
"Apa ujian yang di berikan si Gatlin terlalu sulit bagi kalian hah? Kenapa jumlah kalian jauh berkurang hingga lebih dari setengah total di awal." Angelo menatapi wajah semua orang yang ada disini.
Orang-orang tidak menjawab, sebagian besar dari mereka bahkan tidak memiliki kepentingan maupun hubungan dengan para peserta yang sudah gugur.
"Terserahlah, aku tidak perduli lagi dengan jumlah kalian" Pak tua Hoshi berdiri.
"Aku dan Angelo adalah seorang seniman maka dari itu ujian tahap kedua adalah ujian melukis." Pria sepuh bernama Hoshi menjawab dan matanya terlihat berbinar.
Orang-orang saling tatap mereka tidak setuju dengan ujian kali ini.
"Apa-apaan ujian tahap dua ini"
"Heii kami ini mau jadi elite militer bukan mau menjadi seniman" Hampir semua peserta mengatakan tidak setuju dengan ujian kali ini dan mereka sisanya memilih untuk diam.
"Kalau begitu sayang sekali, penguji kalian saat ini adalah dua orang seniman, kalau kalian menolak melukis itu artinya kalian di pastikan gagal melewati ujian tahap dua menjadi elite militer" Angelo mengatakan sambil menatap semua orang dengan dingin.
"Kalian bisa kembali mengikuti ujian menjadi elite militer tahun depan"
"Dan semoga kalian tidak bertemu kami lagi tahun depan."
Ketika Angelo menyelesaikan kata-katanya, pria sepuh bernama Hoshi itu yang terlihat paling lebar senyumnya.
Xernathan memahami sepenuhnya ide ujian melukis ini pasti berasal dari pak tua Hoshi.
"Kalian tidak perlu melawan dua orang yang ada di depan ini. Menurutku, jika ujian elite militer tidak sedang di uji kekuatan fisiknya maka bisa di pastikan melukis ini adalah bagian dari uji mental atau psikis." Xernathan berbisik kepada tiga orang temannya.
"Wahh.. kau cerdas sekali aku bahkan tidak berpikir sejauh itu." Mata Mitsuya membuka lebar mengakui kemampuan analisa Xernathan.
"Heii apa-apaan kau ini" Pria berbadan paling besar bernama Taiho dengan nomor 598 di dadanya menantang dua orang elite militer di hadapannya.
"Kalian tidak boleh berbuat sesuka hati kalian"
"Apa kalian mau menguji kami dengan sesuatu yang tidak berguna?" Taiho menantang mata kedua orang pengawas ujian tahap dua ini.
Pak tua Hoshi merapatkan giginya geram, dia tidak suka sesuatu yang di anggapnya sangat penting malah di hinakan seperti ini.
__ADS_1
"Apa kau pak tua, kau mau menantangku hah?" Taiho melihat kegelisahan pak tua Hoshi yang berdiri di depan mereka dalam keadaan tubuh bergetar hebat, seperti menahan untuk melakukan sesuatu.
Fusshh..
Puff..
Hngghkk.. Dalam dua kali kedipan mata, pria yang lebih muda bernama Angelo yang sebelumnya di hadapan mereka, seperti berlari cepat di bulan tapi kasat mata memukul perut Taiho hingga terpental jauh.
"Kau jangan sekalipun meninggikan nada bicaramu di depan pak Hoshi." Angelo tidak menahan ketidak sukaannya.
Di depan sana, ekspresi wajah pria sepuh bernama Hoshi masih belum membaik bahkan setelah melihat orang yang membuatnya kesal terpental jauh dan meringis kesakitan di tanah.
"Tidak mungkin"
"Elite militer memang orang gila"
"Angelo bahkan terlihat tidak mendapatkan kesulitan yang berarti ketika memukul mundur orang berbadan besar seperti Taiho sampai sejauh ini"
"Tapi aku rasa seorang pengawas ujian tidak pantas melakukan penyerangan terhadap peserta ujian, karena alasan apapun."
khihihii.. Suara tertawa yang khas terdengar dari arah pria yang menggunakan topeng kelinci.
"Angelo, dia tidak bermaksut untuk menyerang pria bernama Taiho ini" Levin menggeleng sambil menahan tawanya.
