
.
"Emelie, kamu juga di sini?"
"So what?! Ini bukan tempat milik nenekmu. Jadi, aku bisa berada di sini tanpa perlu meminta izin darimu!" Jawab Emelie dengan ketus.
"Kamu masih seperti dulu..."
"Ariand Lizto Adelante, jangan katakan itu. Aku benar-benar jijik mendengarnya. Sekarang, bisakah kamu enyah dari hadapan ku?!"
"Emelie..." Ariand mendekati Emelie, namun dengan cepat Emelie mengambil langkah mundur untuk menjauh darinya, "Jangan coba untuk mendekati ku! Itu benar-benar menjijikkan!"
"Sorry..." Ucap Ariand dengan patuh. Tatapan matanya memperlihatkan ekspresi kesedihan yang mendalam.
"Enyah!!!" Usir Emelie dengan keras.
"Emelie... Bisakah kita berbicara sebentar..."
"No! Never!" tolak Emelie langsung tanpa ba-bi-bu.
"please..."
"Enyahlah!!!" teriak Emelie keras.
"Emelie... Ada apa?" Alex terlihat kebingungan saat dia baru saja keluar dari toilet dan melihat Emelie yang sepertinya sedang berdebat dengan seseorang.
"Alex... Ayo kembali..." Emelie dengan erat memeluk lengannya. Dia juga menarik Alex agar segera ikut pergi dari sana bersamanya.
"Pelan-pelan, Emelie..." Ucap Alex saat Emelie terus menariknya untuk mengikuti langkah kakinya.
"Emelie..." Alex menghentikan langkah kakinya setelah cukup jauh dari toilet.
"Ada masalah?" Tanya Alex. Dia melihat ekspresi wajah Emelie yang tampak pucat. Tidak seperti biasanya, dia selalu melihat Emelie yang penuh energi untuk membully-nya.
"Emelie..." Panggil Alex lagi, namun Emelie masih belum menjawabnya.
"Apa karena pria tadi? Pria yang terlihat seperti boy band itu?" Tanya Alex lagi.
"Jangan bahas si t4ik 4njing itu!!!" Jawab Emelie geram.
Alex tertawa kecil, dia melihat ke arah belakangnya, di mana pria tadi masih berada di sana dan terus menatap keduanya dari jauh.
"Alex, kita akan menginap di hotel semalam kan?" Tanya Emelie.
"Mm... Jessy akan kelelahan kalau kita langsung pulang nanti sore. Jadi, mommy menyiapkan hotel juga untuk kita menginap, dan kita akan pulang saat pagi hari." Jawab Alex.
"Kalau begitu... Aku akan ke hotel..."
"Uh? Kamu tidak ingin bermain pasir dengan Jessy?"
"Uh!" Alex panik saat melihat air mata Emelie yang turun membasahi pipinya, "kamu sakit?"
Emelie masuk ke dalam pelukan Alex, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Alex untuk menenangkan dirinya yang sedang sangat kacau.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Alex lagi.
Emelie menggeleng-gelengkan kepalanya, "kamu bilang kalau aku boleh mengatakan apapun yang aku rasakan. Berbagi perasaan ku dengan mu, entah itu sangat menyakitkan sekalipun... Apa itu masih berlaku?" Tanya Emelie dengan mata yang penuh dengan air matanya.
Alex tertawa kecil, "Emelie... Aku pikir kamu gadis yang sangat kuat bahkan wonder woman kalah dengan kekuatan mu. Tapi kini aku melihat seorang Emelie yang begitu lemah dan sangat menyedihkan..."
__ADS_1
Dugh!
Emelie menyundulkan kepalanya mengenai dagu Alex dengan keras.
"Ouch... Sakit Emelie!"
"Rasakan! Kamu sangat menyebalkan!" Sungut Emelie seraya kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Alex.
Alex megusap dagunya yang masih terasa sakit, "jadi, kamu mau ke hotel bersama ku? Kamu sedang tidak memperdaya ku agar kamu bisa tidur dengan ku di hotel, kan? Kamu tidak menyiapkan aphrodisiac, kan?"
"Aku tidak tertarik dengan tubuh mu yang kotor itu, Alex!" Sungut Emelie.
"Ha ha ha... Baguslah. Aku sebenarnya juga tidak mau memberikan tubuh kotor ku ini pada siapapun. Aku kasihan pada siapapun orang itu nantinya.".
"Syukurlah kamu sadar diri." Emelie mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Alex yang sedang menunduk menatap nya.
"Mau ke hotel sekarang?" Tanya Alex.
Emelie menganggukkan kepalanya, "mm..."
"Daddy!" Emelie dan Alex melihat Jessy yang sedang berlari ke arah mereka. Di belakangnya Alessia mengikutinya.
"Oh... Jessy sayang..." Emelie merentangkan kedua tangannya menangkap Emelie masuk ke dalam pelukannya.
"Huupp! Aku menangkap mu!" Emelie tersenyum lebar seraya menjatuhkan ciumannya di pipi Jessy.
"Cantik... Kamu mencari daddy-mu yang jelek ini?" Tanya Emelie.
