
.
.
Keesokan harinya.
Pagi ini seperti biasanya di keluarga Anderson, semuanya berkumpul untuk sarapan pagi bersama. Di sana juga sudah hadir Emelie yang datang pagi-pagi buta untuk bisa ikut sarapan pagi bersama.
"Emelie... Aku yakin perusahaan kami akan semakin berkembang dengan kehadiran mu di sana." Ucap Lucy, "kamu juga bisa sekalian mengawasi Alex. Aku tidak yakin kalau dia sudah benar-benar berubah..."
Alex hanya mendengus sebal pada apa yang ibunya katakan tadi.
"Aunty, serahkan semuanya padaku, aku akan sangat bisa mengawasinya. Biar bagaimanapun aku akan terus menempel padanya saat kami bekerja." Jawab Emelie dengan senyuman lebarnya.
"Sekalian ajari dia untuk tidak berfikir seenaknya sendiri terhadap orang lain tanpa adanya bukti." Ucap Lucy lagi. Dia menyindir Alex tentang kejadian semalam di mana dia mengatakan sesuatu pada Alessia yang membuat Alessia terlihat masih sangat marah saat ini padanya
Alex mencuri pandang ke arah Alessia yang sama sekali tidak bereaksi apapun dengan apa yang dia dengar di sana saat ini, dia hanya terus fokus menyuapi Jessy sarapan paginya.
"Apa yang terjadi? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi tanpa aku ketahui." Tanya Emelie, dia menatap curiga pada semuanya.
"Bukan apa-apa..." Lucy tersenyum lebar, "hanya saja mulut Alex masih sama seperti dulu. Terkadang berbicara tanpa melihat keadaan dan akhirnya mengakibatkan salah paham yang sulit di selesaikan." Jelasnya.
"Sesuatu yang sulit di selesaikan? Tentang apa itu sebenarnya?" Tanya Emelie lagi.
"Emelie adalah tipe wanita yang tidak akan menyerah pada apapun sebelum rasa penasarannya terpenuhi." Ucap Alex pada ibunya. Melihat itu Lucy hanya menatapnya dengan datar tanpa bereaksi apapun
"Tidak juga. Hanya saja saat aku merasa penasaran, aku tidak akan bisa melakukan segala sesuatunya dengan baik. Itu kenapa aku harus memenuhi rasa penasaran ini. Karena ini sangat menyebalkan jika tidak di penuhi." Jawab Emelie.
Dia tersenyum hangat pada Lucy dan Howard yang hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka.
"Bukan sesuatu yang penting. Aku hanya salah paham pada Alessia." Jawab Alex.
"Salah paham?" Emelie melihat Alessia yang hanya memperlihatkan senyuman terpaksa padanya.
'ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua?'
"Saat aku baru pulang semalam, aku melihat Alessia yang baru saja keluar dari kamar ku. Aku berfikir kalau dia merencanakan sesuatu yang tidak benar. Aku pikir dia ingin melakukan sesuatu... Seperti naik ke atas ranjang ku agar dia bisa memiliki apa yang keluarga ku miliki. Seperti itu kurang lebihnya..."
"Pfffftt..." Emelie menahan tawanya. Dia benar-benar tidak menyangka Alex akan berfikir seperti itu
"Aku benar-benar minta maaf pada Alessia untuk apa yang terjadi semalam..." Alex melihat ke arah Alessia yang juga kini sedang melihat ke arahnya, "sorry, really-really sorry." Ucapnya dengan penuh rasa bersalahnya.
"Tidak apa-apa. Lagi pula kejadiannya memang sangat pas untuk membuat orang-orang salah paham... Saya yakin siapapun akan berfikir seperti itu, jika kamu melihat orang rendahan yang tiba-tiba keluar dari kamar mu yang memang seharusnya tidak perlu di datangi oleh orang-orang seperti itu. Saya bisa memahaminya..." Jawab Alessia dengan begitu dingin.
"Ooppsss... Sepertinya perang dingin akan benar-benar terjadi... Padahal ini masih summer... Tapi rasanya seperti winter..." Emelie tersenyum puas. Dia juga melemparkan senyuman lebarnya pada Alessia yang segera membalasnya begitu dia melihatnya.
__ADS_1
"Kamu dalam masalah, Alex!"
"Diamlah!" Desis Alex saat Emelie sudah mulai untuk meledeknya.
"Biarkan dia merasakan penyesalannya sendirian, Emelie. Kamu tidak perlu mengurusinya. Dia sudah terlalu tua untuk selalu di ajari!" Ucap Lucy.
"Bisakah kita makan saja? Aku benar-benar tidak bisa mencerna makanan ku. Sepertinya sangat sulit di telan!" Sungut Alex pada semuanya
Howard menghela nafasnya.
Dia memilih untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Daddy... Mau kemana?" Tanya Alex
"Kembali ke kamar. Aku merasa sedikit tidak enak badan." Jawab Howard. .
"Apa sakit kepala mu kembali terasa?" Tanya Lucy, "aku akan membawa sarapan ke kamar." Howard menganggukkan kepalanya pada istrinya, setelah itu dia berjalan pergi dari sana.
Di ikuti oleh Lucy yang juga segera berjalan di belakangnya, "Alessia... Katakan pada Rita untuk membawakan sarapan pagi ke kamarku." Ucapnya sebelum Lucy berjalan mengikuti suaminya.
