
.
.
.
"I-i-ini me-memang a-a-an-anak dari tuan Alex." Jawab wanita itu dengan terbata-bata.
"Ha! Bagus! Kalau begitu, biar aku bawa kamu untuk menemui aunty Lucy..." Emelie menjambak rambut panjang wanita itu sampai wanita itu mendongakkan kepalanya kesakitan.
"Argh!" Jeritnya
"Jangan khawatir... Aku akan membawa mu untuk menemui aunty Lucy dan paman Howard. Kamu seharusnya tahu siapa mereka, bukan?" Emelie tersenyum menyeringai, "Lucy Anderson dan Howard Anderson... Aku akan bawa kamu menemui mereka secara langsung! Bagaimana menurutmu?"
Wanita itu terbelalak. Dia terlihat sangat terkejut dan ketakutan.
"Alex pernah mengatakan padaku kalau dia tidak akan pernah bertanggung jawab pada wanita manapun yang mengaku kalau dia sedang mengandung anaknya." Emelie tersenyum begitu manis, walaupun tatapan matanya begitu dingin padanya, "tapi jangan khawatir... Aunty Lucy dan uncle Howard pasti akan mempertanggungjawabkan semuanya. Jika anak itu terbukti anak dari Alex, maka mereka akan menerimanya dengan senang hati. Tapi mereka tidak akan pernah menerima mu. Tapi jika anak itu terbukti bukan anak Alex..." Emelie berjongkok dan memberikan tatapan matanya yang begitu dingin pada wanita itu, Walaupun senyum di bibirnya begitu manis.
"Jangan berharap kalau kamu akan bisa mempertahankan leher mu lagi. Karena mereka akan benar-benar mematahkannya begitu mereka tahu kebohongan mu... Kamu siap?"
"A-ampuun Miss..." Wanita itu memegangi kaki Emelie dengan erat, "ampuni saya miss... Saya hanya di suruh seseorang untuk melakukannya. Saya butuh uang untuk melahirkan..." Ucap wanita itu dengan air matanya yang penuh ketakutannya.
"Sudah ku duga! Alex tidak mungkin melakukannya dengan wanita jelek seperti mu. Walaupun dia suka 'sampah' dia juga akan memilih yang terbaik. Terlebih untuk wajah mereka. Yang jelas dia tidak mungkin akan tertarik dengan wanita jelek seperti mu." Gumam Emelie
"Tapi... Siapa yang menyuruh mu?!" Tanya Emelie.
"Saya tidak tahu Miss... Dia seorang pria yang tidak mau mengatakan identitasnya."
"Kamu sedang melindungi orang itu?!" Emelie kembali menjambak rambut wanita itu.
"Tidak Miss... Sama sekali tidak. Saya benar-benar tidak tahu siapa mereka, Miss. Saya bersumpah Miss!" Ucap wanita itu seraya menahan rasa sakit karena Emelie terus menjambak rambut wanita itu dengan keras.
"Emelie..."
Suara seseorang menghentikan apa yang sedang Emelie lakukan.
"Oh! Alex!" Dengan cepat Emelie berlari k pelukannya.
"Kamu di sini?" Tanya Alex seraya mengusap lembut punggung Emelie.
"Em... Tadinya aku ingin menunggu mu pulang kerja, aku ingin mengajakmu makan malam bersama." Jawab Emelie, "tapi aku justru bertemu dengannya..." Emelie menunjuk pada wanita yang kini terlihat semakin ketakutan.
"Kenapa belum di bawa pergi juga?! Dan kenapa di sini masih sangat ramai?! Apa aku memperkerjakan kalian hanya untuk pajangan?!" Alex menatap tajam pada dia security yang segera bergegas membawa wanita itu untuk segera pergi dari sana.
Beberapa orang juga segera pergi dari sana. Melihat tatapan Alex yang begitu dingin dan mengerikan membuat mereka semua ketakutan.
"Alex... Sepertinya kamu memiliki bakat untuk menakuti orang." Ucap Emelie dengan tawa kecilnya.
