
.
Sorry beberapa bulan terakhir author enggak sempat update. Ada beberapa 'hal' yang sangat mendesak dan pribadi yang harus author selesaikan dulu 😭
Maaf untuk segalanya 🙏
Dan terimakasih yang masih setia dengan karya author ini.
Happy reading 😉
-------------------------------------------------
.
"Ale? Jessy? Kalian di sini?" Alex berjalan mendekati keduanya. Sementara Emelie masih berdiri dengan terus menatap ke arah Alessia yang sedang memperlihatkan senyuman manisnya padanya.
"Tuan muda, Miss Jessy ingin makan siang bersama tuan muda dan Miss Emelie." Jawab Alessia, "sejak tadi pagi, Miss Jessy sudah berusaha keras membantu kami memasak di dapur untuk menyiapkan makanan. Katanya dia ingin makan bersama tuan muda Alex Anderson."
Emelie mengerutkan keningnya. Dia menatap wajah mungil Jessy yang masih di gendong oleh Alessia. Di mana tangan Alessia yang lain membawa kotak makan siang besar.
Alex yang juga melihat itu segera berjalan dengan cepat ke arah Alessia, dan dengan cepat dia mengambil kotak makan itu dari tangan Alessia.
"Pasti kamu sangat kesulitan untuk membawa ini kemari." Ucapnya.
"Ale itu kuat. Dia tidak akan kesulitan hanya karena membawa kotak nasi!" Ujar Emelie ketus.
Mendengar itu Alessia menganggukkan kepalanya, dengan senyuman manis seperti biasanya. Sementara Alex, dia terdiam sesaat, namun setelah itu dia tersenyum lebar.
"Kamu sangat menggemaskan saat mulai kesal seperti ini." Ucapnya seraya mengusap lembut pundak Emelie.
Emelie hanya menatap Alex dengan datar tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Dia juga segera menepis tangan Alex yang masih berada di pundaknya.
Lagi-lagi Alex tersenyum geli melihat tingkah Emelie yang sangat mudah kesal itu.
"Kenapa? Marah lagi?" Tanya Alex.
"Lagi? Kapan aku marah? Bahkan saat ini pun aku sama sekali tidak marah. Aku hanya..."
Emelie melihat ke arah Alessia sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Dia menggigit bibir bawahnya sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
'lagi... Sepertinya aku selalu kesal dengan apapun yang Alessia lakukan. Ini menyebalkan. Aku benar-benar tidak bisa mengatasi perasaan ku sendiri yang selalu mengusahakan ini!' gerutu Emelie dalam hatinya.
Alessia tersenyum manis ke arah Emelie. Dia juga merasa tidak nyaman dengan sikap Emelie yang selalu saja mudah kesal padanya.
"Apa Miss Emelie lagi-lagi merasa kesal padaku? Dia salah paham lagi? Apa lagi alasannya kali ini?' Alessia menghela nafasnya dengan lemah, 'sepertinya dia akan selalu seperti ini... Aku pikir kita sudah membicarakan tentang sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi...' Alessia melirik tajam ke arah Alex yang masih terus menatap Emelie untuk menunggu lanjutan dari kalimat Emelie yang belum di selesaikan tadi.
'ini semua karena orang ini!' kesalnya, 'dia hanya menang tampan, kan???' Alessia mengernyitkan keningnya, dia kemudian melihat ke arah Alex yang berdiri dengan gagah di depannya. Dengan setelan jas mahal dan sepatu yang harganya ratusan juta di kakinya. Dia tampak luar biasa di tambah dengan jam tangan mewah di pergelangan tangannya.
'bukan hanya tampan! Dia kaya raya, dia sangat terkenal, dia dari keluarga bangsawan dan dia... Dan juga memiliki segalanya... Pria idaman...benar saja Miss Emelie terus memaksanya untuk menikahinya.' Alessia tampak lesu setelah menghela nafas panjangnya.
Dia melihat ke arah Emelie yang juga tampak sempurna dengan pakaiannya dan aksesoris yang di pakainya. Yang sudah pasti harganya luar biasa fantastis.
Tangan Alessia bergerak perlahan menyentuh dadanya, entah bagaimana ada rasa sesak di dadanya yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
"Aku hanya... Lapar." Tambah Emelie seraya mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Suara itu membuat perasaan Alessia kembali ringan dan melupakan apa yang di rasakanya sesaat tadi.
"Kalau begitu kenapa kita tidak makan bersama sekarang. Makanan yang di bawa Jessy sangat banyak. Sangat cukup untuk kita semua." Jawab Alex seraya memperlihatkan kotak makan siang besar di tangannya.
