Oh My Lord

Oh My Lord
season 2~ 6


__ADS_3

.


.


Alex dan Emelie berjalan bersama dengan sangat romantis memasuki kamar Jessy.


Keduanya melihat Jessy yang sudah ada di atas tempat tidurnya untuk bersiap untuk tidur.


"Jessy, ini adalah aunty Emelie. Dia teman Daddy." Alex memperkenalkan Emelie pada Jessy.


Emelie dengan cepat duduk di tepi tempat tidur Jessy, duduk di samping Jessy yang sudah siap untuk tidur.


"Aunty Emelie..."


"Mm..." Emelie tersenyum lebar, "panggil aku aunty Emelie untuk sementara ini."


Emelie mengambil paper bag dari tangan Alex dan segera memberikannya pada Jessy.


"Jessy, aunty bawa banyak mainan dan pakaian yang aunty beli di Paris. Aunty harap kamu menyukainya." Emelie mengusap lembut puncak kepala Jessy, kemudian mencium pipi gembulnya. Tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja mengalir ke pipinya


"Aunty Emelie... Aunty menangis?" Tangan mungil Jessy menyentuh pipi Emelie, dan kemudian mengusap air matanya.


"Aunty sangat senang bisa bertemu dengan mu. Ini air mata bahagia aunty." Jawab Emelie.


Sementara Alex hanya diam dengan terus memperhatikan sikap Emelie yang begitu emosional.


"Hoammmmzzz...." Jessy menyuap lebar


"Oh. Sepertinya Jessy sudah mengantuk..." Emelie tersenyum manis padanya, "tidurlah. Aunty tidak akan menggangu mu lagi."


"Aunty Emelie mau pulang?"


Emelie menganggukkan kepalanya, "aunty kemari hanya karena sangat ingin menemuimu. Aunty tidak bisa menahannya sampai besok pagi. Jadi, aunty segera kemari. Maaf kalau aunty sudah mengganggu waktu tidur mu." Emelie kembali mengusap lembut puncak kepala Jessy.


"Tidurlah... Aunty akan pulang sekarang."


Jessy menganggukkan kepalanya, dia segera berbaring sambil memeluk banyak paper bag yang Emelie berikan padanya.


"Good night, baby." Emeli mencium pipi Jessy, sebelum dia berjalan keluar dari kamar Jessy.


"Istirahat yang nyenyak, sayang." Alex juga mencium pipi Jessy sebelum dia keluar mengikuti Emelie.


"Emelie..." Panggilan Alex menghentikan langkah kaki Emelie.


"Ada apa?" Tanya Emelie dengan malas.


Alex sudah bersiap untuk membuka mulutnya, namun suara ibunya menghentikannya.


"Emelie... Kamu di sini?"


"Oh... Aunty Lucy..." Emelie berlari memeluk Lucy yang baru keluar dari kamarnya. Di belakangnya di ikuti oleh Howard Anderson yang juga keluar dari kamar mereka.


"Apa kabarmu, sayang?" Tanya Lucy setelah pelukan keduanya terlepas.


"Aku sangat baik, aunty. Aunty sendiri apa kabar? Dan uncle Howard... Bagaimana dengan mu?"


"Kami berdua juga baik-baik saja. Dan kami masih di berikan keajaiban awet muda." Jawab Lucy.


Emelie tertawa kecil. Dia selalu senang saat bersama dengan keluarga Anderson yang selalu menganggapnya sebagai putrinya sendiri sejak dulu.


"Alex bilang kalau kamu akan datang kemari besok?"


"Uncle... Aku sudah tidak tahan lagi untuk menunggu sampai besok pagi." Jawab Emelie, "aku sudah tidak tahan untuk bisa bertemu dengan Jessy."


"Kamu sudah bertemu dengannya?" Tanya Lucy.

__ADS_1


Emelie menganggukkan kepalanya, "sudah, aunty. Sekarang dia sudah tidur."


"Syukurlah. Besok pagi datanglah kemari. Jessy ingin pergi ke pantai. Kita semua akan membawanya ke sana. Kamu juga harus ikut pergi bersama kami." Ajak Lucy


Dengan begitu bersemangat, Emelie menganggukkan kepalanya.


"Pasti! Aku pasti akan ikut!" Jawabnya.


