
.
.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan..." Jawab Emelie.
Alex menggerakkan tangannya membelai lembut pipi Emelie, "Emelie... Kamu benar-benar tidak tahu? Kamu benar-benar tidak tahu kalau Nick memaksa ku untuk menikahi mu?"
"Apa?! Dia memaksa mu untuk menikahiku?!"
Alex mengerutkan keningnya saat melihat reaksi Emelie tadi.
"Kamu benar-benar tidak tahu?" Tanya Alex seraya menarik tangannya dari pipi Emelie.
"I swear! I do not know anything about that thing!" Jawab Emelie
"Lalu, kenapa si brengsek itu memaksaku untuk segera menikahi mu. Dia bahkan mengancam ku akan membunuh ku jika aku tidak segera menikahimu." Emelie hanya mengangkat kedua bahunya. Dia sendiri tidak tahu alasan apa yang membuat Nick mengatakan hal itu pada Alex. Walaupun dia bisa menebak tentang alasan apa yang mungkin di miliki oleh Nick, dia juga tidak akan pernah mengatakannya pada Alex.
"Ha! Dia memang selalu saja membuat ku kesal! Dia meminta berbicara dengan ku secara pribadi... Aku pikir dia akan mengatakan tentang sesuatu yang sangat penting. Tapi dia justru hanya mengatakan hal seperti itu... Dia pikir..."
Emelie tersenyum kecut, melihat itu Alex menghentikan kata-katanya.
"Kenapa kamu memasang wajah seperti itu?" Tanya Alex khawatir.
"Tidak... Bukan apa-apa... Hany saja aku sedikit terkejut. Walaupun seharusnya tidak perlu..." Jawab Emelie.
"Apa maksudmu?"
Emelie kembali memperlihatkan senyum kecutnya, "Alex... Aku baru mengetahui sesuatu..." Jawab Emelie.
"Mengetahui sesuatu? Apa itu?"
"Ternyata pernikahan yang aku pikirkan selama ini adalah sesuatu yang sangat tidak penting bagi mu... Itu yang baru aku ketahui... Walaupun seharusnya aku sudah mengetahuinya sejak awal. Rasanya tetap mengejutkan... Bukankah aku seharusnya tidak seperti ini?" Alex terdiam.
Melihat ekspresi Emelie saat ini dia tidak tahu harus mengatakan apa. Terlebih kata-katanya sendiri tadi memang sangat jelas kalau dia mengatakan permintaan pernikahannya dengan Emelie adalah sesuatu yang sangat tidak penting baginya.
"Sudahlah... Apa kamu mengajak ku kemari hanya untuk membicarakan tentang ini?"
Alex menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
Kalau begitu aku akan kembali. Aku ingin segera pulang. Aku benar-benar lelah. Aku tidak ingin membahas tentang pernikahan lagi, tapi kamu memulainya... Tapi tenang saja. Aku tidak akan pernah membahasnya lagi. Ini sepertinya sudah cukup. Aku sudah benar-benar merasa lelah." Emelie berbalik, kemudian berjalan pergi dari sana tanpa melihat kebelakang lagi.
Sementara Alex masih berdiri di tempatnya sembari terus menatap punggung Emelie yang terus menjauh meninggalkannya.
Emelie sampai di ruang tamu, di sana dia hanya melihat Lucy dan Howard saja.
__ADS_1
"Emelie... Istirahat lah di kamar Jessy. Jessy dan Alessia juga sudah ada di sana menunggu mu." Ucap Lucy.
Emelie memaksakan senyumnya, "maf aunty. Aku tidak bisa. Aku harus pulang. Ada sesuatu yang harus aku urus dulu." Jawab Emelie yang terlihat begitu menyesal.
"Oh..." Lucy melirik ke arah belakang Emelie, dimana dia melihat putranya yang sedang berjalan dengan perlahan dan tampak begitu lesu.
"Pulanglah... Dan istirahat lah. Besok aku akan datang ke rumah mu bersama Jessy. Kami akan pergi ke salah satu butik yang ada searah dengan kediaman mu. Jadi, kita bisa ke sana bersama... Kamu akan sangat senang untuk membantu Jessy memilih pakaian baru, kan?" Lucy tersenyum ramah pada Emelie.
