Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.37 Ombak beriak


__ADS_3

Dari atas sebuah helikopter kargo militer, semua kegiatan dari ujian pertama sekalipun sudah di awasi oleh seorang pria tua lainnya.


"Sepertinya semua ini tidak akan berjalan dengan baik." Wanita yang memiliki batu giok di dahinya tersenyum kecut. Pria tua berjanggut putih di sebelahnya turut merasa prihatin melihat yang di lakukan anggota elite militernya kepada calon anggota elite militer yang sedang ikut ujian.


"Tidak aku sangka dia melakukannya lagi"


"Apa yang harus kita lakukan?" Wanita dengan giok di antara kedua alisnya menganggap masalah ini di luar kemampuannya. Meski pangkat wanita ini di elite kemiliteran lebih tinggi daripada pak tua Hoshi. Tapi bukan berarti dia punya kekuasaan untuk mengatur orang itu.


Elite militer berbeda dengan kemiliteran lainnya. Jikapun pangkat ada dan berperan penting untuk mengambil suatu keputusan di elite militer, tetap orang yang pangkatnya lebih tinggi tidak leluasa mengatur orang di bawahnya.


Di dalam dunia elite militer ini hanya orang kuat yang bisa mengatur orang lainnya. Bahkan meskipun pak tua Hoshi pangkatnya rendah, tidak jarang pak tua berjanggut putih ini meminta bantuan sesuatu darinya.


Nilai harta yang di miliki elite militer juga tidak bergantung dari pangkat melainkan jumlah misi yang di selesaikan. Pak tua Hoshi bukan tidak mampu mengambil pangkat yang lebih tinggi dari wanita yang memiliki giok di dahinya ini, nama pak tua Hoshi bahkan selalu di sandingkan dengan pria berjanggut putih ini.


Tapi elite militer selalu punya kegilaan terhadap obsesinya sendiri. Entah itu menjadi penguasa dunia, entah mau menjadi orang terkaya di negara Centuri ini, atau balas dendam, bahkan bertambah kuat dengan memiliki sumber daya dan informasi yang di berikan oleh elit militer.


Pak tua Hoshi sendiri menghabiskan hampir seluruh masa hidupnya dengan hanya berlatih kemampuan bertarung dan kemampuan pengelolaan Qi yang di milikinya sambil melukis serta kegiatan berkesenian lainnya.


Tidak terkecuali muridnya Angelo. Mereka berdua menaruh fokus pada sesuatu yang mereka berdua sangat sukai, yaitu seni.


-


Pak tua berjanggut putih membuka pintu helikopter dan terjun melompat dari ketinggian. Tekanan udara di terjangnya tanpa kesulitan bernafas dengan kecepatan peluru seperti ini.


Fruuff.. Angin bergemuruh di telinga pria tua itu. Matanya kelihatan sedikit berair.


Udara dingin terasa seketika dia berada beberapa puluh meter di atas hutan magis. Kabut setebal awan di tembusnya.


Tanpa menggunakan peralatan terjun seperti itu orang biasa akan berpikir kalau pria tua ini melakukan aksi bunuh diri.


Namun pria tua itu terlihat yakin pada sesuatu yang akan di lakukannya di bawah nanti.


Booum.. Lutut dan tinjunya terkepal, tubuh pria tua itu menghujam tanah dan membuat suara benturan yang mengagetkan semua orang. Tulang ghapantsa sekalipun tidak bisa menahan benturan sekeras itu.


Orang di dalam sanggar seni kaget dan menoleh ke arah pintu masuk.

__ADS_1


"Hoshi, kenapa kau malah mempersulit mereka?" Ucap pria tua berjanggut putih saat membuka pintu besar di bangunan berbahan dasar kayu yang di penuhi fentilasi-fentilasi cahaya dari kaca.


Pak tua Hoshi memasang raut wajah tidak senang. "Kau jangan mencampuri ujian yang aku berikan Jenskin."


"Pak tua Jenskin kau jangan banyak mengatur karena ini sudah jadi urusan kami. Kau cukur saja janggutmu itu, kau seperti kambing jika orang lain yang melihat." Angelo mengejek berbasa-basi, tujuan utamanya adalah supaya gurunya itu tidak begitu marah.


Pak tua Jenskin tersenyum tipis, wibawanya seketika hilang di hadapan kedua orang ini. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, ketika dia sudah mengambil keputusan bahwa dua orang ini adalah pengawas ujian tahap kedua, itu berarti sudah jadi hak mereka berdua mengatur setiap keputusan di waktu ujian.


Adalah kesalahan melanggar aturan saat pak tua bernama Jenskin datang ke tempat ini untuk menolak keputusan mereka berdua.


