
.
.
"Bagaimana perasaan mu bekerja di sini menjadi pengasuh Jessy?" Tanya Lucy pada Alessia.
"Sangat senang, nyonya Anderson. Miss Jessy sangat manis. Dia juga tidak nakal. Maksud saya, saya pernah bekerja sebagai pengasuh juga. Tapi anak yang saya jaga..." Alessia tersenyum kecut, "mereka sangat kasar, dan sangat berkuasa... Memang benar kalau mereka adalah anak dari keluarga kaya raya... Tapi mereka sangat ingin orang-orang rendahan seperti kami untuk terus mengingatnya dalam setiap hal."
Lucy tersenyum miring.
"Itu hal natural yang di miliki manusia... Menyombongkan apapun yang mereka miliki. Walaupun sebenarnya hal semacam itu tidak perlu di lakukan. Karena orang lain juga sudah tahu tentang itu. Tapi itu tadi... Itu semua hanya sikap natural yang di miliki seseorang. Dan orang-orang seperti mu... Mau tidak mau menerimanya. Bukan begitu?"
Alessia menganggukkan kepalanya, "nyonya benar..."
"Kamu masih takut pada Alex?"
"Tidak lagi..." Jawab Alessia tanpa ragu-ragu.
"Wow!"
Plok! Plok! Plok!
Lucy bertepuk tangan, "Hanya dalam setengah hari kamu sudah bisa menguasai ketakutan mu. Luar biasa untuk mu, Ale..."
Lucy tertawa kecil melihat Alessia yang tampak malu-malu.
"Bagaimana cara kamu melakukannya?!"
"Sebenarnya itu karena tuan Anderson mengatakan sesuatu yang membuat saya tidak nyaman..." Jawab Alessia, "jujur saja saya sedikit tidak terima."
"Oh? Sungguh? Apa yang bisa orang sepertinya katakan?" Tanya Lucy lagi.
"Orang sepertinya?" Tanya Alessia mengulangi apa yang Lucy katakan tadi.
"Maksud ku Alex. Dia memang terlalu cocok di sebut sebagai 'orang sepertinya' kan?" jelas Lucy.
Alessia tertawa kecil, dia tidak menyangka kalau Lucy akan memanggil putranya sendiri dengan sebutan seperti itu.
"Jadi, apa yang Alex katakan padamu?"
"Lord Anderson menanyakan pada saya... Ekhem!" Alessia melonggarkan tenggorokannya, "dia mengatakan kalau; apa kamu juga ingin menikah denganku?"
"Huh?"
Lucy ternganga mendengar apa yang baru saja Alessia katakan.
"Alex mengatakan hal seperti itu padamu?"
__ADS_1
"I-it-itu memang sulit di percaya... Tapi lord Anderson benar-benar mengatakan hal itu." Jawab Alessia.
"Aku rasa putraku sudah tidak waras... Atau dia salah makan?"
Alessia menggelengkan kepalanya, "saya tidak tahu, nyonya Anderson. Tapi dia mengatakan kalau.. katanya semua orang yang mengasuh Miss Jessy ingin menikah dengannya."
Lucy mengangguk-anggukkan kepalanya, "aku mengerti... Sekarang kamu siapkan makanan untuk Jessy. Dia akan bangun sebentar lagi. Juga minta Niar untuk menyiapkan makanan untuk Alex. Dia juga pasti lapar. Terlebih lagi dia tidur dengan suasana hati kesal." Lucy tersenyum lebar. Dia ingat bagaimana Alex yang begitu kesal padanya karena ucapannya.
"Baik, nyonya Anderson." Jawab Alessia patuh.
Dia segera berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan apa yang Lucy perintahkan padanya.
Tap! Tap! Tap!
Langkah kaki ringan terdengar.
Lucy melihat ke arah tangga, di mana dia melihat putranya yang sedang menuruni anak tangga seraya menggendong Jessy dengan tangannya.
"Kalian sudah bangun..."
"Glendma... Glendma udah pulang..." Jessy mengulurkan kedua tangannya agar Lucy segera menggendongnya.
"Iya sayangku... Grandma hanya pergi sebentar saja. Saat grandma pulang tadi, kamu sedang tidur dengan daddy-mu, jadi grandma tidak membangunkan mu." Jawab Lucy.
"Glendma... Ayo makan..." Ajak Jessy dengan ekspresi wajah yang masih terlihat mengantuk.
"Dia selalu lupa dengan putranya sendiri..." Alex menghela nafasnya pasrah.
