
.
.
"Aku mungkin brengsek. Tapi aku bukan pembuah... Walaupun aku mungkin secara tidak sengaja sudah membunuh isteri ku sendiri..." Jawab Alex, "apa kamu..." Alex menghentikan kata-katanya. Dia tidak tahu bagaimana mengatur kata-katanya agar dia bisa menanyakan apa yang dia ingin ketahui dari Emelie tanpa menyakiti perasaannya.
"Kamu benar Alex... Apa yang kamu pikirkan itu benar. Ariand si brengsek itu adalah kekasihku. Saat itu aku masih kuliah... Aku membunyikan identitas ku sebagai putri dari keluarga Kiran Brods. Dan aku bertemu dengannya tanpa status itu. Aku tidak tahu bagaimana awalnya, tapi karena dia begitu baik padaku, aku perlahan-lahan menyukainya, hingga aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dan menyerahkan seluruh hidup ku dan seluruh milik ku padanya. Hingga suatu saat kami menghabiskan malam bersama saat ulang tahunnya... Namun setelah itu, dia mulai berubah. Tidak sama seperti sebelumnya. Dan itu berlangsung terus menerus, sampai akhirnya aku mengetahui kalau aku hamil. Aku dengan begitu naiknya mengatakan padanya. Dengan harapan penuh kalau dia juga akan sangat senang mendengarnya... Namun..." Emelie mengehentikan ceritanya. Dia bergerak semakin masuk ke dalam pelukan Alex untuk sedikit menenangkan dirinya.
"Alex... Setelah hari itu, dia semakin menjauh dariku... Aku terus melihatnya dekat dengan wanita yang selalu berganti-ganti setiap harinya... Saat itu aku pikir dia hanya perlu waktu untuk bisa menerima kenyataan bahwa aku sedang mengandung anaknya. Tapi aku salah... Suatu hari, aku mendapat pesan singkat darinya yang ingin bertemu dengan ku di sebuah restoran. Aku sangat-sangat senang. Aku buru-buru datang kesana dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Dia juga bersikap sangat manis padaku... Mungkin itu adalah kebahagiaan terkahir yang aku rasakan..."
"Apa Ariand brengsek itu memasukkan sesuatu pada makanan dan minuman mu, sampai membuat anak dalam kandungan mu keguguran?" Tebak Alex.
"Excellent! Itu benar..." Emelie melepaskan pelukannya, dia menatap Alex dengan senyuman lebarnya. Walaupun begitu tatapan matanya begitu penuh dengan kebencian dan kemarahannya.
"Aku mengalami pendarahan hebat dan masuk ke rumah sakit. Mungkin tiga harian aku harus di opname. Tapi, dia sama sekali tidak muncul menengok ku di sana. Aku mengalami depresi berat karena kehilangan calon anak ku, tapi dia bahkan tidak pernah datang. Dan bodohnya adalah aku bahkan tidak tahu kalau dia-lah yang sudah melakukan semuanya itu, hingga aku kehilangan calon anak ku. Heartless man! Walaupun begitu, aku masih berfikir kalau dia itu terlalu sibuk untuk bisa datang menjenguk ku di rumah sakit. Sampai aku keluar dari rumah sakit dan pergi ke apartemennya... Surprise!!!! Aku melihatnya sedang enak-enakan bercinta dengan wanita lain di sana... Aku benar-benar seperti idiot yang hidup tanpa otak!" Emelie mencengkram kuat lengan Alex, hingga kuku-kukunya yang tajam menembus kulit Alex dan berdarah.
"Ugh..." Alex menggigit pipi dalamnya untuk menahan rasa sakitnya.