"Heii.. kalian berdua jangan salah paham bukan begitu maksutku" Pak tua Jenskin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pria tua berjanggut putih kelihatan berpikir agar dua orang elite militer di hadapannya tidak tersinggung, tapi bagaimana pun maksut utama dia datang ke tempat ini juga harus dapat tersampaikan.


"Bagaimana jika kau ajarkan saja pada mereka apa itu seni?"


"Semua peserta ujian ini menghabiskan banyak waktu dalam hidup mereka untuk latihan fisik. Seharusnya kau memberi tau mereka seperti apa melukis yang benar.


Siapa tau jika mereka belajar langsung darimu, kelak kau mungkin bisa dapatkan murid lain sehebat muridmu Angelo dari peserta ujian tahun ini." Pak tua Jenskin akhirnya menyelesaikan perkataannya setelah menyusun itu di kepala.


"Baiklah, ujian tahap dua ini akan aku ubah, jadi kalian ingin ujian dalam bentuk fisik bukan?" Pak tua Hoshi bertanya yang di jawab semua orang yang ada di tempat ini dengan mengangguk setuju.


"Jenskin, kau bisa mengantarkan kami ke pantai selatan?" Pak tua Hoshi menatap ke arah orang tua berjanggut putih.


"Tentu saja.." Pak tua Jenskin tersenyum manis akhirnya menemukan solusi.


Helikopter kargo berukuran besar yang bisa menampung banyak orang mengangkasa di udara menuju suatu wilayah yang lumayan jauh dari hutan magis.


Beberapa jam yang melelahkan bagi mereka selama di perjalanan. Tapi pada akhirnya helikopter itu turun ke tanah.


"Kalian lihat pantai di hadapan kalian?" Pak tua Hoshi menunjuk arah laut setibanya mereka turun dari helikopter kargo milik elite militer.


Ombak bergulung. Tidak jauh dari pantai ada sebuah palung sangat dalam yang bisa di lihat dari warnanya yang biru gelap menghitam.


Air dalam jumlah besar melompat beriak bergulung kencang. Sepertinya tidak ada kehidupan di laut seperti ini.

__ADS_1


"Kita akan melompat, tapi kalian lihatlah aku lebih dulu." Pak tua Hoshi lompat ke dalam gulungan ombak setelah menanggalkan setelan jas rapihnya.


Banyak orang terperanjat merasa kalau tidak akan ada yang selamat dari air yang berputar di laut itu.


"Di.. dia sudah mati"


"Apa dia bunuh diri?"


Air berkobar seperti api yang tertiup angin sangat kencang. Air bergejolak melompat ke udara menggambarkan amarah lautan.


Orang-orang terdiam dalam keheningan dan pemikiran mereka masing-masing. Hanya Xernathan, pak tua Jenskin dan Angelo serta beberapa orang lain termasuk ke dua orang bertopeng yang terlihat masih tenang. Beberapa dari mereka itu tau kalau gulungan air laut seperti ini tidak akan melukai orang seperti pak tua Hoshi.


Lagipula air itu memang tidak berbahaya.


"Bagaimana kalian sudah melihatku?" Pak tua Hoshi langsung bertanya, menghiraukan banyak orang yang mulutnya menganga saat melihat dia keluar dari air dengan selamat.


"Aku akan meluluskan ujian tahap dua, meski seperti apapun hasil lukisan kalian nanti"


"Keluarlah dari gulungan air itu hidup-hidup setelah kalian merasakan gejolak airnya, setelah itu mulailah melukis dengan apa yang kalian rasakan." Pak tua Hoshi mulai merapikan lagi setelan jasnya.


"Ti.. tidak mungkin"


"Siapa orang waras yang mau melompat ke dalam gulungan ombak seperti itu"


"Semua orang dari kami tau kalau kami ini bisa mati sewaktu-waktu, tapi tidak ada dari kami yang masih waras ini mau mati dengan cara bunuh diri seperti ini." Taiho merapatkan giginya. Dia mulai menyesal karena menolak ujian tahap dua dengan melukis.


Sekarang ini ketika mereka akan melukis dengan cara seperti ini, dia mulai ragu.


"Itulah yang harus kalian semua tau, seorang yang masih waras tidak boleh menjadi elite militer." Sanji tersenyum lebar menunjukkan giginya mengejek orang yang mulai menyerah.


"Ayoo kita lompat.."


Shuuu.. Ke empat orang anak itu melompat.


Air membuat mereka terombang-ambing sudah seperti bulu di tiup angin kencang.

__ADS_1


Orang lain ikut melompat. Perasaan mereka bermacam bentuknya dalam perasaan takut, ragu bahkan pasrah tapi tetap ada saja yang dengan senyuman melompat masuk ke dalam gulungan air.


__ADS_2