Oh My Lord

Oh My Lord
season 2 ~ 1


__ADS_3

.


Hai semuanya...😍


Kali ini author lagi pengen bikin squel dari judul ini... tapi karena masih bingung sama judulnya, author gabungin aja di sini...😅


Semoga kalian suka... ❤️


Happy reading 😉


.


.


Lima tahun kemudian.


"Daddy... Apa hali ini Daddy juga tidak akan bisa main dengan ku?" Tanya Jessy dengan tatapan sedihnya.


Mendengar itu Alex menghela nafasnya.


Dia menunjukkan senyum lebarnya, seraya berjongkok di hadapan Putri kecilnya yang kini berusia empat tahunan.


"Jessy sayang, Daddy sangat sibuk. Tapi Daddy akan usahakan sebisa Daddy untuk bisa bermain dengan mu. Okay?" Alex mengusap lembut pipi bulat putrinya yang berwarna merah muda.


'Eliza... Lihatlah putri kecil kita. Dia sangat mirip dengan ku. Dia memiliki fisik yang sama seperti ku. Matanya, hidungnya, dan semuanya... Dia benar-benar putriku. Tapi sifatnya dan sikapnya... Dia jauh lebih mirip dengan mu...'


Alex tersenyum kecut.


'seandainya saja kamu bisa melihatnya tumbuh kembang dengan sangat cantik dan pintar... Aku merindukanmu, eliza.'


"Daddy... Aku ingin pelgi ke pantai dengan mu dan kakak Leo... Juga dengan uncle Nick..." Ucap Jessy dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang... Daddy janji... Besok kita akan pergi ke pantai. Tapi Jessy jangan menangis ya..." Ucap Alex panik.


Bugh!


"Ouch!" Alex memegangi punggungnya yang cukup sakit karena pukulan seseorang.


"Mommy! Sakit! Aku bisa mati, mom!" Sungutnya.


"Mati?!" Lucy tersenyum miring, "aku memang berharap kamu mati karena pekerjaan mu!!!" Kesalnya


"Astaga mommy! Mommy mengatakan hal yang mengerikan di depan Jessy!" Alex memeluk Jessy seraya menutupi telinganya dengan kedua tangannya.


"Untuk apa kamu hidup kalau kamu hanya terus memikirkan pekerjaan!!!" Teriak Lucy keras.


"Mommy! Bisakah mommy menjaga image ku di depan putriku? Aku terlihat seperti pecundang di hadapannya saat mommy mulai meneriaki ku seperti itu!" Sungut Alex.


"Anak ini! Dia benar-benar ingin ku patahkan kakinya!"


"Ada apa pagi-pagi begini sangat ramai?" Tanya Howard yang baru saja menuruni anak tangga.


Dia menghela nafasnya saat melihat pemandangan pagi keluarganya.


"Tidak bisakah kalian menciptakan pagi hari yang tenang seperti yang pada umumnya terjadi di keluarga normal yang bahagia?" Tanya Howard sakis.


"Dad... Mommy keterlaluan..."


"Aku akan benar-benar membunuhnya!" Geram Lucy seraya menarik keras kemeja Alex dari belakang dengan keras.


"Mommy!! Oh! Ya ampun!!!" Gerutu Alex kesal, "aku malu pada Jessy, mom!"


"Glendma...." Suara mungil Jessy seketika langsung menenangkan Lucy


"Oh... Sweety. Ada apa sayang?" Tanya Lucy dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Glendma... Daddy tidak mau main dengan ku..." Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bukan tidak mau bermain dengan mu, sayang. Daddy belum bisa... Tapi Daddy janji! Besok Daddy akan mengajakmu ke pantai! Kita ajak sekalian Leo dan keluarganya. Sekalian juga kita ajak grandma dan grandpa. Juga ajak uncle. Okay? Daddy janji, sayang..."