"Setelah melihat hal seperti itu, aku masih begitu naif, aku masih berharap dia akan meminta maaf padaku... Namun dia dengan senyuman menyeringainya mengatakan segalanya padaku, tentang bagaimana dia yang mendekati ku hanya karena aku cantik, tapi aku bukanlah wanita dari keluarga ternama yang tidak akan pernah memiliki masa depan yang cerah. Itu sebabnya dia hanya ingin bermain-main dengan ku. Dan fakta lainnya yang lebih mencengangkan adalah di mana saat dia mengatakan kalau dia sendiri lah yang sudah menambahkan obat penggugur kandungan di minumanku sampai aku kehilangan anak ku..." Emelie semakin mengeratkan cengkeraman tangannya pada lengan Alex, hingga darah yang keluar semakin banyak.
"Mulai saat itulah, aku membencinya sampai ke tulang ku. Bukan hanya dia, tapi juga pria-pria sepertinya... Dan juga wanita murahan seperti wanita itu..."
"Emelie..." Alex megusap lembut puncak kepala Emelie, "akan jauh lebih baik kalau kamu menangis sekarang... Kamu menyimpan rasa sakit itu dengan paksa, dan menguncinya dengan kemarahan. Menangis akan membuat perasaanmu jauh lebih baik..." Ucapnya dengan lembut dan senyuman manisnya.
"Kamu tidak perlu terlihat kuat hanya untuk menyembunyikan fakta bahwa kamu hancur..."
Mendengar itu Emelie menatap wajah Alex yang masih memperlihatkan senyum manisnya.
"Aku juga selalu menangis saat aku merasa sangat kesakitan..." Ucap Alex lagi.
"Apa aku harus menangisi nasib buruk ku?"
Cup!
Alex mengecup sekilas kening Emelie.
"Bukan nasib buruk... Lebih tepatnya itu adalah sebuah cara yang Tuhan berikan agar kamu bisa menjadi seseorang yang jauh lebih dewasa dan jauh lebih baik lagi... Itu membuka matamu untuk melihat seperti apa orang-orang busuk di luar sana bersikap untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan... Karena dengan semuanya itu, kamu bisa belajar untuk bisa melihat dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk... Untuk itulah kamu menjadi Emelie yang kuat dan tangguh seperti Emelie yang sekarang ini. Bukan Emelie yang pathectic dan naif seperti yang dulu itu. Bukan begitu?" Emelie melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Alex.
Dia terkejut saat melihat darah yang keluar dari lengannya.
"Sorry Alex! Sepertinya aku melakukannya lagi..." Ucap Emelie dengan penuh rasa penyesalannya
"Kamu benar-benar perlu menemui psikiater..."
Emelie tersenyum kecut, "benar... Aku memang seharusnya menemui mereka..."
"Uh? Aku hanya bercanda..."
"Aku benar-benar mengalami gangguan kejiwaan setelah melalui hal mengerikan semacam itu, Alex... Jujur saja, aku pernah di rawat di rumah sakit jiwa beberapa hari." Emelie kembali memperlihatkan senyum kecutnya.
__ADS_1
"Itu sungguhan?"
Emelie menganggukkan kepalanya, "aku seperti orang gila yang... Entah bagaimana keadaan ku saat itu." Emelie menarik pita lebar yang mengikat rambutnya, setelah itu dia membalutkannya ke lengan Alex yang terluka karenanya, "papa-ku sangat khawatir karena kondisi ku yang memburuk. Jadi, dia membawaku ke kenalannya yang merupakan dokter di salah satu rumah sakit jiwa... Dan aku benar-benar di rawat di sana. Entah berapa hari... Aku lupa... Papa datang kembali ke sana untuk menjemput ku, dan setelah beberapa hari tenang di rumah... Dia membawa ku ke rumah kalian dan akhirnya aku bertemu dengan Jessy-ku yang baru baru seminggu di lahirkan... Rasa bahagia itu benar-benar kembali..." Emelie tersenyum manis sebelum dia melanjutkan kata-katanya.
