
.
.
"Jadi, benar apa yang aku katakan tadi?" Tanya Alex lagi, "kamu benar-benar pernah memiliki anak? lalu, di mana dia? siapa ayahnya? kalian berdua belum menikah kan? apa kamu..." Alex menghentikan kata-katanya saat melihat ekspresi wajah Emelie yang sama sekali tidak bisa dia baca.
Emelie mengambil tasnya yang terjatuh. Kemudian melemparkannya ke dalam mobilnya.
"Lord Anderson..." Emelie tersenyum menyeringai, "apa kamu mabuk?"
Alex mengerutkan keningnya melihat ekspresi wajah Emelie yang berubah begitu drastis dari yang sebelumnya.
"Alex... Sepertinya kamu terlalu menghayati dirimu sendiri. Di mana kamu melihat para gadis yang hamil setelah kamu tiduri..."
Alex menghela nafasnya.
"Sudahlah. Sepertinya apapun yang akan aku katakan, kamu akan terus menyudutkan ku dengan ucapan mu tentang masa lalu ku itu. Jadi, tidak ada gunanya berbicara dengan mu lagi." Jawab Alex pasrah.
Emelie memperlihatkan senyumanya, dia berjalan mendekati Alex, kemudian mengalungkan tangannya di leher nya, "Alex... Kamu tahu kenapa aku sangat membenci orang-orang seperti mu?" Emelie mendekatkan wajahnya, hingga hidungnya menempel di hidung Alex.
"Karena mereka hanya ingin menikmati enaknya saja, setelah itu mereka membuangnya seperti sampah yang sudah sama sekali tidak berarti. Tanpa memikirkan nasibnya setelahnya... Mereka yang menghianati cinta suci dari mereka yang memberikannya sepenuh hati mereka... Aku sangat membenci orang-orang seperti mereka itu... Termasuk dirimu." Ucapnya dengan tatapan penuh kebenciannya.
"Emelie... Entah seperti apa masa lalu mu, aku sebenarnya tidak ingin tahu. Tapi melihat tingkah mu seperti ini, aku berfikir kalau kamu mengalami hal menyakitkan dengan pria yang kamu cintai... Karena pria itu adalah pria brengsek seperti diriku saat itu. Dan mungkin kamu benar-benar memiliki anak karena orang itu. Itu hanya apa yang aku pikirkan... Walaupun aku merasa aku sangat yakin akan kebenarannya..." Jawab Alex.
"Tahu apa kamu Alex! Jangan sok tahu apa yang aku alami..." Emelie masih menatap Alex dengan tajam. Dengan nafas yang terasa semakin memburu.
Alex mengusap lembut rambut pirang Emelie seraya memperlihatkan senyumanya yang manis, "kamu wanita yang sangat kuat Emelie... Aku bangga padamu." Alex menarik pinggang Emelie dan merengkuhnya masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan menyenangkan.
"Ceritakan pengalaman hidup mu padaku... Berbagi pengalaman hidup mu yang kejam bisa membuat mu merasa jauh lebih baik. Jangan menyimpan semuanya sendiri. Itu hanya akan terus menjadi benalu di hati mu..." Ucap Alex dengan lembut.
Emelie tidak mengatakan apapun, dia hanya mengeratkan pelukannya, merasakan ketenangan dan kehangatan yang Alex berikan.
"Apa perlu aku mengantar mu?" Tanya Alex setelah beberapa saat membiarkan Emelie memeluknya.
"Tidak perlu. Aku tidak selemah pikiran mu!" Jawab Emelie seraya melepaskan pelukannya. Dia meninju perut Alex cukup keras.
__ADS_1
"Ouch! Sungguh... Kamu memang wanita yang sangat kuat!" Desis Alex, "inilah kenapa aku selalu ragu-ragu untuk memberikan kebaikan padamu!"
Emelie tersenyum lebar, "itu salahmu sendiri, Alex! Itu karena kamu bodoh!" Emeli berjalan ke arah mobilnya, kemudian masuk ke dalamnya.
"Aku akan datang pagi-pagi buta... Jadi, kamu harus sudah bangun saat itu juga untuk menyambut kedatangan ku!Okay?"
"In your dream!" Sungut Alex, "kami akan berangkat sekitar pukul 9 pagi. Jadi, kamu tidak perlu datang terlalu pagi! Kamu hanya akan merepotkan kami!"
"Sebenarnya... Itu adalah tujuan ku, Alex. Menggangu mu membuat ku merasa sangat bahagia..." Alex hanya menatapnya dengan malas, dia melambaikan tangannya saat Emelie juga melakukannya.
