Oh My Lord

Oh My Lord
season 2~ 9


__ADS_3

.


.


"Emelie? Kapan kamu datang?" Tanya Lucy. Dia tidak melihat Emelie masuk ke rumahnya, tapi dia justru melihatnya sedang menuruni anak tangga bersama dengan Alex.


"Aunty... Aku datang pagi-pagi buta. Ale yang membukakan pintu untuk ku." Jawab Emelie seraya melirik ke arah Alessia yang sedang menyuapi Jessy sarapan pagi.


"Oh... Aku pasti sedang enak-enaknya tidur." Lucy tersenyum lebar


"Sebenarnya aku ingin mengerjai Alex, tapi dia ternyata sudah mempersiapkan diri. Dia menyuruh Alessia untuk berjaga di depan pintu." Emelie memanyunkan bibirnya ke arah Alex yang hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


Alex berjalan mendekati Jessy yang sedang begitu lahap memakan sarapan paginya.


"Pagi, sayang." Alex mencium pipi bulat putrinya.


"Pagi juga, daddy." Dengan senyuman lebarnya, Jessy memberikan ciuman kecil di pipi Alex.


"Makan yang banyak, sayang. Tapi jangan cepat besar! Daddy masih ingin bersama putri Daddy yang menggemaskan."


"Tsk! Ucapan macam apa itu!" Desis Emelie, "doa mu benar-benar tidak pantas, Alex! Seharusnya kamu mendoakannya agar dia cepat besar! Kenapa kamu begitu aneh!"


"Lihat dia..." Ucap Alex pada Jessy seraya menunjuk ke arah Emelie, "bukankah dia sangat menyebalkan?"


Jessy menggeleng-gelengkan kepalanya, "aunty Emelie, cantik...." Jawab Jessy.


"Cantik?! Dia cantik?!" Tanya Alex, dia menatap jengah pada Emelie yang sedang tersenyum menang ke arahnya.


"Mom!" Alex mendekati ibunya, "mom, hari ini kita tidak perlu ke pantai! Kita ke rumah sakit saja!"


"Ke rumah sakit?! Untuk apa Alex! Jangan aneh-aneh!" Sungut Lucy.


"Mom... Mata Jessy sepertinya bermasalah. Dia mengatakan kalau Emelie cantik. Dia pasti memiliki masalah pada matanya, kan?"


Pletakkk!


Dengan keras Lucy menjitak kepala Alex.


"Ouch! Sakit mom!" Gerutu Alex seraya mengusap kepalanya yang terasa pusing seketika.


"Diamlah! Atau aku akan mengeluarkan mata mu yang bermasalah itu!" Geram Lucy.


Melihat itu, Howard hanya bisa menghela nafasnya.


Setiap hari, entah pagi, siang atau bahkan malam sekalipun... Keluarganya pasti akan ada saat-saat seperti itu. Dimana istri dan putranya yang akan selalu membuat suasana kebersamaan mereka semakin ramai.


"Uncle..." Bisik Emelie, "apa Alex terbiasa mendapatkan hukuman seperti itu?"

__ADS_1


"Dia mendapatkannya setidaknya tiga kali sehari..." Jawab Howard seraya memakan sandwich miliknya.


"Tiga kali sehari? Seperti jadwal minum obat..." Emelie tertawa geli.


"Kalian berdua... Bisakah tentang?! Ada tamu istimewa di sini saat ini, tapi kalian justru terus bersikap seperti anak kecil!" Kesal Howard. Dia menatap istrinya yang segera memberikan senyuman termanisnya padanya, Sementara Alex, dia segera duduk di sebelah ayahnya tanpa mengatakan apapun lagi.


"Kalian berdua sangat menggemaskan." Ucap Emelie masih dengan tawa kecilnya.


"Dia terlalu bodoh untuk di sebut menggemaskan, Emelie." Jawab Lucy.


"Mommy!" Dengus Alex, dia menatap jengah pada ibunya yang selalu saja lebih memperhatikan orang lain, di bandingkan dengan putranya sendiri.


"Sepertinya Emelie adalah putri kandung mu, dan aku hanyalah anak pungut!" Desis Alex sarkis.


"Benar! Aku memungut mu dari rahimku!" Lucy tersenyum puas melihat ekspresi wajah Alex yang pasrah seperti seseorang yang membiarkan lawannya menang mengingat dirinya tidak akan pernah bisa menang darinya.


"Emelie, sayang! Ayo kita sarapan pagi sebelum berangkat ke pantai. Tempatnya lumayan jauh, jadi kita perlu mengisi stok energi kita."