"Sudah selesai?" Tanya James yang baru saja sampai di sana.
"Mm... Emelie menyelesaikan semuanya dengan sangat cepat!" Jawab Alex.
"Wow! Luar biasa!"
"Aku memang selalu luar biasa!" Jawab Emelie begitu mendengar ucapan James.
"Akhirnya masalah selesai. Syukurlah. Sebenarnya kami sama sekali tidak peduli dengan itu. Alex mengatakan kalau dia juga sama sekali tidak peduli dengan itu." Jelas James.
"Anehnya adalah... Wanita itu begitu bodoh untuk berakting. Kenapa juga orang itu memperkerjakan nya? Apa hanya karena dia sedang hamil?" Emelie menyentuh dagunya seraya berfikir keras.
"Mungkin dia sangat percaya diri bisa melakukannya... Dan dia memang melakukan itu dengan sangat bagus. Setidaknya sebelum kamu datang. Tapi pada akhirnya dia melakukan kesalahan saat dia berurusan dengan mu." Ucap Alex.
"Benar. Dia melakukannya dengan sangat baik. Tapi begitu kamu datang, dia kaca balau. Itu sebabnya kami turun kemari untuk melihatnya. Dan ternyata kamu benar-benar membuatnya mati kutu!" Tambah James. Dia tersenyum puas melihat bagaimana Emelie menyelesaikan semuanya dengan sangat baik hanya dengan sekali ucapan.
__ADS_1
"Itu karena mereka takut pada aunty Lucy dan uncle Howard." Jawab Emelie
"Benar juga, mereka berdua adalah pasangan yang sangat di takuti di kota kita ini. Benar-benar pasangan yang serasi." Ujar James
"Tapi... Siapa yang menyuruhnya? Kenapa kamu tidak menanyakannya dengan detail?" Tanya Emelie
Alex hanya mengangkat kedua bahunya.
"Siapapun itu, mereka itu hanya karena merasa iri padaku. Sudah sangat sering hal seperti ini terjadi. Jadi, aku sama sekali tidak peduli... Bukankah image ku memang sudah jelek... Di tambah jelek juga tidak masalah. Lagi pula, mommy dan Daddy akan menyelesaikan semuanya dengan begitu baik tanpa cela..." Jelas Alex. Dia terlihat sama sekali tidak menganggap semua itu sebagai masalah baginya.
"Tapi aku tidak suka dengan itu. Kamu benar-benar harus memperhatikan image mu kali ini. Aku sangat benci dengan orang-orang yang selalu ingin menjatuhkan orang lain dengan otak mereka yang terbatas... Aku benar-benar benci orang-orang semacam mereka itu!" Emelie memegang tangan Alex dengan erat, "aku akan 'menyelesaikan' mereka semua. Siapapun orang yang melakukan hal ini padamu!"
"Cie... Sepertinya kalian berdua sudah semakin dekat setelah pergi berlibur bersama..." Ucap James dengan nada menggoda mereka berdua, "kalian tidak lagi bermusuhan, ataupun saling membenci, kan?"
"Aku tidak bermusuhan dengan Alex. Aku hanya tidak menyukainya." Jawab Emelie, "tapi sekarang aku mulai memahaminya... Belum pada tahap menyukainya."
"Aku sama sepertinya... Aku masih dalam tahap memahaminya..." Tambah Alex seraya merangkul pundak Emelie.
"Kalian sudah seperti pasangan kekasih... Tapi hubungan kalian masih pada tahap saling memahami?" James menatap penuh selidik pada keduanya.
"Aku pikir aku dan Alex memang sudah seperti pasangan kekasih. Kami berpelukan, kami berciuman, dan kami bahkan tidur bersama... Apa masalahnya?"
James menganga lebar mendengar apa yang baru saja Emelie katakan.
"Kalian apa tadi?"
Alex menarik tangan Emelie agar dia mengikutinya masuk ke dalam mobil mewah Emelie yang terparkir tidak jauh dari mereka.
