
"WOII SIALAN KAU JANGAN MENGABAIKAN KAMI.." Theodorus berteriak seperti orang gila tapi tetap terus mengikuti langkah kaki anak di depannya.
"Awas hati-hati memasuki hutan larangan penuh dengan monster.." Xernathan mengabaikan dua orang anak lainnya ketika menemukan bacaan yang tertempel di salah satu pohon di tengah hutan.
'Tidak salah lagi, aku ingat tulisan ini.' Batin Xernathan berucap ketika melihat tanda itu.
"Woii Xernathan.." Sanji sudah kelelahan dan mencoba untuk menghentikan langkah Xernathan tapi dia tidak bisa menghentikan langkah kaki anak itu.
Sanji mendengus kesal dan berhenti tepat di lokasi berdirinya Xernathan sebelumnya. Sanji membaca tulisan pada pohon itu
"Apa maksutnya ini?" Theodorus bertanya pada anak di sampingnya.
Sanji mengangkat bahunya. "Entahlah aku tidak mengerti, tapi aku rasa itu adalah pertanda kita akan menuju ke arah sesuatu yang berbahaya." Sanji mengatakan pendapatnya sambil berjalan mengikuti Xernathan yang sudah agak jauh.
Theodorus merasa ada yang salah, tapi dia memilih untuk tetap mengikuti kedua teman yang sudah berjalan meninggalkannya.
-
Dua puluh menit berlalu di hitung dari mereka melewati tanda larangan itu. "Ini dia.. Aku bisa mengingat rumah ini." Xernathan bergumam pelan mengingat rumah kayu di bawah pohon cemara raksasa di hadapannya.
"Whaa pohon ini besar sekali." Mulut Theodorus dan Sanji terbuka lebar saat melihat batang pohon di hadapan mereka. Terperanjat kaget melihat batang pohon yang menjulang tinggi ke angkasa.
"Theo menurutmu kenapa kita tidak bisa melihat pohon sebesar ini dari jauh sebelumnya ya?" Sanji bertanya pada Theodorus. Theodorus hanya menjawab dengan menggeleng dan menaikkan bahunya dia juga tidak tau kenapa.
Mereka berdua sebelumnya menduga kalau Xernathan memang memiliki mata yang lebih tajam dari mereka tapi ketika melihat pohon sebesar ini mereka malah mulai menyalahkan kemampuan penglihatan mereka.
Puncak bukit itu merupakan tanah lapang yang tidak seberapa luas serta di kelilingi pepohonan hutan. Hanya ada satu rumah kayu yang berada tepat di bawa pohon cemara raksasa itu. Rumah kayu itu pasti adalah rumah dari navigator seperti yang di katakan oleh kapten Morgan sebelumnya.
"Kenapa tempat ini sepi sekali.." Sanji melihat ke segala arah tidak ada siapapun yang menyambut mereka di tempat ini.
"Hallo ada orang di dalam?" Theodorus yang pertama kali mendekati rumah kayu itu.
"Sepertinya pemilik rumah ini adalah pemburu, aku bisa mencium bau amis darah di rumah ini. Mereka juga adalah sebuah keluarga, lihat jemuran itu.." Sanji menunjuk arah kanan mereka pada Xernathan.
"Jemuran hanya di perlukan jika ada beberapa orang dalam satu rumah dan hanya kalau ada seorang wanita di dalamnya. Karena biasanya para pria tidak butuh jemuran melainkan hanya menggantung pakaian di pohon atau di jemur di atas batu."
'Boleh juga si Sanji ini, tingkat ketajaman menganalisanya cukup tinggi' Ucap Xernathan dalam hatinya memuji ketangkasan berpikir anak bermata hitam di sampingnya.
'Tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi, kau akan tau ketika masuk dan melihat yang terjadi di dalam rumah kayu ini.'
__ADS_1
Mereka bertiga telah berdiri sejajar saat anak bernama Theodorus mengetuk pintu rumah kayu itu berulang kali. Tidak sabar karena tidak ada yang menjawab panggilan mereka.
Theodorus mengintip ke lubang di pintu rumah dan dia tidak melihat apapun selain warna merah.
"Dobrak saja pintunya, cepat" Sanji mulai tidak sabar.
Xernathan membuka pintu rumah kayu dengan menendangnya.
Mata ketiga orang anak itu terbelalak, tidak terkecuali Xernathan. Melihat ada satu ekor monster beruang sedang mengunyah separuh bagian tubuh seorang wanita yang tidak sadarkan diri di genggaman cakar monster beruang itu.
Mata monster itu berwarna merah menyala dengan tinggi lebih dari tiga meter dan cakar-cakar yang sangat tajam menghiasi ujung tangannya. Bulunya berwarna hitam lebat dengan gigi runcing yang berdarah karena darah wanita yang menjadi mangsanya.
"Apa yang terjadi.." Theodorus panik bukan main melihat kejadian berdarah di depan matanya.
"To.. tolong.." Seorang pria tidak jauh dari monster itu kesusahan meminta tolong.
Duarr.. Duarr.. Duarr.. Suara tembakan sebanyak tiga kali keluar dari muncung pistol yang di genggam oleh seorang anak berambut hitam.
