
.
.
"Alex.. dengarkan aku sekali saja. Ini bukan pernikahan yang kamu bayangkan! Biarkan aku menjaganya seperti dulu... Aku tidak akan meminta imbalan apapun. Sungguh! Aku hanya ingin menjadi ibu baginya!" Ucap Emelie masuh dengan keras kepalanya.
"Kamu tidak perlu menikah dengan ku hanya karena kamu ingin menjadi ibunya!" Jawab Alex yang sama-sama dengan keras kepalanya.
"Haissshh Alex! Itu beda! Aku dulu juga begitu... Ada seseorang yang menganggap ku sebagai anaknya sendiri. Tapi hasilnya sama saja... Ayolah! Aku sungguh-sungguh! Hanya jika aku menikah dengan mu rasanya akan sama seperti ibu yang sesungguhnya!"
"Aku tidak mau. Dan aku tidak akan pernah mau. Jadi, jangan buang waktu mu hanya untuk ini. Aku juga tahu kalau kamu melakukan semuanya itu karena kamu menyayangi Jessy, tapi tetap saja aku tidak akan mau menikah denganmu..." jawab Alex.
"Haissshh... Kenapa ada pria keras kepala seperti mu!!! Cara apa yang bisa aku lakukan untuk bisa menikah dengan mu? Apa aku harus tidur dengan mu dan memiliki anak darimu?"
"Emelie Kiran Brods!!!" Bentak Alex.
Itu membuat Emelie dan James terkejut.
"Dengar! Aku tidak akan menikah lagi! Jadi, jangan memaksaku lagi untuk hal tidak berguna seperti ini!" Jawab Alex keras, "sudah cukup! Tidak lagi ada pembicaraan tentang itu! Lebih baik kamu segera pulang dan beristirahat. Temui Jessy setelah kamu merasa segar."
Emelie mengerucutkan bibirnya sebal.
Namun senyuman manisnya kembali terlihat begitu mendengar Alex memintanya untuk segera menemui Jessy.
"Okay! Pembicaraan kali ini gagal. Tapi aku tidak akan menyerah! Aku akan tetap berusaha keras untuk membujuk mu untuk menikah dengan ku! Sayangnya aku tidak bisa membuat mu tidur dengan ku agar kamu bisa menikahi ku. Cara itu benar-benar kuno. Terlebih lagi Alexander Anderson adalah pria yang sudah terlalu banyak tidur dengan wanita... Cara seperti itu tidak mempan untuk mu! Iya, kan?"
Alex memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing.
"Kamu begitu ingin tidur dengan ku?"
James melotot pada Alex yang mengatakan sesuatu seperti itu begitu saja.
"Bro..." Ucapnya.
"Kalau kamu hanya ingin tidur denganku... Kita bisa melakukannya tanpa harus menikah." Ucap Alex.
"Aku tidak tertarik dengan tubuhmu. Itu membuat ku jijik! Bayangkan saja sudah berapa orang yang menyentuhnya..." Jawab Emelie seraya menunjukkan senyuman miringnya, "jangan berfikir terlalu tinggi pada dirimu sendiri, Alex. Lihat betapa menyedihkannya dirimu ini! kamu beruntung karena mendiang istri mu bisa memberikan cinta nya padamu, walaupun dia tahu betapa brengseknya kamu ini... Jika bukan karena dia..." Emelie menatap Alex dengan tatapan remehnya, "kamu tidak pantas mendapatkan cinta dari siapapun Alex! Tidak dari siapapun, termasuk putrimu... Bahkan dari dirimu sendiri!"
James membelalakkan matanya. Dia tidak tahu kalau Emelie akan berbicara seperti itu pada Alex. Dia melihat ke arah Alex yang sama sekali tidak mengatakan apapun. Dan hanya duduk diam dengan tangan terkepal kuat.
__ADS_1
Emelie beranjak dari tempat duduknya. Dia mendekati Alex dan tersenyum lebar padanya.
"Jangan lupa tentang permintaan ku, Alex. Menikah dengan ku... Dan aku akan menemui putrimu besok pagi. Aku akan membawa banyak hadiah dan aku akan membawakannya cintaku padanya..." Emelie mendekatkan wajahnya ke wajah tampan Alex, dia tersenyum tepat di hadapan wajah Alex.
"Bajingan!" Ucapnya dengan senyuman manisnya. Setelah itu dia berjalan keluar dari ruangan itu dengan santainya.
"Ekhem!" James berusaha untuk kembali mencairkan suasana.