"Walaupun begitu, aku membencimu. Sangat membenci mu saat mendengar semua cerita tentang mu sampai tentang kelahiran Jessy, dan sampai kematian Eliza, istrimu. Untuk itulah aku ingin menjadi pelindung bagi Jessy dari orang-orang seperti mu. Tapi karena rasa tidak sabar ku... Akhirnya kau justru harus di kirim jauh dari Jessy! Semuanya karena bedebah seperti mu!" Alex tersenyum lebar. Dia lega melihat wajah Emelie yang sudah kembali seperti biasanya.
"Tapi Emelie... Kenapa Ariand kini terus mengejar mu? Apa dia menyadari kesalahannya?"
"Omong kosong macam apa yang sedang kamu bicarakan, Alex!!!" Gerutu Emelie, "dia meminta maaf padaku karena dia tahu kalau aku adalah putri satu-satunya... The one and only! Dari Kenn Kiran Brods!"
"Oh? Benarkah? Tapi kapan dia mengetahuinya?"
"Saat aku di Paris. Aku menghadiri meeting penting di mana aku di perkenalkan sebagai Emelie putri satu-satunya dari Kenn Kiran Brods... Saat itu dia juga ada di sana. Mewakili perusahaannya. Dia adalah manager di perusahaan yang ternyata adalah salah satu branch dari Kiran Corporation. Menyedihkan bukan?" Emelie tersenyum puas.
Melihat itu Alex tersenyum senang, "itu pasti pukulan yang sangat keras baginya..."
"Dan itu adalah saat-saat paling indah bagiku. Melihat wajah pucat nya yang penuh dengan penyesalannya..." Jawab Emelie.
"Jadi... Ekhem... Kamu benar-benar pernah gila?" Tanya Alex. Dia melihat ke arah Emelie yang justru tertawa keras
"Ha ha ha... Kamu terkejut karena itu?" Tanya Emelie balik, "bukankah kamu lebih gila dariku?"
"Ayolah! Aku serius!" Kesal Alex.
Walaupun begitu dia senang melihat Emelie yang sudah tidak lagi memperlihatkan ekspresi seperti tadi.
"Kamu benar-benar butuh psikiater!"
"Mulai lagi... Bukankah kamu sudah mengatakan untuk tidak membahas tentang ini?" Alex menjauh dari Emelie, dia memakan sisa ice cream di mangkuk Emelie tadi.
"Jangan membahas tentang pernikahan dulu..."
"Jadi, aku masih boleh membahasnya nanti, atau besok, kan?" Emelie mendekatkan wajahnya ke wajah Alex untuk mendapatkan jawabannya.
"Boleh... Setelah kamu menjalani pengobatan mu. Aku tidak ingin menikah dengan orang gila..."
"Hei!!! Aku tidak gila!" Sungut Emelie kesal
"Kamu gila! Sangat gila! Benar-benar gila!" Jawab Alex dengan tawa lepasnya.
Melihat itu Emelie tersenyum lebar, dia merasa sangat beruntung karena Alex adalah orang yang bersamanya saat ini.
"Alex.... Ayo tidur." Ajaknya
"Huh? Kenapa tiba-tiba mengajak ku tidur?" Alex segera menutupi tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri, "jangan bilang kalau kamu mau melakukan hal seperti itu padaku?"
"Hal seperti apa yang bisa aku lakukan padamu?! Lihat jam!!!" Emelie menunjuk pada jam dinding besar yang ada di dinding sebuah restoran, "jam 2 pagi, Alex!!!"
"Huh?! Sungguh!" Dengan cepat Alex menggenggam tangan Emelie, "ayo kita kembali ke kamar hotel! Kita memang harus tidur!" Ucapnya seraya menarik tangan Emelie agar mengikutinya kembali ke kamar hotel.
__ADS_1
Emelie tersenyum lebar seraya mengikuti langkah kaki Alex yang juga terus menggenggam tangannya dengan erat.
"Mereka pergi?" Nick mengeluarkan kepalanya dari balik sebuah dinding.