"Iya, nyonya." Jawab Alessia.
"Hei! Apa yang terjadi pada uncle Howard?" Tanya Emelie setelah Lucy dan Howard tidak lagi ada di ruang makan.
"Entah. Aku sendiri tidak tahu. Mungkin karena Daddy sakit kepala saat melihat ku." Jawab Alex.
"Benar." Jawab Alex dengan pasrah.
"Kenapa dengan ekspresi wajah mu? Kamu seperti anak kucing yang tersiram air."
"Apa tidak ada istilah lainnya untuk menggambarkan keadaan ku?!" Desis Alex sebal.
"Aku tidak memiliki waktu untuk itu." Jawab Emelie sesuai kembali memakan sarapan paginya.
"Kamu... Kenapa datang begitu pagi? Orang lain akan berfikir kamu datang hanya untuk bisa sarapan pagi di sini..."
Mendengar pertanyaan dari Alex tadi, Emelie tersenyum miring.
"Ha! Alex! Kamu memang memiliki mulut yang perlu pergi ke 'sekolah', aku akan dengan senang hati membantu memberinya 'pelajaran' bagaimana?" Ucapnya dengan sinis.
"Mulut kotor memang akan selalu seperti itu, Miss Emelie. Miss Emelie akan kesulitan untuk memberinya 'pelajaran'. Aka jauh lebih baik kalau Miss Emelie membiarkannya saja. Akan sangat di sayangkan jika waktu Miss Emelie yang begitu berharga hilang begitu saja karena harus mengurusinya." tambah Alessia. dia masih terlihat benar-benar kesal pada Alex.
"Ha ha ha... semuanya ini semakin menarik... Alex... kamu... Doomed!" Emelie tertawa puas
"Kenapa kalian berdua begitu kejam. Aku hanya bercanda. Sungguh..." ucap Alex. Dia benar-benar tidak menyangka dia akan di serang oleh dua wanita yang biasanya selalu berada di pihaknya.
__ADS_1
"Alex.. Cepat selesaikan sarapan mu. Kita harus segera berangkat lebih awal ke kantor mu! Aku perlu mempersiapkan diri dan semuanya agar aku bisa segera menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru ku." Alex hanya menganggukkan kepalanya. Dia sendiri juga sudah sangat ingin berangkat ke kantor. Melihat bagaimana Alessia yang sangat tidak ingin melihatnya ada di sana, membuatnya merasa sangat gelisah.
"Sepertinya kamu memiliki sesuatu yang harus di segera di selesaikan dengan Ale." ujar Emelie.
"Bukan apa-apa, Miss. saya tidak memiliki masalah apapun dengan lord Anderson." jawab Alessia.
Alex melihat ke arah Alessia yang sepertinya juga sama sekali tidak ingin melihatnya.
"Aku pasti akan menyelesaikannya dengan segera. tapi tidak sekarang ini. Kita terburu-buru untuk segera ke kantor." jawab Alex.
"Oh... Dari kata-kata mu itu, sepertinya kamu sedang membuat janji dengannya secara tidak langsung.X ujar Emelie. Dia tersenyum manis pada Alex, walaupun tatapan matanya begitu tajam padanya.
"Haissshh... Jangan mulai... Ayo kita berangkat sekarang saja!" Alex segera beranjak dari tempat duduknya. Kemudian menarik tangan Emelie untuk segera ikut pergi bersamanya.
"Jessy, Daddy dan aunty Emelie-mu berangkat kerja dulu." ucap Alex seraya mendaratkan ciumannya di pipi bulat putrinya.
"Iya, Daddy. hati-hati aunty." jawab Jessy.
"Pasti sayang..." jawab Emelie dengan begitu bersemangat.
Alex menatap Alessia yang masih terus memberikan sikap dingin padanya
"Saat aku pulang nanti... Aku harap kamu tidak lagi bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Aku tidak menyukainya... Dan ini menyebalkan... Hentikan sampai di sini. Apapun keinginan mu, aku akan memenuhinya. jadi, jangan bersikap seperti ini lagi. Mengerti?!" ucapnya pada Alessia.
"Wow! Alex! Apa itu ancaman?" tanya Emelie dengan ekspresi nakalnya.
Alex hanya menghela nafasnya dengan pasrah.
"Ha ha ha.. " Emelie tertawa geli, "Jangan terus menghela nafas mu seperti itu. kamu seperti grandma tetangga ku yang sudah sangat tua!"
Alex hanya merangkul pundak Emelie, dan kemudian menariknya agar segera ikut pergi bersamanya.
"Alex! jangan menarik ku!"
"Diam dan ikut saja!" jawab Alex yang masih terus merangkul Emelie dan membawanya agar segera pergi bersamanya.
"Wah! ini pemaksaan, Alex!".
"Bukan pemaksaan. Aku hanya sedang mencoba menarik mu." jawab Alex dengan sangat santai.
"F*ck! apa bedanya!" sungut Emelie seraya mencoba untuk membebaskan diri dari lengan kekar Alex. namun semuanya itu sama sekali tidak berhasil.
"Argh! sial!" kesal Emelie yang hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Alex.
.
__ADS_1
.