Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.1 Pria centenarian


__ADS_3

Seorang pria centenarian terlihat sedang meringkuk di dalam kamarnya yang gelap dan sempit. Tak ada fentilasi di ruangan itu membuat tidak ada udara yang bertukar dan juga tidak ada sedikitpun cahaya yang masuk ke ruangan di dalamnya hingga menjadikan tempat itu terasa dingin dan pengap penuh dengan sesak.


Hukk.. hukk.. sesekali terdengar pria itu terbatuk di atas tempat tidurnya.


Tidak adalagi sedikitpun keinginan baginya untuk beranjak dari tempat tidur itu. Semua hal yang dulunya gagal Ia menangkan saat ini sudah menjadi penyesalan yang mengkristal di pikiran dan hatinya.


Hidupnya sekarang penuh dengan benci dan dendam pada diri sendiri.


Pria centenarian itu perlahan membuka matanya yang memang sejak awal dia tidak sedang tidur melainkan hanya memaksa dirinya untuk tidur, meski sebenarnya dia sudah berbulan-bulan berada di dalam kamar itu dan berbaring di atas kasurnya tanpa makan sedikitpun.


Kain yang menjadi alas kasurnya untuk tidurpun sudah berulang kali basah dan kering karena keringatnya sendiri sampai mengeluarkan bau agak busuk dan di penuhi tungau debu.


Kecoa dan lipan seringkali terlihat berjalan dan merayap di depan matanya tapi yang dia lakukan hanyalah membiarkan hewan-hewan itu hidup dan berkembang biak di kamarnya.


Pria tua itu merasakan angin panas keluar masuk melalui hidungnya tapi yang di rasakan tubuh tua itu adalah dingin dan sesekali denyut di kepala dan perutnya yang terasa karena menahan lapar.


Keringat dingin pun kembali membasahi kain yang menjadi alas tidurnya. Batuk pria itu terdengar semakin berat sepanjang waktu.


Bau busuk dan kotoran hewan pengerat tidak lagi tercium di hidungnya. Bahkan sampai hampir seluruh lantai di ruangan itu kini sudah di penuhi kotoran tikus dan lainnya yang sudah mengering di tempat, tapi pria tua itu seperti tidak merasa terganggu dengan baunya dan selama ini tidak pernah sekalipun terlihat membersihkannya.


'Beginikah akhir dari hidupku? Menyendiri dalam ruang yang gelap dan sempit bersama penyesalan yang aku derita' Batin pria itu menanyakan lagi tentang kebenaran pada setiap keputusan-keputusan hidupnya yang dia ambil di masa lalu.


Dari baringan pria centenarian itu kemudian mengangkat kedua tangannya dan melihat keriput kulit dan urat tangan yang berwarna hijau kehitaman menjalar di balik kulit tangannya yang sangat tipis.


'Sial sekali diri ini, dimana perangai gagah dan wajah tampan yang dulu aku miliki?'


'kurus.. kering.. tidak akan ada satu orang gadispun yang menyukaiku..' Pria itu mengumpat dalam hatinya meratapi takdir.


Pria yang sudah memasuki usia senja itu terlihat melamun menatap nanar ke arah salah satu sudut kamar, berbaring ke kanan dan membantali kepala dengan tangannya.


'kenapa ya, dulu aku selalu berpikir bahwa semua orang membenciku dan tidak ada orang lain yang benar-benar perduli padaku'

__ADS_1


'Benarkah tidak ada yang perduli padaku?'


Seketika sekelebat kenangan terlintas di kepalanya. Pria itu mulai memegangi kepalanya yang terasa sakit. Jantung dan paru-parunya terasa sesak dan terasa sakit seperti tertusuk oleh pedang yang terhunus padanya.


Ingatan membawanya kembali pada waktu sekitar lebih dari seratus tahun yang lalu saat dia pertama kali bertemu dengan orang-orang yang banyak berkorban padanya dulu.


