
.
.
Keesokan harinya.
"Sudah mau berangkat?" Tanya Lucy pada putranya yang sudah rapi dan bersiap untuk pergi ke kantor.
"Iya mom. Ini sudah siang." Jawab Alex seraya merapikan dasinya.
Lucy melihat jam dinding mewah yang ada di rumahnya, "ini masih pagi.." ujarnya.
"Memang, tapi aku memiliki janji dengan Mr. Brenoct untuk sarapan pagi bersama sembari membicarakan tentang pekerjaan." Jawab Alex.
"Oh..." Ucap Lucy singkat seraya menyesap teh paginya.
"Di mana Jessy, mom?"
"Jessy sedang mandi bersama Alessia. Kami akan pergi bersama Emelie sebentar lagi. Kami juga sangat sibuk." Jawab Lucy dengan acuh. Dia masih kesal pada putranya yang membuatnya nantinya akan tidak nyaman saat bersamaan Emelie.
"Bersenang-senang lah. Jessy akan sangat menyukainya. Dia sangat menyukai Emelie..." Ucap Alex.
"Kalau memang dia menyukainya, kenapa kamu tidak menikahinya?!" Desis Lucy dengan malas.
Alex hanya tersenyum datar, "dia baik, dan Jessy menyukainya. Tapi bukan berarti aku bisa menikahinya." Jawab Alex, "seperti yang mommy katakan semalam. Aku terlalu takut... Takut kalau aku memang membawa nasib buruk bagi siapapun wanita baik hati yang tulus menyayangi ku. Aku takut... Sangat takut kalau dia akan berakhir sama seperti Eliza..." Suara Alex melemah, "aku takut dia juga akan meninggalkan ku seperti Eliza meninggalkan ku. Aku sangat takut hanya dengan membayangkan saja."
Lucy menatap putranya yang sedang tersenyum pahit.
"Itu mungkin adalah takdir mu. Itu sebabnya kehidupan mu memang sangat miris seperti ini. Kebahagiaan yang kamu dapatkan sepertinya benar-benar terbatas!" Jawab Lucy masih dengan keras hatinya.
"Mommy benar. Mungkin karena kesalahan mommy juga. Mommy terlalu menyayangi ku..."
"Sudahlah! Ini masih pagi! Jangan membicarakan tentang hal melankolis seperti ini! Menyebalkan!" Desis Lucy seraya beranjak dari tempat duduknya.
Dia berjalan mendekati Alex yang berdiri tidak jauh darinya, "bicara dengan Emelie baik-baik. Dia juga tidak pernah memaksa mu untuk menikahinya. Dia hanya ingin kamu menikahinya, hanya karena Jessy. Bukan karena dia menyukai mu atau semacamnya. Dia juga sama sekali tidak menginginkan harta kekayaan kita yang hampir sama dengan kekayaan yang keluarganya miliki... Keluarganya sendiri sudah sangat ternama tanpa mendompleng nama keluarga kita. Jadi, dia sama sekali bukan tipe orang yang gila kejayaan. Aku rasa dia memiliki alasan kenapa dia sangat ingin menjadi ibu dari Jessy. Entah apa alasannya... Yang jelas sepertinya itu bukan sekedar alasan biasa." Alex menganggukkan kepalanya mendengarkan apa yang ibunya katakan padanya.
"Aku tahu, mom." Jawab Alex, "dia bukan tipe orang seperti itu. Dia benar-benar tulus karena ingin menjadi ibu dari Jessy kita. Tapi, Karena itulah aku tidak bisa menikahinya. Aku tidak mau menikah dengan alasan semacam itu. Walaupun benar aku ingin menikahi lagi, aku ingin menikahinya yang mencintai ku, dan aku juga mencintainya... Aku tidak mau sesuatu yang buruk terulang kembali..." Lucy menghela nafasnya.
