
'Ayah tau hidup yang kalian berdua jalani sangat berat. Lebih berat dari siapapun.
Kadang kita berpikir, kenapa kita tidak bisa menikmati hari yang tenang di hidup ini. Kenapa kita tidak pernah bisa dapat kehidupan yang lembut.
Kita terus bertanya kenapa semua orang mengatakan bahwa setiap kehidupan itu berharga tapi pada kenyataannya, tidak seorangpun perduli pada nasib kita.
Begini, yang ayah tau mereka juga sibuk dengan urusan mereka dan mereka juga sama, oranglain juga merasakan bahwa hidup berlalu begitu cepat. Tempat yang tenang dan kesempatan untuk di dengarkan adalah hal yang sangat berharga, semua orang sedang berjuang untuk itu.
Kalian berdua tidak boleh menyerah ya sama hidup kalian.
Apapun yang membuat kalian merasa gagal dan ingin menyerah jangan sekalipun berniat untuk mengakhiri hidup karena alasan apapun. Justru, kalian harus bertahan karena alasan apapun.
Bertahan demi musim hujan di bulan desember tahun depan.
Bertahan demi bisa makan mie instan di jam dua pagi pada malam berikutnya.
Bertahan demi bisa mendengar tawa teman-teman kalian ataupun tawa bunda.
Bertahan demi bisa melihat wajah jelek ayah suatu saat, yaa. Ayah ingat dulu waktu adik Gavin bayi dan abang Nathan kecil selalu tertawa melihat wajah ayah.
Ayah mau, kalian bertahan demi apapun yang membuat kalian senang sekecil apapun alasannya. Ayah mau kalian tetap hidup, yaa'
Air mata kemudian mengalir membuat pipi pria centenarian itu basah. Tidak terhitung berapa kali sudah Ia baca tulisan di kertas ini, sampai dia sudah hafal isinya dan ingat bentuk dan bercak-bercak pada kertas di genggaman tangannya.
Tapi tidak sekalipun dia merasa perkataan pada kertas itu bisa mengurangi beban hidupnya. Karena pada kenyataannya yang dia lakukan sampai sekarang ini hanyalah mengutuki diri sendiri tanpa merasakan kesenangan seperti apa yang surat itu katakan.
Setidaknya, sejauh ini sampai pria tua itu berumur lebih dari seratus tahun alasan utama dia bertahan selama ini adalah kata kata yang tertulis pada kertas itu.
Kalau saja tidak ada permintaan dari ayahnya agar dia bertahan demi alasan apapun. Pria yang sedang menangis ini pasti sudah lama mengakhiri hidupnya.
Hidupnya selama ini penuh dengan penyiksaan dan kehilangan banyak orang yang dia sayangi karena peperangan yang terjadi di negerinya.
__ADS_1
Sedari kecil pun dia sudah di tinggal oleh ayahnya dan tidak pernah sekalipun bertemu dengan ayahnya hingga saat ini. Hanya ada surat dan sebilah pedang yang merupakan peninggalan ayahnya, lebih dari itu dia tidak ada ingatan apapun tentang ayahnya.
Tanpa adanya alasan yang jelas dia tidak tau alasan ayahnya itu pergi meninggalkan dia serta ibu dan adiknya.
-
Ide gila seketika muncul di saat-saat akhir sebelum pria centenarian itu akan mati di atas tempat tidur.
Pria tua itu menatap sebuah kursi dengan baterai-baterai raksasa serta mesin canggih di salah satu sudut ruangannya.
"Apakah akan lebih baik saat aku mencobanya?" Gumam pria itu pelan sambil menatap nanar ke arah mesin itu.
Pria itu menggeleng cepat. "Tidak.. tidak.. aku sudah berjanji pada ayahku."
Kertas yang sebelumnya Ia baca, di bacanya lagi mengkaji isi dari tulisan itu.
Berulang kali dia membolak-balikkan kertas yang hanya ada satu lembar dan isinya tetap sama.
Beberapa lama waktu berlalu, pria tua itu semakin terjebak oleh pikirannya sendiri. Dia tidak ingin apa yang dia lakukan selama ini untuk memenuhi janjinya pada pria yang menulis tulisan pada kertas yang dia pegang saat ini jadi gagal, hanya karena satu keputusannya yang ternyata salah.
