Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.38 Kepedihan mendalam


__ADS_3

Banyak orang terhanyut dengan pemikiran di kepala mereka masing-masing. Nyatanya air di pantai selatan ini memiliki kekuatan magis.


Selagi mereka terhanyut dalam gulungan air dan terbentur ke sana-sini, isi kepala mereka seperti berpikir lebih cepat dan mengingat hal-hal yang tidak selalu mereka pikirkan selama ini.


"Apa kepala kalian masih buntu?" Angelo tidak habis pikir menatap orang-orang yang sudah keluar dari air. Saat memegang kuas di hadapan kanvas mereka masing-masing tetapi terlihat belum ada dari mereka yang menorehkan warna sedikitpun pada kanvas.


Laut selatan memberikan dua hal kepada orang-orang ini, renungan dan ingatan.


Matahari terbenam tapi entah kenapa terasa sangat menyedihkan. Bahkan Levin tidak bisa menahan senyumnya lebih lama. Dia mulai menyesal melompat masuk ke dalam air itu.


"Kalau begini jadi lebih baik." Pak tua Hoshi tersenyum lebar. Melihat satu-satu lukisan para peserta ujian.


Angelo dan pak tua Jenskin adalah yang paling lega setelah semua ini. Jika tidak ada solusi ini maka benar-benar tidak akan ada yang lulus menjadi elite militer tahun ini.


"Baiklah kalian lihat lukisanku ini." Pak tua Hoshi menunjukkan hasil lukisannya.


Langit di berinya warna putih dengan awan yang indah. Burung berpasang-pasangan dan bergerombol terbang terlihat elok di atas langit.


Di bawah, di gambarkannya ombak air yang berkecamuk dengan garis-garis tegas dan warna yang kontras antara warna biru putih dan kuning.


"Terkadang, kepala kita bisa sangat tenang dalam keadaan seperti apapun, karena orang seperti kita sudah terbiasa hidup dalam tekanan seperti apapun." Peserta ujian hening saat mendengarkan perkataan pak tua Hoshi.


"Sedangkan hati kita, berkecamuk dalam perasaan sedih dan duka yang mendalam"


"Kita tidak di mengerti oranglain, kita butuh teman cerita. Melalui lukisan, kalian bisa mengatakan semua kepedihan di hati dengan melukis seperti ini tanpa di hakimi orang lain."


"Itu berarti pemandangan yang pak tua Hoshi inginkan bukan hanya soal apa yang kita lihat tapi juga menceritakan apa yang selama ini kita rasakan." Theodorus mengambil kesimpulan. Dia sendiri setelah keluar dari air dan melukis di kanvas hatinya di penuhi dengan kepedihan dan menggambarkan matahari yang tenggelam dengan hujan yang seperti air mata.


Taiho dan puluhan orang lainnya yang tidak berani melompat ke dalam air dan yang mati di dalam air di nyatakan tereleminasi. Mereka yang gagal ada yang merasa bersyukur dan ada yang merasa kecewa karena gagal ujian.


Pria dan wanita tersisa empat puluh dua orang dari keseluruhan peserta ujian. Mereka yang berada di tempat itu terdiam. Menikmati bising ombak yang bergemuruh dan burung-burung yang lewat di atas kepala mereka.


Detik-detik terakhir saat mereka melihat ujung dari matahari. Perasaan itu hilang, mereka tidak selemah itu lagi. Perasaan atas duka masa lalu dan ingatan kejadian yang pernah di rasakan seseorang bisa membuat orang seperti Levin sekalipun menjadi lemah untuk sesaat.

__ADS_1


-


"Maaf dengan kekacauan hari ini, kalian melewati dua ujian sekaligus. Tersisa empat puluh dua orang, itu sudah bagus" Pak tua Jenskin menyambut ke empat puluh dua orang ini.


Dari atas helikopter kargo yang terbang sejajar dengan langit. Mata para peserta terlihat lesu karena kelelahan.


Bahkan hanya sedikit fokus orang-orang ini yang tersisa untuk mendengarkan orang tua berjanggut putih yang berbicara di depan mereka.


"Namaku Jenskin, aku adalah jenderal elite militer senang bertemu dengan kalian."


"Namaku Alexa, sekertarisnya jenderal Jenskin." Wanita dengan giok di antara kedua alisnya tersenyum ramah menyambut semua orang yang sebelumnya belum sempat berkenalan dengannya.


"Kalian akan segera menghadapi ujian berikutnya, ujian tahap tiga" Sekertaris pak tua Jenskin menjelaskan.


"Kalian silahkan beristirahat dan melakukan apapun yang kalian mau dan makan sepuasnya di dalam helikopter ini."