Emelie hanya menganggukkan kepalanya, dia bergerak mendekati Jessy yang masih terus di gendong Alessia.
"Biar aku yang menggendong Jessy." Pintanya.
"Oh... Iya Miss." Jawab Alessia dengan patuh dan penuh senyum manis seperti biasanya.
"Jessy sayang... Sini sama aunty yang cantik ini." Ucap Emelie seraya mengulurkan tangannya ke arah Jessy. Senyuman manisnya yang begitu hangat dan lembut terukir jelas di bibirnya.
Melihat itu Alex kembali tersenyum geli. Emelie selalu bertingkat semaunya sendiri. Walaupun terkadang membuatnya merasa kesal, atau bahkan takut. Tapi Emelie juga selalu bertingkah seperti anak-anak yang menggemaskan.
Melihat bagaimana Alex tersenyum menatap Emelie, Alessia kembali merasakan sesak di dadanya.
'lagi... Perasaan ini benar-benar menyebalkan.' kesal Alessia dengan senyuman pahitnya.
"Ayo..." Ajak Alex saat dia sudah melihat Jessy berada di pelukan Emelie.
Alessia sedikit terkejut dengan ajakan Alex tadi, kemudian dia segera mengikuti langkah kaki Alex dan Emelie yang sudah berjalan mendahuluinya.
Dia tidak peduli dengan tatapan mata para pekerjanya yang sedang terus mencuri-curi pandang ke arah mereka.
"Sepertinya orang-orang di sini memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi." Ujar Alessia.
"Memang seperti inilah kehidupan seorang 'pangeran' dan 'puteri' raja yang selalu menjadi keinginan semua orang. Mereka selalu ingin tahu apa yang kita lakukan dan apa yang kita dapatkan. Dan dengan bodohnya mereka iri dengan apa yang kami miliki. Tanpa mau mengetahui apa yang kami lakukan untuk bisa mendapatkan semuanya ini. Mereka itu naif dan juga sangat bodoh." Jawab Emelie.
"Mau bagaimana lagi. Mereka hanya melihat apa yang kalian lakukan dan kalian miliki. Sudah sangat pasti kalau mereka menginginkannya. Tapi mereka tidak tahu kalau semua itu di dapatkan dengan kerja keras." Alessia menghela nafasnya.
__ADS_1
'karena aku juga melihatnya dari sudut pandang itu...' ujar Alessia dalam hatinya.
Emelie tersenyum melihat ekspresi wajah Alessia saat ini yang terlihat seperti seseorang yang begitu penuh beban dalam hidupnya.
"Kami bukan hanya bekerja keras. Tapi kami bekerja dengan amat sangat keras." Jawab Emelie
Mendengar itu Alessia tertawa geli.
"Ha ha ha.... Benar juga. Kalian bahkan lupa makan dan tidur. Perkataan orang bijak itu memang benar. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Aku percaya dengan itu. Dan aku juga sudah melihat buktinya." Emelie tersenyum puas mendengar ucapan Alessia. Dia tidak lagi merasa kesal seperti yang dia rasakan beberapa saat yang lalu.
'sangat sulit untuk membencinya. Tapi terkadang rasa sesak di dada ku ini membuat ku benar-benar ingin membunuhnya... Mungkin ini karena aku pernah menjadi orang 'gila' saat itu...' Emelie menghela nafasnya yang terasa berat. Dia terus berjalan beriringan dengan Alessia yang sepertinya pernah merasa kesal ataupun marah dengan sikap Emelie yang sangat mudah berubah itu.
"Kamu..."
"Aku?" Tanya Alessia saat Emelie kembali membuka mulutnya mengatakan sesuatu.
"Kamu... Apa kamu... Tidak pernah marah?" Tanya Emelie dengan keraguannya.
"Marah? Saya sangat sering melakukannya, miss. Hanya saja saya tidak mungkin menunjukkannya pada Miss Emelie..."
"Kenapa?" Tanya Emelie yang justru semakin penasaran dengan jawaban dari Alessia.
"Mungkin karena..." Alessia menghentikan kata-katanya. Dia menatap Emelie yang sepertinya sedang sangat ingin tahu apa yang akan Alessia katakan selanjutnya padanya.
Alessia segera tersenyum lebar, "mungkin karena Miss Emelie memiliki tingkatan kasta yang jauh lebih tinggi dari saya. Itu sebabnya saya tidak bisa marah pada Miss Emelie ataupun tuan muda Alex. Seandainya saja saya adalah seseorang yang memiliki derajat kekayaan yang sama atau hampir sama dengan kalian berdua, saya yakin saya pasti akan berbuat seenaknya seperti yang selalu kalian lakukan..." Lanjut Alessia dengan senyuman lebarnya, seolah-olah itu adalah candaannya.
