
Berita terjadinya penculikan anak-anak di bawah umur yang terjadi di kota sudah sampai ke telinga ibu Xernathan beberapa jam setelahnya.
Pagi itu ibu Xernathan menyembunyikan Gavin, adiknya Xernathan di tempat yang aman dan segera menyusul anak pertamanya itu menuju dermaga di pusat kota.
Sebenarnya Xernathan masih sempat melihat ibunya datang bersama rombongan bantuan dari desa-desa terdekat sewaktu Ia di seret naik ke atas kapal.
Tapi Xernathan tidak berusaha untuk menemui ibunya dan menjelaskan apa yang terjadi padanya saat ini. Xernathan sudah lebih dulu memikirkan cara agar ibunya tidak perlu merasa terlalu khawatir padanya.
Berbagai ukuran batu dan berbagi jenis pisau maupun parang melayang ke arah deck kapal saat kapal itu mulai menjauh dari dermaga.
"Cihh.. bodohnya penduduk pulau ini" Kapten kapal berjanggut lebat itu menepis serangan demi serangan berupa lemparan dari penduduk pulau menggunakan kemampuan penguasaan Qi nya.
Kapten kapal mengangkat sebuah jangkar berukuran dua kali tubuhnya yang besar itu dengan kedua tangannya dengan di aliri Qi berjumlah sangat besar.
Di sudut belakang kapal kapten kapal Morgan bertarung melawan serangan udara yang menuju ke arah kapal sendirian.
'Apa kalian penduduk pulau ini sudah tidak sayang dengan anak-anak kalian yang ada di atas kapal?' Gumam pria berjanggut lebat itu tampak kelelahan karena mengangkat jangkar sebesar itu membutuhkan aliran kekuatan Qi yang tidak sedikit, setidaknya membutuhkan jumlah sebanyak ratusan lingkar Qi.
Huhh.. Kapten kapal menghela nafas panjang setelah jarak kapalnya dari dermaga beberapa puluh meter, sampai lemparan-lemparan itu tidak lagi berhasil menyentuh kapal.
Kapten kapal memerintahkan anak buah kapalnya menembaki mesin perahu-perahu kecil yang berusaha mengejar mereka.
Ketika semua itu selesai kapten kapal berjalan masuk ke dalam ruang kemudi.
"Naathaaan.." Sebuah teriakan terdengar oleh pendengaran Xernathan yang tajam di antara teriakan-teriakan lain di pelabuhan.
Nama-nama anak lain yang di bawa naik ke atas kapal juga Xernathan dengar, tapi Xernathan hanya fokus pada suara wanita yang memanggil namanya.
"Xernathaan.." Teriakan itu kembali Xernathan dengar berulang kali dari ibunya.
__ADS_1
"BUNDA, NATHAN ADA DI ATAS KAPAL DAN BAIK-BAIK SAJA" Xernathan mengaliri Qi pada lehernya dan membuat suaranya terdengar jelas bahkan menggema hingga sampai jarak puluhan meter jauhnya.
"NATHAN TIDAK BISA KELUAR DARI SINI KARENA NATHAN DI JERAT, TAPI NATHAN JANJI SUATU SAAT PASTI PULANG"
"BUNDA JAGA KESEHATAN YA, JAGA ADIK GAVIN"
"KALAU BUNDA BUTUH HARTA MINTAKAN SAJA PADA KAKAK LEXI"
"XERNATHAN SAYANG BUNDAAA"
Orang-orang di pelabuhan merasa kaget mendengar teriakan Xernathan dari jarak sejauh ini. Penduduk pulau yang sedang memberikan perlawanan dengan cara melempar semua barang yang ada di dekat mereka juga merasa kaget hingga menghentikan kegiatan mereka sejenak.
Ibu Xernathan yang mendengar suara anaknya merasa lega. Dia sudah cukup ketika mengetahui anaknya yang hebat itu baik-baik saja. Dengan mata yang berlinang ibu Xernathan mengumpulkan lagi tenaganya untuk berteriak.
"Bunda juga sayang Nathaaaaann.." Teriakan ibu Xernathan memang tidak terdengar oleh abk kapal yang tidak mampu menggunakan Qi. Tapi kapten kapal Morgan dan juga Xernathan bisa mendengar dengan jelas suara wanita itu.