Pak tua Jenskin tersenyum lebar melihat semua orang di tempat ini. Mereka terlihat sangat kelelahan. Tidak ada kata sambutan lebih panjang lagi, mereka di persilahkan untuk meninggalkan aula tengah helikopter.


"Nathan, Sanji, Theo bagaimana jika kita berkeliling helikopter ini, sepertinya tempat ini sangat luas." Mitsuya mengajak ketiga orang temannya dengan penuh semangat.


"Kita berdua saja yang berkeliling, mereka berdua tidur saja." Xernathan menyetujui ajakan Mitsuya.


"Baiklah.."


Kedua orang itu pergi meninggalkan dua teman lainnya. Theodorus dan Sanji mencari dimana ruang untuk tidur.


"Kalian yakin mau tidur?" Urino tiba-tiba bertanya saat Sanji dan Theodorus sudah meraih gagang pintu salah satu kamar.


"Kenapa memangnya?" Sanji merasa tidak senang, dia sudah sangat lelah untuk sekedar berbasa-basi seperti ini.


"Bukannya sudah jelas ujian tahap dua mungkin di adakan di atas kapal ini" Urino menyeringai lebar ketika melihat ekspresi wajah Sanji. Begitu Sanji mendengar penjelasannya, anak itu langsung melepaskan tangannya dari gagang pintu.


"Apa maksutnya itu?" Sanji menekuk alisnya.

__ADS_1


"Bisa dengar kan saat sekertaris cantik itu berkata kalau kita akan segera menghadapi ujian tahap ketiga?"


"Apa kalian tidak sadar wanita dengan giok di kepalanya itu tidak mengatakan kapan ujian tahap tiga di mulai?" Seringai di wajah Urino semakin lebar, melihat keraguan dua orang anak itu.


"Kalian bisa saja melewatkan ujian karena beristirahat, kalian harusnya berpikir."


"Baiklah kami terima masukanmu, tapi kami tetap butuh meregangkan tubuh di dalam kamar." Theodorus melambaikan tangan ke arah Urino dan menarik masuk Sanji ke dalam kamar.


'Mereka pasti gelisah sepanjang malam dan tidak punya waktu yang cukup untuk beristirahat' Batin Urino berkata, melihat dua orang anak itu yang termakan oleh omongannya.


Ujian besok akan sama panjangnya dengan hari ini. Kekurangan waktu tidur akan berakibat fatal untuk anak biasa seperti mereka.


"Whaa.. Nathan lampu-lampu kota jika di lihat dari angkasa seperti ini sangat indah ya, aku pikir ini seperti perhiasan." Mata Mitsuya terbuka lebar melihat kota-kota yang mereka lewati dari atas langit.


Xernathan hanya senyum dan matanya bercahaya. Di kehidupan sebelumnya Xernathan tidak sempat menikmati hal seperti ini. Jika ada waktu beristirahat maka dia dan adiknya akan benar-benar beristirahat.


Hari ini benar-benar sangat melelahkan di kehidupan sebelumnya maupun di kehidupan yang sekarang ini.


"Mitsuya kenapa kau mau menjadi seorang elite militer?" Xernathan sebenarnya sudah tau jawabannya. Tapi dia bertanya sekali lagi.


Mitsuya menatap nanar pemandangan malam dari kaca helikopter sambil menopang dagunya dengan tangan. "Ayahku hanya ingin aku menjadi kuat sepertinya. Aku menjalani banyak penyiksaan dari ayahku sendiri"


"Ayahku adalah tentara bayaran"


"Ibuku selalu bertengkar karena sikap ayahku seperti itu. Tapi saat mereka terus berdebat akan seperti apa hidupku, aku kabur dari rumah" Mitsuya mengepal tangannya.


"Nathan, kau tau kan, tidak ada orang yang mau hidupnya di atur oleh orang lain."


Xernathan menghapus liur Mitsuya yang muncrat di wajahnya. Temannya ini terlihat sangat tidak suka perlakuan ayahnya seperti itu. Mitsuya hanyalah anak biasa yang suka bermain-main terlepas dari banyaknya latihan mengerikan yang di lewatinya selama ini.


"Aku hanya mau berbicara baik-baik dengan ayahku. Ingin sekali rasanya membuat dia bahagia. Kita semua tau, tidak mudah membesarkan manusia sesuai dengan kemauan kita.


Kalau saja ayahku mau mendengarkan. Aku bahkan rela memberikan negara Centuri ini untuknya. Aku tidak sekalipun membenci dia bahkan aku takut ayah, ibu dan adik perempuanku sedih karena aku pergi dari rumah seperti ini." Efek dari menyelam di laut selatan yang magis itu harusnya sudah hilang sejak terbenamnya matahari. Tapi rasa yang sama masih tersisa.

__ADS_1


Xernathan bisa melihat mata Mitsuya yang berlinang, menceritakan ketidak berdayaannya.


__ADS_2