"Oh ****! Wanita ini selalu berfikir di luar otaknya!" Desis Emelie kesal.
Dia menggaruk lehernya yang sama sekali tidak terasa gatal seraya melihat ke arah Alessia.
'terkadang aku tidak mengerti jalan pikiran wanita ini.' gumamnya.
Mendengar bagaimana kedua wanita di belakangnya berbicara membuat sudut bibir Alex terangkat karena senyumnya.
"Lihat mereka berdua..." Bisik Alex di telinga putri kecilnya, "dunia wanita selalu seperti itu. Mereka terkadang terlihat seperti bertengkar seperti musuh, tapi mereka akan tiba-tiba akur seperti sahabat sejati." Tambahnya.
"Bukankah Daddy juga sama dengan meleka(mereka)?" Tanya Jessy dengan tatapan polosnya.
"Tentu saja tidak. Itu karena Daddy adalah pria." Jawab Alex dengan cepat. Dia mengecup pipi bulat Jessy dengan gemas, "pria dan wanita memiliki dunia yang berbeda, Jessy sayang."
"Kenapa belbeda?" Tanya Jessy lagi dengan suara mungilnya yang masih belum bisa mengucap huruf 'R' dengan sempurna.
"Mmm... Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari putrinya itu.
Alex tersenyum lebar ketika mendengar suara Emelie.
"Jessy sayang... Sebaiknya ikut berbelanja dengan aunty cantik 'Emelie' dia akan membelikan mu banyak mainan dan boneka nanti." Ucap Alex mengalihkan perhatian Jessy dari pertanyaannya tadi.
"Mmmm..." Angguk Jessy dengan begitu patuh.
Alex menghela nafasnya lega.
"Apa Miss Emelie tidak bekerja setelah makan siang?" Tanya Alessia, dia juga melirik ke arah Alex seolah-olah pertanyaan itu juga bisa di jawab olehnya.
"Aku tidak perlu bekerja keras. Alex akan menyelesaikan semua pekerjaan ku tanpa sisa." Jawab Emelie, "bukan begitu, Alex?"
"Umh, kalian tidak perlu memikirkan pekerjaan. Itu adalah tanggung jawab ku. Lagi pula Emelie sudah menyelesaikan semua pekerjaannya sejak tadi pagi." Jawab Alex.
Emelie tersenyum lebar
"Dengar itu... Aku terlalu hebat. Jadi, aku bisa dengan sangat mudahnya menyelesaikan pekerjaan ku. Aku wanita jenius yang super sempurna!" Ucapnya dengan gaya menyombongkan dirinya. Walaupun begitu, dia justru terlihat sangat imut.
"Ha ha ha... " Alex tertawa lepas melihat tingkah Emelie. Tawa itu justru terdengar sangat menyebalkan di telinga Emelie.
Dugg!
Emelie dengan keras menyikut perut Alex.
"Ouch!"
"Rasakan!" Kesalnya.
"Sudahlah! Ayo makan!" Emelie segera berjalan mendahului semuanya dengan wajah kesalnya.
Alex tersenyum lebar melihat langkah kaki Emelie yang terlihat sangat terburu-buru karena kesal padanya.
Alessia melihatnya.
Dia kembali memegangi dadanya yang entah bagaimana kembali terasa sesak.
'aku benci ini? Benarkah aku membenci keadaan seperti ini?'
"Ayo..." Ajak Alex seraya berjalan dengan langkah kaki panjangnya untuk segera menyusul Emelie.
Dengan perasaannya yang masih tidak menentu, Alessia segera melangkahkan kakinya mengejar Alex dan Emelie yang sudah berada jauh di depannya.
__ADS_1
.
.
Setelah makan siang bersama selesai, Emelie dan Alessia juga Jessy pergi ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja seperti yang mereka rencanakan tadi.
Tidak lupa Alex memberikan kartu kredit tanpa batas limitnya pada Emelie untuk membeli apapun yang dia inginkan dan apapun yang nantinya Jessy inginkan.
- apa kamu pikir aku miskin? Sampai-sampai aku harus memakai kartu kreditmu?-
Tanya Emelie dengan sinis saat dia menerima kartu kredit yang Alex letakkan di tangannya, dia juga menatap remeh kartu berwarna hitam di tangannya itu
- bukan seperti itu. Aku tahu kamu kaya-raya. Kamu bahkan bisa membeli banyak pulau dan kapal pesiar dengan uang jajan mu-
Jawab Alex saat itu.
