Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.29 Kelainan mental


__ADS_3

Satu rombongan terdiri dari dua puluhan orang kehilangan jarak pandang orang-orang yang ada di depan mereka. Mereka berhenti dan tidak tau kemana arah yang harus mereka tuju.


Kabut putih semakin pekat memenuhi udara di hutan. "Kesini, kalian semua jangan berada jauh dariku. Ikuti aku." Sebuah siluet terlihat melambaikan tangan ke arah mereka. Suara yang memanggil mereka terdengar seperti Gatlin.


"Kesana, itu dia Gatlin.."


"Ayo cepat jalan.."


Mereka saling dorong-dorongan akhirnya berlari maju mengikuti siluet yang memanggil, ada saja ragu dari masing-masing mereka tapi tidak ada jalan lain menuju lokasi ujian tahap ke dua selain mencoba mendekat ke arah siluet di balik kabut tersebut.


Aaaaaaaa... Jeritan panjang dari lima orang yang mencoba mendekati ke arah siluet itu.


Ternyata siluet itu bagian dari ilusi yang mereka alami efek racun dan kelelahan.


Belasan orang sisanya mendekat berhati-hati menuju sumber suara teriakan rekan mereka.


"Tidak mungkin.."


'Untung saja aku tidak tergesa-gesa' Batin mereka masing-masing mengucap syukur.


Orang-orang itu entah mensyukuri kematian lima orang itu atau mensyukuri mereka yang tidak ikut mati. Melihat lima orang itu terperosok ke dalam lubang penuh monster buaya ganas yang mencabik kelima orang itu.


Mereka berlari semakin jauh meski tidak tau masih pada jalan yang benar atau tidak yang pasti mereka harus tetap bergerak pelan daripada menunggu membusuk berlama-lama berada di dalam hutan itu.


Rombongan tersebut melihat ada tanaman racun dan berlari lebih cepat agar tidak terhirup serbuk sari bunga racun itu.


"Kalian kenapa lama sekali, ikuti aku" Suara seperti Gatlin terdengar tapi entah darimana asal suara itu berada.


"Jangan percaya pada suara yang kalian dengar, terus rapatkan barisan." Seorang pria sepuh menjaga barisannya. Belasan orang itu mengikuti arahan pria sepuh berkumis putih di depan mereka.


Mereka sudah lumayan lama, sekitar sejam lebih kehilangan arah mereka. Untuk sekedar bertahan hidup mereka membuat sebuah aliansi kecil supaya setidaknya bisa bertahan hidup beberapa waktu sambil berharap ada anggota elite militer yang menyelamatkan mereka, membawa keluar dari hutan yang penuh dengan segala jenis ke brutalan itu


Bahkan mereka sudah tidak berharap lagi bisa sampai ke lokasi ujian tahap ke dua.

__ADS_1


-


"Nathan kau tau kemana arah kita lari?" Theodorus melihat pundak Xernathan yang berlari tidak terlalu cepat di depannya.


"Sudah kau ikuti saja aku, pegang terus pedang Charybdis ini.." Xernathan dan Theodorus bergandengan dengan memegangi pedang Charybdis agar tidak terpisah.


Xernathan saat ini kesulitan mencium ataupun melihat karena kabut tebal dan bau hutan yang beragam aroma ini, bahkan Xernathan ragu kemana langkah kakinya akan membawa mereka berdua.


Xernathan hanya terus memastikan bahwa Theodorus selalu berada di dekatnya.


"Lihat itu.." Theodorus menangkap satu arah di sebelah kiri mereka.


Mereka mendekat dan memberikan jarak jauh bersembunyi, melihat di hadapan mereka sekarang ini sudah menjadi arena pertempuran.


"Apa maumu Levin? Kau mau melawan kami semuanya yang ada disini hah?" Seorang pria sepuh dengan belasan orang yang bersamanya menantang seorang pria yang menggunakan topeng kelinci.


"Aku hanya ingin lewat, di depan sana adalah lokasi ujian tahap kedua berada.." Levin menunjuk ke arah belakang orang-orang yang menghalangi jalannya itu. Tapi orang-orang itu tidak mau menoleh sebentar sekalipun, mereka waspada kepada pria yang tertawa saat membunuh orang lain ini.


