Pahlawan Jentaka

Pahlawan Jentaka
Chp.35 Singa benci heina


__ADS_3

Hnggs.. hnggs.. Monster rusa seribu tahun ingin menyerah dia semakin kehilangan semangat bertarungnya merasakan sakit di sekujur tubuh. Tapi semua manusia ini tidak berhenti menyerang dari berbagai sisi.


"Ayo Mitsuya kita serang monster ini secara bersamaan.." Ucap seorang pria yang mampu menggunakan Qi tingkat bawah, sebelum ini sudah berkenalan singkat dengan Mitsuya.


Mitsuya mengangguk, dengan lari zig-zag dua orang itu membingungkan monster rusa di depan mereka. Taiho kembali melempar batu-batu besar. Sanji menembakkan beberapa sisa peluru yang dia punya. Mereka yang lain termasuk Theodorus melesatkan anak panah dari busur mereka.


Serangan dari berbagai arah di terima monster rusa itu. Dia tidak lagi sanggup mengeraskan kulitnya lebih jauh. Sekarang kulit luar monster rusa seribu tahun ini lebih lunak dari sebelumnya.


Mitsuya membentuk jarinya seperti ujung mata tombak. Nyatanya, anak bermata sipit ini mampu melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Xernathan maupun Levin berkat tulang kualitas isiseko yang dia miliki.


Tebasan pedang dari pria pengguna Qi tingkat bawah dan tusukan tangan Mitsuya berhasil melukai dua kaki bagian depan monster rusa. Padahal sebelumnya butuh beberapa kali agar bisa melukai monster rusa itu sampai seperti ini.


Tapi karena banyaknya luka yang di terima membuat monster rusa ini kehilangan fokusnya untuk melindungi diri dengan mengeraskan kulit dan otot-ototnya seperti sebelumnya, hinga sekarang monster rusa itu tersimpuh lutut di tanah karena dua kaki depannya terluka cukup parah.


"Xernathan, eksekusi" Mitsuya berteriak lantang memerintahkan Xernathan yang sibuk mencabik kaki bagian belakang monster rusa.


Xernathan dengar panggilan Mitsuya, dengan cepat kaki-kaki itu berlari, kaki anak itu di aliri Qi dalam jumlah besar, untuk mempersingkat langkahnya.


Tiba di depan tubuh monster rusa Xernathan melompat ke atas, Qi yang dia punyai membuat lompatan Xernathan bisa tinggi seperti menggunakan sebuah pegas.


Sheert.. Ayunan pedang Charybdis menorehkan luka besar di leher monster rusa dan darah mengucur deras sampai membuat tubuh Xernathan basah karena darah.


Rusa berumur lebih dari seribu tahun setinggi tubuh jerapah dewasa menggelepar di tanah.


"Akhirnya.." Taiho tersungkur di tanah.


Beberapa orang lainnya juga terduduk di atas tanah rerumputan yang basah. Kini tubuh semua orang di penuhi dengan darah. Tapi Xernathan adalah orang yang paling banyak terkena noda darah, setelah itu pria pengguna pedang yang memiliki Qi tingkat bawah lalu Mitsuya.


"Wahh.. wahh.. ternyata kalian muncul juga dasar pecundang." Seorang pria memasang raut wajah tidak menyenangkan melihat kedatangan dua orang pria bertopeng mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


Senyum hilang dari wajah Levin. Pria bertopeng kelinci itu menaikkan sebelah tangannya dan mengangkat jari telunjuk.


Dalam hitungan satu kedipan mata sebuah jarum tertancap di leher pria yang berbicara sebelumnya. Pria itu meronta-ronta di tanah, bersamaan dengan monster rusa seribu tahun yang masih meregang nyawa.


"Heii apa-apaan kalian ini." Taiho berlari ke arah pria yang sekarat dan berteriak lantang ke arah dua orang pria bertopeng. Tidak ada kata kasar dari pria berbadan kekar itu, tapi wajahnya terlihat sangat tidak senang.


Jarum sekarang sudah di cabut oleh Taiho dan pria yang sebelumnya sekarat kesulitan bernafas kini terlihat lebih tenang. Jarum yang menancap di lehernya tepat mengenai sepasang pembuluh darah besar di leher yang mengantarkan darah langsung ke otak.


Pria yang di serang oleh pria bertopeng jarum adalah pengguna Qi tingkat dasar paling tidak dia akan sembuh dalam waktu beberapa puluh menit setelah jarum itu di cabut.


Tapi trauma yang di terimanya saat merasakan tidak ada darah yang mengalir ke kepalanya karena serangan itu pasti sulit dia lupakan.


"Xernathan, Mitsuya, Sanji, Theo kalian ini hebat sekali bisa mengalahkan monster berumur lebih dari seribu tahun." Senyum kembali terpasang di wajah Levin. Melihat ke empat orang anak kecil itu dia langsung memuji aksi mereka yang terjadi di depan matanya sebelum ini.