'Tidak kusangka aku hanya merasakan benci dan dendam setelah di ingat-ingat banyak orang yang dulu mati hanya demi aku'


Pria ini dulunya merupakan anggota elite militer pemerintah dan beberapa kali melewati pertempuran hidup dan mati demi perdamaian negerinya tapi kini kondisinya sungguh sangat mengenaskan.


Tidak disangka takdir sungguh kejam padanya, berulang kali dia mendapati perlakuan tidak adil berkali-kali dia tidak mendapati keberuntungan dan berakhir gagal.


Hidupnya penuh dengan penderitaan dan rasa sakit.


'Kegagalan, penyesalan, dendam dan ketidak beruntungan bergabung menjadi satu'


Pria tua itu tersenyum kecut. 'Membentuk diriku.'


'Sepertinya memang pernah ada warna lain selain hitam yang datang mengisi hidupku..'


Yang pria centenarian itu lakukan saat mengingat wajah-wajah itu hanya tersenyum canggung merasa malu dan memejamkan matanya yang sekarang mulai terasa panas.


-


"Nanti, kita punya rumah yang ada tamannya luas ya? Yang kucingnya banyak yang ada pianonya" Ucap seorang wanita sambil memeluk pria yang ada di depannya dari belakang.


"Hmm.. terus-terus aku mau nanam banyak bunga di halaman belakang rumah kita, pelihara kelinci, punya mesin jahit."


Pria itu melirik wajah gadis itu dari kaca spion motornya. "Mesin jahit? Untuk apa?" Tanya pria itu pada gadis yang sedang memeluknya.


Wanita itu terlihat berpikir. "Yaa.. untuk jahit baju.. untuk apaa? Banyak lah"

__ADS_1


"Mungkin untuk sekarang aku harus akui aku tidak pandai gunakan mesin jahit tapi suatu saat nanti, aku mau punya mesin jahit di rumah kita supaya keluarga kita tidak perlu beli baju di mall atau toko pakaian lagi.


Aku bakalan beli bahan kain terus buat baju kreasi aku sendiri. Kamu pasti senang, kamu nanti bisa minta aku buatkan baju sesuai keinginan kamu. Dan nantii.."


"Apa?" Minta pria itu agar gadis yang berada di pelukannya menyelesaikan ucapannya.


"Aku punya cita-cita, ehh.. tidak tidak.."


Wanita itu menggeleng. "Aku janji, aku janji nanti ketika kita sudah menikah. Aku janji tidak akan ada orang lain yang boleh mengikat tali sepatu kamu, kecuali aku."


Perkataan wanita itu berhasil membuat pria itu tersentuh. Dia kemudian meraih tangan yang sedang merangkul pinggangnya dan menciuminya dengan penuh arti.


Sisanya mereka hanya tertawa dan bercerita hal lain sambil sesekali terlihat saling tatap melalui kaca spion motor dan tertawa lagi.


"Janji ya?" Tanya wanita itu sambil meletakkan kepalanya di atas pundak pria yang berada di depannya.


"Janji untuk apa?"


Wanita itu memeluk lebih kuat. "Janji untuk bahagiain aku nanti, setelah kita menikah."


Pria itu menggeleng pelan. "Memangnya sekarang kamu tidak bahagia bersamaku?"


Wanita itu tidak menjawab melainkan memeluk pria itu lebih hangat lagi dan memejamkan matanya sambil merasakan angin malam dan siraman cahaya lampu kota.


-


Pria centenarian itu menghela nafas panjang tidak habis pikir pada dirinya yang masih sempat mengingat saat-saat itu di kondisinya yang sekarang ini.


Padahal ada yang lain perlu dia pikirkan yaitu kondisi mental dan kesehatannya saat ini bahkan nafasnya sudah terasa sangat berat.


Pria tua yang sebelumnya berbaring itu terlihat mencoba untuk bangkit dari tidurnya dan kemudian duduk di tepian kasur.

__ADS_1


Pria tua itu meraih laci yang ada tepat di samping tempat tidurnya dan mengambil secarik kertas yang kini terlihat sudah agak menguning dan ada noda kopi di dalamnya.


__ADS_2