"Simpan omong kosong mu, kau tau tidak akan bisa melawan kami semuanya yang ada di tempat ini. Karena itu kan kau mau mencoba untuk menipu kami." Pria berkumis putih itu mendapatkan kepercayaan dirinya.


"Dengan begini aku jadi punya alasan untuk membunuh orang-orang ini bukan?" Levin bergumam pelan, menyeringai lebar menatap belasan orang ini.


yaaaak.. Seorang pria di antara belasan orang itu mulai menyerang Levin lebih dulu.


"Hihihi.. ayo serang ayo.." Levin mengelak cepat dan satu kali dua kali dia sengaja membiarkan pria itu memukul tubuhnya.


Belasan orang lainnya serempak mengangkat tongkat, pisau, pedang maupun senjata lainnya menyerang Levin di saat bersamaan.


Levin dengan kemampuannya menghindari tiap serangan dan berulang kali sengaja satu dua pukulan orang-orang itu melukai dirinya.


"Cihh dia seperti menikmati saat kita melukainya.."


Pria sepuh itu menggenggam erat tongkat di tangannya. "Kalian sadar, semua serangan yang dia dapatkan sepenuhnya dari serangan senjata-senjata tumpul. Tidak sekalipun pedang maupun pisau kalian melukainya"

__ADS_1


"Tentu saja aku tidak akan membiarkan kalian membuat sobek setelan jas ku." Levin berkata sambil memijat tengkuk lehernya.


"Aku bosan dengan pertarungan ini pukulan kalian tidak terasa sakit sama sekali." Levin ini sepertinya punya penyakit mental.


Sedari awal dia suka melihat penderitaan oranglain bahkan melukai dirinya sendiri dengan sengaja. Tidak perlu alasan yang kuat kenapa orang-orang seperti dia ingin bertarung.


"Aku bertarung hanya untuk bersenang-senang" Levin masih belum memberikan serangan yang berarti kepada belasan orang itu. Hanya terus mengelak dan sesekali menerima pukulan.


Langkah kaki Levin terlihat ringan. Nafas orang-orang yang menyerangnya secara bersamaan mulai putus-putus.


"Aku kehilangan semangat bertarung ku" Levin menguap di balik topeng kelincinya.


"Kalau gitu kami akan biarkan kau lewat tapi jangan lukai kami." Pria sepuh itu menyadari perbedaan kekuatan antara mereka dan Levin.


"Kau ini lucu ya, kau yang membuat mereka-mereka ini menyerangku. Kenapa kau menarik kata-kata itu baru sekarang?" Levin terlihat sudah muak.


Angin bertiup kencang membuat bau amis darah yang entah dari mana datangnya sampai ke hidung mereka semua yang ada tempat ini.


Hngghh.. huhh.. Levin menarik panjang bau udara itu melalui hidung dan membuangnya dari mulut.


Levin mengaliri Qi ke tangannya dan Qi itu bertransformasi menjadi bunga-bunga sakura berwarna hitam. Kelopak bunga itu lebih besar dari bentuk asli bunga sakuranya.


Orang-orang menjadi siaga.


Shuurft.. Dalam satu tarikan nafas kelopak bunga yang terbuat dari Qi berjumlah besar melesat memenggal kepala orang-orang yang ada di hadapan Levin. Qi berbentuk kelopak sakura berwarna hitam memuai saat kepala terakhir sudah terpisah dari tubuhnya.


Levin tidak bereaksi apa-apa terhadap musuh yang terlalu lemah. Kekosongan di rasakan di hatinya. Tidak ada rasa apapun menghilangkan nyawa sebanyak apapun jika mereka terlalu lemah.


Levin punya seleksi tertentu untuk menilai apakah seorang pantas menjadi lawan bertarungnya. Itu selalu menjadi menyenangkan. Tapi ketika orang-orang lemah seperti belasan orang ini menantangnya, Levin bisa tanpa perasaan apapun menghilangkan nyawa mereka.


Kabut tebal menghilang, Levin melirik ke arah beberapa meter jarak darinya. "Bagaimana?"


"Kalian mau ikuti sebuah ujian dariku?"

__ADS_1


Xernathan dan Theodorus terperanjat dan nafas mereka sama-sama terasa sesak saat Levin menoleh dan melirik ke arah mereka.


__ADS_2