"Sudahlah! Berangkat sekarang! Nanti kamu akan terlambat..." Lucy menepuk pundak putranya, "jangan pikirkan tentang hal itu dulu. Emelie juga sangat memahami mu. Hanya saja... Aku pikir dia memiliki masalah dengan..." Lucy menyentuh kepalanya sendiri, "otaknya... Atau emosinya? Tatapan matanya terkadang berapi-api penuh kemarahan, tapi juga sangat sering terlihat penuh kesedihan... Dia sangat tidak stabil..."
"Itu karena dia pernah mengalami depresi berat yang mengakibatkan dirinya harus di rawat di rumah sakit jiwa..." Jawab Alex dengan begitu saja
"Huh? Emelie pernah di rawat di rumah sakit jiwa?" Lucy baru pertama kali mendengar berita seperti itu. Itu sangat mengejutkannya.
Alex tersenyum kaku, dia lupa untuk tidak mengatakan hal itu pada siapapun. Walaupun dia tidak berjanji pada Emelie, namun hal itu adalah sebuah rahasia keluarga Emelie yang di simpan begitu rapat tanpa di ketahui oleh siapapun. Dia sendiri juga tidak pernah mendengar berita itu, dan sama sekali tidak mengetahui nya, jika saja Emelie tidak menceritakannya padanya.
"Jelaskan Alex!"
"Mom... Aku hanya bercanda..." Alex memaksakan senyum lebarnya. Dia tahu kalau ibunya akan sangat sulit untuk di bohongi. Tapi dia juga tidak ingin menjelaskannya padanya saat ini.
"Mommy... Aku sudah terlambat!" Alex mendaratkan ciuman di pipi Lucy sebelum dia berlari dengan sangat cepat keluar dari rumahnya.
"Dia sangat mencurigakan!"
"hah! Hah!" Alex terengah-engah setelah berlari dengan cepat sampai ke depan rumahnya.
Alex menyandarkan tubuhnya pada mobilnya untuk mengatur nafasnya.
"Aku berkeringat!" Desisnya seraya mengusap dahinya dengan telapak tangannya.
"Alex..."
"Uh?" Alex terkejut saat melihat Emelie yang baru saja keluar dari mobilnya. Dengan dress berwarna biru langit yang begitu pas di tubuhnya, dan makeup flawless yang membuat wajah cantiknya terlihat semakin cantik. Rambutnya terurai indah, di tambah tas mahal yang tergantung di pundaknya, Juga high heels branded yang membuatnya terlihat benar-benar sempurna.
"Emelie... Kapan kamu sampai?"
__ADS_1
Mobil Emelie terparkir tepat di sebelah mobil Alex, namun dia sama sekali tidak menyadarinya.
"Kenapa kamu seperti itu? Kamu baru saja mencuri sesuatu?" Emelie tertawa geli.
"Jangan sembarang!" Sungut Alex. Dia menatap wajah cantik Emelie yang sudah sangat berubah dari yang dia lihat kemarin.
"Kamu di sini? Bukankah seharusnya mommy dan Jessy yang datang ke rumah mu?"
"Why not?"
Jawab Emelie seraya mengangkat kedua bahunya.
"Emelie... Sorry. Untuk apa yang aku katakan padamu kemarin..." Ucap Alex dengan begitu menyesal.
"Hanya itu?"
"Uh? Apa maksudmu?"
"Hanya permintaan maaf yang kamu katakan?"
"Memangnya apa yang kamu inginkan?"
Emelie bergerak mendekati Alex, dia mengurung Alex yang sedang bersandar di ke body mobil dengan kedua lengannya.
"Apa yang kamu lakukan, Emelie?!"
"Berlutut di hadapan ku! Dan cium sepatuku!" Emelie tersenyum menyeringai pada Alex yang terlihat sangat terkejut sampai dia menganga lebar.
"Hurry! Kneel down!"
"Kamu serius?" Tanya Alex dengan tatapan yang terlihat tidak percaya dengan apa yang Emelie katakan itu, "kamu hanya bercanda, kan?"