"Hei! Kalian mau kemana?!" Teriak James pada keduanya yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Kmi mau berkencan dan makan malam romantis... Tolong selesaikan pekerjaan ku, brother." Jawab Alex seraya melambaikan tangannya pada James melalui kaca mobil yang terbuka. Setelah itu dia mulai mengemudikan mobil Emelie pergi dari sana.
"Dia... Lagi-lagi seenaknya! Dia bahkan sudah menyerahkan seluruh pekerjaannya padaku saat dia pergi liburan. Dan sekarang dia menyerahkan semua pekerjaannya lagi padaku? Ini berlebihan!!!" James hanya bisa menghela nafasnya dengan lemas dan pasrah.
.
.
"Tumben. Kamu tidak pernah mengajak ku makan malam..." Ucap Alex seraya mulai memakan makanannya.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mu." Jawab Emelie dengan begitu santainya.
"Apa itu?"
"Tentang Ariand."
"Ariand? Si brengsek itu?! Ada apa dengannya?! Apa dia kembali menggangu mu?"
Emelie tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari Alex yang beruntun.
"Tadi saat aku dan aunty Lucy pergi bersama, kami bertemu dengannya. Dan masalah sempat terjadi." Jawab Emelie
"Masalah?"
Alex terlihat marah, "masalah apa yang dia ciptakan kali ini?! Aku sudah memperingatkannya untuk tidak bertindak sesukanya!" Geram Alex.
"Dia seperti biasanya... Selalu ingin mendekati ku. Tapi kali ini dia mendapati hukum dari aunty Lucy. Aku pikir dia akan jera kali ini." Jelas Emelie, dia tersenyum kecut.
Melihat itu Alex tidak menanyakan lebih jauh lagi.
"Sorry, aku melibatkan keluarga mu dalam urusan ku." Ucap Emelie dengan penuh rasa bersalahnya.
"Kenapa kamu meminta maaf? Itu tidak perlu. Aku justru bersyukur karena mommy ada bersama mu saat itu terjadi. Aku yakin mommy tidak akan tinggal diam, kan?" Emelie menganggukkan kepalanya, "aku menceritakan semua jalan kelam kehidupan masa lalu ku padanya. Semuanya... Sampai tentang bagaimana aku masuk ke rumah sakit jiwa."
__ADS_1
"Uh? Lalu? Bagaimana tanggapan Mommy?"
"Bagaimana menurutmu?" Emelie memperlihatkan senyumanya yang manis.
"Dari ekspresi wajah mu, aku yakin 1200 % kalau mommy tidak masalah dengan itu, dan bahkan dia semakin menyayangi mu."
"That's right! Aunty benar-benar semakin peduli dan semakin menyayangi ku. Karena itulah saat dia mengetahui tentang Ariand, dia sangat marah. Dia sudah sangat ingin membunuhnya bahkan sebelum dia tahu orangnya. Dan saat dia bertemu dengannya... Dia mengerahkan seluruh kemarahannya untuk menghajarnya... Aku sangat puas melihat wajahnya yang pucat itu! Ha ha ha..." Alex merasa sangat senang melihat Emelie yang kini tertawa begitu lepas.
'syukurlah...'
"Oh iya Alex... Apa kamu menyukai Alessia?"
"Alessia? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang hal semacam itu padaku?" Alex mengerutkan keningnya, dia tidak habis pikir kenapa Emelie menanyakan hal seperti itu padanya.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan mu padanya..."
"Ekspektasi apa yang ingin kamu dapatkan dari pertanyaan mu itu padaku?" Alex terlihat kesal.
"Aku cemburu. Apa alasan itu cukup membuat mu menjawab pertanyaan dari ku?"
"Uh? Cemburu? Serius?" Ekspresi Alex berubah seketika.
"Jawab saja Alex!"
"Aku baru mengenal Alessia beberapa hari. Karena dia baru saja menjadi pengasuh Jessy beberapa hari terakhir. Tapi jika kamu memaksa ku untuk mengetahui perasaan ku padanya... Jujur saja, aku melihatnya terkadang seperti saat aku melihat Eliza. Dia juga bukan dari keluarga ternama dan terpandang seperti kita ini. Kerja kerasnya dan semangatnya seperti Eliza..."
