
.
.
"Istriku?" Alex menunjuk pada dirinya sendiri, "kamu mabuk?"
"Sebenarnya saat ini aku bukan istrinya. Tapi sebentar lagi aku akan menjadi istrinya." Ucap Emelie.
"Emelie!"
"Kenapa Alex? Bukankah aku bilang kalau aku ingin menikah dengan mu?"
Alex tidak tahu harus mengatakan apa. Melihat ekspresi wajah Emelie sudah sangat jelas kalau dia tidak akan bisa bernegosiasi dengan nya sama sekali.
Di tambah lagi dengan ekspresi wajah Nick yang seakan-akan sedang melihat bagaimana buruknya dirinya itu.
"Tidak apa-apa kalau kamu menikah lagi. Aku yakin kamu tidak sanggup untuk tidur sendirian. Mengingat kamu bahkan berganti pasangan bisa dua kali dalam semalam..." Ucap Nick sarkis. Dia bahkan tidak peduli dengan Lucy dan Howard yang ada di sana.
"Cukup Nick!" Desis Alex seraya mengepalkan tangannya dengan kuat, "Maki aku sepuasmu... Tapi tidak di depan Jessy! Aku hanya ingin terlihat baik di hadapannya... Tolong mengertilah!"
"Fine! Lagi pula aku kemari juga bukan untuk memakimu. Aku kemari karena Jessy-ku ini ingin mengajak ku pergi ke pantai..." Jawab Nick yang sama sekali tidak peduli dengan tatapan kemarahan Alex
"Oh... Dia pengasuh Jessy yang baru?" Tanya Nick saat dia melihat Alessia.
"Dia sedikit mirip dengan Eliza, kan?" Ucapnya lagi.
"Dia Alessia, pengasuh baru Jessy, karena pengasuh lamanya melahirkan. Dan ya! Kamu benar. Dia sedikit mirip Eliza. Hanya saja Eliza adalah gadis yang sangat kuat dan berani. Tidak ada satupun yang bisa menyamainya." Jawab Lucy dengan tegas.
Mendengar itu Nick tersenyum miring.
"Nyonya Anderson benar... Tapi sayangnya karena seseorang gadis itu harus pergi selamanya..."
"Cukup Nick Petrovic!!!" Teriak Alex keras, itu membuat Jessy sangat ketakutan. Itu kali pertamanya dia melihat Alex yang sangat marah, "jangan lagi... Please..."
"Kalian... Kekanakan!" Desis Emelie, "tuan Nick Petrovic... Akan jauh lebih baik kalau kamu tidak perlu membahas masa lalu. Terlebih di depan Jessy. Walaupun aku tahu benar bagaimana perasaan mu yang sangat membenci keluarga ini. Tolong kendalikan kebencian mu itu sementara ini saja. Dan untuk Alex..." Emelie menghela nafasnya.
"Jessy... Sepertinya daddy-mu ini sangat kelelahan. Dia sakit kepala, itu sebabnya dia berteriak karena kesakitan... Jessy jangan khawatir, okay?"
Emelie tersenyum manis pada Jessy yang kini sudah tidak lagi ketakutan seperti tadi.
"Daddy cakit?" Tanya Jessy yang kini terlihat khawatir padanya.
Alex tidak menjawabnya. Dia tidak tahu harus bagaimana saat ini menghadapi putri kecilnya yang ketakutan setelah melihat dirinya yang seperti itu.
"Daddy-mu akan baik-baik saj setelah minum obat. Jadi... Biarkan aunty Emelie memberikan dia obat, okay?" Jessy menganggukkan kepalanya.
Melihat itu, Emelie beranjak dari tempat duduknya. Dia menggenggam tangan Alex untuk mengikuti nya, "ayo cuci wajah mu dulu. Itu akan sedikit menyegarkan otak mu yang dangkal itu." Bisiknya dengan geram.
__ADS_1
Emelie menarik tangan Alex agar segera ikut pergi dengannya ke kamar mandi.
Walaupun tidak ingin, pada akhirnya mau tidak mau, Alex mengikuti langkah kaki Emelie yang membawanya ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Lucy dan Howard menatap Nick yang masih menggendong Jessy.
Sementara Alessia, dia tidak tahu harus bagaimana. Dia terjebak dalam masalah keluarga besar yang sangat rumit. Dan dia tidak memiliki jalan untuk tidak berada di sana.
'mereka benar-benar mengerikan...' ucapnya dalam hatinya.
"Kebencian mu pada kami, kapan akan berakhir?" tanya Lucy dengan begitu tenang.
"Aku sama sekali tidak membenci kalian... Hanya saja aku masih tidak bisa menerima kalian." jawab Nick tanpa melihat ke arah Lucy.