"Apa maksutnya ini.." Pria tua itu kembali menatap kertas di tangannya, meremas kain yang menjadi alas tidurnya dan berpikir semakin keras hingga kepala yang sudah tampak sangat kelelahan itu semakin memunculkan guratan-guratan besar keriput dan kini membuat kepalanya terasa sakit.
Ia memecah lamunannya dan menggeleng untuk segera mengambil tindakan. Pria itu berdiri dan mulai membersihkan mesin serta mengaliri listrik untuk membuat mesin-mesin itu menyala.
"Setidaknya aku harus mati karena tindakan atas pilihanku.." Gumam pria itu pelan, yang kini tangan, kaki, dada, kepala dan seluruh anggota tubuhnya yang lain sudah dipasangi tempelan-tempelan berbagai macam bentuk dan ukuran yang terhubung langsung pada mesin yang kini sudah menghitung waktu mundur sepuluh menit untuk bekerja.
"Bukan mati karena menyerah pada hidup ini.." Pria tua itu menyeringai penuh arti.
"Ini bukan bunuh diri, ini adalah percobaan hasil penelitian, tapi kalau ternyata aku mati karena ini aku akan mati terpuji karena berkorban untuk kepentingan penelitian."
Batinnya terus membela diri atas tindakannya saat ini. Meskipun dia ragu, karena selama ini memang alat yang dia gunakan sekarang hanya di letakkannya pada salah satu sudut ruang di kamarnya selama berpuluh tahun lamanya.
__ADS_1
Alat itu adalah hasil penelitian oranglain.
Keraguan bermunculan dalam benaknya, tapi waktu terus berhitung mundur yang terlihat tertera pada mesin itu. Nafas pria tua itu sesekali terhenti karena mulai tidak yakin.
Sudah terlambat ketika dia mulai semakin ragu. Air berwarna biru terlihat mengalir melalui selang-selang kecil transparan menuju tangan dan dada lalu menembus kulit pria tua itu.
Getaran mesin mulai tidak stabil yang di ikuti dengan suara gemuruh membuat wajah tua itu terlihat pucat dan ekspresi wajahnya tidak lagi dapat di kondisikan olehnya.
Belum sempat pria centenarian itu menyesali perbuatannya, aliran listrik bertegangan sangat tinggi merambat menuju tiap titik tertentu pada tubuhnya.
Cahaya putih terang di sertai suara desingan muncul dan menimbulkan gelombang kejut yang perlahan menghilangkan kesadaran pria itu. Seluruh Tenaga dalam yang di milikinya juga ikut terkuras habis.
***
'Xernathan' pria itu tertawa dalam batinnya menyadari kini dia seperti tengah mengambang tidak tentu arah berada di ruang hampa tanpa ada siapapun tanpa ada apapun selain dirinya.
'Akhirnya kau mati juga..' Pria bernama Xernathan itu seperti mensyukuri kematiannya. Dia tidak ingat karena apa dirinya meregang nyawa, tapi pada akhirnya dia berada di tempat ini.
Tidak ada siapapun, tidak ada apapun, tidak memiliki apapun, tidak mengetahui apapun, tidak memikirkan apapun. Hanya ruang hampa sejauh matanya memandang.
Saat ini yang dia rasa hanyalah kekosongan.
Setelah entah berapa lama waktu yang berlalu, Xernathan menyadari kini ruang dan pandangannya mulai menyempit. Pikirannya yang sebelumnya kosong, sekarang ini sudah memiliki keinginannya sendiri.
"Surgaa, aku akan mendapati surga.." Bibir yang sebelumnya seperti tidak ada itu, kini dapat di rasakan pria itu dan mulai berucap.
Perlahan-lahan pria itu mendapati penuh kesadarannya dan mulai memiliki keinginan.
"Cukup penderitaan aku rasakan. Saat aku berada di suatu tempat nanti, aku mau itu adalah surga.." Pria itu mengepal tangan yang kini bisa dia rasakan dan mulai merapal kata demi kata untuk meyakinkan hatinya dan apapun itu untuk pastikan tempat yang Ia tuju setelah ini adalah tempat yang menyenangkan untuknya.
Ruang dan waktu kini bergerak cepat, sangat cepat, semakin cepat dan melampaui batas nalar.
__ADS_1
Hingga membuat pria itu kembali kehilangan kesadarannya.