Tapi tidak satupun dari ke empat orang yang di maksutnya merespon perkataannya.


"Hooh kalian marah karena aku tidak membantu kalian dan biarkan beberapa dari orang itu mati dan kami hanya melihat saja?" Levin bertanya dengan santai sekali.


Orang yang bisa mendengar perkataan Levin memasang raut wajah yang bermacam mulai dari marah hingga alisnya hampir ketemu dan ada yang mulutnya terbuka lebar. Mereka pikir Levin hanya kabur dan tidak ingin ikut pertarungan ini. Tapi dia sendiri mengaku kalau dia melihat kejadian itu dari jauh dan hanya membiarkan.


"Kau ini memang perwujudan dari nafsu membunuh binatang." Xernathan mengulangi perkataannya tadi siang.


"Heii Nathan aku seperti pernah mendengar kau mengatakan ini sebelumnya, tapi kapan ya?" Theodorus akan bisa mengembalikan ingatannya saat ada hal-hal pada kejadian tadi siang yang terulang kembali.


Levin tertawa kecil dari balik topeng kelincinya. "Kalian tau kenapa singa yang di sebut sebagai raja hutan sangat membenci heina?" Levin menunjuk monster rusa yang sudah hilang nyawa sepenuhnya.


"Karena meskipun serangan heina tidak mematikan, jumlah mereka yang banyak akan membuat singa meregang nyawa." Levin tersenyum lebar melihat reaksi semua orang.


Mereka semua yakin kalau Levin coba untuk memberikan sesuatu yang baik untuk mereka dengan mengumpamakan mereka semua bagaikan heina yang mengeroyok seekor monster berusia ribuan tahun.

__ADS_1


Tapi kematian rekan aliansi mereka bukanlah suatu hal yang pantas demi mendapatkan pelajaran kecil seperti ini.


"Heii topeng monyet sialan, kalau kau mau beri tau kami pesan seperti itu, kau hanya perlu menyampaikan pesan itu, tidak perlu kau berikan contohnya dasar bodoh." Mitsuya mengepal tinjunya. Mitsuya tidak merasa takut sedikitpun. Kalau Levin menyerangnya sekalipun dia merasa dirinya sangat siap.


Levin tertawa. "Maafkan aku Mitsuya aku hanya mau memberikan kalian pemahaman dengan caraku sendiri."


Levin meninggalkan mereka semua setelah mengambil beberapa tangkai bunga berwarna-warni.


"Cih sialan, manusia itu sama sekali tidak punya hati." Taiho tidak bisa menghentikan getaran tubuhnya. Orang yang sedang terbaring di hadapannya saat ini masih dalam keadaan setengah sadar.


-


Xernathan menelan ludah melihat sebongkah permata monster yang jatuh menggelinding di tanah. Ini kali pertama dia melihat permata monster berusia ribuan tahun.


Bahkan kerennya, Xernathan sendiri lah yang menjadi eksekutor terakhir dari pertempuran melawan monster rusa seribu tahun ini.


Bahkan ketika dia mendapati dua kehidupan sekalipun belum pernah anak itu tau sebesar apa permata monster seribu tahun. Di kehidupan pertama Xernathan hanya berhasil mengalahkan monster enam ratusan tahun itupun dalam pertarungan hidup dan mati.


"Akan kita apakan permata monster ini?" Mulut Sanji menganga, ini kedua kalinya dia melihat permata monster. Dia tidak tau kekuatan besar apa yang akan dia dapat saat mengkonsumsi permata monster beruang lima ratus tahun yang di simpannya di loker bank negara Centuri, apalagi ini, kekuatan apa yang akan dia dapat jika mengkonsumsi permata monster berusia lebih dari seribu tahun ini.


"Na.. Nathan kalau permata ini di jual berapa harganya hah?" Theodorus kesulitan menyelesaikan pertanyaannya.


Bukan tiga orang anak itu saja, bahkan empat orang pria dewasa di belakang mereka sama terperanjatnya. Hanya satu orang pria dewasa yang tidak mengerti tentang semua yang dia lihat ini, selain sebagai musuh yang berat.


"Heii, mari kita tanam monster ini, nanti mayatnya membusuk akan menimbulkan wabah penyakit." Mitsuya dengan enteng mengatakan hal itu.


"Sialan kau Mitsuya, nilai dari keseluruhan monster ini adalah ribuan keping emas." Theodorus selesai menghitung dan menjelaskan ini dengan muka memerah pada Mitsuya.


Mitsuya tetap biasa saja. Nyatanya Mitsuya bahkan tidak mengerti berapa nilai kepingan emas yang di sebut Theodorus.

__ADS_1


__ADS_2