"Tch!" Decih Alex saat melihat reaksi Emelie tadi.


Mendengar itu, Emelie hanya menatapnya dengan malas.


"Untuk apa mengajaknya, mom!"


"Diamlah! Kamu sama sekali tidak mengerti apapun!" Jawab Lucy tegas.


Alex hanya bisa menghela nafasnya. Seperti biasa, kedua orang tuanya tidak akan pernah mendengarkannya.


"Mereka selalu lupa siapa putra mereka yang sebenarnya!" Gumamnya.


"Putra kami sudah mati saat dia mulai menebar benih kemana-mana! Yang ada sekarang ini hanyalah raganya saja...." Jawab Lucy dengan tatapan tajamnya.


"Itu sudah berlalu, mom!" Jawab Alex dengan mengerucutkan bibirnya, "itu sudah tidak pernah terjadi lagi..."


"Benar! Tapi... Apa kamu masih ingat tentang perbuatan mu itu? Seperti itulah kami... Kami juga masih sangat jelas mengingatnya.... Putra kami yang brengsek ini!" Jawab Lucy yang masih dengan tajam.


"Iya-iya..." Alex memilih untuk diam tanpa mengatakan apapun lagi, atau dia akan mendapatkan kekesalan Lucy yang semakin besar.


"Ayo kita minum teh dulu..." Lucy menuntun tangan Emelie agar mengikutinya ke ruang tamu.


"Ayo! Jangan buat ibumu kesal lagi..." Howard Anderson merangkul pundak putranya yang lebih tinggi darinya, "ini adalah salah satu dari akibat dari apa yang kamu perbuat sebelumnya, Alex. Berani berbuat... Maka kamu harus berani bertanggung jawab untuk menerima segala akibatnya. Termasuk akibat jangka panjang yang akan selalu di ingat dan menjadi bahan pembicaraan saat kemarahan seseorang tercipta. Kamu seharusnya sudah memahami itu, kan?"


Alex menganggukkan kepalanya dengan lemas.


"Aku tahu, dad. Itu karena kesalahan ku sendiri. Aku memang harus menanggungnya. Sebaik apapun aku saat ini, aku tetap memiliki masa lalu buruk yang bisa di gunakan seseorang sebagai senjata untuk menyerang ku. Aku tahu itu. Dan aku selalu siap untuk itu." Jawab Alex.


"Ale..." Lucu melambaikan tangannya pada Alessia yang baru saja membereskan mainan Jessy yang berantakan di ruang tengah.


"Iya nyonya..." Dengan cepat Alessia berjalan mendekati Lucy dan yang lainnya.


"Siapa dia, aunty?" Tanya Emelie. Dia melihat gadis manis di hadapannya yang kini sedang menundukkan kepalanya.


"Dia Alessia. Pengasuh baru Jessy." Jawab Lucy, "dan Ale, ini adalah Emelie, dia teman dekat Alex."


Alessia tersenyum ramah pada Emelie yang sedang terus menatapnya.


'dia sangat cantik... Dia seperti Barbie...' ucap Alessia dalam hatinya.


"Halo, Miss Emelie." Sapa Alessia.


"Hai Ale... Aku juga akan memanggil mu Ale seperti aunty Lucy memanggil mu. Boleh, kan?" Emelie tersenyum manis pada Alessia, itu membuat wajah Alessia memerah.


Alessia segera menundukkan kepalanya. Melihat Emelie tersenyum manis seperti itu membuatnya sangat gugup


'dia sangat cantik... bahkan wanita seperti ku tidak bisa menahan kecantikannya... Bagaimana dengan pria? Mereka pasti bertekuk lutut di hadapannya.' Alessia menggeleng-gelengkan kepalanya menyingkirkan apa yang sedang di pikirkan nya.


Melihat itu Emelie tertawa kecil.


'dia sangat menggemaskan. Aunty Lucy sangat jeli memilih orang.' ucapnya dalam hatinya.


"Buatkan kami teh. Bawa ke ruang tamu setelah selesai. Okay?"


Alessia menganggukkan kepalanya, "siap nyonya Anderson." Jawabnya.


Setelah itu dia bergegas ke dapur untuk membuat teh seperti yang Lucy perintahkan padanya.

