Oh My Lord

Oh My Lord
season 2~ 37


__ADS_3

.


.


"Emelie... Kamu suka ruangan mu? Aku menatanya sendiri. Katakan saja kalau kamu membutuhkan sesuatu lagi." ucap James.


Dia tersenyum tersipu di hadapan Emelie yang kini sedang melihat-lihat ruangan kerjanya di kantor Alex.


"Bagus." jawab Emelie singkat.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya..."


"Kalau begitu, apa yang harus aku kerjakan sekarang?"


Walaupun tampak ragu, James segera memberi tahu apa yang harus Emelie kerjakan di sana.


"Kamu, tidak mempercayai ku? Kamu meragukan kemampuan ku?" tanya Emelie.


James segera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat


"No way!"


"Lalu, kenapa kamu terlihat ragu?"


"Bukan karena aku tidak mempercayai mu, apa lagi meragukan kemampuan mu. Aku hanya berfikir kalau kamu tidak harus bekerja hari ini." jelas James.


"Oh... Aku pikir kamu tidak menyukai ku."


"Mana mungkin! Bagaimana bisa aku tidak menyukai mu... Orang bodoh mana yang tidak menyukai mu?!" Mendengar itu Emelie tersenyum kecut, "ada banyak orang yang tidak menyukai ku. mereka bahkan tidak segan-segan akan memberikan racun padaku. Kamu percaya?" Emelie tersenyum lebar. Namun dia melihat James yang terlihat pucat.


"Apa kamu serius? Orang gila mana yang begitu idiot sampai meracuni mu?!" geram James.


"Lupakan! Itu hanya sebuah 'cerita lama' dan aku sudah sama sekali tidak perduli... Dan aku juga tidak peduli jika orang lain menyukai ku, atau membenci ku. aku tidak memiliki waktu untuk menanggapi mereka semua. Waktu ku amat sangat berharga jika harus di buang percuma hanya untuk mereka... Bukan begitu?"


James tersenyum manis seraya menganggukkan kepalanya, "benar. Omongan orang lain perlu di ingat jika itu penting. jika itu hanyalah sampah... maka untuk apa repot-repot mengingatnya..." jawabnya.


Emelie dan James salinh tersenyum manis satu sama lain.


"Sudahlah! aku mau mulai pekerjaan ku. Okay?"


"Mm! Fighting!" James tersenyum lebar dengan penuh semangat. Setelah itu dia berjalan keluar dari ruangan baru Emelie


"Pria yang begitu bersemangat..." gumamnya


.


.


Siang harinya.

__ADS_1


"Hmm... Apa?" Emelie mendongakkan kepalanya melihat Alex yang tengah berdiri di sebelahnya.


Emelie saat ini sedang duduk di ruangan kerjanya.


"Bagaimana ruangan ini?" Tanya Alex.


"Biasa saja. Sama seperti ruangan yang lainnya... Ruangan kerja bukankah selalu seperti ini? Atau ruangan lainnya ada restoran di dalamnya? Atau ada bioskop di dalamnya?"


"Jangan bercanda!" Alex menarik telinga Emelie dengan gemas.


"Sakit, Alex!" Sungutnya.


"James menyiapkan semuanya ini. Sepertinya dia sangat menyukai mu."


"Lalu? Apa aku harus mengucapkan terimakasih padanya? Atau aku harus memberikan ciuman padanya?" Tanya Emelie yang sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan itu. Dia terus sibuk memeriksa tumpukan file yang ada di meja kerjanya.


"Kita makan di rumah bersama nanti. Kamu yang mentraktirnya. Bagaimana?"


"Alex... Bukankah itu kebalik? Seharusnya aku yang di traktir kalian sebagai anggota baru yang akan bekerja sama dengan kalian. Kenapa juga aku yang harus mengeluarkan uang?" Emelie menatap jengah pada Alex yang hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku tidak ingin makan dengan siapapun malam ini. Aku harus segera kembali ke rumah. Karena papa akan makan malam dengan ku malam ini." Ucap Emelie.


"Tumben? Biasanya paman Kenn tidak akan pernah pulang cepat, apa lagi hanya untuk sekedar makan malam bersama mu."


"Itu karena hari ini adalah hari ulang tahunnya... Dia berjanji akan makan malam dengan ku." Jawab Emelie.


Emelie menganggukkan kepalanya, "mm... Aku juga sudah membelikan jam tangan mahal untuknya sebagai hadiah untuk ulang tahunnya yang ke empat puluh lima tahun ini."


"Empat puluh lima tahun? Itu berarti paman Kenn masih muda saat dia memiliki anak..."


