
.
.
Di kamar hotel di mana Jessy, Alex dan Emelie ada di dalamnya.
"Alex... Sepertinya Jessy kelelahan." Ucap Emelie seraya mengusap lembut rambut Jessy yang kini sudah terlelap dalam tidurnya.
"Sama seperti mu, bukan? Kamu juga kelelahan..."
"Tidak juga. Aku sudah biasa menempuh jarak yang jauh tanpa beristirahat sedikit pun... Aku wanita yang sangat kuat, Alex."
"Mm... Aku percaya." Emelie bergerak mendekati Alex yang berbaring di sebelah Jessy, dia memeluknya, meletakkan kepalanya di dada bidangnya.
"Alex... Tidak bisakah kita menikah lebih cepat?"
"Kenapa buru-buru? Aku bahkan belum menyetujuinya... Jujur saja aku tidak ingin menikah lagi. Terlebih hanya untuk sesuatu alasan..." Jawab Alex seraya terus menatap langit-langit kamar hotel, tangannya perlahan-lahan mulai bergerak mengusap lembut rambut panjang Emelie.
"Aku tidak masalah dengan itu. Toh, aku sendiri yang memaksamu untuk menikahi ku." Jawab Emelie seperti biasanya, dia selalu mengatakan sesuatu tanpa dia pikir lebih jauh lagi.
"Emelie... Kamu pikir menikah dengan ku hanya karena Jessy saja sudah cukup?"
"Tentu. Apa lagi memangnya yang harus aku pikirkan? Aku hanya ingin lebih dekat dengan Jessy, dan dengan begitu Jessy akan memiliki seorang ibu, walaupun bukan ibu kandungnya. Kehidupan anak gadis tanpa seorang ibu benar-benar sangat tidak menyenangkan."
"Itu pengalaman hidup mu sendiri?"
Emelie menganggukkan kepalanya, "benar. Itu sebabnya aku tidak ingin Jessy mengalami hal yang sama seperti yang aku alami..."
"Tapi Jessy memiliki ku yang akan selalu ada untuknya. Dan ada mommy juga Daddy yang selalu menyayanginya. Dia tidak akan kekurangan apapun... Juga ada kamu yang akan selalu menyayanginya seperti ibu kandungnya sendiri..."
Emelie bergerak dari posisinya, dia tengkurap di dada bidang Alex seraya menatapnya dengan tajam, "Alex... Aku hanya ingin menjadi ibunya... Apa begitu sulit?"
"Sangat sulit, Emelie. Kamu masih memiliki banyak kesempatan untuk bisa membangun keluarga mu sendiri dengan pria yang kamu cintai nantinya... Kamu juga akan memiliki anak kalian nantinya..."
"Enough Alex!" Bentak Emelie, "kamu tidak tahu apapun tentang ku!"
"Itu karena kamu tidak pernah memberitahu pada ku seperti apa kamu yang sesungguhnya..." Jawab Alex seraya menangkup wajah cantik Emelie yang mulai menitikkan air matanya.
"Alex... Tidak ada pria yang akan aku cintai di dunia ini... Sekarang ataupun beberapa tahun ke depan. Aku tidak akan pernah mencintai pria manapun! Tidak akan pernah bisa bisa!" Ucap Emelie dengan air matanya yang terus saja keluar membasahi pipinya, "aku tidak butuh cinta... Sebagai gantinya, biarkan aku bersama Jessy. Boleh?"
"Emelie..." Alex dengan lembut mengusap air matanya, "apa ini karena si brengsek Ariand itu?"
Emelie terdiam, bahkan air matanya berhenti seketika, "jangan membahasnya!"
"Jadi, benar karena dia. Dia pasti sama-sama brengsek seperti ku, kan? Jadi, kenapa kamu ingin menikah dengan pria yang sama-sama brengsek?"
"Sebenarnya... Aku juga bukan wanita suci..."
"Aku tidak mempermasalahkan tentang itu, Emelie... Aku hanya ingin kamu meneruskan hidup mu menjadi jauh lebih indah dan penuh cinta dengan orang-orang yang kamu cintai... Membangun keluarga kecil yang sehat dan harmonis penuh dengan kasih sayang..." jelas Alex, namun sepertinya apa yang dia katakan tidak bisa mengubah pemikiran Emelie yang terlalu keras kepala.