.
.
Malam harinya.
Ting tong ting tong
Suara bel pintu berbunyi, Alex yang sedang berada di ruang tamu berjalan untuk membukanya.
Alex terkejut saat melihat siapa yang ada di depan pintu rumahnya begitu dia membukanya.
"Selamat malam calon suamiku..." Ucap Emelie dengan senyuman lebar di wajahnya. Dia tampak begitu bersemangat dan berbunga-bunga menunggu Alex membiarkan dirinya masuk ke dalam rumahnya.
"Untuk apa kamu kemari?" Tanya Alex dengan malas.
"Bisakah kamu lebi ramah menyambut kedatangan tamu spesial ini?! Kamu bukan hanya pria bedebah! Tapi ternyata kamu juga idiot!" Desis Emelie, "tentu saja aku ingin menemui putriku! Bodoh!"
Alex menghembuskan nafasnya, membuka ruang di dadanya yang terasa begitu sesak karena kekesalannya.
__ADS_1
Entah bagaimana ceritanya, dia kini harus terus berurusan dengan Emelie yang selalu saja menguji kesabarannya.
"Bisakah kamu juga lebih sopan?! Aku adalah Lord Anderson! Aku seorang Duke Anderson!"
"So?" Tanya Emelie acuh tak acuh.
"Darah biru mengalir di tubuh ku!"
"Benarkah? Aku pikir kamu tidak memiliki darah. Mengingat kamu melalukan sesuatu tanpa di pikir dulu. Tapi kini aku tahu, kalau ternyata darahmu biru. Mungkin itu sebabnya kamu selalu bersikap seperti seseorang yang tidak waras." Alex kembali mengatur nafasnya untuk tidak terpancing emosi karena apa yang Emelie katakan.
"Emelie!"
"Alex... entah darah biru, atau bahkan darah anjing... aku tidak peduli... Yang jelas aku tidak peduli! Okay?"
Alex kembali mengatur nafasnya yang kembali memburu karena kekesalannya.
"Sepertinya kamu memiliki dendam yang sangat dalam padaku. Apa karena aku menolak menikah dengan mu saat itu? Jadi, kamu sakit hati karena itu?" Alex tersenyum menyeringai
Mendengar itu Emelie tersenyum lebar, "itu benar! Kamu tahu betul betapa marahnya aku saat itu?! Kamu menjauhkan aku dari Jessy begitu saja! Aku benar-benar membencimu saat itu juga!" Jawabnya dengan santainya.
"Kamu membenciku karena aku menjauhkan mu dari Jessy?"
"Yupz! Kamu pikir aku membencimu karena kamu menolak ku? Atau kamu berfikir kalau aku memiliki perasaan padamu?" Emelie menatap Alex dengan senyuman miringnya. Dia sangat senang melihat Alex yang sepertinya kesulitan untuk menjawabnya.
"Alex... Ha ha ha..." Emelie tertawa terbahak-bahak, "kamu benar-benar terlalu percaya diri! Kamu pikir hanya karena wajah tampan mu ini aku akan tertarik padamu? Aku jatuh cinta padamu? Ayolah... Kamu membuat ku geli!"
"Cukup!" Dengus Alex, "masuklah! Tanganmu sakit karena membawa banyak barang yang berat, kan?" Alex dengan cepat mengambil beberapa paper bag dari tangan Emelie dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Sementara Emelie masih terus tertawa geli melihat tingkah Alex yang semakin lucu.
"Alex... Kamu benar-benar berfikir aku mencintaimu? Aku jatuh cinta padamu?" Tanya Emelie dengan nada bercandanya.
"Diamlah, Emelie!" Sungut Alex seraya mencoba untuk bersikap tenang karena tawa Emelie yang terasa sangat menghinanya.
Emelie masih dengan tawanya, dia berjalan mengikuti langkah kaki Alex yang membawanya ke kamar Jessy.
"Alex..." Emelie memeluk lengan Alex dengan erat, dia tersenyum manis pada Alex yang masih terlihat kesal padanya.
"I hate You, Alex..." Ucapnya dengan senyuman manis yang masih terlihat di bibirnya yang berwarna merah muda, "senyumlah Alex, aku ingin Jessy melihat kita sebagai pasangan yang mesra."
"Mm!" Jawab Alex singkat.
Namun setelahnya, dia memperlihatkan senyumanya yang manis begitu mereka berdua memasuki kamar Jessy.
.
.
__ADS_1