"Daddy itu tampan..." Jawab Jessy.
Alex tersenyum puas melihat ekspresi wajah Emelie yang sepertinya sangat geli mendengar itu.
"Sayang... Kemarilah." Alex mengangkat tubuh mungil Jessy, kemudian mencium pipinya dengan gemas.
"Putri Daddy sangat cantik..." Ucapnya
"Dia mirip seperti ku, kan? Hanya saja dia memiliki rambut coklat... Akan sangat bagus kalau rambutnya pirang seperti rambut ku."
Alex hanya menatapnya dengan malas.
"Lord Anderson, Miss Jessy ingin ke pantai. Dia ingin bermain pasir." Ucap Alessia.
Alex melihat ke arah Emelie yang tidak mengatakan apapun.
"Baiklah... Kita akan ke pantai setelah mengantar aunty Emelie ke hotel. Bagaimana?" Jawab Alex, "aunty Emelie tidak enak badan, dia..."
"Alex... Aku baik-baik saja." Ucap Emelie sebelum Alex melanjutkan kalimatnya.
"Miss Emelie... Miss Emelie sangat pucat." Ucap Alessia khawatir, "aku akan mengantarmu ke hotel..."
"Tidak perlu Ale. Aku juga ingin bermain pasir dengan Jessy." Tolak Emelie.
"Emelie..." Alex menatap Emelie khawatir.
"Aku baik-baik saja. Sungguh. Bermain dengan Jessy di pinggir pantai akan membuat ku merasa jauh lebih baik." Jelasnya.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa?" Tanya Alex lagi.
"Serius, Alex! Aku baik-baik saja." Jawab Emelie, dia memeluk lengan Alex yang sedang membawa Jessy, "ayo!" Ajaknya.
__ADS_1
Walaupun terlihat khawatir, Alex tidak bisa memaksa Emelie untuk ke kamar hotel. Pada akhirnya dia hanya bisa mengikuti keinginannya yang ingin tetap bersama Jessy bermain di pantai.
"Ale... Kamu sudah bawa pakaian ganti untuk Jessy?" Tanya Emelie
"Sudah Miss..." Jawab Alessia seraya menunjukkan tas kecil yang di tangannya.
"Tapi, di mana Nick?"
"Untuk apa mencarinya?!" Sungut Alex.
"Aku ingin melihat otot perutnya... Aku yakin kulitnya akan semakin terlihat sexy saat dia berkeringat dan terkena cahaya matahari... Aahhh! Aku tidak bisa membayangkannya." Alex melepaskan tangan Emelie darinya.
"Kalau begitu minta dia untuk menikah dengan mu! Kenapa kamu justru ingin menikah dengan ku, saat kamu mengagumi otot perut pria lain!" Kesal Alex.
Melihat itu Emelie tersenyum senang, dia kembali memeluk lengan Alex dengan erat, "kamu cemburu, honey?"
"Aku?! Cemburu?! Aku tidak pernah kenal dengan kata-kata itu!" Jawab Alex yang terlihat masih begitu kesal.
"Really?"
"Dia cemburu buta saat Eliza dekat dengan ku. Dia bahkan menariknya begitu saja saat aku berniat untuk mengantarnya pulang..." Suara Nick terdengar. Terlihat pria kekar itu sedang berjalan ke arah mereka.
"Sungguh?"
"Mm... Itu sangat jelas terlihat, kan?"
Emelie menatap wajah Alex yang tampak semakin kesal, melihat itu Emelie tersenyum lebar, "memang. Sangat jelas terlihat!" Jawabnya.
"Diamlah!" Sungut Alex. Dia menatap sebal pada Nick yang sedang duduk tersenyum miring ke arahnya.
Emelie melihat Nick yang ternyata sudah mengganti pakaiannya. Dia sepertinya sudah siap untuk bermain air di pantai.
"Waah! Kamu mengganti pakaianmu. Lihat otot lenganmu... Otot pahamu... OMG! I'm dying!"
"Uh?" Nick mengernyitkan dahinya.
"Emelie!!!" Dengus Alex seraya menarik tangan Emelie agar segera pergi bersamanya dari sana.
"Apa yang dia bicarakan barusan?" Tanya Nick pada Alessia.
"Sepertinya miss Emelie menyukai otot perut, otot lengan dan otot pahamu, tuan Petrovic." Jawab Alessia.
"Uh? Benarkah? Apa otot ku begitu bagus?"
"Untuk seorang pria tinggi seperti mu memang sangat cocok dengan otot yang kekar namun tidak berlebihan..." Jawab Alessia.
"Jadi, apa kamu juga menyukainya?"
"A-a-ku?" Alessia tergagap. Wajahnya langsung memerah seketika.
Nick tertawa kecil.
"Kamu benar-benar sepertinya di mata ku."
"Maksudnya?"
Nick mengusap lembut rambut panjang Alessia, "bukan apa-apa. Ayo kita pergi menyusul mereka." Nick menggenggam tangan Alessia, setelah itu melemparkan senyuman manisnya sebelum dia mengajaknya berjalan bersamanya menuju ke pantai.
.
__ADS_1
.