"Kamu pikir aku bercanda?" Emelie mencengkeram kuat rahang bawah Alex, "kamu pikir aku menyayangi mu hanya karena aku menceritakan kehidupan pahit ku padamu?" Emelie tersenyum miring, "jangan mimpi Alex! Pria seperti mu ini, sama sekali tidak pantas untuk di sayangi... sangat tidak pantas!"
"Jangan kembali seperti itu lagi... Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Tersenyumlah seperti biasanya. Permainkan aku sesukamu... Bully aku sesukamu, asalkan setelah itu kamu bisa tersenyum lebar dan lepas... Jangan seperti ini. Aku mohon..." Alex mengusap lembut rambut panjang Emelie yang menutupi bagian punggungnya.
"Kamu pasti sangat kecewa padaku, kan?"
Emelie hanya mengeratkan pelukannya. Dia juga semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Alex yang harum dengan parfum maskulin favoritnya.
"Mommy sedang duduk di ruang tengah. Dia sedang menikmati teh paginya...".
"Aku datang untuk menemui mu." Jawab Emelie yang masih terus memeluk Alex.
"Menemui ku?"
Emelie melepaskan pelukannya. Dia mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Alex yang berada tepat di hadapannya.
"Apa tidak boleh?"
"Bukan begitu. Hanya saja terasa aneh... Kamu tidak pernah datang kemari untuk menemui ku. Kamu selalu ingin menemui Jessy. Itu sebabnya aku bertanya..." Jelas Alex.
"Oh... Benar juga." Alex tertawa geli melihat ekspresi Emelie tadi, "Sebenarnya aku juga ingin menemui Jessy. Tapi setelah aku berbicara dengan mu." Jawab Emilie.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku?"
"Aku ingin mengatakan padamu kalau aku tidak akan menyerah untuk menikah dengan mu."
"Hanya itu?"
"Uh? Kamu tidak kesal?" Alex menggelengkan kepalanya seraya menangkup wajah cantik Emelie dengan tangannya, "aku tidak kesal. Itu menyenangkan. Rasanya menyenangkan saat ada wanita yang begitu terobsesi pada mu untuk bisa menikah dengan mu. Tapi bukan karena dirimu, melainkan karena putrimu... Seperti itu rasanya." Jawab Alex. Dia tertawa geli dan membuat Emelie juga ikut tertawa.
"Benar juga. Kalau di pikir-pikir... Aku sepertinya memang gila. Sepertinya aku benar-benar harus menemui psikiater..." Alex menganggukkan kepalanya dengan cepat..
"Benar. Trauma mu harus di sembuhkan. Aku sudah beberapa kali hampir di bunuh olehmu karena emosi mu yang tidak stabil..." Jawab Alex seraya memegangi lehernya yang pernah di cekik dengan keras oleh Emelie saat itu.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sangat senang kalau memang kamu mati. Aku tidak perlu repot-repot untuk menikah dengan mu. Aku hanya perlu meminta aunty Lucy untuk mengadopsi ku. Atau mengadopsi Jessy menjadi anak ku. Itu akan jauh lebih mudah..." Melihat Emelie yang sudah kembali mempermainkannya dengan kata-katanya membuat Alex merasa sangat lega.
"Miss Emelie Kiran Brods... Kendalikan dirimu." Jawab Alex dengan tawa kecilnya.
"Mulai besok, bekerja di perusahaan ku. Bantu aku dengan pekerjaan ku. Aku benar-benar menjadi sapi perah bagi keluarga ku..."
"Ha ha ha ha... Kamu memang pantas mendapatkannya!" Emelie menepuk pundak Alex, "dia mendekatkan wajahnya pada wajah Alex, dia juga mengalungkan tangannya di lehernya.
