pastikan kalau aku sama sekali tidak pernah akan memaafkan mu!" Jawab Emelie, "asal kamu tahu aspa yang lakukan saat ini sama sekali tidak menarik simpati ku!"


"Hemph!"


Lucy membuang pisau steak yang di pegangny ke arah ariand dengan sangat keras, hingga pisau itu menancap sempurna di kaki meja yang ada di belakangnya.


"Lain kali bukan kaki meja yang menjadi landasannya... Tapi kepada mu! Aku akan pastikan pisau itu menancap tepat di atas kepala mu!!!" Lucy berjalan kembali mendekati Emelie dan yang lainnya.


"Sepertinya nafsu makan ku menurun setelah melihatnya. Sangat menjijikkan!" Desis Lucy.


"Aku juga, aunty." Jawab Emelie. Emelie menatap ke arah Ariand yang masih terduduk di lantai sembari terus memegangi luka di lehernya, "Aku tidak tahan lagi berada di sini!" Geram Emelie.

__ADS_1


.


__ADS_2