Emelie menarik kursi yang ada di depan kursi Lucy.


"Aunty... Aku akan makan banyak. Mengingat aku belum makan apa-apa sejak semalam...."


"Makan sebanyak yang kamu bisa, Emelie." Ucap Lucy seraya mengambilkan roti tawar ke piring Emelie.


"Terimakasih banyak, aunty." Emelie tersenyum lebar. Dia melihat ke arah Alex yang sedang terus menatapnya dengan jengah.


"Sangat puas, Alex sayang." Jawab Emelie dengan senyuman manisnya.


"Makanlah! Jangan terus tersenyum seperti itu! Sangat menyebalkan!" Alex memberikan selai coklat ke roti tawar milik Emelie.


"Thanks, honey. Kamu sangat tahu kalau aku sangat menyukai selai coklat." Ucap Emelie seraya mendaratkan ciuman di pipi Alex


"Uh... Kalian berdua begitu manis." Ucap Lucy. Dia tersenyum-senyum melihat bagaimana ekspresi wajah putranya yang pucat seketika.


'bocah ini... Tidak dulu, tidak sekarang... Selalu sulit untuk jatuh cinta' ucapnya dalam hatinya.


Sementara yang lainnya hanya bisa berpura-pura tidak melihatnya. Seperti yang di lakukan oleh Alessia.


'miss Emelie yang menciumnya, tapi aku merasa kalau aku sendiri yang sedang melakukannya... Entah apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini... Semuanya sangat aneh!' Alessia memaksakan senyumnya pada Jessy, saat dia mulai kembali menyuapinya.


Alex masih menatap wajah Emelie dengan penuh tanda tanya, Seolah-olah dia menanyakan; untuk apa kamu mencium ku?!


'haisshh... wajahnya yang seperti itu membuat ku sangat ingin terus membully-nya...' Emelie tersenyum senang.


"Jessy sayang... Aunty Emelie juga boleh mencium daddy-mu, kan?" Tanya Emelie seraya mengedipkan sebelah matanya pada Jessy.


"Iya, aunty. Daddy cuka (suka) di cium..." Jawab Jessy dengan sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Kalau begitu, aunty akan sering-sering menciumnya. Okay?"


"Okay, aunty."


"Alex... Aku sudah mendapatkan doa restu dari keluarga mu, juga dari putrimu. Jadi... Kapan kamu akan menikahi ku?" Tanya Emelie dengan berbisik pada Alex yang duduk di sebelahnya.


"Kamu tidak akan bisa mendapatkan kesempatan itu dariku." Jawab Alex.


"Heartless man!" Desis Emelie sebal.


"Strange woman! Dummy!"


"What?! Dummy?!"


kali ini Alex yang tersenyum lebar melihat ekspresi wajah kesal Emelie.


Ting tong ting tong...


Suara bel pintu terdengar. itu membuat Alex dan Emelie berhenti saling mengejek satu sama lain. Seorang asisten rumah tangga dengan langkah cepat berjalan ke sana untuk membukakan pintu.


Tidak lama kemudian, asisten rumah tangga itu kembali dan berjalan mendekati Lucy, "nyonya Anderson... Di luar ada tuan Nick Petrovic."


"Oh... Sudah datang. Suruh dia masuk kemari. Kita bisa sarapan pagi bersama." Jawab Lucy.


Setelah menganggukkan kepalanya, asisten rumah tangga itu bergegas mengikuti perintah Lucy.


Tidak lama setelah itu, seorang pria dewasa yang berpakaian santai namun berkelas berjalan dengan langkah kaki panjangnya menuju ke ruang makan.


"Uncle Nick!" Jessy dengan cepat berlari ke pelukan Nick Petrovic.


"Hupp!" Nick Petrovic mengangkat tubuh mungil Jessy tinggi-tinggi.


"Waah... My princess sudah besar. Sekarang kamu terlihat begitu cantik seperti ibumu..." Ucapnya dengan senyuman lebarnya, "kamu rindu uncle Nick?"


Jessy menganggukkan kepalanya.


Dia segera memeluk leher Nick dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya.


"Baru sampai?" Tanya Alex dengan datar.


"Mm! Baru sampai." Jawab Nick yang hanya mengulangi apa yang Alex katakan.


"Halo, Mr. Petrovic..." Emelie melambaikan tangannya pada Nick yang masih menggendong Jessy dalam pelukannya.


"Oh... Dia... Istri barumu?" Tanya Nick pada Alex dengan senyuman miring di wajahnya.


.

__ADS_1


__ADS_2