"Kenapa... Kamu selalu menyamakan siapapun dengan mendiang istrimu? Kamu bilang kalau aku juga saja sepertinya? Bukan hanya kamu... Tapi Nick juga mengatakan hal yang sama..."
Alex tersenyum pahit
"Karena kamu dan Alessia sama-sama mengingatkan ku padanya... Sorry kalau aku melihat mu dalam bayangannya..."
"Tidak masalah. Asalkan alasan itu cukup bisa membuat mu dekat dan simpati padaku, aku justru senang dengan itu. Tidak peduli kamu melihat ku sebagai Eliza atau siapapun... Aku tidak perduli dengan itu. Lagi pula aku tidak pernah hidup sebagai diriku sendiri selama ini..." Jawab Emelie yang sepertinya sama sekali tidak keberatan dengan itu.
"Yang aku inginkan hanya kamu untuk segera menikahiku. Dengan begitu aku bisa menjadi ibu bagi Jessy. Hanya itu... Aku ingin menjadi ibu baginya... Alasan melankolis lainnya aku sama sekali tidak peduli." Emelie menggenggam tangan Alex, dia menatapnya dengan begitu memelas.
"Alex... Jika... Ini hanya jika... Jika suatu hari kamu menyukai Alessia... Bisakah kamu menikahiku terlebih dulu sebelum kamu menikahinya... Aku tidak masalah jika aku hanya menjadi istrimu di atas kertas..."
"Emelie! Apa yang kamu katakan barusan?! Alessia... Kenapa kamu berfikir begitu jauh?! Aku baru mengenal Alessia beberapa hari... Aku tidak memiliki perasaan apapun yang kamu pikirkan..." Jelas Alex seraya mengeratkan genggaman tangan Emelie.
"Dengar.... Jangan berfikir macam-macam lagi... Aku dan Alessia tidak ada apapun yang kamu pikirkan itu." Ucap Alex lagi, "jadi, jangan berfikir macam-macam. Dan kenapa harus Alessia? Apa kamu berfikir terlalu tinggi tentangnya? Dan lagi... Kenapa harus Alessia? Kamu begitu takut padanya yang tidak ada apa-apanya dibanding kan dengan mu? Ayolah...."
"Kamu dan dia akan hidup dalam satu atap... Aku merasa yakin kalau kamu akan perlahan-lahan menyukainya... Jujur saja aku merasa takut..." Alex menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Emelie jangan berfikir macam-macam... Hentikan pembicaraan ini cukup sampai di sini."
"Tapi..."
"Emelie. Jika... Ini jika... Jika benar-benar aku menyukai Alessia... Itu semua jika, jika itu benar-benar terjadi... Walaupun entah kapan dan bagaimana, aku juga sama sekali tidak pernah berfikir tentang itu... Aku janji kalau aku akan menikahimu terlebih dulu. Apa kamu puas sekarang?" Emelie tersenyum lebar. Dia dengan cepat berjalan mendekati Alex dan memeluknya dari belakang.
"Thanks Alex..."
"Ha! Sepertinya kamu benar-benar menyukai ku! Kamu membenciku hanya karena masa lalu buruk ku. Sisanya sepertinya kamu benar-benar sudah jatuh hati padaku..."
"Mungkin... Apa tidak boleh?"
Alex hanya tersenyum lebar mendengar itu. Dia sendiri juga sama sekali tidak keberatan dengan apa yang Emelie lakukan padanya.
'tapi... Kenapa dia begitu takut dengan Alessia? Apa dia pikir aku akan menyukai nya? Kenapa harus Alessia? Bahkan aku sangat bisa jika harus menjatuhkan hati seorang artis papan atas sekalipun... Huffhh... Sepertinya Emelie terlalu memandang rendah wajah ku ini...'
.
.
__ADS_1