Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.24 Topeng kelinci


__ADS_3

Seorang pria berbadan kekar berperangai seperti perompak tidak sengaja menabrak seorang pria lain yang bersetelan jas rapih yang menggunakan topeng kepala kelinci di lokasi ujian itu dan berlalu pergi.


Hnggh.. Pria bersetelan jas rapih itu melihat lengan bagian atas sebelah kirinya yang basah terkena keringat pria perompak yang menjauh dari hadapannya.


Aaa.. Aaaaaa.. Pria perompak itu menjerit kesakitan, separuh badannya dan di susul sampai seluruh tubuhnya mulai menghilang seperti menguap di udara berubah menjadi sesuatu yang terlihat seperti bunga-bunga sakura berwarna hitam.


Dada semua orang sesak, menahan nafas mereka tapi tidak ada yang berani menolong pria yang sedang meronta-ronta kesakitan itu. Sangkin keras teriakannya mungkin saja bisa terdengar sampai jauh ke ujung lorong.


"Khaa.. khaa.. khaaa.. Aku selalu suka dengar teriakan kesakitan seperti ini.." Pria bersetelan jas rapih tertawa puas di balik topengnya.


Pria itu seperti orang gila dengan ikut berteriak mengiringi jeritan pria perompak yang meronta-ronta kesakitan.


Khihihi.. Pria bertopeng kelinci terkekeh melihat ekspresi wajah kesakitan itu.


"Kau.. Kau menghilanglah dari dunia ini.."


Kelopak bunga sakura berwarna hitam terakhir menghilang di angkasa.


"Cihh.. Menyenggol seseorang dan tidak meminta maaf.." Pria bertopeng kelinci itu menggeleng tidak habis pikir.


Menghilangnya pria perompak bersamaan dengan menghilangnya bunga-bunga sakura berwarna hitam itu seperti sebuah mantra.


Senyum menghilang dari balik topeng kelinci itu. Pria bersetelan jas mulai memandangi mata-mata yang menatap benci ke arahnya.


"Dasar psikopat.."


"Orang yang tidak mempunyai empati"


"Bisa-bisanya dia menikmati kematian orang lain bagaikan melihat sebuah komedi."


Suara oranglain terdengar saling berbisik, terdengar sampai ke telinga pria bertopeng kelinci itu. Dia bahkan bisa mendengar suara orang lain berbisik sekecil apapun karena kemampuan indranya yang meningkat berkat dia bisa menggunakan Qi.


Tapi pria bertopeng kelinci itu tidak melakukan apapun selain berdiri dan menatap tajam ke arah orang-orang itu dari balik topeng kelinci berwarna putihnya.


"Orang yang memakai topeng kelinci itu namanya Levin, dia adalah sosok paling di benci selama dua tahun ini." Urino mengepal tangannya, dia pun benci dengan cara Levin menyiksa dan memusnahkan musuhnya.

__ADS_1


"Hah dua tahun?"


"Maksut mu pria bernama Levin itu gagal menjadi elite militer tahun lalu?" Theodorus menganga mendengarkan itu. Bukan takut karena keberadaan sosok pria bertopeng kelinci yang berada agak jauh darinya itu. Melainkan terperanjat karena meyakini Levin adalah orang yang sangat kuat tapi malah gagal melewati ujian masuk elite militer.


Urino menggeleng. "Dia bahkan sudah lolos menjadi elite militer. Tapi lisensinya di cabut saat pertama kali dia mendapatinya karena membunuh pengawas ujian yang tidak di sukainya." Urino menghela nafas panjang menjelaskan itu pada Theodorus.


"Kau jangan berkecil hati Theo kalau saja kau mendapat masalah dengannya, aku dan Xernathan pasti akan menolongmu." Sanji berusaha membesar-besarkan hati Theodorus yang mulai gelisah melihat orang-orang di tempat itu yang bisa jadi lebih haus darah dari Levin sendiri.


Xernathan mengangguk setuju.


"Huh.. Aku rasa anak sekecil kalian belum pantas melihat kejadian tidak menyenangkan barusan, aku harap kejadian barusan tidak mematahkan semangat kalian sedikitpun melewati ujian.." Urino membuka topik obrolan baru dengan mengeluarkan sebuah kalung yang terbuat dari kerang kecil dan batu-batu pantai.


"Aku mau memberikan kalian kalung ini sebagai kenang-kenangan telah mengikuti ujian masuk elite militer.." Urino tersenyum lebar mengeluarkan kalung itu dari dalam pakaiannya.


'Cihh.. Si Urino ini pasti memberikan sesuatu yang berbahaya pada kalung itu..' Xernathan ingat di kehidupan lamanya, banyak hal di lakukan Urino dengan sengaja mencelakakan pemula yang mengikuti ujian dengan banyak cara di lakukannya.


Urino sangat pandai berdrama seakan dia adalah orang baik dan menerima semua pemula yang datang untuk meminta bantuan maupun penjelasan darinya.


Tapi kejahatan yang di lakukan Urino tidak jauh mengerikannya dari pembunuhan yang di lakukan Levin sebelumnya.