Ketiga peluru mengenai punggung monster beruang itu dan membuatnya kabur membawa wanita navigator di tangannya.
"Sanji dari mana kau mendapatkan pistol itu?" Theodorus yang bertanya.
"Kau tidak apa-apa?" Xernathan memposisikan pria yang terluka menjadi telentang, memudahkan pria itu mengambil nafas.
"Ba.. Bantu temanmu mengejar monster itu"
Hukk.. hukk.. Pria navigator itu tersedak darahnya sendiri.
"Mo.. Monster-monster itu lebih dari satu."
"Theo kau jaga pria ini. Aku akan mengikuti Sanji." Xernathan mengatakan itu yang di balas Theodorus dengan sekali anggukan.
Theodorus langsung membersihkan darah pria navigator itu dan melakukan banyak hal sebagai pertolongan pertama dengan di pandu oleh orang yang sedang terluka.
-
Hngghkk.. Xernathan tanpa mengalami kesulitan yang berarti memanjat salah satu pohon di hutan. Xernathan dengan mudah menembus batang pohon dengan cakar tangannya yang keras karena kualitas tulang ghapantsa yang dia miliki.
Beberapa menit saja Xernathan terlambat mengejar Sanji dan monster yang membawa kabur wanita navigator itu, Xernathan langsung kehilangan jejak mereka.
__ADS_1
"Siall.. siall.. siall.. Aku terlambat mendobrak pintu rumah itu." Xernathan terus mengumpat pada diri sendiri karena dia terlalu lama mendobrak pintu rumah kayu itu hingga wanita navigator keburu di bawa kabur oleh monster beruang. Sambil mencari ke segala arah Xernathan mencari monster dan Sanji yang berlari entah kemana.
Penciuman Xernathan tidak bisa di andalkan karena bau amis darah tersebar di semua lokasi hutan di atas bukit itu.
Xernathan melompat dari satu pohon ke pohon lain, naik turun ke segala arah hutan.
"Kemana arah lari mereka, tidak mungkin bisa sejauh ini." Xernathan mulai panik.
Duarr.. Duarr.. Terdengar suara tembakan dari arah berlawanan yang Xernathan tuju. Xernathan dengan cepat bergelantungan di atas pohon, melompat dari satu ranting ke ranting yang lain menuju arah suara tembakan terdengar.
Ghaarr.. Monster beruang dengan beringas mengerang terdengar seperti auman dan menyerang Sanji dengan gigi taring dan juga sebelah cakar tangannya.
Duarr.. Duarr.. Tembakan demi tembakan di berikan Sanji. Sanji berguling dan melompat berulang kali menghindari monster di hadapannya yang menyerangnya menggunakan sebelah cakar dan terkaman gigi-giginya yang tajam berlumuran darah.
Meskipun monster itu hanya bisa menggunakan satu tangannya tapi Sanji tidak semudah itu mengalahkan monster yang semakin membabi-buta menyerangnya.
Pouuf..
Hngghhkk.. Sanji terpental sejauh lima meter ke bawah tepi jurang karena tamparan dari tangan monster itu mengenainya telak.
"Si.. sialan kau.." Sanji kesulitan berdiri dan kesulitan mengatur nafasnya saat kesadaran anak itu hampir menghilang.
Tapi untungnya luka yang dia terima tidak terlalu serius, hanya sakit karena benturan ke pohon namun cukup untuk membuat darah terlihat mengalir dari tepian bibir anak bermata hitam itu.
Sanji memanjat, naik untuk mendekat kembali ke tempat awal dia bersama monster beruang untuk melanjutkan pertarungan.
"Sial darimana datangnya monster ini?" Sanji terkejut saat Ia naik dari bawah sana, tiba-tiba sudah ada satu lagi monster beruang di hadapannya.
Sanji bisa melihat wanita navigator berpindah tangan dari monster sebelumnya ke monster yang baru datang.
Sanji bisa membedakan dari melihat salah satu beruang yang mengalami pendarahan hebat saat sebelumnya karena terus di hujani peluru oleh Sanji.
Beruang satunya lagi itu mundur dan hanya sesekali terlihat membantu menyerang rekannya. Sepertinya beruang pertama ini menaruh dendam besar pada Sanji yang memberikan banyak luka berdarah untuknya.
Kekuatan antara Sanji dan monster beruang itu jelas beda jauh antara langit dan bumi. Hingga sekali saja serangan monster itu mengenai Sanji, Sanji langsung terlempar jauh seperti sebelumnya.
Tapi kelincahan pergerakan dan keakuratan Sanji membidik sasaran juga bagaikan langit dan bumi, melihat baru satu serangan monster itu yang di rasakan Sanji.
Duarr.. Duarr.. Sanji terus menghujani monster beruang di hadapannya dengan peluru. Monster beruang satu ini berusaha mencakar anak di hadapannya, tapi Sanji melompat dan berguling seperti sedang menari menghindari tiap serangan monster beruang di hadapannya ini.
__ADS_1
Tapi dua beruang itu sangat di buat kesulitan oleh Sanji. Meski monster-monster itu tidak mengalami luka fatal tapi cukup untuk membuat mereka mengerang kesakitan.