Kapal yang di nahkodai kapten kapal bernama Morgan itu ternyata membawa anak-anak lain yang bukan hanya berasal dari pulau Cyclops. Umur mereka juga bervariasi mulai dari lima sampai sepuluh tahun.
Setelah beberapa hari kapal berlayar di perairan danau yang sangat luas itu, anak-anak korban penculikan sudah tidak lagi di sekap, mereka mulai bisa bergerak ke segala penjuru kapal.
Tapi trauma yang menyisa dalam benak mereka membuat sebagian besar dari mereka memilih untuk berdiam diri di tiap sudut dan kabin kapal.
Xernathan berhasil berkenalan ulang dengan anak bernama Theodorus yang beda umur tiga tahun dengannya. Theodorus saat ini sudah berumur lebih dari sepuluh tahun dan memiliki tubuh lebih besar dari Xernathan.
Theodorus ini adalah orang yang sangat baik pada Xernathan dan adiknya pada kehidupan Xernathan yang sebelumnya. Xernathan berjanji untuk sebisa mungkin membalas kebaikan Theodorus di kesempatan kali ini.
Satu hal yang paling di syukuri Xernathan saat ini adalah adiknya yang tidak ikut menjadi korban penculikan bersamanya.
Xernathan tidak yakin harus senang atau sedih tapi yang pasti ketika melihat anak-anak lain yang menangis ingin pulang, hati Xernathan ikut hancur melihatnya.
__ADS_1
Sore itu udara terasa berbeda. Burung-burung yang terbang di atas kapal itu seperti berusaha menyampaikan satu pesan akan terjadinya sesuatu pada mereka. Xernathan yang memahaminya langsung menuju ke deck paling depan kapal.
Xernathan menggosok hidungnya untuk menetralkan penciumannya lalu menghirup udara panjang merasakan baunya.
"Woii kapten di depan ada badai besar, kapal ini menuju ke arah sana." Xernathan berteriak memberi tau.
Abk kapal yang berada tidak jauh dari Xernathan menganggap perkataan anak itu adalah bualan. Karena sepenglihatan mata mereka tidak ada apapun di arah yang kapal mereka tuju. Bahkan awan di langit menunjukkan bahwa sore ini adalah sore yang cerah.
"Heii bocah kau tidak perlu berteriak aku bisa mendengar suaramu." Kapten berjanggut lebat itu keluar dengan botol alkohol di tangannya.
"Aku bisa merasakannya, burung di atas kita juga mengatakannya. Ada badai besar jauh di depan kita." Xernathan sekali lagi mengingatkan kapten kapal.
Kapten Morgan tertawa lantang. "Kalau memang itu yang terjadi, menurutmu apa yang akan aku lakukan?"
"Kembangkan layar, kita akan menuju badai besar yang anak ini katakan." Kapten kapal itu kembali masuk ke ruang nahkoda memerintahkan pria yang merupakan asisten kapal untuk melakukan apa yang dia katakan barusan. Meninggalkan Xernathan yang terus mencaci maki dirinya di dalam benak anak itu.
"Cihh.. Morgan ini memang gila.." Xernathan kenal kapten kapal ini dari kehidupan pertamanya.
Dulu di kehidupan pertamanya Xernathan belum mengerti bagaimana cara mengetahui badai akan datang.
Di suatu malam Xernathan melihat adiknya termangu di salah satu lorong kapal sehabis dia mencarikan beberapa potong roti.
Mereka makan beberapa cuil roti di bawah temaram lampu lima belas whatt. Saat itu Xernathan masih trauma karena kejadian penculikan yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Adiknya Gavin terus-terusan menahan air matanya agar tidak keluar karena takut membuat saudaranya merasa bersalah karena mengajaknya jalan-jalan di kota di suatu hari yang sangat sial bagi mereka berdua itu.
Saat tiba-tiba badai menghantam kapal mereka, membuat isi perut yang kosong itu merasa mual hebat sepanjang perjalanan.
Sekarang saat ini Xernathan pergi sendirian, dengan kondisi ini Xernathan sudah jauh lebih siap untuk menghadapi masalah jenis apapun termasuk hujan badai sekalipun di depan mata.
__ADS_1