- Anggap saja ini adalah uang jajan dariku...- lanjut Alex lagi.
Emelie tersenyum lebar seraya melihat kartu kredit Alex di tangannya. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya seraya terus melihat ke arah kartu kredit di tangannya itu.
- sepertinya aku akan menganggap kartu ini sebagai kartu pemberian dari suamiku yang ingin membuat istrinya senang- ucapnya.
Entah bagaimana wajah Alex memerah. Dia segera mengosongkan kerongkongannya.
- ekhem! Jangan berfikir macam-macam. Sekarang pergilah! Aku harus segera bekerja!- jawab Alex seraya segera berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah ruangan kerjanya.
Melihat itu Emelie tertawa terbahak-bahak. Sampai sudut matanya mengeluarkan air matanya.
- haisshhh... Terkadang dia sangat menggemaskan...-
Emelie masih tersenyum lebar saat dia kembali mengingat apa yang terjadi di kantor tadi.
"Aihhhh... Apa dia sudah mulai tertarik padaku?" Gumamnya seraya membuka pintu mobilnya yang sudah terparkir dengan rapi di area parkir pusat perbelanjaan.
"Sepertinya Miss Emelie sedang sangat senang..." Ujar Alessia.
"Mmm... Mau bagaimana lagi... Alex benar-benar menggemaskan tadi." Jawab Emelie.
"Benar... Aku tidak pernah melihat tuan muda Alex tersenyum malu-malu seperti itu sampai wajahnya memerah... Dia terlihat lucu..." Alessia tersenyum senang.
"Benar, kan? Dia harusnya melihat wajahnya tadi. Ah sial! Seharusnya aku mem-video-nya tadi!" Gerutu Emelie yang terlihat sangat menyesali kehilangan kesempatan yang sangat langka itu.
"Mungkin tuan muda akan sering memperlihatkan ekspresi seperti itu tadi pada kita nantinya..." Jawab Alessia
Emelie menghentikan langkah kakinya.
Dia sedikit terganggu dengan kata 'kita' yang Alessia katakan tadi
"Ada apa Miss?" Tanya Alessia.
"No... Nothing." Jawab Emelie seraya memaksakan senyumnya, "ayo!" Ajaknya seraya kembali melanjutkan langkah kakinya. Dia juga menuntun tangan mungil Jessy di sisinya. Tanpa memikirkan apapun lagi, Alessia juga segera mengikuti langkah kaki Emelie untuk menyamakan jarak mereka.
Sesampainya di sana mereka bertiga tidak membuang waktu mereka. Mereka langsung masuk ke pusat mainan anak-anak yang super lengkap menyediakan berbagai jenis mainan anak dan juga berbagai macam boneka lucu.
"Jessy, pilih manapun yang kamu suka." Ucap Emelie, "Aunty akan membayarnya untukmu dengan kartu kredit dady- kesayangan mu ini..." Emelie tersenyum lebar seraya memperlihatkan kartu kredit milik Alex yang ada di tangannya.
"Hoolllleeeyyy..." Jessy melompat kegirangan seraya berlari dengan langkah kakinya ke arah boneka kelinci merah muda yang sangat lucu.
Emelie melirik ke arah Alessia yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ada masalah?" Tanya Emelie.
"Entah lah... Aku merasa ada sesuatu yang sangat aneh padaku."
"Aneh? Apa maksudmu?"
Alessia menggigit bibir bawahnya sebelum dia mengatakan apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
"Katakan saja. Aku tidak akan marah jika itu memang sesuatu yang menjengkelkan. Katakan sejujurnya saja. Aku akan mendengarnya." Ujar Emelie. Walaupun dia mengatakan hal itu, tapi hatinya benar-benar terasa sangat gusar.
"Miss... Jujur saja, aku merasa sesak saat melihat Miss Emelie dan tuan muda Alex bersama..."
Degh!
Jantung Emelie terasa berhenti sesaat. Tangannya mengepal kuat dengan tatapan matanya yang masih tidak tahu harus bagaimana menatap ke arah Alessia.
"Maaf Miss. Tapi itu adalah apa yang aku ingin katakan..."
Emelie menarik nafasnya, dia memejamkan matanya sejenak. Setelah itu dia tersenyum menyeringai ke arah Alessia.
"Sepertinya aku akan benar-benar menjadi penjahat kali ini..." Ucapnya.
.
.
__ADS_1