"Emelie... Kamu harus memikirkan jalan hidup mu juga. Aku yakin ayah mu akan sangat senang jika kamu memiliki keluarga mu sendiri yang penuh cinta..."
"Dia juga tidak akan keberatan kalau aku menikah dengan mu... Dia justru akan sangat senang... "
Alex menghela nafasnya yang terasa sesak. Berbicara dengan Emelie membuatnya merasa lelah tanpa hasil yang di inginkan.
"Whatever, Emelie. Aku benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran mu."
__ADS_1
"Aku hanya ingin bersama Jessy...." Jawab Emelie.
Alex menatap dalam mata biru Emelie, bola mata yang indah dan sama seperti bola mata milik nya dan putrinya, Jessy.
"Emelie... Jadi, di mana putrimu sekarang?" Mata Emelie terbelalak saat mendengar apa yang Alex katakan.
"A-a-apa mak-maksudmu, Alex?!" Tanya Emelie terbata-bata.
"Apa dia meninggal, sebelum dia sempat di lahirkan? Aku memeriksa datamu, tapi sepertinya semuanya di sembunyikan dengan sangat baik..."
Emelie tersenyum miring, dia menggerakkan tangannya ke leher Alex. Dan dengan begitu cepat dia mencengkramnya kuat.
"Agh!" Alex mencoba untuk menarik tangan Emelie dari lehernya, tapi cengkraman tangannya seperti begitu kuat untuk bisa di lepaskan begitu saja
Alex benar-benar terkejut dengan apa yang Emelie lakukan padanya. Entah apa yang terjadi pada Emelie di masa lalu, sampai-sampai membuatnya seperti itu.
"Karena orang-orang seperti mu lah, aku kehilangan segalanya... Aku tidak ingin tanggung jawab dari siapapun... Hanya biarkan aku membesarkannya... Tapi orang-orang tamak dan brengsek seperti mu benar-benar memuakkan! Kalian bahkan tidak segan-segan membunuh dan menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan kalian, hanya agar bisa melepaskan diri dari tanggung jawab... Orang-orang brengsek seperti kalian ini memang sudah seharusnya di binasakan!" Alex mencengkram kuat lengan pergelangan tangan Emelie.
Dengan nafasnya yang terasa semakin sesak, Alex mencoba untuk berbicara dengan Emelie. Dia juga memberikan senyuman manisnya.
"Emelie... Ayo kita menikah..." Mendengar itu, Emelie langsung melepaskan tangannya dari leher Alex.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Alex terbatuk-batuk seraya memegangi lehernya yang masih terasa sesak.
"Alex... Kamu tidak apa-apa?" Tanya Emelie yang terlihat begitu khawatir, "sorry... Sepertinya aku terlalu terbawa emosi..."
Alex memperlihatkan senyuman manisnya, dia merengkuh tubuh Emelie masuk ke dalam pelukan hangatnya.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa." Ucap Alex lega.
"Tidak apa-apa..." Alex mengeratkan pelukannya, "jangan di pikirkan. Aku benar baik-baik saja..."
"Sorry, Alex..."
"Santai... Aku benar-benar tidak apa-apa. Jadi, jangan merasa bersalah lagi..."
Cup!
Alex mencium kening Emelie dengan lembut dan cukup lama.
Setelah itu dia melepaskannya, "sudah lebih tenang?" Tanya Alex.
"Mm... Aku merasa sangat baik, sekarang..." Jawab Emelie
"Baguslah..." Alex menghela nafasnya lega.
"Alex... Thanks..."
"Hanya itu?"
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Emelie penuh dengan gairah tanda tanya.
"Oh ya! Bukankah kamu berjanji akan mengabulkan satu permintaan ku?"
"Itu... Memang aku mengatakannya... Tapi, memang nya apa yang kamu inginkan? Asalkan kamu tidak memintaku untuk berhenti meminta mu menikahiku... Aku akan mengabulkannya... Bahkan jika kamu ingin meminta ku untuk tidur dan... Having *** with you... I... Really... Ready anytime..." Jawab Emelie.