"Mm..." Jawab Alessia singkat yang juga mengeluarkan kepalanya untuk melihat ke arah Emelie dan Alex yang sudah pergi dari sana.
"Fiuh..." Alessia terduduk di lantai.
"Kamu lemas?" Nick tertawa kecil
"Tuan! Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini selama hidup ku! Bersembunyi di sini dan mendengarkan percakapan majikan ku! Ini benar-benar murahan!" Kesal Alessia.
"Kita tidak sengaja melakukannya. Kita kemari untuk ikut makan ice cream. Tapi kita datang di waktu yang sangat tidak tepat! Jadi, terpaksa harus bersembunyi di sini." Jawab Nick dengan santainya
Memang benar dia mengajak paksa Alessia untuk ikut keluar makan ice cream tengah malam dengannya. Sebenarnya dia hanya ingin tahu apa yang akan Alex lakukan dengan Emelie.
Namun dia dan Alessia justru mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar.
Itu sebabnya dia memilih untuk tetap berada di posisinya dan bersembunyi di sana sampai Alex dan Emelie selesai dengan pembicaraan mereka.
"Lupakan apa yang baru saja kamu dengar. Anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya. Itu akan menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagimu. Paham?" Ucap Nick
Alessia menganggukkan kepalanya.
"Saya mengerti, tuan Nick." Jawab Alessia, "hanya saja... Saya tidak bisa melupakannya... Terlebih lagi untuk melupakan rasa sakit yang Miss Emelie rasakan saat itu. Mendengarnya saja rasanya sangat menyesakkan... Apa lagi dia merasakan semuanya itu. Jika itu adalah aku, aku mungkin bukan hanya berakhir di rumah sakit jiwa... Tapi mungkin di kuburan... Aku pasti akan memilih membunuh diriku sendiri..."
Nick mencubit keras kedua pipi Alessia.
"Ouch!" Jerit Alessia keras, "sakit!" Desisnya seraya menepis tangan Nick untuk segera melepaskan pipinya.
"Jangan membahas itu lagi! Jangan pernah membahasnya lagi!!! Lupakan sekarang juga!!! Ingat apa yang aku katakan ini, mengerti?!" Alessia menganggukkan kepalanya seraya mengusap pipinya yang merah bekas cubitan Nick tadi.
"Ayo kita juga kembali ke kamar... Jangan sampai mereka tahu kalau kita tidak ada di sana... Aku juga tidak mau mereka salah paham tentang kita." Ucap Nick seraya berjalan untuk kembali ke kamar hotelnya.
"Salah paham tentang kita? Apa maksudmu, tuan Nick?"
Nick tersenyum miring pada Alessia, "aku takut kalau mereka berfikir sesuatu yang ekstrim kalau mereka mengetahui bahwa kamu tidak ada di kamar mu. Bukankah mereka pasti berfikir kalau kamu mungkin ada di kamar ku? Apa yang mungkin mereka pikirkan kalau mereka berfikir kamu ada di kamar ku? Mungkin mereka akan mengira kalau kita sedang menghabiskan malam panjang penuh gairah... Atau mmphhh..." Dengan cepat Alessia menutupi mulut Nick dengan telapak tangannya.
"Jangan teruskan!" Ucapnya dengan wajah yang memerah karena malu.
"Jangan teruskan lagi! Dasar gila!" Dengan cepat Alessia berlari untuk kembali ke kamar hotelnya. Meninggalkan Nick Petrovic yang sedang tertawa geli dengan begitu puas
"Dia sangat menggemaskan...."
Nick menghentikan tawanya, kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Dan untuk Emelie... Aku merasa kalau aku pasti akan membuat orang yang menyakitinya merasakan sakit berkali-kali lipat jauh lebih sakit seumur hidupnya.... pasti!!!"
Nick kembali menghela nafasnya, "Eliza... Mereka berdua... Kenapa mereka mirip dengan mu."
__ADS_1
.
.