"Dia benar-benar psikopat gila!" Tambahnya.
James melirik ke arah sahabatnya yang masih diam tanpa mengatakan apapun.
"Ekhem Alex. Jangan di pikirkan. Emelie gadis yang cantik... Dia juga berpendidikan tinggi. Dia juga sangat populer dengan ketangguhannya dan kerja kerasnya. Tapi dia tidak bisa menahan dirinya saat mengatakan sesuatu... Dia selalu seperti itu, kan... Mulutnya sangat licin..." Ucap James lagi mencoba untuk mencairkan suasana.
"Tapi dia benar." Jawab Alex.
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menikahinya seperti dengan keinginannya?!"
"Karena aku tidak mau..."
James menatap jengah pada sahabatnya. Dia sepertinya tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sama sekali tidak tahu jalan pikirannya.
"Tapi dia benar..." Alex memejamkan matanya sejenak, kemudian menarik nafasnya untuk menenangkan dirinya.
"Hei bro! Jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu!" James memijat pundak sahabatnya, "kamu jauh lebih baik menunjukkan sikap dingin mu! Menjadi penguasa tiran adalah darah daging mu. Jadi, jangan pasang wajah menyedihkan ini lagi, okay!!"
"Apa aku begitu menyedihkan?" Tanya Alex.
"Ayolah! Jangan pikirkan kata-kata si pirang! Dia memang memiliki lidah yang tajam!" Jawab James, "dia berkata seperti itu karena kamu menolaknya... Jadi, jangan di pikirkan lagi... Dia juga pasti akan datang kembali untuk mendekatimu. Dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia menghabiskan hampir empat tahun di Paris setelah beberap bulan membantu mu menjaga Jessy. Otaknya pasti bermasalah karena sangat marah padamu. Bagaimanapun juga, alasan dia di kirim ke sana adalah karena permintaan pernikahannya dengan mu, kan? Jadi, jangan pikirkan dia lagi. Fokus saja pada pekerjaan mu, Alex. Kamu bahkan hampir mati karena pekerjaan mu yang tidak ada habisnya..." James melirik wajah sahabatnya, dia ingin melihat apakah ekspresi wajahnya sudah berubah atau masih sama menyedihkan seperti tadi.
Dia tahu kesedihan apa yang Alex rasakan setelah kematian istrinya. Sampai saat ini tidak ada orang yang berani membuka luka lama yang tidak akan pernah sembuh itu. Namun Emelie dengan begitu saja membukanya kembali. Membuatnya kembali berdarah.
James menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Haissshh! Lebih baik kamu pulang! Kamu bilang akan ada di sisi Jessy saat dia bangun tidur, kan? Cepatlah!" James mendorong punggung Alex agar dia segera beranjak dari tempat duduknya.
Alex masih menunjukkan tatapan matanya yang penuh kesedihan.
"Alex! Pulanglah! Eliza kecil sedang menunggu mu, kan?"
__ADS_1
"Kamu benar! Aku harus segera pulang..." Jawab Alex seraya beranjak dari tempat duduknya, "urus sisa pekerjaan ku. Aku akan memberikan bonus double untuk mu akhir pekan..." Alex menepuk pundak sahabatnya.
Setelah itu dia berjalan keluar dari ruangan itu.
James menggelang-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya, "kalian berdua sama-sama gila!" Desisnya.
.
.
Alex sampai di rumahnya.
Dia tidak melihat siapapun ada di sana.
"Ingin benar-benar rumahku? kenapa tidak ada bedanya dengan kuburan. sama-sama sepi seperti tidak ada kehidupan..." desisnya.
Alex berjalan ke arah kamar putrinya.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kakinya terdengar menggema di seluruh sudut ruangan rumahnya.
Klak!
"uh!" Alex sedikit terkejut saat dia akan menarim handle pintu kamar putrinya. karena pintu sudah terbuka bahkan sebelum dia menyentuhnya.
"Aahh!!!" Alex semakin terkejut saat Alessia menjerit keras Begu dia melihatnya.
"Kamu!!! bisakah kamu tidak berteriak?!" geram Alex.
"A-a-ampun l-lord Anderson..." jawab Alessia. Dia terus menundukkan kepalanya karena ketakutan.
Alex menatap gadis muda yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kamu... Apa kamu juga ingin menikah dengan ku?"
"Huh?!" Alessia mendongakkan kepalanya menatap Alex penuh dengan tanda tanya.
.
__ADS_1
.