"Sungguh?" Tanya Jessy seraya mengusap air matanya yang sudah keluar membasahi pipinya.


"Sungguh! Daddy janji!" Jawab Alex dengan begitu bersemangat.


"Kenapa juga kamu harus berangkat kerja sekarang?! Bukankah putrimu satu-satunya ini jauh lebih penting?" Tanya Lucy seraya melirik tajam ke arah putranya.


"Mommy... Siapa yang menyuruh ku untuk menyelesaikan pekerjaan Daddy? Lord Howard Anderson yang terhormat... Kenapa anda begitu saja seenaknya memberikan pekerjaan anda pada ku?!! Itu kenapa aku selalu pulang malam agar aku bisa menyelesaikan semua pekerjaan kalian yang kalian bebankan padaku! Jadi, salah siapa jika aku tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan putriku?!" Howard Anderson hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ekhem! Lupakan!" Jawab Lucy.


"Lihat!! Mommy seenaknya sendiri!" Gerutu Alex.


Bugh!


Lucy menabok keras pundak putranya.


"Anak nakal! Berapa umur mu, huh!! Kamu sudah hampir 30 tahun! Tapi lihat!!! Kamu masih saja menggerutu seperti anak kecil!!"


"Ouch! Mommy! Aku benar-benar akan mati di tangan mu!" Sungut Alex seraya menjauh dari ibunya yang selalu saja seperti itu.


"Ayolah mommy! Aku malu pada Jessy!" Sungut Alex seraya mengerucutkan bibirnya sebal.


Melihat itu Howard bisa menghela nafasnya.


"Pemandangan seperti ini selalu terjadi setiap hari... Sangat mengesankan. Keluarga ini benar-benar sangat tidak normal!" Gumamnya.


"Jessy..." Howard melambaikan tangannya pada cucunya agar mendekat padanya.


"Iya glendpa..." Dengan langkah kaki mungilnya dia berjalan mendekati Howard yang langsung menggendongnya begitu Jessy sampai.


"Hari ini grandpa bisa bermain dengan mu seharian, bahkan sampai malam. Jadi, tenang saja... Jangan pikirkan daddy-mu yang bodoh itu. Mengerti?"


"Itu tidak buruk. Aku mengajarinya untuk jujur. Karena kamu memang bodoh. Jadi, aku mengatakannya pada Jessy agar dia tahu seperti apa ayahnya yang sebenarnya..." Jawab Howard dengan santainya.


"Astaga... Keluarga ku ini benar-benar 'sesuatu'." Desah Alex pasrah


"Cepatlah ke kantor. Meeting dengan tuan Elios sebentar lagi, kan? Kamu akan kehilangan ratusan juta jika kamu terlambat! Dan itu berarti masa depan putrimu yang bergelimang harta akan lenyap!" Usir Lucy.


Alex mengatur nafasnya, dia menganggukkan kepalanya dengan pasrah, "demi masa depan Jessy! Aku akan melakukan apapun. Aku tidak ingin dia kekurangan apapun. Walaupun dia tidak memiliki ibu!" Jawabnya.


Lucy tersenyum kecut.


Selalu saja ucapan Alex mengingatkannya pada menantunya yang sudah lebih dari lima tahun meninggalkan mereka semua, "Berangkatlah... Jangan khawatir tentang Jessy. Ada kami, dan nanti Leo dan Patricia juga akan datang kemari. Jessy tidak akan kesepian." Ucapnya.


"Dan satu lagi... Nanti baby sitter baru untuk Jessy akan datang. Karena baby sitter sebelum menikah, jadi kami mencarikannya yang baru." Jelas Lucy, "kau lupa untuk mengatakannya padamu."


"Mommy pasti sudah melakukan segalanya yang terbaik untuk Jessy. Aku tidak khawatir." Jawab Alex. Dia berjalan mendekati putrinya yang masih di gendong oleh Howard.