"Aku pulang dulu, calon suami ku." Ucapnya.
Emelie memberikan ciuman jarak jauh pada Alex yang masih menatapnya dengan jengah.
"Pulanglah!" Dengusnya.
Emelie tersenyum lebar, sebelum akhirnya dia mengemudikan mobilnya untuk kembali ke rumahnya.
"Dia sangat kejam. Mulutnya juga sangat pedas. Tapi anehnya aku sama sekali tidak membencinya... Tatapan matanya selalu penuh kesedihan, walaupun dia melotot tajam padaku... Itu membuat ku kasihan padanya." Gumam Alex. Dia masih berdiri di tempatnya sembari terus melihat mobil Emelie yang terus melaju sampai tidak lagi terlihat.
"Kamu mau pulang?" Tanya Alex.
Alessia menganggukkan kepalanya, "iya, lord Anderson. Saya harus pulang." Jawab Alessia.
"Kenapa tidak tinggal saja di rumah kami?"
"Itu... Sebenarnya hari ini saya akan berkemas. Karena mulai besok pagi, saya akan tinggal di sini."
"Oh... Baguslah. Dengan begitu kamu bisa lebih fokus menjaga Jessy." Alex melihat Alessia yang hanya menganggukkan kepalanya.
"Itu... Tentang pertanyaan ku tadi siang..."
"Tidak perlu di bahas lagi, lord Anderson. Saya tahu kalau lord Anderson sama sekali tidak serius dengan itu."
"Benar... Emelie mengatakan sesuatu yang terus menggangguku. Itu sebabnya aku mencoba menanyakan hal itu padamu..." Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia terlihat lucu saat bertingkah gugup dan kaku seperti itu.
__ADS_1
Alessia tanpa sadar tersenyum melihat itu.
"Uh? kamu tersenyum?"
"Saya?!" Alessia segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, "kamu ternyata bisa tersenyum juga. Aku pikir kalau kamu hanya tahu tentang gemetaran..." Alessia kembali di kejutkan dengan sikap Alex, di mana Alex saat itu tersenyum begitu manis.
'Lord... Saya tidak tahu kalau lord Anderson ternyata bisa juga tersenyum... Apa ini keajaiban dunia? Atau ini karena cinta? Aku tidak sengaja melihat lord Anderson yang berpelukkan dengan Miss Emelie tadi. Aku pikir lord Anderson tersenyum lebar karena cinta dari Miss Emelie. Cinta memang bisa merubah segalanya...' ucap Alessia dalam.
"Apa yang kamu pikirkan, huh?!" Alessia terkejut saat Alex tiba-tiba bergerak mendekatinya. Jarak keduanya begitu dekat, sampai membuat wajah Alessia, dia juga bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Alex yang menerpa wajahnya.
"Lord Anderson..." Jawab Alessia begitu saja.
"Aku? Kamu memikirkan ku?"
"Itu..." Alessia berjalan muncul beberapa langkah untuk menjauh dari Alex, "maksud saya... Saya memikirkan bagaimana meminta izin dari lord Anderson, agar saya bisa segera pulang ke rumah, saya sudah sangat lelah." Alessia tersenyum kaku. Dia tidak tahu apakah Alex percaya pada ucapannya atau tidak. Yang jelas saat ini dia sangat gugup.
"Oh... Kalau begitu, pulanglah!" Jawab Alex, "tapi kamu harus datang pagi-pagi buta."
"Pagi-pagi buta? Kenapa saya harus melakukan itu? Nyonya Anderson mengatakan pada saya kalau jam kerja saya di mulai pukul 8 pagi."
"Karena Emelie akan datang saat pagi-pagi buta. Kamu memiliki tugas untuk menyambutnya. Okay?" Alex berjalan ke ar pintu masuk rumahnya, "aku tidak mau Emelie menggangu tidur dini hari ku yang sedang sangat luar biasa!" Gumamnya.
"Jangan lupa, datang pagi-pagi buta!" Ucap Alex lagi.
"Siap Lord Anderson!" Jawab Alessia, dia terus menatap punggung Alex yang semakin menjauh darinya.
"Sepertinya dia sangat menyukai Miss Emelie. Mereka pasangan yang serasi. Cantik-tampan, kaya-kaya! Pasangan luar biasa! Tidak seperti ku..." Alessia menghembuskan nafasnya dengan pasrah.
"Haissshh... Kenapa juga aku harus membandingkan diriku dengan Miss Emelie...! Apa yang sedang aku pikirkan!" Gerutu Alessia pada dirinya sendiri.
"Lebih baik aku pulang, sebelum otak ku semakin rusak!"
.
.
__ADS_1
.