__ADS_1


"Alex... Alessia mengatakan kalau kamu mengajaknya untuk menikah?" Tanya Lucy seraya menatap putranya dengan penuh selidik.


"Itu..."


"Alex!" Emelie melotot tajam pada Alex yang kini kebingungan dengan apa yang ingin dia katakan, "kamu menolak ku, dan sekarang kamu memintanya untuk menikah dengan mu?! Kamu tidak suka dengan blonde? Kamu ingin gadis berambut hitam?! Aku bisa mengecat rambut ku dengan warna itu!!!"


"Bukan seperti itu... Aku hanya penasaran dengan sesuatu. Itu juga karena kamu." Jawab Alex.


"Karena aku?" Tanya Emelie seraya menunjuk pada dirinya sendiri.


"Itu karena kamu terus meminta padaku untuk menikahi mu. Aku pikir semua orang yang mengasuh Jessy ingin menikah dengan ku... Itu sebabnya aku menanyakan padanya, apa dia juga ingin menikah dengan ku atau tidak..." Jelas Alex. Dia menatap kesal pada ibunya yang kini justru tersenyum puas melihatnya kesulitan untuk menjelaskan semuanya pada Emelie.


"Jadi karena hal itu. Lalu, apa jawabannya?" Tanya Emelie lagi.


"Dia mengira aku gila! Apa kamu puas, huh?!" Emelie tertawa terbahak-bahak.


"Ha ha ha ha... Alex. Bahkan baby sitter menolakmu dengan kejam. Bukan hanya itu, dia juga berfikir apakah kamu gila... Itu menggelikan." Ucap Emelie dengan Tawanya.


"Cukup! Kamu keterlaluan!" Kesal Alex.


"Tapi ini sangat lucu, Alex." Bukan hanya Emelie, Howard dan Lucy juga terus menertawakan putranya itu.


"Kalian semua keterlaluan!" Gerutu Alex.


.


.


Setelah beberapa saat berlalu, Emelie berpamitan pada Lucy dan Howard.


"Besok pagi-pagi buta, aku sudah akan sampai di sini." Ucapnya setelah berpamitan dengan Lucy dan Howard.


"Iya, sayang. Hati-hati saat mengemudi." Jawab Lucy.


Emelie tersenyum manis seraya menganggukkan kepalanya, setelah itu dia berjalan keluar dari rumah di antar oleh Alex.


"Kamu tidak memintaku untuk menginap, Alex?"


"Aku tidak ingin membuat reputasi seseorang menjadi buruk." Jawab Alex.


Emelie tersenyum miring, "bukankah kamu selalu suka membuat reputasi seseorang menjadi buruk?" Ucapnya sarkis.


"Benar... Itu adalah salah satu keahlian ku." Jawab Alex dengan santainya.


"Baguslah kalau kamu sadar diri." Emelie membuka pintu mobilnya.


Klak!


"Dari reaksi mu tadi saat melihat Jessy... Sepertinya aku menyadari sesuatu yang tidak aku sadari dulu." Ucap Alex.


"Maksud mu?" Tanya Emelie. Dia menghentikan kakinya yang sudah hampir memasuki mobilnya.


"Dulu aku tidak pernah memperhatikan sikap mu pada Jessy. Karena aku pikir itu wajar saja bagi seorang wanita yang melihat bayi lucu sepertinya. Siapapun pasti akan menyayanginya seperti anaknya sendiri... Itu yang dulu aku pikirkan. Tapi setelah aku melihat mu tadi... Sepertinya aku sedikit mulai memahaminya." Jelas Alex yang masih membuat Emelie belum bisa memahaminya.


"Jelaskan apa sebenarnya yang ingin kamu katakan, Alex!" Jawab Emelie geram.


Alex terdiam sesaat, sampai dia akhirnya membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.


"Kamu... Apa kamu pernah memiliki anak sebelumya?" Emelie membelalakkan matanya.


Dia menatap Alex dengan tajam, namun penuh ketakutan dan kesedihannya.


Tubuhnya juga bergetar sampai membuat tas di tangannya terjatuh ke lantai.


"Jadi seperti benar... Kalau kamu pernah memiliki anak..."

__ADS_1


.


.


__ADS_2