"Daddy ke kantor dulu, ya sayang... Saat pulang nanti, Daddy akan membelikan mu banyak hadiah." Alex mengecup pipi gembul Jessy dengan lembut.


Dia juga memperlihatkan senyumnya yang manis dan hangat.


"Daddy... Hati-hati." Ucap Jessy seraya mendaratkan ciuman di pipi Alex.


"Pasti sayang... Daddy, berangkat sekarang ya..."


"Iya Daddy..."


"Mommy, Daddy... Alex berangkat sekarang..." Alex mengusap lembut puncak kepala Jessy, sebelum dia berjalan pergi dari sana.


Brukk!

__ADS_1


"Ouch... Maaf tuan..." Alex terkejut saat seseorang berjalan dengan cepat ke arahnya dan menabraknya.


Alex mengernyitkan dahinya melihat gadis muda di hadapannya yang terlihat begitu ketakutan.


"Oh... Kamu Alessia Mird?" Tanya Lucy


"Iya nyonya Anderson... Saya Alessia Mird, saya baby sitter baru untuk miss Jessy." Jawabnya dengan terus menundukkan kepalanya karena rasa takutnya, "maafkan saya, karena saya terlambat di hari pertama saya bekerja, nyonya."


"Tidak apa-apa. Hari ini juga hanya perkenalan saja." Jawab Lucy dengan senyumannya, "oh! Perkenalkan, dia Alex. Putraku dan ayah dari Jessy..."


Alessia ingin mengangkat kepalanya untuk melihat pria yang berdiri di hadapannya saat ini, namun rasa takutnya membuatnya tidak berani melakukannya, tubuhnya bahkan gemetar hebat saat ini.


"Salam, Lord Anderson..." Ucapnya


"Jadi, kamu yang akan menjadi baby sitter Jessy mulai saat ini?" Tanya Alex dengan suara dinginnya.


"I-iya..." Jawab Alessia dengan suara yang bergetar


Alex mengerutkan keningnya melihat gadis muda di hadapannya yang terus menundukkan kepalanya, bahkan saat ini dia gemetaran.


"Lakukan tugas mu dengan baik! Jika tidak... Jangan berharap kamu bisa hidup!" Ucap Alex seraya berjalan keluar dari rumahnya.


Brukk!


Alessia terduduk di lantai, kakinya terasa benar-benar lemas seperti tidak memiliki tulang.


"Alessia, kamu baik-baik saja?" Tanya Lucy khawatir.


Alessia memaksakan senyumnya yang lemah. Dia menganggukkan kepalanya.


"Saya baik-baik saja, nyonya Anderson... Hanya saja... Kaki saya lemas. Sepertinya tuan muda Anderson sangat ingin membunuh ku..." Jawabnya.


Lucy tertawa geli.


"Dia memang seperti itu..."


"Huh? Jadi, tuan muda Anderson memang ingin membunuh ku?" Tanya Alessia dengan keringat dingin yang sudah membasahi sekujur tubuhnya.


"Mungkin..." Jawab Lucy bercanda.


Brukk!


"Uh?" Lucy menganga lebar saat melihat Alessia yang pingsan setelah mendengar ucapan bercandanya tadi.


"Sayang... Sepertinya kamu menakuti gadis muda..." Ucap Howard.


"Mungkin..."


Lucy menghela nafasnya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Sepertinya putra kita terkenal sebagai pria yang menakutkan..."


"Terimakasih padamu untuk itu..." Jawab Howard.


"Haissshh...." Lucy menatap jengah pada suaminya yang justru tersenyum lebar padanya.


"Lihat Jessy... Grandma mu memang terkadang sangat menakutkan, kan?"


"Ayolah!" Gerutu Lucy.


Dia mendekati Alessia yang tergeletak tidak sadarkan diri.


"Dia sepertinya benar-benar ketakutan... Haissshh... Merepotkan!"


.

__ADS_1


.


__ADS_2