"Aku akan bekerja sebagai sekretaris mu mulai besok... Jadi, ingat untuk mengurus gajiku. Aku tidak terima gaji dengan nominal yang hanya beberapa digit..." Ucapnya seraya semakin mendekatkan wajahnya pada Alex.
"Berapa banyak yang kamu inginkan?"
"Sebanyak yang kamu pikirkan..." Jawab Emelie. Dia menarik tengkuk leher Alex, hingga bibir keduanya menyatu. Walaupun Alex sudah memprediksi hal itu akan terjadi, tetap saja dia terkejut dengan ciuman Emelie itu.
Keduanya saling membalas satu sama lain, membuat keduanya semakin hanyut dalam ciuman mereka. Tangan Alex mulai bergerak melingkar di pinggang ramping Emelie, menariknya lebih dekat dengannya. Begitu juga dengan Emelie yang terus memeluk leher Alex, dengan perlahan-lahan jari jemarinya mulai menelusuri setiap helai rambut Alex.
"Ekhem!"
Suara seseorang membuat keduanya melepaskan ciuman mereka.
"Mommy!" Alex terkejut saat melihat ibunya yang datang bersama Jessy, dan bahkan Alessia. Dan mereka bertiga sedang berdiri di hadapannya dan Emelie.
"Sudah baikan, huh?!" Lucy menatap putranya dengan penuh selidik.
"Itu..." Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia melirik ke arah Emelie, berharap dia mau menjelaskannya, namun Emelie justru hanya diam saja tanpa mengatakan apapun.
"Itu..." Alex merasa sangat canggung. Terlihat saat melihat putri kecilnya yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Aunty..." Emelie berlari ke arah Lucy dan yang lainnya dengan senyum lebarnya.
Emelie juga memeluk Lucy begitu dia sampai di sana.
"Aunty apa kabar?" Tanya Emelie.
"Aku lebih baik dari kemarin." Jawab Lucy, "sepertinya hari ini begitu cerah, bukan?"
Emelie hanya mengeratkan pelukannya, dia juga tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya ingin mempermainkan Alex, seperti Alex yang mempermainkannya. Tapi dia tidak menyangka kalau Lucy dan yang lainnya akan melihatnya.
Emelie melihat ke arah Alessia yang berdiri di sebelahnya. Dia melihat Alessia yang tersenyum lebar padanya dengan tatapan mata yang penuh ketulusan.
'dia... Apa aku salah tentangnya?' tanya Emelie dalam hatinya.
Emelie melepaskan pelukannya. Dia masih memperlihatkan senyuman lebarnya pada Lucy, "aunty... Maaf aku datang kemari. Seharusnya kita bertemu di rumah ku. Tapi aku tidak sabar untuk datang kemari..." Ucapnya.
"Itu tidak masalah sama sekali. Justru bagus. Setidaknya untuk seseorang..." Lucy melirik tajam ke arah putranya yang segera memalingkan wajahnya darinya.
"Aku berangkat sekarang, mom!" Alex dengan cepat mendekati Jessy yang sedang di gendong Alessia. Dia mencium pipi bulatnya dengan gemas, "Daddy berangkat kerja dulu sayang..."
"Iya Daddy..." Jawab Jessy dengan senyuman menggemaskannya.
Alex mengusap lembut pipi bulatnya, kemudian menarik kembali tangannya dari sana, namun dia tidak sengaja menyentuh lengan Alessia.
Deg!
Lagi-lagi getaran seperti aliran listrik terasa di tangan Alessia. Dan itu tanpa sadar membuat wajahnya memerah.
Emelie melihat semuanya itu. Melihat ekspresi wajah Alessia yang merona seperti yang dia lihat saat di hotel waktu itu.
'aku tidak suka dengan itu...'
Emelie mengepalkan tangannya dengan kuat. Walaupun begitu, dia masih memperlihatkan senyuman yang begitu manis pada semuanya.
'aku berniat memberimu kesempatan kedua... Tapi sepertinya tidak perlu lagi...'
.
__ADS_1