"Pengawas ujian muda itu melakukan ini supaya Taiho terhindar dari kematian, karena serangan yang akan di berikan pria sepuh bernama Hoshi ini." Levin menunjuk tiap orang yang namanya dia sebut.
Orang-orang terperanjat. Mereka bahkan tidak berpikir sejauh ini dan menganggap bahwa kejadian ini sepenuhnya niat buruk dari Angelo.
"Kalian jangan terlalu naif, tidak ada aturan di tempat ini bahkan ketika kalian semuanya mati, kami, elite militer bisa saja menutupi kematian kalian dari publik." Pria sepuh berjanggut hitam itu akhirnya buka suara.
Setelah itu dia banyak menyampaikan kekecewaannya terhadap semua orang yang di hadapannya saat ini. Dia tidak ingin menghadapi orang-orang yang memiliki pemikiran dangkal seperti mereka semua.
"Aku mau kalian melukis pemandangan. Itu saja, kami hanya menyediakan kanvas. Kalian boleh mendapatkan warna dari darah ataupun tumbuhan yang ada di sekitar lokasi ini.
Lokasi kalian berlarian sebelumnya, kalian sudah tau kan seberbahaya apa tempat itu kan?" Pak tua Hoshi menjelaskan dengan malas-malasan tapi akhirnya menyelesaikan perkataannya.
__ADS_1
"Waktu di hitung dari sekarang, kalian boleh pergi untuk mengumpulkan warna yang kalian butuhkan untuk melukis sebuah pemandangan." Angelo menyelesaikan penjelasan yang belum di sampaikan oleh pak tua Hoshi pada peserta ujian.
Lalu semua peserta ujian di tempat itu pergi keluar dari sanggar seni, termasuk Taiho dan kembali memasuki lokasi hutan sebelumnya.
-
"Dari apa kita akan menciptakan warna?" Theodorus yang bertanya.
"Dominasi warna paling banyak dari sebuah pemandangan adalah warna hijau." Sanji menyampaikan pendapatnya.
Hmm.. Mitsuya bergumam, meletakkan tangannya di dagu memikirkan dari mana mereka bisa mendapatkan warna hijau.
Di hutan magis itu orang-orang berpencar dan tidak sedikit yang membentuk sebuah aliansi.
Warna merah darah adalah warna yang paling awal tercipta. Dari darah peserta ujian yang telah gugur dan para monster yang menyerang mereka.
Sesekali teriakan terdengar di sembarang arah, bukti paling nyata bahwa mereka saat ini masih jauh dari mendekati kemampuan seorang elite militer sesungguhnya.
"Kalian lihat itu!" Xernathan menunjuk suatu arah bawah di lembah depan mata mereka.
"Yaa, tapi itu semua pasti tumbuhan beracun." Mitsuya melihat ada tanaman berwarna-warni tumbuh liar di hutan magis itu. Tapi mengingat penjelasan Gatlin siang tadi, Mitsuya langsung memberi peringatan.
"Tidak masalah." Sanji bahkan tidak perduli apalagi masalah yang harus dia hadapi di hutan ini. Mengingat Sanji sebelumnya sempat berada lama di dalam hutan magis ini sendirian saat mencari Xernathan dan Theodorus.
Shuuu.. Ke-empat orang itu merosot seperti bermain perosotan menuruni tebing menuju ke lembah yang terdapat banyak sekali bunga berwarna-warni sambil tertawa.
Hnggh.. Xernathan menghirup udara panjang.
"Sepertinya bunga-bunga ini tidak punyai racun yang terlalu membahayakan" Xernathan mengatakan sesuatu yang sebenarnya kabar baik tapi wajahnya tidak terlihat senang sama sekali karena dia menangkap masalah lain.
"Monster seribu tahun." Xernathan tersenyum kecut sambil menunjuk suatu arah yang berada tidak jauh dari hutan bunga itu.
Serempak ketiga orang temannya menelan ludah, tidak menyangka akan secara terpaksa menghadapi masalah besar di hadapan mereka saat ini juga.
"Ayo, sekarang waktunya kita evaluasi lebih jauh batas kemampuan kita." Ucap Mitsuya dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1