"Tolong hentikan saat ini juga... bukan untuk kami. Tapi demi Jessy. Tolong biarkan dia tahu kalau kamu tidak pernah membenci kami. Kami tidak ingin dia memiliki banyak pertanyaan tentang itu." kali ini Howard membuka mulutnya.
"Sudah aku bilang tadi, aku tidak pernah membenci kalian." jawab Nick yang juga masih dengan keras kepalanya.
"Tapi aku senang... karena kalian memiliki seseorang pengasuh Jessy yang sepertinya sangat menyayanginya..." Nick Petrovic tersenyum simpul pada Lucy dan Howard.
Melihat itu Lucy menghembuskan nafasnya dengan kasar, "kamu benar-benar membuat kami terus merasa bersalah..." ucapnya.
"Bukankah itu bagus... Anggap saja itu sebagai hukuman untuk kalian atas apa yang sudah kalian perbuat. Dengan memaksa seorang gadis lemah hanya demi keinginan kalian..."
"walaupun begitu... kami tidak pernah menyesalinya... Dan kami juga berterimakasih padamu untuk itu."
.
.
Di kamar mandi.
Bamm!
Emelie mendorong Alex dengan keras sampai punggung Alex membentur pintu kamar mandi.
"Apa sekarang kamu sudah bisa berfikir dengan jernih?!" Geram Emelie.
"Dia terus memprovokasi ku!"
"Aku... Bukankah aku juga terus memprovokasi mu? Kenapa kamu tidak marah padaku? Kamu bisa bertahan. Kenapa sekarang kamu tidak bisa?!" Emelie menahan pundak Alex dengan keras.
"Dengar Alex! Tujuan ku hanya ada satu, bukan? Ingin menjadi ayah terbaik di dunia! Jadi, jangan biarkan siapapun merusaknya! Termasuk Nick Petrovic yang terus sangat membencimu itu! Karena aku juga akan sangat membencimu jika aku berada di posisinya! Walaupun semua ini karena takdir... Tetap saja, aku akan berfikir karena dirimu-lah, Eliza mati!"
Emelie mengusap lembut pipi Alex, dia menatapnya dengan tajam.
"Jangan lagi terpancing ucapan Nick Petrovic atau siapapun! Tetap tunjukkan di hadapan Jessy, kalau kamu adalah ayah terbaik di dunia yang akan selalu bersikap lembut dan penuh senyuman kasih sayang! Paham?!"
__ADS_1
Emelie melihat air mata Alex yang mulai turun membasahi pipinya.
"Idiot!" Gerutu Emelie seraya menarik Alex masuk ke dalam pelukannya. Dia mengusap lembut punggung Alex untuk menenangkannya.
"Jangan khawatir. Jessy tidak akan membencimu hanya karena itu. Terlebih dia tahu kalau kamu sedang sakit. Dia akan memahaminya..." Ucap Emelie dengan lembut.
Mendengar itu Alex mengeratkan pelukannya, dia juga terus terisak dalam dekapan hangat Emelie yang perlahan-lahan menenangkannya.
Setelah beberapa saat, Alex sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Di mencuci wajahnya. Dan mengeringkannya dengan handuk bersih yang Emelie berikan padanya.
"Sudah lebih baik, honey?" Tanya Emelie dengan nada menggodanya.
"Mm... Thanks!"
"Then... Kiss."
Alex tersenyum melihat Emelie yang menyentuh pipi kanannya, agar Alex mendaratkan ciumannya di sana.
Cup!
Alex mendaratkan ciumannya di bibir Emelie sekilas. Itu membuat Emelie terbengong-bengong karena terkejut.
"Itu untuk bayaran menenangkan ku." Ucap Alex seraya menggenggam tangan Emelie, "ayo kita kembali. Jessy pasti sudah menunggu kita." Ajaknya.
"Tunggu! Kamu sudah mencium bibir ku. Lalu, bagaimana dengan nanti malam?"
"Entah... Mungkin tidak ada." Jawab Alex dengan begitu santainya seraya mulai melangkahkan kakinya menuju kembali ke ruang makan.
Melihat itu Emelie tertawa kecil, "Alex... Sepertinya aku mulai menyukai mu." Ucapnya.
"Aku bilang juga apa... Ketampanan ku ini tidak ada satupun yang bisa menyangkalnya..." Jawab Alex dengan menyombongkan dirinya.
Mendengar itu Emelie menatapnya dengan malas.
"Idiot ini benar-benar tidak bisa di kasih hati!"
"Kalau begitu, baru aku jantung...."
Emelie menggeleng-gelengkan kepalanya, dia melepaskan tangan Alex untuk berjalan mendahului Alex, dia tidak tahan mendengar ucapan Alex yang terasa menggangu telinganya.
"Hei Emelie... Tunggu!"
..
..
__ADS_1