Tass.. Sanji lebih dulu menampar uluran tangan Theodorus membuat Urino yang akan memberikan kalung itu tersentak mundur.


"Kenapa kau menggunakan sebuah kertas kecil memegangi kalung itu?" Sanji dengan tatapan tidak menyenangkan menantang ke arah Urino.


"Ker.. Kertas.. kertas apa?" Urino gelagapan menjawab. Urino tidak berkata lebih jauh dan dia langsung pergi meninggalkan mereka dengan tergesa-gesa tanpa mengucapkan satu patah katapun.


"Heii.." Sanji berteriak dan mencoba untuk mengejarnya, tetapi di tahan oleh Xernathan.


"Jangan mengejarnya, kita tidak boleh memancing terjadinya pertarungan di tempat ini." Xernathan melarang. Xernathan tidak yakin Urino datang sendirian ke tempat ini.


"Dari awal memang dia orangtua yang sangat pandai berbicara." Xernathan ikut geram.


Sanji mengepal tinjunya geram melihat Urino yang menjauh dari hadapan mereka, tidak habis pikir dengan perangai lugu yang dia tunjukkan untuk menutupi sifat aslinya.


Sanji habis memaki Theodorus yang terlalu bodoh melakukan itu. Kalau bukan karena keakraban mereka selama ini dia pun sudah tidak ingin melindungi Theodorus lebih jauh.

__ADS_1


Theodorus murung memahami kesalahannya saat Xernathan menjelaskan maksut buruk Urino padanya sebelumnya. Dia mengaku terlalu naif. Tapi bagaimanapun usianya masih sepuluh tahun, dua orang temannya pun masih berumur tiga tahun di bawahnya.


Sudah seharusnya mereka bersifat polos seperti itu. Tapi memang Theodorus beruntung punya teman seperti kedua orang ini. Mereka yang memiliki pemikiran lebih dewasa dari usia mereka sebenarnya karena alasan mereka masing-masing.


-


"Sialan kenapa anak bermata hitam itu bisa melihat kertas kecil ini.." Urino bergumam pelan memasukkan kembali kalung yang terbuat dari batu pantai dan kerang-kerang kecil itu ke dalam sakunya. Membuang kertas kecil yang melapisi ujung jarinya.


"Kalau saja anak itu menggunakan kalung ku ini pasti dia akan mati di tempat.." Urino mengepal tinjunya geram membayangkan wajah Sanji yang menantangnya beberapa menit lalu dan menepis tangan temannya yang sedikit lagi menyentuh kalung itu.


Kalung itu di olesi racun kuat yang jika terkena sentuhan kulit langsung maka racun itu akan merembes masuk ke dalam kulit dan membuat darah orang yang menyentuhnya akan membeku dan henti detak jantung dalam hanya waktu beberapa jam.


Urino terus berjalan kesana-kemari mencari mangsa lainnya. Tapi tidak satupun dari wajah-wajah itu yang terlihat polos untuk mempunyai kemungkinan berhasil dia tipu.


"Heii Pak Urinoo.." Seorang anak yang memiliki wajah tidak kalah tampan dari Sanji dengan mata sipit dan alis tegasnya berteriak memanggil nama Urino.


Hahh.. Urino terperanjat mundur melihat anak itu memakai kalung leher yang di berikannya sebelumnya di tangan.


Anak itu berlari mendekat. "Boleh aku meminta dua lagi kalung batu kerang ini?"


"Ba.. Baiklaah.." Urino memberikan kalung itu setengah hati, khawatir karena melihat anak itu masih baik-baik saja setelah kalung yang di lapisi racun itu tidak berpengaruh pada kulit anak ini. Dia berpikir pasti ada yang salah dengan anak ini.


Anak bermata sipit beralis tegas memakai dua kalung tambahan itu sekaligus di tangan kirinya.


'Walaupun bisa menahan satu dosis racun kau bisa mati jika mendapatkan racun dosis sebesar itu masuk melalui kulitmu.' Urino menyeringai lebar dalam hatinya, membayangkan anak ini sebentar lagi akan mati mematung di depan matanya.


Anak itu menatap Urino dengan sorotan mata dingin. "Khawatir aku akan mati? Aku sudah merasakan segala jenis racun"


"Mainan seperti kalung ini tidak akan bisa membunuhku." Anak bermata sipit itu menyeringai mengepal tinjunya.


"Raa.. Racun ap-.." Kata-kata tidak bisa keluar dari mulut pria berkulit gelap itu dia memilih kabur menjauh dari hadapan anak yang memancarkan aura membunuh tertuju padanya.


"Siaal.. siaal.. siaaal semua pemula di tahun ini adalah orang-orang gilaa." Urino mengepal tangannya geram setelah jauh dari anak bermata sipit itu.


"Tidak apa-apa menghancurkan mereka akan membutuhkan usaha ekstra yang menghasilkan kesenangan lebih saat melihat mereka kesakitan.." Urino bergumam pelan mengatakan itu. Seperti tidak ada niat ingin menjadi elite militer di hatinya, penyiksaan yang ingin di lakukannya adalah kesenangan yang dia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2