Entah bagaimana Lucy sepertinya tahu kalau ada sesuatu yang terjadi antara Emelie dan putranya.
'putraku yang 'terlalu pintar' itu pasti sudah melakukan sesuatu yang luar biasa!' Geram Lucy dalam hatinya.
"Iya aunty. Kalau begitu, aku pulang dulu." Tanpa mengatakan apapun lagi, Emelie berjalan keluar dari rumah keluarga Anderson, dengan tas miliknya di tangannya.
Setelah beberapa saat, terdengar suara mesin mobil yang menyala, dan kemudian bergerak pergi dari sana.
"Putraku yang tampan... Apa yang sudah kamu lakukan, huh?!" Lucy bercak pinggang dan menatap putranya dengan tajam
"Tidak ada, mom. Hanya saja... " Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hanya saja apa?" Tanya Howard yang juga sangat ingin tahu.
"Aku sepertinya melakukan kesalahan."
"Bukankah kamu selalu melakukan kesalahan dengan otak kecil mu itu, huh?!" Melihat Lucy yang begitu marah, Alex hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah, dan kemudian dia menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.
"Itu karena aku putra mommy..." Jawab Alex.
"Kamu benar-benar putraku!!!"
Lucy kembali duduk dengan kesal pada putranya itu.
Sementara Howard, dia memilih menikmati teh miliknya daripada harus menanggapi kelakuan putranya yang selalu seperti itu jika menyangkut tentang hal lain selain pekerjaan. Terlebih dia tahu kalau istrinya akan dengan senang hati menyelesaikan semuanya dengan sangat baik.
"Baguslah... Dengan begini Emelie tidak perlu lagi repot-repot datang kemari untuk meminta mu menikahinya. Aku yakin kali ini dia benar-benar serius. Aku lega... Karena dia tidak perlu hidup menderita dengan pria bodoh seperti mu yang sama sekali tidak tahu cara menghargai perasaan wanita! Baguslah dia tidak perlu mati hanya karena mu!"
"Mommy... Itu terlalu kejam!"
"Tidak! Tidak sama sekali! Itu karena kamu memang seperti itu. Akan jauh lebih baik kalau kamu tidak perlu memberikan harapan palsu yang hanya akan membuat seseorang memiliki harapan itu! Itu bagus untuk Emelie. Dia mungkin kini merasa sedih. Tapi itu jauh lebih baik, daripada dia akan jauh lebih menderita dari apa yang dia rasakan saat ini setelah dia menikahi pria yang hanya membawa nasib buruk bagi wanita yang rela mendampingi mu!" Ucap Lucy lagi masih dengan nada sinisnya seperti yang sebelumnya.
"Momm... Ini benar-benar keterlaluan..." Alex menahan air matanya yang sudah hampir keluar dari matanya
"Itu adalah kejujuran tentang dirimu sendiri Alex! Jadi, sepahit apapun... Kamu hanya perlu menerimanya!" Lucy beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan pergi ke kamarnya.
Sementara Alex, dia masih berdiri di tempatnya, menggenggam tangannya sendiri dengan sangat erat.
__ADS_1
"Menyakitkan, bukan?" Ucap Howard setelah meletakkan cangkir kembali ke meja.
"Pria seperti kita harus bisa menelan ucapan pedas dan pahit seperti itu. Karena dengan itu, kita menjadi kuat seperti baja!" Ucapnya.
"Tapi... Apa yang mommy katakan terlalu kejam." Jawab Alex.
"Kejam? Kamu pikir itu kejam?" Howard tersenyum lebar pada putranya, "di mana-mana... Kebenaran selalu kejam! Itulah kenapa orang-orang memilih berbohong... Membohongi diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka. Hanya karena mereka takut akan kebenaran tentang diri mereka sendiri... Apa kamu termasuk orang-orang yang seperti itu?" Alex menggelengkan kepalanya.
"Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya... Masa lalu mu... Adalah sesuatu yang kamu buat karena kesalahan mu sendiri... Tidak ada orang lain yang memaksamu untuk melakukan hal seperti itu. Bahkan jika orang lain meminta mu berhenti, kamu juga tidak akan pernah mendengarkan mereka... Kamu hanya terus menerus melakukan apapun yang kamu inginkan. Sampai kamu menyadari sendiri, jika semuanya itu salah. Tapi... Walaupun kamu menyadarinya, semuanya itu sudah terjadi... Itu adalah sesuatu yang harus kamu pertanggungjawabkan sampai akhir kehidupan mu. Di mana hal itu akan terus menjadi duri di hati mu, dan kehidupan mu... Itu adalah jalan yang kamu pilih sendiri, Alex. Inilah kehidupan mu yang kamu pilih sendiri..."
Alex tidak bisa mengatakan apapun lagi setelah mendengar apa yang ayahnya katakan padanya.
Rasanya dadanya begitu sesak, sampai membuatnya kesulitan hanya untuk sekedar bernafas.
Howard beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan mendekati putranya.
Tappp!
Howard menepuk pundak putranya.
"Jangan di pikirkan lagi. Setiap kesalahan yang kamu lakukan bukan sesuatu yang harus kamu sesali. Itu hanyalah salah satu cara Tuhan memberikan mu kesempatan untuk memperbaiki diri. Mungkin ucapan ibumu barusan memang terlalu kejam. Tapi, seorang pria tidak akan pernah sakit hati hanya karena hal seperti itu." Ucapnya.
Howard mengusap lembut rambut putranya, "kamu sudah besar Alex. Kamu adalah kebanggaan ku. Entah seperti apapun kamu, kamu adalah darah dan daging ku. Aku tidak pernah menyesal karena memiliki putra seperti mu. Aku justru sangat bangga, karena aku memiliki putra yang mampu mempertanggungjawabkan semua perbuatan mu, dan berubah menjadi seseorang yang jauh lebih baik dan sangat membanggakan... Semuanya butuh proses dan waktu... Aku tidak terlalu terburu-buru untuk itu. Aku memiliki keyakinan yang tinggi padamu, Alex. Jika kamu akan menjadi seseorang yang sangat luar biasa nantinya... Keyakinan ku tidak pernah membohongi ku selama ini."
Howard tersenyum lebar pada putranya yang kini sesenggukan dalam pelukannya.
"Haissshh... Kamu sudah jauh lebih tinggi dariku. Tapi kamu masih menangis seperti ini... Kamu mengalahkan Jessy untuk hal ini..." Ucap Howard dengan tawa kecilnya.
Howard menepuk punggung putranya dengan lembut.
"Istirahatlah! Kamu akan lebih baik setelah menenangkan diri." Howard kembali menepuk pundak putranya.
Tappp!
"Jangan sampai sakit. Pekerjaan di kantor tidak boleh sampai di lewatkan! Sudah cukup liburannya. Sekarang sudah saatnya kembali bekerja dan mengumpulkan banyak uang. Kerja! kerja! kerja! itu adalah tugas mu di kehidupan ini. Menghasilkan banyak uang untuk kami. Paham?!"
"Daddy... Bisa-bisanya membahas tentang pekerjaan di saat-saat seperti ini!" Sungut Alex
"Karena kamu ada di keluarga ini tepatnya adalah untuk menghasilkan banyak uang untuk kami. Dengan begitu kami bisa hidup enak dengan banyak harta, tanpa perlu repot-repot bekerja. Bukan begitu?" Howard tersenyum lebar pada putranya yang kini menatapnya dengan malas.
"Cepat kembali ke kamar mu! Aku juga akan ke kamar ku untuk menenangkan ibumu yang sudah pasti sedang meledak-ledak ingin membunuh mu..." Dengan begitu santainya Howard berjalan ke kamarnya. Sementara Alex masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
"Mommy... Daddy... Kalian berdua memang luar biasa! Aku sampai tidak bisa berkata-kata..."
.
__ADS_1
.