__ADS_1
Alex tertawa kecil mendengar apa yang baru saja Emelie katakan padanya.
"Really?" Tanya Alex seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Emelie.
"Sure... Wanna try..." Emelie menarik sweater Hoodie yang dia pakai... Dan entah bagaimana dalam sekejap mata saja, sweater itu terlepas dari tubuhnya. Dan memperlihatkan tubuh Emelie bagian atas yang hanya tertutup oleh bra berwarna merah muda.
Alex terperangah melihat tubuh Emelie yang begitu menggoda. Kulitnya yang bersih dan mulus benar-benar tanpa cela, dan dadanya yang membusung sempurna dan padat berisi. Siapapun pria normal yang melihatnya akan melupakan segalanya agar bisa menikmatinya.
"Emelie... Sepertinya kamu salah paham..." Alex mengambil sweater Emelie yang tergeletak di lantai untuk memakaikannya kembali ke tubuh Emelie, namun gerakan Emelie begitu cepat mendorong tubuh Alex, dan dia duduk di perut Alex yang berotot.
"Ready?" Tanya Emelie seraya menggerakkan tangannya ke belakang tubuhnya untuk melepaskan pengait bra-nya.
"Stop! Emelie!" Alex dengan cepat menahan tangan Emelie, "jangan lakukan ini... Please." Alex me menarik selimut yang sedang di pakai oleh Jessy, kemudian dia gunakan untuk menutupi tubuh Emelie.
"Kenapa Alex? Bukankah kamu dulu sangat menyukai hal semacam ini? Apa karena aku bukan gadis perawan, jadi kamu menolak ku? Apa kamu jijik padaku karena aku kotor? Alex, aku hanya pernah tidur dengan satu orang pria, dan itupun hanya sekali saja... Apa itu masih di kategorikan sebagai wanita kotor?" Air mata Emelie mulai kembali membanjiri wajahnya.
Dengan lembut Alex mengusapnya.
"Emelie... Kamu sangat lelah. Istirahat lah..." Perlahan-lahan Alex menarik tangan Emelie, kemudian membaringkannya di sebelahnya.
"Pejamkan mata mu." Ucap Alex dengan lembut.
"Aku benar-benar tidak mengantuk, Alex."
"Kamu akan tertidur pulas walaupun kamu tidak mengantuk. Kamu hanya perlu memejamkan matamu..." Jawab Alex.
Perlahan-lahan Alex mendekat ke Emelie, hingga bibirnya meraih bibir merah Emelie.
Hangatnya nafas Alex, kini terasa menerpa wajah cantik Emelie.
Tangan Emelie bergerak melingkar di leher Alex, dan perlahan-lahan bergerak menelusuri setiap helai rambut Alex.
Keduanya saling membalas ciuman mereka yang terus berlangsung hingga nafas nafas mereka hampir habis.
Alex melepaskan ciumannya, dia menatap wajah cantik Emelie yang memerah dengan nafas yang memburu.
"Sudah cukup mengantuk?" Tanya Alex dengan tatapan matanya yang hangat.
"Aku mungkin akan benar-benar menyukai mu, Alex." Ucap Emelie seraya mengusap lembut pipi Alex.
"Jangan... Aku sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan hal semacam itu."
"Aku tipe orang yang tidak masalah dengan hanya memberi... Dan tidak menerima... Jadi, biarkan aku berbuat semauku, Alex." Jawab Emelie.
"Apapun itu, asalkan jangan menyukai ku."
"Itu masih belum terjadi. Dan mungkin juga tidak akan terjadi..." Emelie tersenyum miring. Dia melepaskan selimut yang meliliti tubuhnya, dan mengembalikannya untuk menyelimuti tubuh mungil Jessy.
"Alex... Apa kamu sekarang mengalami 'sesuatu' dengan 'adik kecil' mu itu? Kamu tidak bereaksi melihat bentuk tubuh ku yang sangat sexy ini? Waah... Berobat Alex!"
Alex menghela nafasnya dengan pasrah. Dia menatap jengah pada Emelie yang kini dengan sangat senang menertawakannya.
"Dia mulai lagi..."
..
..
__ADS_1
..