Emelie tersenyum lebar, "sama seperti mu, Alex. Saat putrimu berusia dua puluh tahun, kamu akan berusia 43 tahun-an." Jawabnya.


Emelie kembali memfokuskan diri pada pekerjaan nya. Dia tidak lagi memperdulikan Alex yang masih berdiri di sebelahnya.


"Emelie... Apa kamu tidak mengundang kami dalam acara keluarga mu?"


Emelie menggeleng-gelengkan kepalanya, "papa bilang kalau dia terlalu tua untuk mengadakan acara ulang tahun. Dia bukan anak berusia lima tahun seperti Jessy. Jadi, dia tidak akan mengadakan acara kekanakan semacam itu." Jawabnya yang terus fokus pada pekerjaannya.


"Kalau begitu... Aku akan menitipkan sesuatu padamu untuknya nanti. Aku tidak enak saat mendengar kalau paman Kenn berulang tahun hari ini. Apa tidak apa-apa?"


Emelie menganggukkan kepalanya, "okay! Aku akan memberikannya padanya nanti. Dia pasti akan sangat senang. Mengingat dia sangat memiliki tanggapan buruk padamu."


Alex tertawa kecil, "ha... Aku sudah sangat terbiasa dengan itu. Aku tidak khawatir atau merasa bagaimana... Karena itu sesuatu yang sangat tidak perlu di permasalahkan. Tapi karena itu, aku merasa sangat senang. Setidaknya aku merasa sangat terkenal karena tanggapan mereka itu padaku." Jawab Alex.


"Tsk! Dasar aneh!"


Emelie masih terus fokus pada pekerjaannya, walaupun Alex masih saja terus berdiri di sebelahnya dan terus mengajaknya berbicara.


"Emelie... Menurut mu apa yang harus aku belikan untuk paman Kenn?"

__ADS_1


"Boss..." Emelie beranjak dari tempat duduknya. Dia juga segera mengalungkan tangannya di leher Alex.


"A-a-apa yang kamu la-la-kukan?" Tanya Alex terkejut.


"Menurut mu?" Emelie tersenyum menyeringai sebelum dirinya mendaratkan bibirnya di bibir Alex.


Sekilas saja, Emelie melepaskan ciumannya. Tatapan matanya masih terus tertuju pada Alex yang masih dalam pelukannya.


"Bukankah ini yang kamu inginkan?"


"Huh?" Alex tampak sangat kebingungan


"Kamu terus menerus berada di sini dan mengganggu ku bekerja. Bukankah kamu ingin mendapatkan ciuman dariku?" Jawab Emelie dengan senyuman menyeringainya.


Mendengar itu Alex tertawa geli.


"Ya ampun... Ha ha ha..."


"Kenapa kamu tertawa, huh?!" Kesal Emelie seraya melepaskan pelukannya dan kembali duduk di kursi kerjanya.


"Aku hanya tidak ingin kamu kesepian." Ucap Alex setelah dia menghentikan tawanya.


"Kesepian? Aku bahkan tidak tahu apa itu..." Jawab Emelie.


"Huh?" Lagi-lagi Alex terlihat begitu kebingungan.


Emelie tersenyum lebar, "lupakan! Sekarang aku mau bekerja! Jadi, kembalilah ke ruangan mu. Biarkan aku menyelesaikan semua pekerjaan ku ini. Aku tidak mau di ganggu!" Emelie mendorong dada bidang Alex agar segera pergi dari ruangannya.


"Sekarang sudah jam makan siang, Emelie. Kita makan dulu."


"Oh? Sudah kah?" Emelie melihat jam tangannya, "serius... Aku merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Bagaimana bisa aku baru menyadarinya jika saat ini sudah tengah hari. Sepertinya aku akan cepat tua..."


"Ha ha ha..." Alex menarik tangan Emelie agar segera beranjak dari tempat duduknya, "ayo makan siang dulu!" Ajaknya.


"Ya ya ya..." Jawab Emelie dengan pasrah.


Dia mengikuti langkah kaki Alex yang membawanya berjalan keluar dari ruangannya.


"Oh? Ale? Jessy?" Emelie tidak menyangka akan melihat Alessia dan Jessy akan ada di kantor, "kalian di sini?" Tanya Emelie seraya berjalan mendekati mereka berdua


"Miss Jessy... Dia ingin bertemu dengan tuan muda." Jawab Alessia.


"Jessy?" Emelie menatap Alessia yang saat ini sedang mengarahkan pandangannya pada Alex.


'dia... Tidak mengunakan Jessy untuk kepentingan dirinya sendiri, kan?'


.


.

__ADS_1


__ADS_2